Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 31


__ADS_3

Malik menatap layar ponselnya cemas, sudah hampir 20 menit Ferdian belum kembali. Ia membangunkan Ghani untuk menyusul kawannya itu.


"Gan, susul Ferdi yuk, perasaan gue gak enak nih!" ujar Malik sambil mengambil jaket dan kunci motornya.


"Emang kemana itu anak?" tanya Ghani mengusap wajahnya dengan air di wastafel dapur.


"Jemput Miss Ajeng," jawab Malik membuka pintu.


"Lah udah tau kapan pulangnya?" tanya Ghani penasaran.


"Biasa, ngandelin insting hati! Cuma gue gak enak perasaan, Lo tau kan kalau dari sini ke gedung rektorat lewat hutan, yuk ah buruan!"


Malik dengan langkahnya menuruni tangga menuju tempat parkir asrama, disusul oleh Ghani. Mereka pergi menuju gedung rektorat melewati hutan kampus, Ghani berbekal sepotong pentungan kayu untuk berjaga-jaga.


Betapa terkejutnya mereka menemukan tubuh Ferdian tergeletak di bawah pepohonan. Motor Ferdian tidak nampak dimana-mana.


"Gan, Gan cepet panggil ambulan!"


Ghani yang panik berusaha mencari nomor darurat klinik terdekat.


"Fer, Fer! Bangun! Lo gak apa-apa?" Malik mencoba membangunkan kawannya itu dengan menepuk pipi yang lusuh dan lecet.


Malik semakin terkejut ketika perut Ferdian bersimbah darah. "Gan buruan panggil ambulan!" ujar Malik panik tangannya menahan pendarahan di perut kawannya.


Ghani berhasil menghubungi klinik terdekat dan meminta dikirimkan ambulans untuk segera menjemput kawannya yang dalam keadaan darurat.


Tak butuh waktu lama, ambulans dari klinik rumah sakit terdekat datang. Para perawat menggotong tubuh Ferdian yang tidak sadar dan membawa pria itu segera menuju instalasi gawat darurat.


Malik dan Ghani mengikuti ambulans ke rumah sakit. Mereka mencoba mencari tahu nomor kerabat terdekat Ferdian. Namun ternyata sulit karena hp Ferdian rusak. Malik baru sadar, ia menanyakan kawan-kawan mahasiswanya di grup kelas untuk meminta nomor Miss Ajeng pada dini hari. Ia, sebagai kordinator kelas, menyesal tidak membackup data nomor-nomor dosen di hp barunya. Memang cukup sulit meminta bantuan saat dini hari, hanya saja ia beruntung. Gina merespon permintaannya itu dan memberikan nomor dosennya itu.


Langsung saja ia menghubungi nomor Miss Ajeng yang sudah diberikan oleh Gina. Sambungan terhubung, tetapi sang empunya nomor belum mengangkatnya. Malik berusaha tenang.


"Halo...." sebuah suara lembut dan serak menyapa.


"Halo...halo Miss Ajeng!" ucap Malik panik dan tegang.


"Dengan siapa ini?" Tanya Ajeng, ia kembali ke kesadaran penuh karena pemilik suara di seberang teleponnya terdengar panik.


"I...ini Malik, Miss! Ferdian kecelakaan Miss!"


"APA??!!! Di mana Ferdian sekarang?" tanya Ajeng, suaranya mulai bergetar.


"Di rumah sakit Cempaka Husada dekat kampus, Miss! Ia sedang dirawat di IGD sekarang," terang Malik.


"Baik saya kesana sekarang!" suara Ajeng terdengar lirih dan bergetar hebat.


Malik agak sedikit lega karena Ajeng sudah mengetahui kabar suaminya itu. Sementara Ajeng segera berlari keluar kamar menuju kamar Papanya dan memberitahukan berita yang ia dapat. Tubuhnya lemas mendengar berita itu, tetapi ia harus tegar dan kuat untuk mengunjungi Ferdian di rumah sakit. Papa yang sudah bangun langsung menyalakan mobilnya dan mengantar anaknya menuju rumah sakit.


Ajeng menangis tersedu-sedu di dalam mobil, ia cemas memikirkan nasib suaminya. Pikirannya kalut


Ajeng langsung berlari ketika Papa memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu IGD. Ia melihat ada mahasiswanya di sana, Malik dan Ghani. Ferdian pasti sudah memberitahukan kepada kawan-kawannya itu kalau ia adalah istrinya.


"Gimana keadaan Ferdian?" tanya Ajeng, air mata tidak berhenti mengalir di pipinya.


"Belum ada kabar dari dokter, Miss!" ucap Ghani yang lebih tenang memberi kabar.


"Kenapa Ferdian bisa kecelakaan? tanya Ajeng lagi.


"Dia tadinya mau jemput Miss di gedung rektorat, tapi ternyata dia kena begal. Motornya hilang, perutnya terluka. Dia gak sadarkan diri pas kita temuin," jelas Malik parau.


"Ya Allah....!" tangisan Ajeng semakin menjadi-jadi mendengar hal mengerikan itu terjadi pada suaminya.


Ajeng memeluk tubuh Papanya, ia merasa sangat lemas dan sangat kacau. Baru kali ini ia merasakan hal itu. Papa berusaja menenangkan putri bungsunya itu.


Kemudian seorang dokter keluar dari ruangan IGD.


"Ada keluarga Ferdian?" tanya dokter memandangi orang-orang berwajah panik di depannya.


"Saya, Dok!" jawab Papa yang berusaha tenang.


"Saudara Ferdian sedikit mengalami pendarahan. Untung saja dia dibawa kesini cepat sehingga pendarahannya tidak banyak. Luka sobek di perut kanannya juga tidak terlalu dalam. Dia perlu dirawat intensif setelah ini sampai kondisi tubuhnya benar-benar stabil," jelas dokter laki-laki yang terlihat masih muda itu.


"Baik Dok, kami akan urus berkas-berkas untuk rawat inapnya," jawab Papa.


"Untuk saat ini, kondisinya memang belum sadar. Tetapi jangan khawatir karena lukanya sudah kami tangani dengan baik dan ia akan kembali sadar sepenuhnya dalam waktu dekat," ujar Dokter menenangkan.


"Terima kasih, Dok!" ucap Papa.

__ADS_1


"Apa saya boleh melihat keadaannya, Dok?" tanya Ajeng lirih.


"Silakan," jawab Dokter.


Dengan langkah gontai dan tubuh bergetar, Ajeng memasuki ruang IGD melihat tubuh suaminya yang belum sadar. Air matanya kembali berderai melihat kondisi suaminya yang wajahnya sedikit lecet dengan perban melilit di perutnya. Ia mendudukkan dirinya di samping tubuh Ferdian dan menggengam erat tangan yang terkulai lemas itu.


"Fer...bangun, Sayang!" ucapnya parau.


Malik dan Ghani memandangi dosennya itu dengan perasaan iba. Mereka juga sedih karena kawannya menjadi korban begal.


Papa berusaha menghubungi orangtua Ferdian, terutama bundanya. Papa tak ingin Pak Gunawan terkejut mengetahui kondisi Ferdian saat ini yang bisa-bisa justru akan membahayakan kesehatannya. Ia meminta kepada Bunda Ferdian, Bella, untuk membawa semua berkas yang dibutuhkan untuk mengurus administrasi perawatan Ferdian di rumah sakit. Papa juga melaporkan kejadian yang dialami menantunya itu kepada polisi, agar kasus itu cepat ditindaklanjuti dan pelakunya bisa segera ditangkap. Rencananya juga nanti ia akan menghubungi pihak rektorat terkait keamanan di sekitar kawasan kampus, agar tidak terjadi hal yang sama.


Ferdian dengan segera dipindahkan ke ruang intensif untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Ajeng meminta Malik dan Ghani untuk beristirahat saja karena saat ini sudah menjadi tugasnya untuk menemani Ferdian.


"Malik, Ghani, makasih banyak ya kalian udah nyelamatin Ferdi," ucap Ajeng memandangi kedua mahasiswanya itu.


"Sama-sama Miss, Ferdian udah kita anggap kaya saudara sendiri," jawab Malik.


"Kalian istirahat aja, biar saya yang jaga di sini. Karena sudah menjadi tugas istri untuk merawat suaminya, bukan?!"


"Baik, Miss! Nanti hubungi kami lagi aja kalau butuh apa-apa," seru Malik.


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih," ucap Ajeng.


"Miss jangan sedih, Ferdian akan baik-baik saja. Dan kita juga udah janji sama Ferdian, tidak akan membocorkan hubungan Miss dan Ferdian," ucap Malik lagi.


"Tidak apa-apa," jawab Ajeng singkat. Ia jadi memikirkan, bagaimana jadinya kalau kawan-kawan Ferdian itu tidak pernah mengetahui hubungan mereka, mungkin kondisi Ferdian tidak akan pernah selamat.


\=\=\=\=


Ajeng tertidur di samping matras dimana tubuh Ferdian terbaring. Ia menjadikan tangannya yang terlipat sebagai alas kepalanya.


Sesaat, tangan Ferdian dan kelopak matanya bergerak. Ia mencoba membuka matanya perlahan. Ia tidak mengerti kenapa ia berbaring di matras sebuah ruangan putih yang berbau aneh. Ia baru sadar kalau tadi ia terjatuh dari motornya, ada rasa perih di bagian perutnya. Saat itu juga ia tahu ada seorang wanita yang tertidur di sampingnya. Wanita yang sangat ia rindukan.


Ferdian mengelus lembut rambut Ajeng, membelainya beberapa kali sampai akhirnya wanita itu terbangun.


"Sayang...." ucap Ajeng lirih, ia tak dapat lagi menahan air matanya untuk yang kesekian kalinya. Ia ingin sekali memeluk tubuh suaminya itu, tetapi ia sadar tubuh suaminya itu sedang terluka.


Ferdian mengusap lembut pipi istrinya, menghapus tangisan yang ditumpahkannya.


"Jangan nangis, Sayang! Aku gak apa-apa kok!" ujar Ferdian lemah.


"Aku cuma luka sedikit aja kok, besok juga sembuh!" ucapnya percaya diri.


Ajeng tetap merasa sedih dan cemas, bibir wanita itu murung. Meski tanpa makeup, ia tetap terlihat cantik di mata Ferdian.


Ferdian mencoba duduk di matras. Ajeng membantunya untuk mengangkat matras bagian atas agar Ferdian bisa memposisikan tubuhnya untuk duduk bersandar.


"Tuh kan aku gak apa-apa, masih bisa duduk kok," ujar Ferdian tenang tetapi ia menahan rasa perih di perutnya.


"Udah kamu jangan banyak bicara dulu, istirahat aja sampai benar-benar sembuh," kata Ajeng.


"Iyaa Sayangku!" Ferdian menarik tengkuk leher istrinya, berusaha untuk mengecup istrinya itu.


"Kamu tahu gak?" Tanya Ferdian, kening mereka saling menempel.


"Apa?" tanya Ajeng merasakan deru nafas suami di hadapannya.


"Aku tuh kangen banget sama kamu! Kalau aja ini di kasur kita, mungkin aku udah lahap kamu," godanya dengan lirikan genit.


Ajeng tertawa kecil. Bahkan di saat itu, Ferdian masih bisa menggodanya.


"Kami gak boleh banyak gerak, bahaya! Nanti luka jahitan kamu lepas!" Ajeng memberi peringatan.


"Huff...mendingan puasa deh ya?"


"Iya, puasa aja dulu sampai sembuh," ujar Ajeng.


"Yah....sedih deh!"


Ajeng mencubit kecil hidung mancung suaminya itu karena gemas. Namun Ferdian justru semakin menarik tengkuk istrinya itu dan mengecup lembut bibir yang selalu membuatnya ketagihan.


"Nanti ada perawat masuk, lho!"


"Biarin, kamu kan istri aku!" ucapnya sambil menciumnya lagi.


Dan benar saja, dua orang perawat perempuan masuk dengan wajah meredam malu dan salah tingkah. Sepertinya, kedua perawat itu memperhatikan dua orang di dalam kamar perawatan VIP itu.

__ADS_1


Ajeng terperanjat dan langsung berdiri.


"Maaf menggangu, Mas Ferdian sudah sadar ya?" sapa salah satu perawat yang mengenakan hijab.


"Sudah suster, sadar kalau saya rindu berat sama istri saya," ujar pria itu membuat wajah Ajeng merona.


Kedua perawat yang kemungkinan sudah berusia 40 tahunan itu tertawa geli mendengar pasiennya itu begitu jago membual bahkan meski tubuhnya sedang terluka.


"Duh so sweet banget nih! Kita periksa dulu lukanya ya Mas!" izin perawat yang satu lagi kemudian dengan cekatan memeriksa jahitan luka di perut Ferdian. Ia mengoles salep agar lukanya cepat kering. Ia juga mengecek tekanan darah dan detak jantung.


"Alhamdulillah tekanan darah bagus dan normal, detak jantung juga normal, jahitan luka juga bagus," terang perawat yang berhijab.


"Ah suster salah ya, padahal jantung saya berdebaran lho kalau sama istri saya," goda Ferdian, Ajeng tampak memelototinya kesal.


"Masnya bisa aja deh," ucap perawat terlihat geli.


"Maaf ya Suster, suami saya emang gitu, sering gombal," ujar Ajeng sambil menahan malu.


"Gak apa-apa, Teh! Biar cepet sembuh," jawab perawat satu lagi.


Ferdian hanya tertawa cekikikan, membuat perutnya terasa perih.


"Masnya jangan banyak tertawa dan gerak-gerak ya, kalau ingin cepet sembuh harus nurut sama dokter dan perawat! Ini obatnya harus diminum ya setelah makan," terang suster meletakan obat di atas nakas.


"Siap suster!" jawab Ferdian tegas.


Kedua perawat itu kemudian pamit untuk memeriksa pasien yang lainnya. Perawat akan datang memeriksa lagi malam nanti, ya untuk berjaga-jaga saja kalau-kalau mereka sedang mencuri waktu untuk bermesraan seperti tadi.


Ajeng mencubit lembut lengan Ferdian ketika para perawat keluar. Kelakuan suaminya itu membuat gemas dirinya.


"Kamu semalem pulang sama siapa?" Tanya Ferdian.


Ajeng agak ragu menjawab, mengingat kondisi Ferdian yang terluka.


"Sama temen," jawabnya singkat.


"Temen yang mana? Siapa namanya?"


"Umm... Ardi," jawab Ajeng kaku, khawatir suaminya itu akan marah menanggapinya.


"Ooh...Pak Ardi! Ya udah yang penting kamu selamat," respon Ferdian lembut dan tidak menunjukkan apa-apa. Ferdian tentu sudah menduga sebelumnya, kalau istrinya itu akan pulang dengan Ardi.


Ferdian hanya menarik tubuh Ajeng untuk didekapnya di sebelah kiri tubuhnya. Ia hanya ingin melepaskan rindu yang tertahan selama 3 hari ini.


"Maafin aku ya," ucap Ferdian lirih.


"Untuk?"


"Karena suami kamu ini bucin dan bodoh, bikin hp sendiri jadi rusak, dan rugi sendiri gak bisa jemput kamu dan sekarang malah kaya gini," terang Ferdian menyesali perbuatannya.


"Kenapa jadi rusak? tanya Ajeng heran, ia berpikir.


Sebelum Ferdian menjawab, perempuan itu mencoba menebak.


"Jangan-jangan karena foto yang dipos Novi ya?"


Ferdian mengangguk.


Ajeng menggelengkan kepalanya dan kembali mencubit hidung suaminya.


"Cemburu boleh, Sayang! Tapi bodoh jangan, ingat ya!"


"Itulah bodohnya suami kamu!"


Ferdian terkekeh karena ingat kebodohan yang dilakukannya sendiri.


"Istirahat ya, Sayang! Aku mau mandi dulu nih, bentar lagi bunda datang,"


"Iya, Sayang. Jangan lama-lama ya, aku gak mau jauh lagi dari kamu!"


Ajeng tersenyum menatap suaminya.


\=\=\=\=\=


Vote vote


Like like

__ADS_1


Comment comment


Makasih udah jadi pembaca setia kisah Ajeng dan Ferdian ❤️🤗


__ADS_2