
Siang selepas makan, Arsene, Angga, Zaara dan Alice langsung menuju sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli mahar dadakan, juga sedikit barang hantaran.
Angga sudah memberitahukan kepada orangtuanya sebelum pergi ke toko emas, begitu juga dengan Alice. Karena posisi Nadya dan Bima di Jakarta, rencananya malam nanti mereka akan segera pergi ke Bandung. Mereka cukup terkejut dengan keputusan dadakan anaknya, hanya saja mereka tetap merasa salut dan bahagia.
Alice melihat-lihat cincin yang tersedia. Tidak butuh waktu lama, ia sudah mendapat cincin yang ia suka modelnya. Simpel dan elegan. Angga segera membayarnya.
“Ini yang simpen siapa, gue atau lu?” tanya Angga.
“Lu aja deh!” ucap Alice.
Gaya percakapan mereka memang terlalu santai, mungkin akan berubah seiring waktu dan seiring kedekatan mereka.
“Lu aja deh! Takut hilang kalau sama gue!” ujar Angga.
“Ya udah!” Alice memasukkan cincin dan kotak perhiasannya ke dalam tas jinjingnya.
“Terus kemana sekarang?” tanya Angga.
“Gue ikut aja. Lu ga bawa apa-apa juga, it’s oke!” jawab Alice tanpa beban.
“Hmm…” Angga berpikir. “Gue belanja sama mama aja deh! Lu balik aja, istirahat!” seru Angga.
“Yakin?!” tanya Alice menatap ragu pada pria yang berdiri di sebelahnya, meski ada jarak di antara mereka.
“Iya. Kalau kebutuhan lu buat hantaran, kita bicarain lagi nanti ya?!” pinta Angga.
“Oke deh!” Alice tersenyum kecil.
“Sen, gue langsung balik aja! Mau jemput mama!” ujar Angga, mengambil kunci motor dari saku celananya.
“Udah selesai?!” tanya Arsene.
“Iya. Beli mahar aja dulu.”
“Oke sipp! Hati-hati, Ga!”
“Gue balik dulu ya Al! Persiapin diri lu besok! Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Angga berpamitan lebih dahulu karena harus menjemput ibunya untuk membeli barang untuk lamaran besok. Sementara Arsene, Alice, dan Zaara masih berada di sana.
“Makasih banget ya udah temenin gue!” ucap Alice tersenyum pada keluarganya, meski sebenarnya hatinya begitu tegang mengingat besok adalah acara lamarannya.
“Sama-sama Kak! Semoga pernikahan kalian lancar!” seru Arsene.
“Aaamiin.”
“Ya udah kalau gitu kita pulang ya, Kak! Kasian Zaara pasti pegel-pegel tuh gendong Ryu seharian.”
Zaara tersenyum.
“Iya makasih banyak, hati-hati Ra! Cen!”
Siang hari menuju ashar itu mereka berpisah. Mungkin mereka juga tidak akan menghadiri prosesi lamaran Alice besok. Arsene memacu motornya ke rumah mertuanya.
Ryu masih tertidur lelap di pelukan sang ibu. Bahu Zaara sudah berasa pegal karena berat badan anaknya terus bertambah setiap bulan. Mereka tiba di rumah. Zaara langsung menaruh Ryu di atas ranjangnya.
“Pegel, Sayang?!” tanya Arsene ketika Zaara tengah memutar kedua bahunya.
“Iya.”
“Mau dipijat?” tawar Arsene.
“Boleh?”
Arsene mengangguk dan menyuruh Zaara duduk di atas kasur. Meski sama-sama lelah, kondisi Arsene masih jauh lebih kuat. Pria itu mulai memijat bahu sang istri, Zaara memindahkan rambut panjangnya ke depan.
“Enak atau sakit?” tanya Arsene khawatir Zaara tidak nyaman dengan pijatan tangannya.
__ADS_1
“Lumayan lah!” jawab Zaara datar.
Hampir 10 menit Zaara dipijat oleh Arsene, itu membantu mengurangi rasa pegal dan melancarkan peredaran darahnya. Tangan Arsene sudah lelah. Tiba-tiba terbesit ide konyol di kepalanya.
Tangannya yang masih memijat terus turun hingga ke pinggang istrinya dan ia menggelitikinya di sana, membuat Zaara menjadi geli seketika.
“Abang geli ih!” protes Zaara.
"Sst jangan ribut!" sergah Arsene, khawatir Ryu akan bangun kembali.
Zaara menepuk pelan lengan suaminya. Tetapi Arsene tidak berhenti melakukan keusilannya.
Tangan itu berhenti menggelitik tetapi pindah tempat ke bagian depan tubuh istrinya.
HUP.
“Dasar genit!” Zaara melepas tangan Arsene dari dadanya.
Arsene tertawa-tawa dengan wajahnya yang nakal.
“Aku capek, Sayang! Aku mau kamu yang pijat aku sekarang!”
“Mana yang pegel?” tanya Zaara.
“Gak ada sih!
“Lah terus?” Zaara mengernyit heran.
Arsene mengerling genit. Zaara menggeleng-geleng.
“Nanti malam aja ah!”
Tubuh Arsene melemah kecewa. Tetapi ia sadar, istrinya kelelahan. Mereka akhirnya memutuskan untuk tidur siang untuk mengembalikan stamina.
\======
Suasana rumah Kakek Jaya sudah sibuk sejak H-1 pernikahan Alice dan Angga. Meski hanya prosesi akad saja, tetapi keluarga ingin acara ini terasa sakral dan khidmat. Hanya keluarga terdekat saja yang akan hadir di sana.
Alice sudah dirias dengan make-up minimalis. Bibirnya yang agak tebal dipoles dengan warna coral pink, pipinya disapu dengan blush on senada lipsticknya. Hijab putih menutup kepalanya hingga leher. Sedangkan tubuhnya telah terbalut gaun putih dengan tile bordir bunga yang cantik. Sebuah mahkota kecil berwarna silver disematkan di atas kepalanya yang menjuntai kain tile polos hingga menutupi paha bagian belakangnya.
“Masya Allah cantik banget Kak!” puji Zaara yang baru masuk ke dalam kamar rias pengantin. Zaara dan Arsene sudah menginap sejak semalam di rumah kakeknya itu. Alice yang meminta mereka untuk menemaninya, karena jantungnya selalu berdebar tidak karuan.
“Alhamdulillah, Ra! Tapi gimana ini tangan gue gemetar terus!” ucap Alice memperlihatkan jari jemarinya yang bergetar.
“Tenang Kak Al, nanti udah ijab kabul selesai, ada tangan kekar yang menenangkan dan menghangatkan,” perkataan Zaara membuat Alice semakin tidak karuan. Zaara hanya tersenyum melihat sepupu suaminya itu.
“Ryu kemana?” tanya Alice.
“Ryu di depan sama ayahnya, mau nunggu mommy sama daddy!” jawab Zaara sambil melihat-lihat berbagai jenis make up yang tergeletak di atas meja.
“Udah siap?” tanya Nadya yang juga sudah terlihat anggun dengan gaun tile berwarna gold.
“Sudah Nyonya!” jawab penata rias dan busana.
Nadya melihat jam dinding. Sekitar satu jam lagi Angga dan keluarganya akan datang.
“Mami ke bawah ya, Zaara temenin Alice aja di sini. Nanti pas ijab kabul selesai kalian keluar,” pesan Nadya.
“Siap Bukde!”
Arsene menggendong-gendong Ryu di halaman depan rumah kakeknya sambil menikmati sinar mentari pagi yang hangat. Sesekali pria muda itu melempar tubuh anaknya ke udara, membuat Ryu tertawa-tawa riang sampai air liurnya menetes. Pipinya bersemu merah ketika bibirnya tertarik lebar, mirip sekali ibunya. Arsene mencium gemas pipi anaknya yang gemuk itu.
Tidak lama sebuah mobil SUV sport abu gelap menepi dan berbelok masuk ke dalam halaman rumah yang masih tersedia lahan parkir. Itu Ferdian dan keluarganya yang baru datang. Kirei langsung turun keluar mobilnya ketika melihat abang dan keponakan kecilnya di sana.
“Ryuuuuu!” teriaknya menghamburkan diri pada abang sulungnya.
“Aaaah cakep banget! Finn kalah nih!” seru Kirei lagi.
“Ih salam dulu sama abang kamu!” Arsene menyodorkan tangan kanan pada adik perempuan satu-satunya yang terlihat anggun meski tubuhnya gemuk. Kirei menyambutnya dan mengecup punggung tangan abangnya.
__ADS_1
Ajeng dan Ferdian keluar dari mobil. Finn keluar juga di sana sambil digendong ibunya. Arsene bergegas menghampiri kedua orangtuanya.
“Ryuuuu!” seru Ajeng melihat cucu pertamanya. Finn diturunkannya, saat Arsene menyalaminya. Ajeng lekas menggendong Ryu dan mencium pipinya.
“Kamu gak kangen sama Momma?” tanyanya pada Ryu sambil terus mengecupnya gemas.
Arsene menyalami dan memeluk ayahnya.
“Sehat Bang?!”
“Alhamdulillah, Dad!”
“Aduduh cucu Dadda di sini udah ganteng banget pake jas kecil gini!” ucap Ferdian melihat Ryu yang masih digendong Ajeng. Pria itu mengecup ujung hidung cucunya, membuat Finn menarik-narik ujung jas ayahnya.
“Ciyee Finn cemburu ya?! Sini kamu Abang gendong! Abang kangen!” Arsene menggendong adik bungsunya yang berusia 3 tahun itu.
“Udah pada siap di dalam?” tanya Ajeng membawa Ryu masuk ke dalam rumah orangtuanya.
“Udah kayanya. Tinggal nunggu calon pengantin laki-laki,” jawab Arsene.
“Yuk kita masuk ya Ryu!” seru Ajeng.
Kedatangan Ajeng dan keluarganya disambut langsung oleh papa dan mamanya, juga Nadya dan suaminya. Ajeng memeluk kedua orangtuanya yang masih lengkap, disusul oleh Ferdian dan Kirei. Finn yang masih digendong Arsene disodorkannya kepada kakek dan nenek, mereka mengecup cucu bontot mereka.
“Eh Keluarga Angga datang tuh!” ucap Arsene yang menyadari ada beberapa mobil berhenti di depan halaman rumah kakeknya.
“Eh iya!” Nadya langsung terlihat tegang.
Kakek Jaya, Nadya, dan Bima langsung menyambut tamu besar mereka di halaman dan mengajaknya masuk. Selain keluarga inti, Angga juga membawa keluarga besarnya yang berbaris rapi sambil membawa barang hantaran untuk Alice. Telah hadir juga di sana petugas KUA, juga Reza yang rencananya akan memberikan khutbah nikah. Reza datang bersama istrinya, Karin, karena kedua belah pihak juga sudah sama-sama saling mengenal.
Para tamu hadirin dan keluarga dari tuan rumah sudah duduk rapi di tempat yang disediakan. Angga yang terlihat tampan dengan setelan jas hitam berkemeja putih sudah duduk di meja akad, bersanding dengan ayahnya. Bima, sebagai ayah Alice duduk di hadapannya. Ferdian dan Reza menjadi saksi dari pihak Alice.
Karin membawa cucunya duduk di samping Ajeng, sahabatnya. Alice dan Zaara sudah berada di dalam kamar neneknya. bersiap akan keluar jika ijab kabul sudah terlaksana.
Sebelum prosesi ijab kabul, Reza menyampaikan ceramahnya terkait pernikahan dan rumah tangga. Meski di dalam kamar, Alice bisa mendengarnya dengan baik pesan-pesan yang dibawakan oleh ayah dari istri sepupunya itu.
Hati Alice semakin tegang, ketika petugas KUA mulai memimpin acara sakral pagi itu. Perempuan itu mengepalkan jari jemarinya sendiri. Zaara terus menemaninya di samping. Alice memejamkan matanya ketika terdengar olehnya suara ayahnya yang mulai mengucapkan ijab dan disambut langsung oleh jawaban kabul dari Angga.
“SAAAH!” ucap lainnya.
“Alhamdulillah, baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”
Alice menundukkan kepalanya seraya menengadahkan tangannya, meminta kebaikan dari doa yang teruntai untuk pernikahannya dengan lelaki asing yang baru dikenalnya selama tiga bulan ini.
“Alhamdulillah, tabarakallah Kak Al! Yuk kita ke depan!” ajak Zaara menuntun lengan Alice keluar dari kamar dan berjalan menuju meja akad.
Para tamu keluarga yang hadir menatapnya takjub pada mempelai wanita yang terlihat anggun dan manis, meski wajahnya terlihat kaku dan tegang. Angga menunggunya sambil tertunduk, sesekali ia melirik perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya. Alice duduk di sebelahnya.
“Kok lu bisa cantik gini?!” bisik Angga.
“Jangan bikin gue makin grogi!’ balas Alice, membuat Angga menahan tawanya.
“Ngomongnya dilembutin dikit kek, biar romantis. Udah sah lho!” goda Arsene yang duduk di sebelah Angga. Alice bisa mendengarnya.
“Berisik lu Cen!” protes Alice.
“Kalem Kak!”
Kedua pria itu terkekeh kecil. “Sabar Ga! Ntar juga makin lembut!”
Angga memberikan jempol pada sahabatnya.
\======
Bonus Episode bersambung...
Rajin dukung aku yaa, cuma like, komen, dan vote
Biar level MCS ini tetap bertahan
__ADS_1
makasih banyak buat kalian semua ^_^