Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 145. Ngidam?


__ADS_3

"Sen, Sen! Mau kemana lu?" tanya Adit melihat Arsene yang berjalan di atas trotoar depan gedung perkuliahannya. Pria tinggi itu menghampiri.


"Mau jajan di gerbang, gue!" jawab Arsene santai. Mendengar jawaban Arsene, Adit bertanya-tanya.


"Tumben banget seorang Arsene jajan ke gerbang? Yakin lu?!" tanya Adit tidak percaya.


"Pengen beli lumpia basah itu lho. Tadi lihat ada yang bawa, wanginya bikin ngiler."


"Halah halah! Biasanya ngirit?!" seru Adit keheranan.


"Hehehe! Cuma 10ribu doang gapapa lah! Gue pengen makan itu sekarang." Arsene tersipu. Adit sangat tahu kalau temannya itu memang jarang sekali jajan di luar kecuali bersama istrinya. Dia hanya akan mengeluarkan uang untuk makan berat bukan membeli camilan seperti ini.


"Lu ngidam apa ya?!" tanya Adit menerka-nerka.


"Masa jajan gitu doang dibilang ngidam sih Dit?! Kalau pun Zaara hamil, pasti dia yang ngidam kaya pas waktu hamil pertama kemaren!"


"Zaara sempet ngidam pas hamil kemaren?" tanya Adit ingin tahu.


"Pernah tapi gak sering sih. Ah gue pergi dulu, ntar keburu masuk kelas lagi!" seru Arsene meninggalkan Adit seorang diri.


"Yoi!"


Zaara sudah selesai kuliah dan memutuskan untuk pulang duluan, karena Arsene masih harus kuliah sampai sore. Ia berjalan bersama teman-temannya sampai ke gerbang timur, tempat favorit mahasiswa, karena banyak gerobak para penjaja makanan yang berjualan di sana.


"Ra, anter beli cilok gaul dulu yuk!" Ajak Hana si ratu jajan.


"Hmm hmm…," Zaara setuju.


Kosan Hana memang terletak di jalan dekat apartemen Zaara sehingga mereka bisa pulang bersama siang itu. Keduanya berjalan menyusuri trotoar yang memang diperuntukkan bagi gerobak para pedagang di depan gerbang kampus. Mereka berbelok ketika sudah menemukan sebuah gerobak ramping berwarna biru.


"Abang?!" ucap Zaara melihat suaminya sedang menyantap lumpia basah panas dan pedas dengan sumpitnya di sebuah kursi belakang gerobak. Kebetulan sekali, gerobak tukang cilok langganan Hana bersebelahan dengan gerobak tukang lumpia basah.


Arsene yang menyuap tiba-tiba membeku. Tidak bergerak. Ia melirik ke arah istrinya lalu menyengir kaku.


"Dah lanjutin aja makannya! Aku pulang duluan ya?" ucap Zaara melihat Hana sudah selesai membeli ciloknya.


Arsene mengangguk-angguk sambil terus mengunyah lumpia basahnya. Lagi-lagi, ia terheran-heran dengan istrinya. Padahal Zaara sudah setuju dengan rencananya untuk tidak jajan di luar. Tetapi melihat ekspresinya tadi, sepertinya Zaara baik-baik saja. Apa karena ini di lingkungan umum? Ah, Arsene akan pasrah saja jika harus diomeli Zaara ketika pulang nanti.


\======


Zaara membuka lemarinya malam itu. Ia melihat-lihat gaun tidur miliknya. Sebuah gaun berwarna burgundy dipilihnya dan dipakainya setelah mandi. Parfum disemprot ke seluruh tubuhnya dan titik-titik tertentu. Rambutnya masih setengah kering, ia segera menyisirnya rapi. Dipoles bibirnya sedikit dengan pelembab bibir berwarna, membuat wajahnya segar dan berseri. Ia tersenyum di depan cermin.


Ketukan pintu terdengar.


"Zaara Sayang!" suara Arsene terdengar di sana.


Zaara lekas-lekas keluar kamar dan membuka pintu.


"Assalamu… 'alai..kum," ucap Arsene terpaku menatap istrinya yang terlihat sangat cantik, apalagi gaun tipis itu membalut tubuhnya yang ramping dan molek. Seketika membuat jantung berdebar kencang sekali, membangkitkan sesuatu di bagian bawah tubuhnya tiba-tiba.


"Wa'alaikumsalam." Zaara bersembunyi di balik pintu dan lekas mengunci pintu apartemennya.


Arsene masih mematung. Tak menyangka istrinya akan menyambutnya dengan indah seperti ini, membuat ia kini lekas merengkuh erat tubuh perempuan itu.


"Abang udah sholat isya?" tanya Zaara kesulitan karena Arsene sudah melakukan aksinya.


"Hmm…"


Pria itu segera membawa tubuh istrinya ke dalam kamarnya dan melakukan apa yang ia butuhkan sejak kemarin malam.

__ADS_1


Arsene mengeringkan rambutnya yang basah setelah selesai mandi wajib. Terasa lega dan bahagia perasaannya kali ini karena hasratnya telah terpenuhi. Ia menatap teduh wajah istrinya yang bulat dan sudah terlelap dalam tidurnya. Entah kenapa, ia merasa wajah Zaara semakin cantik saja. Kulitnya semakin lembut dan berkilau. Apalagi tubuh Zaara terlihat lebih molek dari sebelumnya. Ah, pria tampan itu benar-benar bahagia sehingga terus menerus tersenyum sendiri. Meskipun Zaara tidak seagresif biasanya, ia tidak mempermasalahkan hal itu.


Akhirnya pria itu ikut tertidur di sebelah istrinya malam itu dengan tenang.


\======


Waktu cepat sekali bergulir, menggantikan hari dan bulan dalam kalender tidak terasa. Ujian akhir semester sudah dimulai kembali. Membuat Zaara dan Arsene semakin sibuk dan fokus dalam perkuliahannya.


Keduanya baru saja tiba di apartemen, setelah seharian ini sibuk menyelesaikan ujian akhir semesternya.


"Capek!" ucap Zaara merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Istirahat aja Sayang!" Arsene mengelus kepala istrinya.


"Kamu mau makan malam?"


"Aku pengen martabak ketan hitam. Kamu bisa bikin?" tanya Arsene membuat mata Zaara membelalak.


"Kamu tuh sekarang hobi banget jajan. Katanya mau ngirit?!" sergah Zaara mencubit ujung hidung suaminya.


"Aku kan tanya, kamu bisa bikin?" Arsene meluruskan pertanyaannya.


"Aku gak jago. Kamu kayanya lebih jago bikin adonan kaya gitu. Lagian nyari ketan itu susah. Apalagi malem gini. Beli aja keluar!" seru Zaara memberi masukan.


"Aku pengen kamu yang buat Sayang!" bujuk Arsene.


"Ya Allah, Abang Sayang! Aku gak bisa. Kalau pun lihat resep, belum tentu seenak buatan kamu."


Arsene cemberut. Zaara merasa heran dengan tingkah suaminya yang akhir-akhir ini yang banyak jajan di luar, padahal dirinya masih bisa membuatnya di dapur unruk menu yang tidak sulit. Keinginan suaminya itu harus benar-benar dipenuhi. Karena ujung-ujungnya pria itu pasti akan keluar sendiri mencari apa yang diinginkannya.


Tiba-tiba saja, Arsene berlari ke kamar mandi.


"Abang kenapa?" tanya Zaara menghampiri suaminya ke kamar mandi.


Mata Arsene berair, mulutnya yang basah dilapnya menggunakan punggung tangan.


"Gak tau. Dari siang mual mulu! Apa asam lambungnya udah parah banget ya?"


Zaara segera mengambilkannya air minum hangat. "Minum dulu!"


"Makasih Sayang!" ucap Arsene duduk di atas sofa.


Zaara memijit tengkuk dan bahu suaminya.


"Tuh malah mau beli martabak ketan lagi. Nanti lambungnya makin gak bener," terang Zaara.


"Enggak, ini aneh mualnya. Aku pengen banget."


"Kamu aneh banget, sih! Ya udah beli aja ya, Abang Sayang?" bujuk Zaara.


Arsene menggeleng. Zaara memberengut kesal.


"Ya udah aku beli, tapi kamu antar aku ya?" pinta Arsene selesai menghabiskan air minumnya.


"Keluar lagi sekarang?" tanya Zaara.


"Iya, aku pengen makan itu sekarang?"


Zaara mendesah kecil. Arsene sudah menarik tangan istrinya itu. Terpaksa perempuan yang belum berganti pakaian itu mengikuti permintaan suaminya.

__ADS_1


Keduanya pergi keluar apartemen. Tidak perlu naik motor, karena tepat di samping apartemen ada gerobak penjual martabak manis. Mereka langsung menghampirinya.


"Pak, martabak ketan ada?" tanya Arsene.


"Ada, A!"


"Alhamdulillah. Mau satu ya, Pak! Tapi tolong yang bikin istri saya aja!" ucap Arsene pada penjual martabak itu.


"Heh?!" Zaara terkejut.


"Bisa kan Pak? Sekalian ajarin istri saya?!"


"Bisa, A!" jawab bapak bertubuh besar itu sambil tertawa-tawa.


"Please, kali ini aja!" pinta Arsene memelas, membujuk istrinya.


"Iya deh!" ucap Zaara pada akhirnya. Arsene tersenyum lebar sambil mencubit kecil pipi istrinya.


Zaara berjalan dan berdiri di balik sebuah kompor gas yang diatasnya sudah berada dua wajan datar untuk memanggang martabak manis. Seorang asisten penjual menghampirnya dengan sebuah wadah yang dibawanya.


"Suaminya ngidam ya Teh?" tanya asisten penjual martabak yang membantunya memberikan adonan basah martabak kepada Zaara.


"Hehe. Saya juga gak tau A!" jawab Zaara kaku.


"Emang belum periksa Teh?" tanya pria itu lagi.


Zaara jadi berpikir. Ada sesuatu yang membuatnya hatinya terperanjat. Ia harus segera mengeceknya setelah ini.


"Waktu istri saya hamil juga, malah saya yang ngidam, Teh!" jawab laki-laki itu tanpa ditanya.


"Wah bisa ya?" tanya Zaara tidak percaya.


"Bisa aja Teh. Katanya kalau gitu, jiwa dan ikatan antara suami istrinya kuat, itu kata Bu Bidan!"


Zaara melongo tidak percaya, meskipun ia pernah mendengar tentang suami yang mengidam.


Zaara mengikuti instruksi yang disampaikan oleh asisten penjual martabak untuk mengaduk-aduk adonan. Kemudian menuangkannya ke atas wajan anti lengket yang sudah panas.  Melihat hal itu, Arsene merasa senang sekali. Untung saja sedang sepi pembeli, jadi Zaara bisa leluasa membuat martabak di sana.


"Nih, punya Abang!" Zaara menyerahkan kantong kresek berisi kotak martabak ketan yang dilengkapi parutan keju.


"Makasih istri Abang Sayang, shaleha, cantik, dan baik hati!" ucap Arsene membulatkan bibirnya.


"Sama-sama. Aku mau ke apotek dulu ya?" ucap Zaara.


"Mau beli apa?" tanya Arsene.


"Udah tunggu aja di situ, gak lama kok!" Zaara berjalan menjauhi suaminya dan pergi ke apotek klinik yang tidak jauh dari sana.


\======


Hayooo


Arsene beneran ngidam kah? XD


Bersambung dulu yaa


Kutunggu like, vote, dan komennya


Terima kasiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2