
Bunyi kucuran shower deras terdengar, Ferdian sedang membilas tubuhnya yang berlumuran busa dari sabun cairnya. Otot-ototnya yang beberapa bulan kemarin dilatihnya, masih tetap kekar dan menonjol di bagian lengan, punggung, dan dadanya. Pria itu menutup kerannya, lalu mengeringkan tubuhnya dengan handuk, dan berjalan keluar kamar mandinya.
Seketika itu ia mendengar sesuatu dari arah meja belajarnya. Getaran ponselnya terdengar kuat, meski tidak ada nada dering di sana. Hampir saja ponsel itu terjatuh dari atas meja belajarnya kalau ia tidak segera menangkapnya. Aplikasi Skype-nya menyala, itu dari istrinya.
“Hai, Sayang!” sapanya sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah. Tubuhnya bertelanjang dada, dan bagian bawahnya masih terlilit handuk di sana.
Wajah Ajeng yang muncul di layar ponsel mengernyitkan matanya, ketika ia melihat tubuh suaminya tanpa sehelai pakaian. Ia menutup matanya dengan sebelah tangannya.
“Emang kamu gak kangen sama badan kekar aku?” ujar Ferdian menggoda istrinya. Kamera ponselnya justru ia arahkan ke dada bidangnya.
“Ferdiaaaaan!” teriak Ajeng.
“Kenapa?”
“Aku kan gak bisa peluk kamu, jadi jangan bikin aku ‘halu’ sama kamu!” ucap Ajeng cemberut.
“Kamu aja tuh pakai dress seksi gitu, coba merunduk dikit deh!” goda Ferdian, lagi-lagi membuat istrinya berteriak, lalu menutup mulutnya karena ia lupa ada Arsene sedang tidur di sampingnya. Ajeng berpindah tempat dan masuk ke dalam ruang gantinya.
“Pakai baju dulu sana, nanti masuk angin lho!” seru Ajeng melihat Ferdian malah bersandar di dipan kasurnya.
“Enggak ah, biar aja begini. Biar kamu bayangin aku,” godanya lagi dengan ekspresi wajah sayu dan sok seksinya.
“Paling kamu nanti yang gak bisa tidur, atau ujung-ujungnya mimpi basah,” sahut Ajeng mengolok-olok.
Ferdian jadi terkekeh-kekeh sendiri. Ucapan istrinya itu benar, bahkan dalam sebulan ini ia sering mengalami mimpi basah karena hasrat tubuhnya tidak tersalurkan dengan baik.
“Kenapa ketawa?” tanya Ajeng.
“Enggak apa-apa. Aku pakai baju dulu bentar ya?”
“Iya!”
“Mau lihat pertunjukan fantastis?” goda Ferdian menggoyang-goyangkan kepalanya.
“Enggaaaak! Cepetan, aku juga mau minum dulu.”
Ferdian tersenyum menggeleng-geleng, ia rindu menggoda istrinya secara langsung. Setelah menikah, memang itulah hobi yang paling disukainya, menggoda istrinya di atas kasur.
Ferdian membiarkan ponsel dan aplikasinya tetap menyala, sementara ia mengambil kaos panjang hitam miliknya dan mengenakannya. Ferdian kembali mengambil ponsel ketika tubuhnya sudah berpakaian lengkap.
“Udah selesai?” tanya Ajeng ketika melihat suaminya itu sudah kembali.
“Udah. Jadi tadi mau nanya apa?”
“Cewek bule tadi beneran cuma temen?” tanya Ajeng memicingkan matanya.
“Iyalah, udah aku bilang aku cuma cinta kamu seorang!” jawaban itu membuat Ajeng terlihat merona.
“Terus kenapa tadi kalian ngobrol berdua gitu?”
“Dia lagi curhat, karena ada masalah sama Ridho. Mau tau sesuatu gak?” pancing Ferdian.
“Emang apa tuh?” tanya Ajeng menyelidik.
“Ridho dapat first kiss dari Patricia.”
“Oh, really?!”
Ferdian mengangguk, “kasian Ridho sebenarnya, Patricia curi ciuman pertamanya. Tapi ya itulah, kalau udah jatuh cinta bisa bikin orang jadi gila dan gak waras. Ridho marah besar, makanya Patricia jadi cemas.”
“Terus kamu kasih saran apa sama Ridho?”
“Aku belum bisa kasih masukan apa-apa. Kalau anak itu marah, nasihat apapun gak bakalan masuk. Jadi aku minta ke Patricia untuk meminta maaf, tapi setelah kondisi Ridho normal," terang Ferdian, tangan kirinya sibuk menyisir rambut dengan jarinya yang panjang.
Ajeng mengangguk-angguk.
“Jadi Patricia suka sama Ridho?”
“Iya! Tapi ya karena Patricia beda agama, itu yang membuat Ridho gak bisa nerima dia.”
“Prinsip hidup ya? Ya gimana lagi, cewek itu harus menghargai Ridho sih.”
“Iya, betul. Aku jadi bingung ngadepin Ridho sekarang dan dia malah jadi sakit.”
“Wah Ridho sampai sakit? Kasian banget, pasti kepikiran terus tuh.”
“Menurut kamu, aku harus gimana?”
“Hmm…, let me think!”
Sambil menunggu jawaban istrinya, Ferdian malah menatap wajah istrinya yang sedang berpikir dan tidak balik menatapnya. Leher jenjangnya yang putih mulus, tulang selangkanya yang indah, dan tentu saja bagian dada atasnya yang sedikit terbuka membuat pikirannya sedikit berkelana ke fantasi liarnya. Jika saja ia mencium bau tubuh wanitanya itu, sudah pasti ia tidak bisa menahan lagi hasratnya.
“Menurut kamu gimana?” tanya Ajeng setelah mengemukakan pendapatnya. Sayang sekali, lamunan Ferdian membuatnya tidak menangkap pendapat istrinya itu.
“Sayang….” panggil Ajeng.
“Eh!” Ferdian tersadar, “gimana tadi?”
“Apa Ridho gak ada ketertarikan sama sekali sama Patricia?”
__ADS_1
“Hmm, kayaknya ada tapi sedikit mungkin. Toh pas pertama ketemu, dia bilang Patricia cantik. Oya kemarin, ustadz yang biasa ngisi kajian hari Minggu nawarin dia untuk ta’aruf.”
“Dia mau?”
“Katanya mau coba, tapi gak tau lagi nih soalnya dia belum kasih jawabannya.”
“Dia benar-benar butuh waktu untuk berpikir ya?”
“Iya.”
“Ya udah kamu ajak dia cerita aja tentang perasaannya sekarang. Pancing aja terus, siapa tau kita bisa bantu.”
“Oke, nanti aku ajak dia ngobrol lagi.”
“Oh iya, aku baru sadar, kamu gak kerja, Sayang?”
“Enggak, tanggal merah di sini,” jawab Ajeng memainkan anak rambutnya yang tergerai di depan telinganya.
“Oh pantesan Arsene bisa tidur pagi.”
“Semalam rewel karena pengen mimi, tapi kan lagi disapih, jadi nangis semalaman deh.”
“Aku juga pengen mimi, gimana dong?” goda Ferdian.
“Pulang sini makanya!” ucap Ajeng dengan intonasi tinggi.
Keduanya tertawa-tawa lepas, meski wajah mereka sama-sama merona karena hasrat cinta mereka yang tertanam dalam jiwa.
“Kamu istirahat ya, aku mau selesaikan kerjaan aku!” ucap Ajeng mengusap air mata tertawanya.
“Gak mau, aku pengen dikelonin!” ucap Ferdian manja.
“Gimana caranya ngelonin online?” wajah Ajeng mengerut.
“Gak tau, kamu harus kreatif dong.”
“Iih, udah sana tidur, besok masuk kelas lagi kan?”
“Gak mau, pokoknya pengen dikelonin dulu!”
Ajeng menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal yang paling sulit ditolaknya adalah ketika menghadapi suaminya yang bersikap manja seperti ini.
“Kiss me like Arsene always did (Cium aku seperti yang Arsene selalu lakukan)!” seru Ferdian.
“Itu mah cium layar, bukan cium wajah kamu,” ujar Ajeng terkekeh-kekeh.
“Anggap aja itu aku, oke?" satu matanya mengerling genit.
Ajeng melakukan apa yang selalu dilakukan oleh Arsene, ia mencium kamera ponsel sehingga bibirnya menempel di sana. Begitu pula dengan Ferdian yang membalas ciuman itu. Mereka sedang berciuman online, menggelikan sekali.
\=====
Hari Minggu pagi, Trey dan Ferdian keluar dari Winston Tower, menuju sebuah studio fotografi sekaligus kafe, di kawasan Randolph Street. Hari itu rencananya Trey akan mengambil foto untuk produk fashion terbarunya. Beberapa pegawainya sudah berada di City Winery dan membawa banyak perlengkapan untuk pengambilan foto hari itu.
Berkonsep industrial modern, bangunan kafe sekaligus studio foto itu tampak terlihat keren dengan kaca tebal mendominasi 2 per 3 bangunannya yang berbentuk balok. Setiap sisi temboknya berhias batu bata berwarna beige dan juga plank wood berwarna senada. Lampu-lampu kecil menghiasi langit atapnya meski hari masih pagi.
Trey menemui krunya dan berbicara dengan mereka, sementara Ferdian duduk di salah satu kursi meja kafe sambil memperhatikan atmosfer kafe ini. Konsepnya bangunan ini bagus, menggabungkan antara kafe dan studio foto adalah sesuatu yang brilian. Sepertinya ia harus mengadopsi konsep ini untuk kafe miliknya.
Trey menghampiri Ferdian sambil membawa sebuah jaket bergaya casual berwarna cokelat muda. Di belakangnya, beberapa orang kru mendorong sebuah gantungan pakaian yang sudah berisi beberapa pakaian yang akan dikenakan oleh Ferdian hari itu. Kemudian mereka semua berkumpul.
“Hari ini kita akan memulai pemotretan. Ini Ferdian kawan saya. Ada sepuluh pakaian yang akan diambil gambarnya, dan kita akan mengambil gambar semi outdoor. Sebagian pakaian berwarna gelap akan diambil di dalam studio, sementara pakaian berwarna cerah akan diambil di luar. Bagaimana, kau siap, Ferdian?” terang Trey.
Ferdian mengangguk. Trey membantunya untuk mengganti pakaiannya di ruang ganti, ketika para kru sibuk mempersiapkan latar belakang foto dan pencahayaan di ruang studio.
Alunan musik R&B mengalun di dalam studio, membuat suasana lebih enerjik dan semangat. Ferdian yang sudah mengenakan sebuah hoodie unik berwarna navy dengan celana jeansnya. Koleksi yang akan diproduksi oleh perusahaan milik Trey adalah koleksi musim dingin untuk busana yang dikenakan oleh Ferdian di dalam studio. Fotografer mengarahkannya untuk bergaya sesuai dengan yang modelnya inginkan dulu. Dengan lihai, Ferdian bergaya di depan kamera. Musik membantu suasana moodnya bagus. Jadi ia bisa menikmati pekerjaan dadakannya itu.
Beberapa kru memberinya jempol, bahkan Trey sampai terkesima kalau kawan pelatihannya itu seperti model profesional yang tidak canggung sama sekali. Ia melihat hasilnya setelah hampir satu jam mereka melakukan pemotretan di studio.
“Kau melakukan pekerjaanmu dengan bagus, Ferdian! Aku salut!” puji Trey menepuk pundak Ferdian yang sedang melihat hasil pemotretannya.
“Terima kasih!” ucap Ferdian.
“Kau istirahatlah dahulu, pelayan akan membawakanmu makan dan minum kesini. Tiga puluh menit lagi kita akan mengambil gambar di luar.”
“Baik!” jawab Ferdian, ia beristirahat di sebuah sofa di ujung ruangan. Ada beberapa makanan ringan, air mineral, dan juga jus segar di sana. Ferdian meneguk air mineralnya.
Sambil menikmati cemilan yang tersaji di sana, Ferdian membuka ponselnya dan mengecek pesan yang masuk ke aplikasi pesan instannya.
[Fer, aku gak ikut kajian dulu. Masih gak enak badan] ada pesan dari Ridho.
Terpaksa Ferdian harus berangkat sendiri setelah pekerjaannya selesai.
Ridho memang belum benar-benar pulih sejak kejadian malam itu, sepertinya sohibnya itu terlalu memikirkan hal itu. Ia tetap mengikuti pelatihan, hanya saja konsentrasinya tidak penuh. Jadi Ferdian meminta agar Patricia tidak menyapanya dulu.
\=====
__ADS_1
“Terima kasih banyak untuk hari ini, aku akan sangat berhutang padamu jika produk kami ini laris di pasaran,” ucap Trey setelah ia memastikan hasil pemotretan sudah benar-benar bagus dan keren.
“Sama-sama, semoga usahamu lancar!” balas Ferdian.
“Sekarang kau akan kemana?”
“Seperti biasa, aku akan ke Islamic Center.”
“Ooh, Ridho tidak ikut?”
“Tidak, dia masih kurang fit sepertinya.”
“Ah begitu, baiklah! Aku sudah mentransfer hasil jerih payahmu. Silakan dicek.”
“Terima kasih banyak, Trey! Aku pergi dulu ya?”
“Baiklah.”
Ferdian berjalan keluar dari gedung kafe tersebut. Ia lelah sebenarnya setelah menghabiskan waktu hampir dua jam. Hanya saja, kehilangan ilmu satu hari saja sepertinya ia bakal merugi. Jadi ia tetap memutuskan untuk pergi ke Islamic Center.
Tidak banyak orang yang berjalan di sana, ketika ia melangkahkan kakinya sambil menyusuri pedestrian way yang lebar dan rapi dengan pepohonan yang berjejer segar. Saat ia hendak menyeberang ke Washington Boulevard, ia melihat seorang perempuan berhijab, yang mengenakan blazer warna terracota, terjengkang jatuh di atas trotoar.
Seorang laki-laki berkulit putih dan berambut pirang memaki-makinya. Ia menginjak-injak kertas-kertas yang mungkin dibawa oleh perempuan Muslimah tadi. Sementara perempuan itu menahan pria itu, akan tetapi malah lengannya kemudian diinjak keras oleh pria itu. Perempuan itu meringis kesakitan. Ferdian mengenal wajah muslimah itu. Muslimah yang pernah ditemuinya minggu lalu di Islamic Center.
"Hey apa yang kau lakukan?" teriak Ferdian pada laki-laki bule itu dalam bahasa Inggris.
"Dia seorang jal*ng!"
Ferdian beristighfar dalam hati.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Ferdian menatap tajam pria yang terlihat merah padam karena emosi.
"Dia itu Muslim! Dia tidak pantas berada di sini! Dia ter*ris!" teriak pria bule itu sambil menunjuk perempuan itu, kemudian berlari kencang ketika orang-orang mulai memperhatikannya dan berjalan ke arahnya.
"Kurang ajar!" maki Ferdian. Ia tidak akan mengejar orang itu. Biarlah aparat keamanan nanti yang menindaklanjuti. Ia harus menolong perempuan ini dulu.
"Kau tidak apa-apa Miss?" tanya Ferdian menatap perempuan berwajah oriental yang masih memegangi tangannya yang terluka. Wajahnya meringis ketakutan. Perempuan itu mengangguk.
Ferdian memperhatikan tangan dan jari perempuan itu yang terlihat memar kemerahan. Ia membantunya berdiri.
"Kau harus pergi ke klinik untuk diobati. Aku akan antar!"
"Tapi kertas ini harus kubawa," ucapnya bergetar.
Ferdian memunguti kertas-kertas HVS yang terdapat banyak tulisan itu. Sepertinya perempuan ini seorang mahasiswa. Ia mengumpulkannya dan mengajak perempuan itu untuk menaiki taksi untuk menuju klinik terdekat.
"Kenapa dia memaki-makimu?" tanya Ferdian dalam bahasa Inggris ketika di dalam taksi.
"Saya tidak tahu. Saya hanya sedang berjalan sehabis pulang dari kediaman teman. Tiba-tiba saja pria itu mendorong saya keras. Mungkin ini hanya kasus Islamofobia lainnya, karena saya mengenakan hijab!" terang perempuan itu masih memegangi tangannya yang kesakitan.
Ferdian mengangguk-angguk. Berita yang pernah ditontonnya beberapa waktu lalu, kali ini terjadi di depan matanya. Sungguh miris rasanya.
"Tingkat islamofobia meningkat akhir-akhir ini. Jadi kalian para muslimah yang mengenakan hijab sudah seharusnya lebih berhati-hati," ujar Ferdian.
Mereka pun berhenti di sebuah klinik kecil di samping jalan raya. Ferdian membayarkan ongkos taksi.
"Maaf tapi sepertinya saya tidak perlu pergi ke klinik," ucap perempuan itu ragu.
"Biarkan saya membantumu, anggap saja kebaikan dari saudara sesama Muslim."
Perempuan itu tersenyum kecil dan menerima bantuan dari Ferdian. Perempuan itu pun diperiksa dan diobati oleh dokter. Sementara Ferdian menunggunya sekedar untuk memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja. Perempuan itu pun keluar dengan perban di tangannya.
"Apa kata dokter?" tanya Ferdian.
"Tangan saya hanya mengalami memar dan sedikit pergeseran tulang di ruas jari tengah. Katanya akan kembali normal setelah kurang lebih seminggu," terang perempuan itu.
Ferdian tersenyum, "Alhamdulillah, semoga kau bisa lekas sembuh!"
"Terima kasih banyak, Tuan! Semoga Allah membalas kebaikanmu!" ucap perempuan itu menunduk.
"Aamiin. Kalau begitu saya pergi dulu. Semoga Allah melindungimu!"
"Tunggu, Tuan! Siapa namamu? Siapa tahu saya bisa membalas kebaikanmu suatu hari," tanya perempuan muslimah berhijab biru itu.
"Nama saya Ferdian."
"Anda dari Indonesia?"
"Ya, betul!”
“Saya Namira, saya juga dari Indonesia!"
"Salam kenal, Namira! Saya permisi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ferdian pun keluar dari klinik itu. Perempuan itu terus memperhatikan sosok Ferdian yang kemudian kembali menaiki taksi.
\=====
__ADS_1
Bersambung dulu yaa
Like, comment, votenya jangan lupa ^_^