
Rapat rancangan kerja LDK dengan strukturnya yang baru sudah rampung hari itu. Arsene sudah membuat rencana-rencana kerja bagi timnya untuk satu tahun ke depan, meski tidak terlalu banyak perubahan. Ia hanya akan berusaha memaksimalkan perekrutan serta syiar di kampus, sehingga acara-acara yang diselenggarakan oleh LDK akan semakin banyak dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswa.
Arsene kembali ke masjid malam itu bersama Angga di sampingnya untuk menunaikan shalat maghrib.
“Sen, gue boleh cerita gak sih?” tanya Angga usai mereka sholat.
“Kalau lu percaya gue, cerita aja. Emang mau cerita apaan?” tanya Arsene. Keduanya memilih duduk di teras selasar yang dingin.
“Gapapa lu? Ntar Zaara nyariin elu!”
“Kalau lu mau cerita, gue infoin Zaara kalau gue pulang telat!”
Angga tertegun sebentar. Lalu mengiyakan bahwa dia butuh teman curhat. Arsene segera memberitahu istrinya.
“Ada apa sih? Tumben seorang Angga curhat, biasanya ngebanyol terus?!” Arsene memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket.
“Lu udah tau dari Adit kan?”
“Yang mana?”
“Gue mau dijodohin sama orangtua gue!” keluh Angga.
"Ooh… iya. Terus gimana sekarang, jadi?
“Jadi. Gue udah setujuin permintaan mereka, tapi gimana ya? Kan gue gak kenal sama tuh cewek. Menurut lu, gue harus gimana?”
Arsene berpikir sejenak. Dulu hubungan antara dirinya dan Zaara bukanlah suatu perjodohan, ia sendiri yang mengajukan taaruf pertama kali. Hanya saja jika dipikir-pikir, ta’aruf ini bisa dibawa ke dalam perjodohan sahabatnya itu.
“Kapan rencananya kalian ketemuan?” tanya Arsene.
“Hari minggu ini. Gue sama sekali gak tau, apa calon istri gue itu sholeha atau enggak. Gue berharap sih, minimal dia nutup aurat kek. Kalau belum tutup aurat, gue mesti gimana?”
“Suruh ngaji aja!” jawab Arsene.
“Ya kali gampang disuruh kalau emang mau ngaji. Kalau enggak, gimana?”
“Hmm… susah juga ya?”
“Iya, apalagi dia belum jatuh cinta sama gue. Kalau udah jatuh cinta sih enak nyuruhnya.”
“Hmm… ribet juga ya?”
“Nah itu! Gue bingung!”
“Sabar aja. Yang penting lu kenal dulu sama dia. Cari tau karakter dan semua kesukaannya. Lu bisa nasihatin dia pelan-pelan. Nanti kita bahas lagi kedepannya kaya gimana, setelah lu ketemuan sama dia,” terang Arsene memberikan masukan.
“Apa mesti gue kirim CV kaya taaruf lu dulu?” tanya Angga.
“Kalau ceweknya mau sih bagus!”
“Aduh, mudah-mudahan deh ya? Kalau enggak, gue gak tau harus gimana!”
“Lu yakin sama keputusan lu nerima perjodohan ini?” tanya Arsene menatap Angga.
“Gue udah coba buka hati, biar gue gak durhaka sama orangtua. Masalah cinta gimana Allah aja lah. Gue pasrah!”
Arsene tersenyum dan salut di saat yang sama. Angga sama sekali tidak membawa perasaannya dalam perjodohan, bahkan ia sama sekali belum mengetahui calonnya seperti apa. Ia jadi teringat cerita perjodohan ibu dan ayahnya dulu.
“Gue doain semoga calon lu hatinya lembut, akhlaknya baik, dan agamanya bagus.”
“Aamiin, semoga gue juga bisa sabar ya Sen!”
“Aamiin.”
“Balik lu! Kasian Zaara pasti nungguin. Sorry ya gue ganggu dulu!” Angga beranjak dari teras.
“Iya. Lu cerita lagi aja nanti setelah ketemuan ya?”
“Sipp lah!”
Malam semakin pekat. Meski adzan isya sebentar lagi berkumandang, Arsene memutuskan untuk segera pulang malam itu. Ia sudah merindukan istri dan buah hatinya, Ryu, karena seharian berada di kampus.
\=====
Zaara sedang menyusui anaknya ketika Arsene masuk ke dalam kamar setelah shalat isya di masjid komplek. Pria itu bergegas mengganti bajunya dengan pakaian tidur lalu duduk berselonjor di atas kasur di samping istrinya.
Ia mengecup wajah damai anaknya yang sudah tertidur, meski mulutnya masih aktif menyusu, lalu berpindah pada kening istrinya.
“Abang gak lapar?” tanya Zaara.
“Aku udah makan tadi. Habis rapat dapat nasi kotak.”
“Ooh…”
“Kamu udah makan?” tanya Arsene meregangkan badannya.
__ADS_1
“Udah sih, tapi masih lapar. Nanti aku makan buah-buahan aja.”
Baru akan merebahkan tubuh, tiba-tiba ponsel Arsene bergetar di atas meja belajar. Pria itu bergegas mengangkatnya. Nama sepupunya terpampang di layar ponsel.
“Kenapa Kak Al?” tanya Arsene duduk di tepi ranjang mengangkat teleponnya. “Ada masalah di toko?” tanyanya lagi.
“Cen, gue mau curhat, boleh gak? Gue ganggu lo gak?” Alice sedikit merengek di sana.
Arsene membatin, dirinya sudah menjadi tempat curhat. Tetapi tidak apa.
“Curhat apa Kak?”
Arsene terdiam menunggu helaan nafas di seberang teleponnya.
“Kak Al!” panggil Arsene karena lawan bicaranya terdiam.
Alice berdeham.
“Lo tau kan, papi mau ngenalin seseorang sama gue. Minggu besok kita ketemuan dong! Gue mesti gimana? Padahal gue sama sekali belum setuju sama perjodohan itu!” rengek Alice.
Ya ampun. Kenapa masalah perjodohan lagi? Apakah para orangtua begitu susah membiarkan anak-anaknya memilih jodoh untuk diri mereka? Batin Arsene. Ia menghela nafas.
“Coba aja ketemuan dulu Kak! Nanti baru putusin!” Arsene coba memberi masukan.
“Gue gak mau! Apa gue kabur aja ya?!” pekik Alice.
“Astaghfirullah, jangan Kak!” sergah sepupunya itu.
“Terus gue mesti gimana?!”
“Lihat dulu orangnya, terus kenalan, minta sama orangtua kakak jangan terlalu cepat buat tanggal nikahnya. Seenggaknya kakak masih punya kesempatan untuk memilih.”
Alice terdiam, berpikir. Arsene benar. Meskipun ini perjodohan, ia masih berhak untuk membuat keputusan jika ia memiliki waktu cukup.
“Lo bisa gak ikut kesini?” tawar Alice memohon.
“Aku datang ke perjodohan kakak?”
“Iya, lo adik gue paling baik dan bijak. Gue butuh lo, mungkin papi mau denger masukan lo nanti. Apalagi lo udah pengalaman.”
“Hmm… boleh deh!”
“Yeaay!
“Iya gue janji. Kalau lo dateng, gue ngerasa lebih pede.”
“InsyaAllah, aku mau bantu Kakak nanti.”
“Oke deh. Gue jadi tenang kalau gini, meskipun gue belum tau kedepannya kayak gimana.”
“Ya udah, nanti aku datang!”
“Makasih ya Cen! Salam buat ponakan ganteng gue. Babay!”
“Hmm…”
Arsene kembali menaruh ponsel di atas nakas. Memijat pelipisnya, ia kembali merebahkan tubuhnya di samping Zaara yang sudah berhasil menidurkan Ryu sepenuhnya.
Zaara melihat raut wajah Arsene yang terlihat letih tetapi kebingungan. Sambil mengancingkan bajunya, perempuan itu membetulkan posisi bantalnya.
“Ada apa sama Kak Al?” tanya Zaara ingin tahu.
“Kak Alice mau dijodohin itu lho!”
“Ooh, dia setuju?” tanya Zaara.
“Belum, tapi kayanya Pakde Bima tetep keukeuh mau jodohin Kak Al.”
“Abang tau siapa calon Kak Al?”
“Belum, Kak Alice aja belum tau. Tapi katanya itu pilihan Kakek Jaya dan orang Bandung asli,” jawab Arsene seingatnya.
Arsene tertegun sebentar. Memikirkan curhatan mengenai perjodohan hari ini dari dua orang sekaligus, membuat pria itu mencoba mengaitkan dalam pikirannya.
“Apa jodohnya Kak Alice itu Angga ya?” Arsene berusaha menerka-nerka.
“Angga?!”
“Iya! Angga curhat sama aku juga tadi, makanya aku telat pulang.”
“Orangtua Angga emang pengusaha juga. Kalau gak salah sih, mereka partner bisnis Kakek Jaya.”
“Oh ya?!” tanya Arsene tidak percaya.
“Tanyain aja ke abi. Orangtua Angga itu pemasok utama bahan-bahan bangunan untuk setiap proyek perusahaan Kakek Jaya.”
__ADS_1
“Wah jangan-jangan emang Angga, soalnya dia bilang hari Minggu ini mereka bakal ketemuan. Kak Alice juga tadi ngomong gitu!”
“Wah kebetulan yang luar biasa tuh. Terus kamu mau gimana?”
“Aku bakal bantuin mereka saling kenal, Sayang! Angga tuh udah buka hati, dia nerima perjodohan itu. Tapi dia ragu dan khawatir calonnya susah diarahkan. Kalau emang Kak Al yang jadi jodohnya, ini bakal sulit buat Angga. Apalagi Kak Al jutek sama orang asing.” Arsene jadi antusias.
“Kamu setuju kalau mereka bisa barengan?” tanya Zaara.
“Setuju aja sih. Angga itu baik, meski dia konyol dan banyak bercanda daripada seriusnya. Dia cocok sama karakter Kak Al yang jutek itu, meskipun kayanya Angga harus sabar ngadepinnya.”
“Iya ya! Jadi kamu mau dateng ke acara perjodohan mereka?”
“Iya, sekalian aku juga mau mastiin kalau jodoh Kak Al itu Angga,” ucap Arsene semangat.
“Semangat banget sih Abang Sayang!”
“Kalau kita berhasil nyatuin mereka apalagi dalam interaksi yang terjaga itu jadi pahala lho! Mau ikutan dapat pahala?” tanya Arsene tersenyum lebar.
“Mauuu. Aku mau juga!” Zaara ikut tersulut.
“Sip! Nanti kalau emang mereka beneran dijodohin, kita susun strategi, oke?!”
“Oke!”
\======
Hari Minggu telah tiba. Seperti yang diminta Alice, Arsene datang sendiri ke kediaman kakeknya, dimana perjodohan akan terjadi hari itu.
Alice sudah terbalut dengan sebuah gaun midi dress berbahan brokat dengan lapisan kain satin berwarna maroon. Dengan sepatu flatnya, wanita itu terlihat jauh lebih anggun dari hari biasa. Rambutnya yang panjang tergerai indah, meski bagian depannya ia menjepit poninya itu dengan hiasan bunga kristal. Bibirnya sudah terpoles rapi dengan lipmatte berwarna senada dengan gaunnya.
Nadya, ibunda Alice, membawa putri sulungnya itu ke depan sebuah cermin full body. Ia merapikan rambut putrinya.
“Kamu cantik banget, Nak!” ucap Nadya yang terbalut dengan pakaian semi kebaya dengan hijab menutup kepalanya.
“Aku deg-degan Mami! Kenapa sih harus dijodohin gini?!” protes Alice cemberut di depan cermin.
“Kamu tau? Mami dan Onty Ajeng pun dijodohkan, tetapi pernikahan kami baik-baik aja sampai kalian dewasa!” ucap Nadya.
“Ya tapi masa calon aku masih mahasiswa? Seumuran Acen lagi!”
“Acen aja dewasa, Mami yakin calon kamu pun sama dewasanya. Meski usianya jauh lebih muda dari kamu, bukan berarti dia gak dewasa lho!” Nadya merapikan sabuk kecil berwarna emas yang melingkar di pinggang ramping anaknya.
Bibir Alice membulat. Jantungnya berdebar kencang di pagi hari yang bersinar hangat itu.
“Apa aku masih bisa memilih Mi?”
“Milih apa?” tanya Nadya.
“Setelah perjodohan ini, apa aku masih diberi waktu untuk melanjutkan atau enggak?” tanya Alice.
“Papi, Mami, dan Kakek udah bicara terkait perjodohan kamu. Kami akan memberi kalian waktu selama tiga bulan untuk saling mengenal. Setelah itu kalian harus putuskan, apakah lanjut ke pernikahan atau tidak!”
Mata Alice membelalak mendengar penjelasan ibunya.
“Mami yakin? Aku masih bisa kasih keputusan?”
“Ya! Hari ini memang pertemuan perdana kalian. Untuk kamu, kami tidak memberikan beban lebih berat seperti Mami atau Onty Ajeng dulu. Kami hanya memberi kalian kesempatan untuk saling mengenal dan jatuh cinta. Kami hanya berusaha untuk mempertemukan kamu dengan orang yang menurut kami itu terbaik.” Nadya tersenyum pada anaknya yang memiliki tinggi lebih darinya.
Alice memeluk ibunya. Dia pikir perjodohan ini benar-benar saklek dan tidak ada pilihan lain baginya kecuali menerimanya.
“Mami hanya berharap yang terbaik untuk kamu, Al! Usiamu sudah matang untuk menikah. Sudah saatnya kamu bisa menemukan pria yang bisa menjaga kamu!”
“Aku akan coba membuka hati, Mi!”
Nadya mengelus lembut pipi anaknya, lalu menangkup pipi dan mengecup keningnya.
“Acen udah datang lho! Kamu ajak dia kesini?”
“Iya, Mi! Aku butuh nasihat dia. Aku pikir dia bisa bantu aku melewati ini.”
Nadya tersenyum, ia berpikir mungkin Alice dan Arsene lebih dekat daripada dengan adik kandungnya sendiri, Ervin.
“Ya, kamu harus belajar banyak dari dia. Orangtuanya sudah berhasil membesarkan dia dengan kedewasaan dan kebijaksanaan. Meskipun anak itu mirip banget sama Ajeng, tapi Mami rasa Acen jauh lebih baik dari kedua orangtuanya.”
“Yuk ke bawah!” ajak Nadya.
\======
Bonus Episode bersambung...
Masih banyak bonusnya
Jadi tetep dukung aku dengan like, comment, dan vote yaa
makasiiiih
__ADS_1