Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 94. Terus Terang


__ADS_3

Zaara tertidur lagi setelah mengucapkan sesuatu yang berhasil membuat Arsene tersenyum. Meski pria itu belum mengerti apakah Zaara sedang mengigau atau tidak. Padahal sebelumnya Zaara masih bisa merespon ucapannya.


Arsene melaksanakan shalat tahajudnya beberapa rakaat ditambah shalat hajat. Ia meminta agar keluarga dan istrinya itu selalu dilindungi Allah swt. Ia juga meminta agar urusannya selalu dimudahkan. Teringat pada telepon Alice semalam bahwa Ardan mengundurkan diri. Apa pengunduran dirinya berkaitan dengan ucapan Alice yang menolak pria itu. Arsene tidak yakin, dan ia akan menanyakannya nanti.


Fajar sudah menyongsong, Arsene membangunkan istrinya segera setelah ponselnya itu menyuarakan adzan. Mereka shalat berjamaah di kamar yang sempit itu. Setelahnya dilanjut dengan melantunkan bacaan Al-Quran. Zaara melipat mukenanya setelah selesai.


“Tadi kamu ngigau ya?” tanya Arsene menarik lengan istrinya untuk duduk di sampingnya.


“Ngigau? Ngigau apa emangnya?” tanya Zaara.


“Kamu bilang, kamu cemburu. Beneran?!”


Zaara terlihat gugup. Ia tidak mengigau, ucapan itu dilontarkannya begitu saja saat tadi dengan kesadaran penuh. Hanya saja rasa kantuk yang berat, membuat ia tidak bisa menjelaskan lebih lanjut.


“Mmh… aku gak ngigau!” jawab Zaara pelan.


“Jadi bener, kamu cemburu? Cemburu karena apa?!” tanya Arsene menyelidik.


Zaara tampak salah tingkah. Ia sadar dirinya terlalu bodoh dan berpikiran negatif sehingga membuatnya kesal sendiri.


“Kemarin siang selepas aku makan di restoran, aku denger suara kamu di belakang gedung. Sepertinya kamu lagi ngobrol sama perempuan. Terus datang temen kamu yang lain, katanya kalian berpacaran!” ungkap Zaara, ia meremas ujung roknya.


“Astaghfirullah, Neng Zaara shalihah, ternyata istriku ini bisa cemburu juga ya? Alhamdulillah!” Arsene mencubit kecil ujung hidung gadis itu, gemas.


“Jadi itu yang bikin kamu pergi keluar jauh ke Parramatta?” tanya Arsene memastikan.


Zaara mengangguk kecil, membulatkan bibirnya.


“Makanya sampai gak sadar pas ada yang maling dompet, karena pikiran kamu jalan-jalan ya?” duga Arsene menggeleng-geleng. Zaara mengangguk lagi.


“Untungnya visa dan paspor aku tinggal di koper. KTP dan kartu ATM-ku yang ilang!”


Arsene mencubit kedua pipi chubby istrinya, lalu menariknya ke dalam dekapan dadanya, sehingga Zaara terbaring di atas tubuh suaminya yang duduk bersandar. Entah kenapa ia merasa senang dicemburui istrinya itu. Ia sadar Zaara begitu mencintainya.


“Aku mau tanya boleh?” tanya Zaara.


“Apa itu?”


“Apa orang-orang di sekolah kamu gak tau kalau kamu udah nikah?” tanya Zaara ragu.


Arsene terdiam, ia menyadari kesalahannya kali ini. Tidak banyak yang tahu status dirinya yang sudah menikah. Cincin nikahnya memang tidak ada, bukan berarti orang menganggapnya tidak memiliki status kan? Apalagi usianya masih muda, tidak akan terpikirkan kalau dirinya itu sudah menikah dan ini di luar negaranya. Pergaulan yang bebas membuat orang-orang yang berkiblat ke Barat sedikit sekali untuk berkomitmen dalam sebuah hubungan.


Arsene teringat malam kemarin ketika pulang bersama, ia menjawab hanya memiliki pacar pada Fiona, gadis yang selalu diisukan menyukai dirinya. Walaupun ia tidak peduli dan akan tetap setia, dirinya harus menjaga dengan memberitahukan statusnya pada orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


“Abang?!” Zaara memecah lamunannya.


“Itu salahku. Gak semua tau kalau aku udah nikah. Siswa-siswa yang tinggal di sini aja yang tahu, sementara di akademi mereka menganggap aku seperti pemuda lainnya.”


“Jadi pantas aja kemarin ada yang bilang kalau kamu pacaran sama seorang perempuan. Apa perempuan itu suka sama Abang?” tanya Zaara menelisik.


“Aku gak yakin. Tapi banyak yang bilang kalau dia suka sama aku.” Arsene tidak berani menatap istrinya.


“Terus apa perempuan itu tahu kalau Abang udah nikah?!” Zaara melepaskan dirinya dari dekapan suaminya.


Arsene menggeleng kecil.


“Dia cuma tau kalau aku punya pacar.”


Zaara mengembuskan nafasnya.


“Pantesan!” ucap Zaara mendengus.


“Pantesan apa?!” Arsene tidak mengerti maksud Zaara.


“Ya, dia seneng lah waktu ada yang bilang kalian sangat cocok. Malah bilangnya ‘dapur kalian pasti akan terus hidup kalau kalian bersama’!” Zaara mengingat ucapan seorang laki-laki siang kemarin yang membuat hatinya kesal sekali.


Arsene menggenggam tangan istrinya, melihat raut wajah kesalnya.


“Kalau Abang cinta sama aku, harusnya bilang kalau Abang udah nikah! Jangan pernah sembunyiin status kita meski gak ada orang yang kenal kita!” ucap Zaara tegas.


Arsene merasa bersalah atas kelakuannya selama enam bulan terakhir ini. Dia memang siswa populer di akademi. Hanya sikapnya yang merendah membuat dirinya tidak merasa populer. Tidak ada gosip mengenai status dirinya yang sudah menikah. Siswa-siswa di sini memang tidak terlalu peduli jadi mengabaikan gosip tersebut. Justru gosip bahwa Fiona menyukainya lebih heboh di sana. Keduanya selalu digoda oleh teman mereka, ketika bekerja dalam station yang sama seperti kemarin. Fiona memang gadis yang ramah, jadi siapapun bisa dekat. Begitu juga dengan dirinya yang tidak membatasi pertemanan.


“Maaf, aku salah!” ucap Arsene pelan, “tapi aku gak ada maksud buat nyembunyiin status kita. Cuma aku gak terlalu peduli sama gosip di luar sana,” lanjutnya.


“Gak peduli bisa bikin orang salah paham karena gak ada yang mengklarifikasi, yang lama kelamaan akan bisa jadi fitnah. Kalau udah jadi fitnah, Abang bisa bayangkan akan jadi apa kedepannya?!” ucap Zaara.


Arsene tertegun dengan ucapan istrinya.


“Maafin Zaara juga, karena setelah itu memutuskan untuk pergi tanpa izin Abang!”


Zaara berdiri dan mengenakan gamis dan kerudungnya. Ia bersiap ke dapur asrama untuk menyiapkan sarapan pagi itu. Arsene hanya menatapnya. Zaara betul, ia harus meluruskan semuanya agar tidak berkembang menjadi fitnah bagi dirinya.


\=\=\=\=\=


Hari ini Arsene libur. Pagi itu setelah sarapan selesai, Arsene mengajak Zaara ke Kissing Point, sebuah taman yang berada di pinggir sungai Parramatta yang jernih. Biasanya banyak anak kecil yang bermain kayak, sejenis perahu dayung kecil, karena aliran sungai begitu tenang di musim panas. Hanya saja, pagi ini mereka menemukan suasana tenang di atas hamparan rumput hijau segar. Tidak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua. Arsene mengajak Zaara untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kalut kemarin. Ia ingin memperbaiki hubungannya.


“Kapan Abang mulai sekolah?” tanya Zaara.

__ADS_1


“Besok udah masuk lagi.” Arsene memeluk lututnya, ia duduk di atas rerumputan hijau.


“Terus kerjanya?”


“Kalau udah masuk sekolah, aku kerja full di resto hari Jumat dan Sabtu sampai malam dan Minggu di restoran akademi sampai jam dua.”


“Kalau sekolah pulang jam berapa?”


“Masuk jam 8, sore jam 4 udah pulang!”


Zaara bisa membayangkan seminggu kedepan dirinya akan berada sendirian di dalam kamar. Arsene memang pekerja keras, ambisinya terlalu kuat sampai-sampai ia tidak berani menggugatnya sedikit pun. Padahal tubuhnya itu terlihat semakin kurus semenjak mereka berpisah. Pikirannya yang banyak membuat pria itu tidak bisa menambah berat badannya.


“Gimana urusan toko udah diselesaikan?” tanya Zaara.


“Kang Ardan sudah fix mengundurkan diri. Posisi Kang Ardan sementara diganti sama Kang Rio dan Kang Hanif isi posisi Kang Rio. Nanti aku coba evaluasi penjualan mulai hari ini sampai seminggu kedepan.”


Ada gurat cemas di wajah Arsene yang memandangi sungai. Mungkin pria muda itu mengkhawatirkan nasib toko ke depannya.


“Semoga semuanya baik-baik aja ya, Abang Sayang!” ucap Zaara menggenggam tangan suaminya.


“Mudah-mudahan!” ucap Arsene tersenyum kecil.


“Mungkin ujian kita sudah dimulai,” ucap Arsene.


“Ujian datang untuk bisa menaikkan derajat iman kita di mata Allah. Allah gak akan ngasih ujian yang lebih dari kemampuan hamba-Nya. Aku yakin kita bisa melewati setiap ujian itu.”


Zaara menatap tenang langit yang biru.


Arsene memang mencemaskan tokonya. Apalagi dirinya berada jauh, membuat ia tidak bisa terjun langsung ke sana untuk memperbaiki keadaan. Hanya saja, ia selalu optimis bahwa masa depannya akan sukses, entah itu berada pada karirnya atau bisnisnya.


“Arsene!” tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari belakang.


Arsene dan Zaara menoleh bersamaan ke sumber suara.


Siapa itu?


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu...


LIKE, COMMENT, dan VOTE yaa


Terima kasih ^_^

__ADS_1


__ADS_2