Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 131. Jemput


__ADS_3

Astria kembali masuk ke dalam setelah melihat banyak wajah yang dikenalnya tengah berdiri depan gedung. Menjambak rambutnya sendiri karena tertekan dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya.


“Gimana, Non?!”


“Urus aja sendiri!” teriaknya kesal.


Tamu pestanya menatapnya dengan curiga melihat wajah kesal dan panik Astria. Astria mengambil sebuah gelas dan meminumnya. Itu adalah minuman keras yang tersaji di sana.


“Astria!” panggil seseorang dengan lantang, membuat gadis yang sedang duduk di kursi bar itu menoleh frustrasi.


“Papa!”


Wildan, ayah dari Astria, menghampirinya. Menyeret tubuhnya dengan paksa ke dalam ruangan lain yang lebih sepi. Ayahnya itu menghempaskan tubuh putrinya ke atas sofa.


“Apa yang kamu perbuat lagi, hah?!” teriak Wildan.


“A-aku cuma b-bikin pesta ini aja, Pa!” jawab Astria ketakutan.


“Lalu kenapa bisa sampai Tuan Gunawan datang kesini?! Apa yang sudah kamu perbuat pada Keluarga Winata?!”


DEG. Astria tidak mampu menatap wajah geram ayahnya yang mengerikan. Ia kalut dengan tubuh yang bergetar.


“Bulan depan kamu menikah, tetapi masih bikin ulah! Jika Paul tahu kamu berulah lagi, dia pasti tidak akan menikahimu!”


“Pa!”


“Cepat katakan apa yang kamu lakukan?!” Wildan membanting sebuah gelas ke lantai, membuat Astria semakin ketakutan.


“A-aku cu-cuma mau b-balas dendam, sedikit!” ucapnya ragu.


“Astaga! Jangan bilang kamu sedang menyekap seseorang? Dimana dia?!” teriak Wildan.


Astria menangis merintih karena ketakutan.


"Dimana?!" teriak Wildan.


PLAK.


Wajah mulus anak semata wayangnya itu ditamparnya, kini terlihat merah dan memar. Astria memegangi pipinya yang perih, sambil terus menangis ketakutan karena ayahnya yang beringas emosi.


“Bono, Apuy! Sini! Dimana dia kurung anak itu?!” teriak Wildan pada dua pria penjaga klub malam itu.


Pria yang hidungnya terluka tadi, menghampiri Wildan. Tertunduk karena segan, meski Wildan bukanlah bosnya. Ia akhirnya menunjukkan jalan


“Awas, Papa gak akan anggap kamu anak lagi setelah ini! Kamu udah rusak karir Papa dan juga harga diri Papa di mata Tuan Gunawan! Siap-siap aja hidup susah As!” ucap Wildan dengan emosinya, lalu beringsut pergi keluar.


Astria berteriak merintih. Kawan-kawan pestanya hanya memperhatikannya saja dari jauh sambil berbisik-bisik.


Ferdian yang telah diajak oleh Wildan, mengikuti pria berotot bernama Apuy, yang wajahnya sempat terkena tendangan Arsene tadi sore. Mereka berjalan melalui sisi belakang gedung sehingga mengantarkan kepada ruang bawah tanah tempat penyimpanan minuman-minuman keras yang masih disegel.


Ferdian terus beristighfar dan berdzikir di dalam hatinya, berharap anaknya itu ada di sana dan tidak apa-apa. Jantungnya berdebar tidak karuan.


Dengan ragu, Apuy membuka kunci pintu ruangan kecil paling pojok di ruangan bawah tanah yang sumpek dan minim udara. Begitu terkejutnya Ferdian mendapati anaknya terbaring lemas di sana tidak sadarkan diri. Darah mengucur dari dahinya menggenang sedikit di atas ubin. Tubuh Ferdian bergetar dan lemas melihat kondisi putranya. Tetapi ia berusaha kuat untuk membawanya keluar.


“Ya Allah... Abang Acen, kamu harus kuat!” ucapnya lirih. Ferdian segera mengangkat tubuh anaknya dengan susah payah.


Ferdian dengan langkah panjangnya berhasil menggendong tubuh anaknya di punggungnya lewat bantuan Wildan, yang tak menyangka putrinya akan berulah keji seperti ini. Ia merasa malu dan tidak punya harga diri lagi di depan Keluarga Winata, yang pasti akan menyeret putrinya ke dalam penjara.


Ferdian keluar sambil membopong tubuh Arsene. “Pak buka mobilnya, Pak!” seru Ferdian berteriak panik pada Pak Arsyad.

__ADS_1


“Astaghfirullah, astaghfirullahaladzim...” teriak Zaara lirih. Tubuhnya terkulai lemas mendapati tubuh suaminya seperti itu, apalagi terlihat darah menetes dari dahinya mengenai kaos yang dikenakan oleh Ferdian.


“Neng! Zaara!” Reza menahan tubuh putrinya yang kini terkulai lemas karena terlalu kaget. Akan tetapi, Zaara masih bisa berdiri tegak meskipun jantungnya sudah merasa lepas entah kemana.


Dengan tangan dan lutut gemetaran, Zaara mengikuti ayah mertuanya menaiki mobil Opa Gunawan, segera mungkin membawanya ke rumah sakit terdekat. Zaara menangis lirih di samping tubuh suaminya.


“Abang... bangun, Abang!” serunya lirih, air matanya deras.


“Abang pasti kuat, Ra!” ucap Ferdian berusaha menenangkan menantunya dan dirinya juga, sambil menahan luka di dahi Arsene.


Arsene segera dibawa ke IGD sebuah rumah sakit yang dekat dengan kampusnya dan diberikan tindakan untuk diperiksa lebih lanjut. Reza memeluk tubuh putrinya yang terduduk lemah di kursi. Bahunya bergetar. Sementara air matanya terus bercucuran.


Ajeng datang bersama Karin dengan mobil suaminya untuk mengetahui kondisi anaknya. Keduanya melangkah dengan tergesa-gesa menuju keluarga mereka yang tengah menunggu di sana.


“Abang mana?!” tanya Ajeng panik menatap suaminya yang kaosnya masih bersimbah darah Arsene.


“Abang udah di dalam!” ucap Ferdian memeluk tubuh istrinya.


“Abang kenapa, Sayang?!” tanya Ajeng lirih.


“Nanti aku ceritain. Kamu bawa baju aku kan?” tanya Ferdian.


Ajeng mengangguk dan mengambil kaos milik Ferdian dari tas jinjingnya.


“Aku ganti baju dulu!” ucap Ferdian berlalu ke toilet.


Ajeng terduduk lemas di samping Zaara yang terus menangis dalam dekapan ibunya. Seketika ingatannya berlari menuju 18 tahun silam, ketika hal yang mengerikan terjadi pada anak sulungnya itu. Hatinya terus berdoa, berharap agar Arsene tidak apa-apa.


“Zaara yang kuat ya, Arsene pasti bisa lewatin ini semua!” ucap Ajeng mengelus kepala menantunya.


“Iya Mommy!”


“Saudara Arsene mengalami luka ringan di dahi dan cedera di punggungnya. Ia akan segera siuman dan pulih dalam waktu dekat. Beruntungnya darah yang keluar dari dahinya tidak banyak. Ia akan dipindahkan ke ruang perawatan saat ini juga,” terang dokter.


Ferdian merasa sedikit lega mendengar anaknya akan baik-baik saja. “Baik Dokter, terima kasih banyak!” ucapnya. Zaara yang juga merasa begitu. Ia ingin segera menemui suaminya malam itu. Doa terus diuntaikan dalam hatinya semoga suaminya bisa segera sadar.


Zaara memandangi wajah damai suaminya yang masih belum sadarkan diri. Perban putih melilit kepalanya. Pipi kanannya terlihat memar kebiruan. Sedangkan pergelangan tangannya kemerahan karena ikatan tali yang mengekangnya. Zaara menaruh kepalanya di atas lipatan tangannya. Sesekali ia menyentuh jari suaminya, berharap agar pria itu segera bangun dan menyimpulkan senyuman yang indahnya lagi.


“Ra, kamu istirahat aja! Biar mommy dan daddy yang jaga Arsene di sini!” ucap Ajeng merangkul tubuh Zaara.


“Maaf Mommy. tapi Zaara ingin tunggu sampai Arsene bangun,” jawab Zaara sendu.


Ajeng menghela nafasnya. Ia pun pernah di posisi ini. Ajeng mengangguk dan mengelus kepala Zaara, membiarkan gadis itu menunggu kekasihnya terbangun sambil terus memegangi satu jari milik Arsene. Karena kelelahan, Zaara akhirnya tertidur di samping Arsene dengan posisi tangan terlipat di bawah kepalanya.


Sebuah sentuhan terasa di kepala Zaara saat waktu menunjukkan pukul 03.15. Gadis itu merasa pegal di sekujur badannya terlebih leher dan tangannya karena posisi tidurnya yang terpaksa. Sejenak, ia merasakan sentuhan itu yang membuatnya terperanjat, terbangun.


“Abang!” ucapnya parau.


Sebuah senyuman kecil menyapanya. Tangis Zaara tidak terbendung lagi, melihat suaminya yang sudah siuman di depan matanya. Ia menggenggam erat tangan lelaki itu dan mengecupnya.


“Alhamdulillah, ya Allah!” ucap Zaara berderai air mata.


“Maaf…” ucap Arsene pelan.


“Untuk apa?” tanya Zaara tidak melepas tangan suaminya itu.


“Karena bikin kamu cemas dan tidak mengindahkan peringatan kamu.”


Zaara tersenyum getir. “Aku panggilin perawat ya?”

__ADS_1


“Gak usah, aku ingin sama kamu.”


“Abang….”


Arsene tersenyum, kemudian mengiyakan. Zaara segera menekan bel untuk memanggil perawat agar segera mengecek kondisi Arsene.


“Alhamdulillah, semua kondisinya stabil ya, Kak! Tinggal istirahat penuh aja. Luka di dahinya juga gak parah kok, insya Allah jadi bisa cepet sehat,” terang perawat yang memeriksa Arsene.


“Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Sus!” ucap Ferdian dan Ajeng bersamaan.


\=\=\=\=\=\=


Arsene kembali ke apartemen setelah dirawat selama tiga hari di rumah sakit yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya itu. Luka di dahinya masih berbekas tetapi sudah sembuh. Begitu juga dengan tulang punggungnya yang sedikit retak karena terjatuh dari tangga sudah mulai membaik.


Astria sendiri terpaksa ditahan oleh kepolisian setempat setelah Opa Gunawan menyeretnya langsung. Ayah Astria tidak berkutik dan tidak bisa membela putrinya lagi karena bukti terlalu kuat. Apalagi banyak CCTV menangkap rekaman saat Arsene datang sampai diikat oleh preman di sana.


Kejahatan terhadap Arsene sudah direncanakan meski sangat berantakan. Astria mengaku, setelah tahu kalau Arsene adalah pemilik toko kue dimana ia memesan banyak, saat itulah dia merencanakan untuk membalaskan dendamnya dulu saat SMA karena ia dikeluarkan dari sekolah dan menjadi tahanan rumah selama setahun. Kini hukuman berat menantinya di penjara.


Arsene menyandarkan tubuhnya di kasur. Meski kondisinya sudah jauh lebih baik, tetapi rasa pegal dan nyeri di punggungnya masih terasa.


“Abang mau makan apa? Aku siapin semuanya,” tanya Zaara sambil mengikat rambut yang semakin panjang itu.


“Boleh aku request?”


Zaara mengangguk.


“Mmh… Pengen makan Soto Lamongan!” ucap Arsene ragu-ragu. Zaara pernah memasak menu itu beberapa hari yang lalu sebelum ia masuk rumah sakit. Rasanya sangat lezat di lidahnya. Ia jadi ingin mencicipinya lagi.


“Boleh. Tapi nunggu gak apa-apa? Soalnya bahannya banyak jadi pasti agak lama, hehe!” Zaara menyeringai kaku, menyadari dirinya yang suka menghabiskan waktu agak lama di dapur. Kerjanya memang agak lambat, apalagi dirinya masih proses belajar.


“Iya gak apa-apa, aku bisa makan roti gandum dulu buat ganjel perut! Tapi bahannya ada gak? Kita kan belum belanja!” ucap Arsene.


“Hmm… kayanya ada beberapa di kulkas. Ayam, telur, kol, bisa lah!” ucap Zaara percaya diri.


“Ya udah aku tunggu. Maaf ya gak bisa bantu!”


“Udah, Abang istirahat aja di sini. Aku siapin rotinya dulu!” Zaara beranjak dari kasurnya, tetapi Arsene menahan lengan istrinya itu.


“Kenapa?” tanya Zaara terkejut.


“Sini bentar! Aku bisikin sesuatu!”


Zaara mengernyit heran tetapi tetap mendekati wajah suaminya itu. Dipikir-pikir lagi, kenapa harus berbisik toh mereka hanya berdua saja di kamar.


CUP.  Arsene tersenyum lebar setelah menjalankan aksinya mengecup pipi istrinya. Ah, ternyata Arsene hanya menjalankan modusnya.


“Mau cium mah cium aja atuh, Abang! Gak usah modus!” Zaara mengerucutkan bibirnya. Lalu beringsut pergi dari sana. Arsene tertawa-tawa.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung yaa


VOTE, LIKE, & COMMENT yaa


Dukung terus Author Aerii


Makasiiih ^_^


Follow instagramku juga @aeriichoi

__ADS_1


__ADS_2