
Pertemuan antara Keluarga Reza dan Ferdian belum berakhir siang itu. Ternyata masih banyak yang perlu didiskusikan, meskipun sebenarnya pembicaraan mereka bisa berlanjut di luar acara lamaran. Sejenak para lelaki pergi ke masjid untuk menunaikan shalat dzuhur, sementara para wanita shalat di rumah Karin saja. Zaara sedang tidak shalat saat itu, sehingga Ajeng menitipkan Finn pada gadis itu sementara dirinya shalat berjamaah bersama sahabatnya, Karin..
Zaara memangku bayi yang cukup berat itu di pahanya. Mata Finn berkilauan melihat sebuah aksesoris yang terpasang di kerudung Zaara. Tangannya gemas sehingga memainkan aksesoris yang berbentuk bunga dan terbuat dari kain itu.
“Finn kamu lucu banget deh!” ucap Zaara gemas mencubit lembut pipi gembul bayi berkulit putih itu. Zaara mendudukkan bayi itu dengan menggerak-gerakan pahanya, sehingga Finn bisa melompat-lompat seperti sedang menaiki kuda, dengan nada irama yang Zaara lantunkan dari mulutnya.
Tidak lama kemudian, sebuah salam menyapa dari pintu. Arsene dan Zayyan yang baru saja datang dari masjid masuk ke dalam rumah. Arsene melihat gadis itu sedang bermain bersama adik kecilnya. Otomatis Zaara berhenti memainkan alunan irama dari mulutnya. Sementara itu Zayyan berlari terburu-buru sambil memegang perutnya.
“Duh mules!” serunya tanpa ditanya dan langsung berlari menuju kamar mandi.
Arsene duduk di hadapan gadis itu sambil sesekali tertunduk. Hatinya merasa canggung padahal sebelumnya ia tidak merasa begini ketika bersamanya. Arsene mengambil cangkir teh miliknya dan menghabiskannya untuk mengurangi rasa canggung.
Begitu pula dengan Zaara yang berpura-pura membetulkan posisi Finn di pangkuannya, hatinya berharap agar orangtuanya segera kemari menemani mereka.
“Aku ke belakang dulu ya?” pamit Zaara yang sudah tidak tahan untuk pergi dari sana karena hanya mereka berdua di ruang tamu meski ada Finn.
“Finn sama aku aja di sini,” seru Arsene.
Zaara memberikan Finn pada abangnya, membuat tangan mereka bersentuhan sedikit.
“Maaf!” ucap Arsene sambil menggendong Finn di pinggangnya.
Zaara hanya tersenyum kecil, lalu melangkah pergi menuju ruang makan untuk memastikan menu hidangan makan siang yang akan mereka santap setelah itu.
Ajeng dan Karin telah menyelesaikan shalat dzuhur, sehingga mereka kembali ke ruang tamu.
“Lah daddy belum pulang?” tanya Ajeng pada anaknya.
“Tadi ngobrol-ngobrol dulu sama bapak-bapak di sana. Bentar lagi datang mungkin!” ucap Arsene memberikan kembali adiknya pada ibunya.
Ajeng menepuk-nepuk punggung Finn yang mulai rewel. “Mommy ke belakang dulu ya, kalau daddy cari bilang aja lagi nyusuin Finn!”
Arsene mengangguk dan terdiam di sana. Pikirannya melayang, lalu tersenyum sendiri. Ia tidak menyangka akan secepat ini melakukan proses ta’aruf dan melanjutkan ke tahap selanjutnya dengan Zaara. Pernikahan dengan gadis yang terkenal galak selama SMA-nya itu tinggal menghitung bulan dan minggu. Meskipun ia belum tahu apakah akan menjalani hubungan jarak jauh dengan gadis itu atau Zaara akan cuti kuliah dan ikut dengannya ke Aussie. Ia harus membicarakan hal ini dengan Zaara segera.
Bapak-bapak yang rupawan itu telah kembali sambil tertawa-tawa sepulang dari masjid. Mereka mengucap salam dan masuk ke dalam rumah. Mendengar suara berat mereka, Karin menghampiri dan mengajak semuanya untuk menikmati jamuan makan siang sebelum pembicaraan akan dilanjutkan kembali. Ajeng menaruh Finn di kamar Zaara setelah bayi itu kenyang dan tertidur pulas. Kini mereka kembali ke ruang tamu dan duduk di atas sofa setelah menyelesaikan makan siang.
__ADS_1
Posisi duduk mereka masih sama. Suasana kini lebih hangat dan cair diselingi candaan kecil dari para orangtua di sana, meskipun tetap saja bagi dua mahasiswa itu suasana masih terlalu canggung.
“Ada yang mau didiskusikan lagi gak, Abang?” tanya Ferdian pada anak sulungnya yang mengulum senyum.
Arsene berdeham.
“Udah gak usah tegang, santai aja, kan lamarannya udah diterima!” ucap Ferdian mencairkan suasana hati Arsene, membuat pemuda itu tersipu. Yang lain ikut tertawa saja.
“Ehm… ada yang saya mau tanyakan sama Zaara, Om!” ucap Arsene tertunduk.
“Silakan!” ujar Reza menanggapi.
“Umm… Apa Zaara mau ikut saya ke Aussie setelah nikah nanti?” tanyanya menatap gadis yang pipinya terlihat bersemu merah itu. “Mengingat kita akan menikah di H-3 sebelum saya pergi. Atau mungkin ada pendapat lain?” lanjutnya.
Zaara terdiam. Memang bukan hal yang mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Bahkan tanggal pernikahan baru saja ditentukan tadi. Arsene sendiri tidak akan mempermasalahkan keputusan Zaara nanti.
“Bisakah aku jawab ini nanti?” tanya Zaara sambil sekilas menatap wajah calon suaminya itu.
“Baiklah!” Arsene mengangguk.
Zaara menatap ayahnya. Ia tahu, biaya kuliah tidaklah murah. Keluarganya sendiri bukan keluarga yang kaya seperti Keluarga Arsene yang berasal dari keluarga pebisnis sukses. Penghasilan ayahnya memang cukup untuk membiayai hidup mereka saat ini. Akan tetapi jika harus membebani lagi ayahnya dengan mengambil cuti dua semester tentu saja dirinya merasa tidak nyaman. Zaara tertunduk, ia teringat proposal hidupnya yang berjanji akan menyelesaikan kuliah tepat waktu dalam 4 tahun atau bahkan kurang dari itu. Sungguh pilihan yang berat, apa Arsene akan keberatan jika mereka harus menjalani hubungan jarak jauh? Ini harus ia pikirkan lagi nanti,
“Oh ya terkait mahar gimana? Apa mau ditentukan sekarang juga?” tanya Ferdian kali ini.
“Gimana Neng?” tanya Reza pada putrinya.
“Itu juga akan saya pikirkan nanti Om!” Zaara membuka ponselnya dan mencatat apa yang harus menjadi perhatiannya.
“Jadi nanti kita masing-masing punya tugas ya! Mungkin biar Mommy dan Umi Karin aja yang mencatat. List kebutuhan pengantin, list tamu undangan, tema dekorasi, katering, undangan, souvenir. Apa kalian mau foto prewedding?” tanya Ajeng.
“Sepertinya ada, tapi mungkin terpisah. Tidak seperti pasangan lain.” Karin menjawab.
“Oh iya, mirip pernikahan Jingga dan Kevin ya?”
“Nah iya betul! Kan konsep pernikahannya Islami.”
__ADS_1
“Oke deh, kita obrolin nanti ya Rin?!”
Sejenak Reza pergi dari sana menuju ruang kerjanya dan mengambil dua buah buku miliknya dan milik istrinya dulu, lalu kembali ke ruang tamu. Kemudian pria itu duduk kembali, sambil menyerahkan buku itu pada anaknya dan Arsene.
“Ini bekal kalian selama proses khitbah ini ya. Tolong dibaca baik-baik dan resapi. Pernikahan itu tidak mudah, tetapi selama kalian mempersiapkan diri dengan iman dan ilmu, insya Allah kalian akan bisa menjalaninya. Kalian masih sama-sama muda, mungkin emosi dan ego akan cukup mendominasinya. Jangan kalah dengannya. Ingat, kembalikan itu semua pada Allah. Ujian pernikahan di awal pasti selalu ada.” Reza memberi nasihat untuk kedua anak muda itu sambil memberikan buku berjudul ‘Kado Pernikahan’.
Arsene memperhatikan buku itu, ada PR baru untuknya.
“Makasih, Om!” ucap Arsene.
“Sama-sama. Semoga saja, Allah meridhoi kita semua!”
“Aamiiin…!” ucap semuanya.
Canda dan tawa kembali menghiasi forum silaturahmi yang sederhana itu. Ajeng menanyakan terkait tema dekorasi yang kemungkinan akan dipakai pada Zaara dan apa warna kesukaannya. Zaara menyukai warna-warna netral seperti broken white, cokelat muda, abu, dan salem. Zaara menyerahkan semua keperluan pesta resepsi pernikahannya pada calon ibu mertuanya itu, karena ia yakin Ajeng memiliki selera yang bagus untuk dekorasi pesta. Apalagi pihak laki-laki yang akan membiayai pesta pernikahan lebih besar, mengingat keluarga Ferdian akan mengundang banyak tamu.
Tiba-tiba terdengar suara motor di luar berhenti di depan pagar. Mereka masih asyik mendiskusikan terkait rencana pesta pernikahan.
“Kalian yakin akan tinggal sendiri setelah nikah?” tanya Ajeng, suaranya terdengar sangat keras.
Namun pertanyaan itu belum terjawab, karena seseorang berhasil mengejutkan mereka semua.
“Assalamu’alaikum,” seorang pria tampan nan modis berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah kotak.
“Wa’alaikumsalam.” Semua terkejut memandangi wajah itu, yang juga memasang ekspresi terkejut yang bukan main.
Siapa dia?
\======
Bersambung....
Jangan lupa VOTE, LIKE, & COMMENT
Yang punya koin, sawer buat Arsene dan Zaara ya, hihi
__ADS_1
Makasiiiiih ^_^