
Undangan anggota baru LDK DKM Asy-Syifa sudah tersebar di setiap kelompok pementoringan yang sudah dihelat. Undangan itu berisi terkait kepanitiaan untuk Hari Raya Idul Adha, hari raya terbesar ke-2 bagi kaum Muslimin. Rencananya para mahasiswa baru yang sudah tergabung di LDK akan ikut diterjunkan menjadi panitia teknis acara Hari Raya Idul Adha nanti. Sore ini, mereka akan dikumpulkan bersama di masjid, baik ikhwan maupun akhwat.
Tepat pukul 16.30 WIB. Rapat perdana kepanitiaan Idul Adha itu dibuka oleh ketua LDK, Kang Ilman. Beberapa akhwat dan ikhwan sudah berkumpul di selasar masjid yang cukup luas dengan pembatas hijab untuk memisahkan mereka. Ilman membuka rapat sore itu dengan kalimat mukadimah dan surat Al-Fatihah.
Arsene berduduk sila memperhatikan penjelasan dan instruksi dari kakak mentornya sendiri. Ia memutuskan untuk ikut serta dalam kepanitiaan ini, teringat pada nasihat Om Reza. Bahwa dengan bergabung pada sebuah organisasi, potensi yang masih tersembunyi bisa jadi muncul dan terasah. Apalagi digunakan untuk kebaikan dakwah, tentu saja hal itu akan mengundang pahala. Dirinya sendiri pun masih penasaran kira-kira skill apa lagi yang dimilikinya selain memasak dan sastra? Pemuda itu tampak fokus.
“Saya tahu mungkin ini kepanitiaan perdana bagi kalian semua. Ada mungkin yang sudah berpengalaman atau belum dalam kepanitiaan. Tapi gak usah khawatir, karena kami disini akan membimbing kalian semua. Baiklah, kita akan memilih ketua panitia dulu ya. Kita akan membagi menjadi dua jalur, kepanitiaan ikhwan dan akhwat, nanti kalian akan saling berkoordinasi untuk acara yang akan dihelat dua minggu lagi,” terang Ilman.
Pria berjanggut tipis yang mengenakan jaket LDK itu sudah memegang selembar kertas yang berisi nama-nama panitia dari anggota baru. Ia melanjutkan penjelasannya.
“Di sini sudah ada nama dan divisi kalian akan bergabung. Saya harap kalian tidak mundur dan tetap memegang amanah ini. Kami akan selalu membimbing kalian. Yuk, kita umumkan dulu ya ketua panitia utama dan koordinator akhwatnya. Siap?!” tanya Ilman memandang ke arah semua peserta.
“Insya Allah, siap, Kang!” seru mereka, meskipun beberapa masih ada yang ragu-ragu menjawab.
“Oke. Bismillah, untuk ketua panitia utama yaitu Arsene Rezka dari FIB Sastra Inggris, dan untuk koordinator akhwat yaitu Zaara Haniya dari FIB Sastra Indonesia. Semangati dengan takbir, Allahu Akbar!”
“Allahu Akbar!” pekik para panitia.
Arsene dan Zaara terkejut bersamaan di tempat mereka masing-masing. Arsene tidak menyangka sama sekali akan ditunjuk menjadi ketua panitia. Padahal dirinya sama sekali belum berpengalaman menjadi ketua pelaksana acara apapun. Apalagi kali ini ia akan berkoordinasi dengan Zaara. Sebuah kebetulan yang luar biasa.
“Ayo, Arsene ke depan dulu. Gimana pendapat kamu ditunjuk sebagai ketua pelaksana? Bisa kan?! Harus bisa dong!” ucap Ilman menyemangati.
Arsene berdiri dan menghadap ke semua peserta.
“Jujur ini pertama kalinya buat saya menjadi ketua panitia pelaksana. Saya belum berpengalaman sama sekali. Tetapi saya berharap, senior di sini bisa membimbing saya nanti. Jadi, insya Allah saya akan coba memaksimalkan diri untuk kepanitiaan ini,” ujarnya tersenyum kecil.
“Masya Allah! Luar biasa, semangat, Arsene!”
Arsene kembali ke tempat duduknya. Kawan-kawan di dekatnya menyemangati dirinya yang masih tidak percaya bisa ditunjuk sebagai ketua pelaksana.
“Ukhti Zaara gimana pendapatnya? Apa ini pengalaman pertama juga buat Ukhti?” tanya Ilman, ia membiarkan Zaara berbicara di tempatnya.
“Kalau saya kebetulan sudah pernah mengikuti kepanitiaan semacam ini di SMA. Tetapi belum pernah ditunjuk sebagai koordinator, hanya sebagai panitia acara saja,” terang gadis itu. Suaranya terdengar dari balik hijab oleh para ikhwan.
“Alhamdulillah, semoga nanti pengalamannya semakin banyak ya?! Karena di sini, kita juga akan aktif berorganisasi, bukan mengikuti kajian saja. Pengalaman berorganisasi plus ikut kajian akan membuat kalian semakin dewasa dan siap untuk terjun di dunia masyarakat. Apalagi kita bergerak untuk dakwah Islam, yang insya Allah akan selalu diridhoi Allah. Aamiin.”
Ilman melanjutkan instruksinya, mengumumkan nama-nama anggota baru dan divisi apa mereka bergabung. Divisi kepanitiaan ini cukup banyak mengingat nanti mereka akan langsung berhadapan dengan masyarakat umum dari luar kampus karena perhelatan shalat Ied. Setiap divisi akan langsung dibimbing oleh dua orang steering committee, yaitu para penasihat atau orang yang sudah berpengalaman di bidangnya dari senior-senior mereka.
Arsene sendiri akan langsung dibimbing oleh Ilman sebagai steering committee-nya. Ilman sudah berpengalaman menjadi ketua pelaksana beberapa acara yang dihelat oleh LDK. Oleh karena itu, para pembina panitia yang berasal dari aktivis bakti dan dosen-dosen yang tergabung dalam jajaran DKM mengamanahkan tugas ini pada mahasiswa semester lima itu.
Acara rapat kepanitiaan selesai tepat sebelum adzan maghrib berkumandang. Arsene dan Ilman melakukan percakapan dulu terkait apa yang harus Arsene susun kedepannya.
“Nanti saya kirim makalah laporan pertanggungjawaban kepanitiaan Idul Adha tahun kemarin ya, biar kamu ada gambaran terkait acara ini. Sebenarnya simpel kok, karena yang urusan inti seperti kurban, shalat, dan khutbah sudah langsung diurus oleh DKM. Kita cuma sebagai pelaksana teknis aja, misalnya langsung ke pelayanan jamaah, publikasi, proposal untuk bantuan dana, dan kebersihan,” terang Ilman pada junior yang ada di depannya.
“Terus kalau koordinasi sama akhwat itu gimana ya, Kang?” tanya Arsene.
“Itu kamu pastikan aja kepanitiaan akhwat gimana, apa solid atau ada kendala? Biar bisa dirembukan bareng-bareng kalau ada kesulitan.”
Arsene mengangguk-angguk mencoba memahami secara perlahan dan fokus. Adzan maghrib berkumandang syahdu, para jamaah bergantian menuju tempat wudhu.
“Semangat ya Sen! Kamu pasti bisa kok!” Ilman menepuk bahu pemuda itu lalu mengajaknya mengambil air wudhu.
__ADS_1
\=====
Arsene mampir ke toko kuenya sebelum ia pulang ke rumah, untuk melihat hasil penjualan hari ini. Meskipun ia sendiri sebenarnya bisa melihat data transaksi yang terhubung pada aplikasi di ponselnya. Tetapi rasanya masih kurang, kalau ia tidak mengunjungi tokonya dan memastikan semuanya pada karyawan-karyawannya.
Toko akan tutup dalam tiga puluh menit lagi. Arsene melihat masih ada beberapa kue yang ada di dalam etalase, memang tidak banyak tetapi ia masih harus mengevaluasi untuk besok agar tidak ada kue yang tersisa.
Tiba-tiba lonceng berbunyi setibanya Arsene di dapur. Masih ada pelanggan datang di menit-menit tutupnya toko, hal yang sangat jarang terjadi. Alice menyambut pelanggannya.
“Sweet smile for a sweet treat!”
Pelanggan itu tersenyum lalu melihat kue di etalase.
“Eclairnya tinggal dua lagi ya?” tanyanya.
“Iya maaf, karena toko juga mau tutup malam ini,” terang Alice.
“Oh iya sebentar ya Mba?”
Gadis berhijab itu keluar, menemui ayahnya yang sedang menunggu di sana.
“Bi, eclairnya tinggal dua lagi! Adanya kue sus biasa sama cupcake,” terang gadis itu.
Ayahnya itu turun dari motornya, lalu memasuki toko kue.
“Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya Alice ramah.
“Mmm… tolong bungkusin eclair sama kue susnya yang tersisa ya Mba?!” pinta pria yang masih mengenakan helm itu.
“Iya, Mba!” ucap pria itu.
“Baik, Pak! Sebentar!”
Dengan gesit, Alice memasukan kue-kue manis itu pada sebuah kotak pipih persegi panjang, lalu membungkusnya dengan plastik putih berlabel toko Sweet Recipes. Pria itu langsung membayarnya dengan dompet digital setelah Alice menawarkan apakah akan membayar tunai dengan uang atau pembayaran digital.
Pria itu mengambil pesanannya lalu memberikannya pada anak gadisnya. Arsene keluar dari dapurnya sambil tertawa-tawa setelah berbincang-bincang dengan chefnya.
“Om Reza?” panggil Arsene ketika pria dewasa di depannya baru saja akan berbalik.
“Eh dikirain lagi gak ada di sini,” ucap Reza.
Zaara yang berada di sebelah ayahnya hanya menyimak mereka berdua.
“Om dari masjid?” tanya Arsene.
“Iya, sekalian jemput Zaara sama bicarain kepanitiaan Idul Adha sama pembina DKM yang lain,” terang Reza. Pria itu duduk di salah satu kursi dekat dengan pintu keluar. Sepertinya perbincangan mereka akan lama. Zaara mengikuti ayahnya saja dan duduk di sampingnya.
Arsene duduk di kursi seberangnya.
“Kamu jadi ketua pelaksana ya Sen?” tanya Reza.
“Iya Om! Padahal saya belum ada pengalaman sama sekali nih!” terang Arsene.
__ADS_1
“Gak apa-apa namanya juga belajar, nanti juga terbiasa kok kalau kamu aktif.”
Arsene tersenyum saja. Alice di balik meja kasir mulai merapikan barang di mejanya.
“Kalian jadinya nanti koordinasi ya?” tanya Reza memandangi putrinya.
“Eh i-iya, Om!” jawab Arsene ragu.
“Bicarain kalau ada yang penting-penting aja, ya?” ucap pria itu tersenyum.
“Si-siap, Om!”
Zaara hanya menunduk saja mendengar percakapan ayahnya dengan Arsene. Sementara itu, karyawan di belakang sedang membereskan barang-barang di dapur.
“Udah mau tutup ya?” tanya Reza.
“Iya Om, kita tutup jam 19 malam.”
“Ooh, hebat kamu ini Sen, udah kuliah, wirausaha, masih sempat ikut kajian dan kepanitiaan. Emang gak capek?”
“Capek pasti Om, tapi saya gitu demi cita-cita dan masa depan. Saya ingin mempersiapkannya dari sekarang. Ada yang bilang, masa depan kalian ditentukan hari ini. Jadi sebisa mungkin saya harus tetap membuat hari-hari saya lebih baik dari hari kemarin.”
Reza mengangkat jempolnya sambil mengangguk-angguk.
“Ya udah, kita pulang dulu ya!” ucap Reza beranjak dari tempat duduknya.
“Hati-hati di jalan, Om!” ucap Arsene yang ikut beranjak juga dan mengantarkan pria itu keluar.
"Jaga kesehatan, Sen! Pakai jaket tebal kalau pulang malam gini, gak baik angin malam buat tubuh kamu. Kamu tiap hari pulang malam kaya gini?" tanya Reza sambil menaiki motornya.
"Iya Om, soalnya saya harus kontrol toko dan karyawan juga untuk evaluasi besok."
"Masya Allah!"
Angin malam bertiup kencang di musim kemarau ini. Arsene mengeratkan jaketnya.
“Duluan, Sen! Assalamu’alaikum," pamit Reza. Zaara hanya mengangguk tersenyum pada pria muda itu.
“Wa’alaikumsalam.”
\=====
Bersambung dulu yaa
Yang suka sama cerita Arsene, wajib vote banyak yaa, hihi
Like dan commentnya juga jangan lupa
makasiiiih
__ADS_1