
Sore itu Nava berjalan di atas trotoar di sepanjang jalan menuju keluar kampus. Angin sore menerbangkan dedaunan kering ke atas aspal, tampak seperti musim gugur saja. Awan mendung sudah bernaung di atas langit. Nava merasa kedinginan karena ia tidak mengenakan outerwear.
Banyak mahasiswa-mahasiswa berhamburan, mereka juga hendak pulang menuju tempat tinggalnya masing-masing. Khawatir hujan akan segera turun, mereka berlari-lari kecil di sepanjang trotoar, mereka sempat melewati Nava yang berjalan seorang diri.
Benar saja, hujan rintik-rintik kecil mulai terjun dari langit diiringi oleh angin, terasa semakin kencang saja. Nava bergegas lari untuk menuju pintu gerbang kampus sambil menutupi kepalanya dengan tas kulit selendang miliknya. Tidak apa kehujanan sedikit yang penting ia bisa segera menaiki kendaraan umum.
Sebuah klakson mengagetinya dari belakang. Sebuah mobil MPV berwarna merah berhenti di sampingnya. Nava memandanginya. Seketika jendelanya terbuka begitu juga dengan pintunya setelah itu.
"Masuk Va!" itu Andre.
Tidak perlu berpikir lama, wanita mungil itu pun masuk ke dalam mobil Andre.
"Thanks, Dre!" ucapnya sambil mengusap lengannya yang basah.
"Aku antar ya?"
Nava tersenyum saja.
Mobil itu pun melaju, melesat di antara kerumunan hujan yang mulai mengepungnya secara brutal. Hawa dingin AC menembus kulit Nava yang kedinginan karena percikan air hujan. Ia terus mengusap-usap lengannya agar terasa lebih hangat. Andre memperhatikannya.
"Kamu kedinginan?"
Nava menyengir saja. Andre mengecilkan AC mobilnya.
"Itu di belakang jok kamu ada jaket, pakai aja dulu!" ujar Andre.
Nava memperhatikan joknya, ternyata benar ada sebuah jaket berbahan kanvas menggantung.
"Gak apa-apa nih, aku pinjem dulu?" tanya Nava. Ia memang benar-benar kedinginan.
"Gak apa-apa, santai aja!" jawab Andre.
Nava tersenyum dan mengambil jaket itu lalu memakainya. Memang kebesaran di badannya, tetapi itu cukup membuatnya hangat.
"Kosan kamu dimana?" tanya Andre.
"Di Jalan Cempaka, Dre!"
"Ooh... sekalian lewat berarti! Bisa masuk mobil gak?"
"Bisa!"
"Sepupu kamu kayanya favoritnya dosen-dosen ya?" tanya Nava ketika mobil itu melaju di jalan raya.
"Ferdian? Sepertinya. Dia itu mahasiswa pandai, dia juga duta kampus sebelumnya," jawab Andre.
"Ohh pantesan! Beruntung banget dia dapet sepupunya sendiri jadi dosen pembimbingnya," ujar Nava.
"Haha! Padahal aku juga gak terlalu banyak ikut diskusi penentuan dosen pembimbing mahasiswa sarjana."
"Cuma aneh, yang jadi dosen pembimbing pertamanya itu kok kaya jengkel gitu ya?" tanya Nava penasaran.
"Ardi ya? Aku dengar, itulah dosen yang kemarin kata Ajeng nembak dia, pas mereka udah nikah!" terang Andre tertawa kecil.
"Woaah, jadi itu orangnya!"
"Iya, dan Ferdian sempet berulah sama Ardi. Maklumlah anak muda!"
"Haha, lucu sekali ya," Nava tertawa-tawa.
Andre membelokan kemudinya ke arah Jalan Cempaka, Nava menunjuki sebuah pondok asrama modern yang pintu gerbangnya terbuka. Tertulis di sebuah papan reklame Pondok Asrama "Casa de Bonita". Andre memberhentikan mobilnya di halaman pondok itu. Hujan masih turun deras, sehingga untuk keluar tanpa kebasahan sepertinya agak sulit dilakukan.
"Kamu mau turun sekarang?" tanya Andre.
"Umm...."
"Aku gak ada payung!"
"Kamu buru-buru Dre?" tanya Nava kemudian.
"Enggak sih," jawabnya. Mesin mobilnya masih menyala.
__ADS_1
"Kamu keberatan gak, kalau aku tunggu sebentar disini?"
"Gak masalah," jawab Andre santai.
"Makasih."
Keduanya ditemani alunan musik jazz lokal, dalam suasana yang tanpa percakapan itu.
"Dre!"
"Va!"
Ujar keduanya berbarengan.
"Kamu dulu!" ucap Nava.
"Lady's first!" ujar Andre.
"Umm... gak jadi ah! Aku pengen kamu dulu yang ngomong!" kata Nava kali ini.
Andre terkekeh.
"Umm....apa ya?" Andre malah jadi grogi kali ini.
"Berubah gimana?" tanya Andre penasaran.
"Dulu sering banget usilin aku sambil gombal, sekarang kayanya jaim gitu! Haha!"
Andre tertawa-tawa.
"Itu kan dulu, namanya anak remaja. Sekarang mau usil mikir-mikir dulu, apalagi gombal, statusnya sih temen biasa gini! Bisa-bisa salah paham nanti," ujar Andre terkekeh.
"Terus gimana caranya biar bisa digombalin lagi kaya dulu?" tanya Nava memandang pria di sampingnya sambil tertawa-tawa.
Andre menunduk tertawa kecil.
"Marry me (Nikahi aku)!"
Sontak mata Nava melebar. Ia tidak percaya apa yang diucapkan kawan SMA nya itu sore ini.
"Kamu gak usah bercanda gitu ah!" ujar Nava memukul lengan Andre.
"I'm not joking, I'm serious (Aku gak bercanda, aku serius)!"
Nava jadi terdiam memandang Andre. Hatinya berdebar, dan lidahnya kelu, tak bisa berkata apa-apa. Hujan di luar mulai rintik-rintik lembut sekali.
"Maaf, sepertinya aku harus mengatakannya," ucap Andre.
Nava masih terdiam, berusaha menyimak dengan jantung yang terus berdegup kencang.
"Kamu masih inget surat yang aku tulis waktu itu?" tanya Andre. Nava tidak menjawab karena terlalu tegang.
"Perasaan aku untuk kamu tidak pernah berubah, Va! Aku juga gak ngerti kenapa, malah semakin jauh dari kamu, perasaan aku semakin besar saja. Apalagi setelah kita sempet loss contact kemarin, rasanya aku kehilangan separuh jiwa. Haha, lebay ya?! Tapi jujur, itulah perasaanku untuk kamu, Va!" terang Andre jujur dalam hatinya.
__ADS_1
Entah kenapa hati Nava terasa sesak, bukan karena menyimpan rasa sakit. Hanya saja, perasaannya pun seperti itu, sehingga ia sulit untuk berkata-kata.
"Would you marry me?" tanya Andre sekali lagi.
"I will consider it (Aku akan mempertimbangkannya)!" jawab Nava akhirnya, membuat Andre semakin tegang hatinya.
"Makasih banyak ya Dre! Aku pulang dulu!" pamit Nava tanpa banyak basa-basi.
"Sama-sama," ucap Andre lirih, bahkan tidak terdengar oleh Nava yang membuka pintu mobilnya.
Nava melambaikan tangan seraya tersenyum ketika Andre membawa mobilnya keluar dari halaman pondok asramanya.
"Oh my God! Am I dreaming (Oh Tuhan, apa aku bermimpi)?" ujar Nava pada dirinya sendiri. Ia menarik poninya ke atas. Tetapi entah kenapa hatinya bahagia sekali dan bingung di waktu yang ihbersamaan. Ia menepuk-nepuk pipinya untuk memastikan kejadian ini adalah kejadian nyata. Bahkan ia masih mengenakan jaket pria itu yang dipinjamnya.
"Aaa...." teriak Nava sambil menderap-derapkan kakinya dan berlari menuju kamar asramanya.
\=====
"Bang Dre! Kapan kita mulai bimbingan?" tanya Ferdian dalam telepon.
"Kamu konsultasi sama Ardi dulu, dia kan dosen pembimbing pertama kamu!" jelas Andre berjalan menuju kamar tidurnya.
"Masa sih gak bisa langsung ke Abang?" tanya Ferdian terdengar nyolot.
"Ya enggak bisa, gak sopan namanya! Lagian buru-buru amat, baru juga seminar tadi pagi!"
"Aku kan mau cepet-cepet lulus, biar bisa fokus jadi ayah!"
"Ehem, duh calon ayah! Iya, kamu tanya Ardi aja dulu, baru ke aku ya?"
"Hmm...oke deh!"
"Eh Bang, kok aku jadi penasaran, gimana kelanjutannya sama cewek yang kemaren itu?" tanya Ferdian kepo.
"Ini kamu mau bimbingan skripsi atau mau cari bahan gosip?" tanya Andre terkekeh-kekeh.
"Ya kepo dikit gak apa-apa lah!"
"Istri sama suami sama aja, sama-sama kepo!"
Suara tawa Ferdian menggelegar dari seberang telepon.
"Doain aja deh, biar langsung halal!" jelas Andre.
"Aseeek, cihuy! Mudah-mudahan lancar deh!"
"Aamiin! Ya udah ya, aku tutup nih mau tidur, ngantuk berat!"
"Iya deh, makasih ya Bang!"
"Yooow!"
Andre merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Hatinya berdebar mengingat kejadian tadi sore. Entah bagaimana Nava akan merespon permintaannya. Padahal tadi ia sebenarnya hanya ingin menyatakan perasaannya saja terhadap wanita itu. Namun malah kata 'Marry Me' yang keluar dari lisannya itu. Tetapi bukannya itu bagus? Karena perempuan sejatinya lebih membutuhkan kepastian daripada harapan palsu. Apalagi ia sudah menunggu Nava bertahun-tahun, menjaga hatinya agar nama wanita itu tetap terukir di dalamnya. Kalau pun Nava menolaknya, setidaknya hatinya tidak terasa hampa lagi daripada membiarkan hatinya menunggu seperti waktu itu.
Semoga saja, hari esok akan lebih baik dari hari ini. Semoga matahari tetap bersinar terang menyambut dunia.
\=====
Duh, Andre diterima gak ya?
Kayanya Ajeng dan Ferdian bakal panen undangan nikahan nih
Like, Vote, Comment, dan Tipsnya ya
Thanks for reading ^_^
__ADS_1