Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 35


__ADS_3

Matahari terang bersinar pagi itu. Daun-daun rapuh berguguran di atas aspal, tersibakan oleh angin. Burung-burung tampak sibuk berterbangan mencari ranting untuk sarang baru mereka. Hari yang baru telah dimulai dan begitu pula dengan harapan di hari itu.


Ferdian turun dari mobil miliknya yang telah diparkirkannya di samping trotoar di bawah pohon rindang. Mahasiswa-mahasiswa yang tengah berkumpul di depan gedung B, tampak melihat sosok pria yang terlihat semakin bersinar saja. Ferdian berjalan menuju ke arah samping mobilnya yang lain, ia tengah membukakan pintu itu untuk seseorang. Tak lain dan tak bukan adalah Ajeng, sang istri dan juga dosennya. Wajah Ajeng terlihat tegang dan kaku. Namun senyuman Ferdian berhasil membuat hatinya tenang. Rambutnya yang tertiup angin pagi lembut membuat wanita yang mengenakan midi dress semi blazer itu tampak menawan.


"Let's get started today! (Mari kita mulai hari ini!)" ujar Ferdian, mencolek ujung hidung istrinya.


Ajeng hanya tersenyum dibuatnya.


Mahasiswa-mahasiswa yang sedari tadi memperhatikan Ferdian tampak kaget dan terkejut. Banyak yang melongo melihat dua sejoli yang baru menampakan diri di depan kampusnya itu. Keduanya tampak serasi sekali satu sama lain, sama-sama rupawan dan menarik. Ferdian dan Ajeng berjalan di atas trotoar yang menghubungkannya langsung sampai ke gedung dekanat, dimana Ajeng akan mengunjungi ruang kerjanya. Keduanya berjalan bagaikan model di atas catwalk. Banyak pandang mata menoleh ke arah mereka yang disorot oleh sinar mentari pagi. Guguran daun mengguyur keduanya seolah-olah menyambut kedatangan mereka. Ferdian menarik tubuh Ajeng agar menempel dengan tubuhnya dan menggenggam erat tangannya, menyalurkan energi positif dari dalam dirinya.


"Aku ke atas dulu ya?" pamit Ajeng pada suaminya.


"Oke, sayang!" jawab Ferdian lembut.


Ajeng mengecup punggung tangan kekar milik Ferdian. Sedangkan tangan kiri Ferdian mengusap lembut rambut istrinya.


Belasan atau mungkin puluhan pandang mata tidak lepas dari pandangan yang masih terasa asing namun membuat hati mereka iri.


Ajeng memasuki gedung dekanat, sementara Ferdian melangkahkan kakinya menuju gedung C untuk menuju ruang kuliahnya. Orang-orang yang sedari tadi memperhatikannya, mulai berbisik-bisik yang dicuri dengar oleh sang angin, sehingga telinga pria itu cukup tahu saja apa yang dibisikan oleh orang- orang yang ada di sekitarnya.


"Woah, Ferdi pacaran sama Miss Ajeng nih!" bisik-bisik seorang mahasiswa.


"Iya nih, kok jadi iri gitu ya lihatnya?" respon teman di sampingnya.


"Bakalan banyak yang patah hati ini sih," ujar temannya yang lain.


"Tapi kok lihatnya so sweet banget ya?" timpal mahasiswi yang berdiri di depannya.


"Pengen deh," celetuk mahasiswi di sampingnya.


Ferdian hanya tersenyum saja mendengar bisik-bisik mahasiswa di kampusnya.


Hari itu adalah hari pertama Ferdian di kampus setelah insiden pembegalan yang terjadi padanya. Lukanya memang belum sembuh benar, tetapi hatinya jauh jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Tentu saja, hari ini adalah hari perdananya pergi ke kampus berdampingan dengan istri tercintanya. Meski masih banyak orang belum tahu kalau dia dan Ajeng sebenarnya sudah menikah, hanya saja hal itu cukup membuatnya bahagia. Biarlah nanti orang-orang akan mengetahuinya sendiri.


Ferdian memasuki ruang kelas dan langsung disambut oleh kawan-kawan dekatnya.


"Gimana tadi berangkat jadi bareng?" tanya Ridho yang sudah tahu rencana bahwa mulai hari Ferdian dan Ajeng akan ke kampus bersama-sama.


"Jadi!" jawab Ferdian singkat.


"Mantap!!" timpal Malik.


"Gimana lihat respon orang-orang?"


"Sumpah, gue serasa artis! Diperhatiin terus sejak turun dari mobil sampai antar Ajeng ke gedung dekanat," ujar Ferdian terkekeh geli.


"Kalian kan emang selebriti kampus," Ghani merespon.


"Canggung sih, tapi harus biasa!"


"Pastinya!" jawab Malik.


"Pak Ardi masuk tuh!" seru Danu, yang baru masuk ke kelas sambil berlari dan duduk di samping Ferdian.


Semua mahasiswa yang sedang sibuk masing-masing kini tampak memperhatikan dosen mereka yang baru datang.


"Lo harusnya unjuk gigi depan dia, Fer!" bisik Danu, ketika Pak Ardi menyapa mahasiswa-mahasiswanya.


"Gak usah, kasian! Nanti makin sakit!" jawab Ferdian, membuat Danu melongo.


"Kenapa makin sakit?" tanyanya lagi, karena ia tentu tidak tahu kalau Ajeng sudah menolaknya mentah-mentah. Ferdian masih punya hati untuk menghormati dosennya itu.


"Ssst....fokus belajar, Dan!" sergah Ferdian.


Danu hanya mendengus.


Tak terasa mata kuliah Translate English Indonesian telah berakhir siang itu.


"Silakan kumpulkan tugas kalian ke depan, setelah itu kalian boleh keluar!" ujar Pak Ardi sebelum mahasiswa-mahasiswanya berhamburan keluar.


Satu persatu mahasiswa berjalan ke depan meja dosen dan mengumpulkan kertas hasil tugas terjemahan yang ditugasi Ardi minggu lalu. Seperti biasa, Ferdian selalu beralasan kehilangan pulpennya ketika temannya itu mengajaknya keluar. Setelah hampir semua mahasiswa keluar, ia berjalan mendekati dosennya sambil membawa kertas tugasnya. Ia menaruh kertas itu di atas meja. Ardi memandangi Ferdian, ia tahu mahasiswa inilah yang menjadi suami Ajeng. Ferdian tersenyum kepadanya sambil mengangguk dan berjalan keluar. Namun langkahnya berhenti, ketika namanya dipanggil.


"Ferdian?" tanya Ardi memastikan. Ferdian membalikan tubuhnya.


"Iya, Pak! Ada apa?" tanya Ferdian.


"Kamu udah sembuh?" tanya Ardi.


"Sudah Pak!"


"Syukurlah," ucap Ardi singkat.


"Benar kamu suami Ajeng?" tanya Ardi lagi.

__ADS_1


"Memangnya ada apa ya, Pak?"


"Tidak, hanya memastikan saja kalau kamu itu suami Ajeng, betul kan?"


Ferdian hanya tersenyum menyungging.


"Well, kamu mahasiswa yang baik, berprestasi, dan pintar. Wajar saja Ajeng menyukaimu," ujar Ardi memujinya dan mengakui kalau mahasiswa di depannya itu memang layak mendapatkan Ajeng.


"Terima kasih, Pak! Saya permisi dulu, karena masih ada kuliah di kelas lain," pamit Ferdian mengangguk.


Ardi mengangguk dan menatap punggung Ferdian


Entah kenapa hatinya tetap saja merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Ia merasa rendah diri, dan seolah kalah telak dengan mahasiswanya tadi. Ardi menghembuskan nafasnya kasar.


 


"Halo, Sayang! Kamu mau makan di kantin?" tanya Ferdian seusai perkuliahan siangnya.


"Boleh!" jawab Ajeng yang masih berada di ruang kantornya.


"Aku tunggu di sana ya?"


"Oke!"


Ajeng membereskan buku-buku yang ada di meja kerjanya. Baru saja ia hendak pergi, namun seseorang menahan kepergiannya.


"Jeng, kamu benaran pacaran sama Ferdian?" bisik Novi, karena ruangan dosen penuh dengan dosen-dosen lainnya.


Ajeng hanya menyengir.


"Ih kamu mah ditanya, malah cengar-cengir, jawab Jeng!" ucap Novi memaksa.


"Iya, emang kenapa? Ada masalah?" tanya Ajeng dengan nada datar.


"Woaaah! Unbelievable (sulit dipercaya)! Dosen favorit pacaran sama mahasiswa favorit, cocok lah!" puji Novi.


"Udah ah, aku mau ke kantin!"


"Mau makan sama pacar kamu?"


"Iya!" jawab Ajeng sambil melenggang pergi keluar dari ruangan itu. Sementara Novi menatapnya takjub dan tidak percaya kalau rekannya yang selama ini punya selera tinggi menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa.


"Oh iya, satu lagi, dia pacar halal aku ya!" ujar Ajeng, yang kembali lagi ke hadapan Novi, sambil menunjukan cincin nikahnya. Sontak saja membuat Novi terbelalak. Ajeng hanya khawatir Novi akan membuat berita yang tidak-tidak mengenai dirinya dengan Ferdian.


Ajeng berjalan menuju kantin yang penuh sesak dengan para mahasiswa dan staff juga dosen yang akan mengisi perut mereka dengan berbagai hidangan makan siang yang tersaji. Ajeng melihat Ferdian yang duduk di salah satu meja dengan dua kursi di pojok. Pria itu melambai ke arahnya, membuat banyak orang menengok ke arah mereka berdua.


"Makan sup tomyam aja deh sama jus alpukat!" jawab Ajeng.


"Oke!"


Ferdian memanggil Mang Cecep untuk mencatat pesanannya.


"Apa di ruangan kamu ada yang bahas hubungan kita?" tanya Ferdian penasaran.


"Novi aja sih yang kasih respon, aku jawab jujur aja!" ujar Ajeng.


"Banyak banget yang ngomongin tentang kita, bahkan pas aku jalan aja bisa denger dong!" cerita Ferdian sambil tertawa-tawa.


"Apa gak ada hal penting lain yang bisa mereka bahas gitu ya?"


"Entahlah, lihat aja tuh, banyak mata lirik-lirik ke arah kita terus, tuh!"


"Ya udah lah, biar aja mereka capek sendiri!"


"Iya, tapi kamu gak apa-apa kan?" tanya Ferdian memastikan perasaan Ajeng.


"Awalnya sih gak nyaman, tapi ya gimana lagi. Toh nanti juga berita nyebar cepat kalau kita udah nikah," jawab Ajeng terlihat ragu tetapi ia berusaha tenang..


"Iya, santai aja ya, ada aku disini!" seru Ferdian sambil mengacak-acak rambut Ajeng.


\=====


Sore itu, Ferdian mengunjungi sebuah bangunan bekas sekolah yang tidak terpakai. Di bangunan itulah yang biasanya dimanfaatkan oleh mahasiswa-mahasiswa Universitas Mentari untuk diadakan kelas mengajar untuk anak-anak yang kurang beruntung. Selasa sore adalah jadwal baginya untuk mengajari pelajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak sekolah dasar. Hari itu adalah hari pertama kali baginya mengunjungi anak-anak didiknya setelah menikah dengan Ajeng.


Ferdian sudah aktif mengajar di ekstrakulikuler Taman Belajar Anak (TBA) sejak dirinya masih mahasiswa semester satu. Kecintaannya pada ilmu dan bahasa menjadikan ia bersungguh-sungguh untuk memberikan sedikit ilmu yang sudah ia dapatkan. Lagipula ia senang melihat keceriaan yang tampak di wajah-wajah anak-anak polos yang tergabung di TBA. Meski sebenarnya Ferdian ini tipikal yang kaku dalam menghadapi anak-anak.


"Kak Ferdian, kok baru datang lagi sih?" tanya seorang anak perempuan berusia sekitar 6 tahun yang menghampirinya, namanya Siska.


"Maaf, kakak sibuk hari-hari ini, jadi baru sempat datang lagi hari ini," jawabnya.


"Kakak biasanya bawa buku baru, kakak bawa gak?" tanya seorang anak laki-laki kecil berusia 7 tahun yang berambut ikal, bernama Gilang.


"Oh iya, kakak belum sempat cari, minggu depan kakak bawa ya," jawab Ferdian mengusap kepala anak itu.

__ADS_1


"Yaaaah..." jawab anak itu kecewa.


Ferdian memang benar-benar lupa apalagi setelah menikah dan kecelakaan yang menimpanya kemarin, ia tidak bisa pergi kemana-mana. Biasanya dia akan membawa sebuah buku baru berbahasa Inggris untuk anak-anak setiap pekannya, lalu menceritakannya kembali pada anak-anak dengan gaya berceritanya.


Hari ini, rencananya akan ada mahasiswa baru yang bergabung di komunitas ini untuk diperkenalkan kepada anak-anak. Tidak banyak yang bergabung memang, mungkin karena komunitas ini tidak sepopuler komunitas mahasiswa lainnya. Kurang lebih sekitar 5 orang mahasiswa baru yang bergabung komunitas ini di tahun ini.


"Halo adek-adek yang pintar, hari ini kita kedatangan kakak-kakak baru yang nanti akan ngajar di sini ya," sapa Lusi, seorang mahasiswa ilmu komunikasi seangkatan Ferdian, yang juga menjabat sebagai ketua komunitas TBA ini.


"Iya kakak," jawab anak-anak itu kompak.


Ferdian memperhatikan dari kursi di belakang kelas. Sementara itu, Lusi mempersilakan mahasiswa-mahasiswa baru yang bergabung untuk diperkenalkan. Ferdian tampak terkejut melihat sosok perempuan berambut ikal dan berkaca mata itu ada di depan kelas. Ia teringat kembali pada malam itu, dimana perempuan itu merengkuhnya saat berada di atas motornya.


"Halo nama saya Serena, kalian boleh panggil saya Kak Rena," ujar perempuan itu tersenyum ramah.


Perempuan itu memang cukup cantik, hanya saja bagi Ferdian, wajahnya itu penuh dengan misteri yang tidak bisa diungkapkan.


"Saya akan mengajarkan bahasa Inggris," ucapnya lagi.


"Yeaaa....nanti kakak bisa cerita bareng sama Kak Ferdian ya?" ujar seorang gadis berusia 10 tahun.


Serena hanya tersenyum menanggapi gadis itu.


"Okay, sekarang giliran Kak Ferdi yang bakal mendongeng ya, tapi karena buku baru belum ada kita pakai buku yang sudah ada di perpus kecil kita, oke?" tanya Lusi kepada anak-anak yang jumlahnya kurang lebih 10-15 orang.


"Kak Lusi, saya bawa buku cerita, siapa tahu di sini belum ada, jadi kita bisa pakai ini dulu," tawar Serena.


"Ferdian, coba cek sini!" Lusi menyuruh Ferdian untuk kedepan.


Ferdian berjalan menghampiri dua perempuan itu dengan malas. Ia memperhatikan sebuah buku yang dibawa oleh Serena, yang ternyata adalah buku Aesop's Fables yaitu kumpulan cerita klasik dengan hewan sebagai tokoh, seperti dongeng si kancil dan sejenisnya.


"Hmm..boleh tuh!" jawab Ferdian, ia mengembalikan buku itu kepada Serena.


"Oke, hari ini kita dengar cerita-cerita hewan ya," ujar Lusi. "Gimana kalau Serena yang cerita aja langsung ya, pasti bisa kan?" tawar Lusi.


Serena mengangguk dengan semangat. Perempuan itu langsung duduk di hadapan semua anak-anak yang berantusias mendengarkan kisah-kisah yang menceritakan hewan-hewan. Serena ternyata diluar dugaan Ferdian, ia berkisah dengan ekspresif. Baik wajah dan gerak tangannya benar-benar hidup, sehingga membuat anak-anak memperhatikannya dengan seksama. Bahasa Inggrisnya cukup bagus dan sepertinya ia memang sudah tahu betul kisah-kisah yang ada di dalam buku cerita, jadi ia tidak lagi menengok buku. Ferdian cukup terkesima melihat cara Serena menceritakan dongeng. Anak-anak bertepuk tangan ketika Serena menyelesaikan cerita itu.


"Ternyata kamu cukup jago ya bawain cerita di depan anak-anak," puji Ferdian kepada Serena setelah acara mengajar selesai.


"Ini emang kesukaanku, Kak! Sejak dulu aku sudah sering berdongeng untuk anak-anak," cerita Serena.


"Oh ya?! Bagus dong!"


"Thanks, Kak!" ujar Serena.


"Mungkin kedepannya, kita bisa gantian atau cerita bareng untuk anak-anak," ujar Ferdian.


"Boleh," jawab Serena riang.


"Soalnya yang bisa berdongeng pakai Bahasa Inggris dan Indonesia cuma kita aja, yang lain belum sanggup," lanjut Ferdian.


"Oh gitu ya?! Oke deh, aku jadi makin semangat," seru Serena tersenyum lebar menatap Ferdian.


Ferdian hanya membalasnya dengan senyuman kecil.


"Saya pulang duluan ya, udah ada yang nungguin di gerbang soalnya!" pamit Ferdian kepada Serena dan kawan-kawan mahasiswa lainnya setelah kegiatan selesai.


"Siap, Kak! Sampai ketemu lagi," ucap Serena melambaikan tangannya.


Ferdian menepis anggapan dalam pikirannya bahwa Serena itu sosok yang sedikit aneh, mungkin karena pada saat pertama kali bertemu tingkahnya cukup aneh. Tetapi ternyata anaknya cukup ramah dan ceria juga.


Ferdian berjalan kaki sedikit menuju gerbang kampus dimana di sana Ajeng sudah menjemputnya. Rencananya hari itu mereka akan membeli ponsel baru untuk Ferdian yang minggu lalu rusak karena dibantingnya.


"Hai, udah selesai ngajarnya?" sapa Ajeng dibalik kemudi.


"Udah, ada mahasiswa baru yang gabung soalnya, jadi aku bisa izin duluan," terang Ferdian sambil melepas tas ranselnya.


"Oh ya? Bagus dong,"


"Eh, kamu duduk di sini aja, biar aku yang nyetir!" ucap Ferdian.


"Ga usah, kamu istirahat di situ,"


"Duh gak enak, masa istri aku yang cantik ini jadi supir sih," goda Ferdian.


"Ya udah gapapa kali, lagian kamu kan baru sembuh, nanti kalau jalan-jalan lagi naik motor ya?" ucap Ajeng yang belum pernah dibonceng suaminya sama sekali.


"Siap deh! Nanti beli motor baru dulu," jawab Ferdian santai.


Lagi-lagi Serena menangkap sosok Ajeng dan Ferdian bersama di dalam sebuah mobil. Hatinya semakin penasaran. Mobil sedan yang sejak tadi terparkir pun melaju. Sepertinya, ia belum tahu kabar angin mengenai kedekatan antara Ajeng dan Ferdian, mengingat ia adalah mahasiswa yang tertutup dan tidak memiliki banyak teman. Lagipula ia selalu berada di dalam perpustakaan, dimana para mahasiswa jarang sekali untuk berbicara.


Serena bergumam memikirkan sesuatu, yang entah apa itu.


\=====

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tinggalin komentar juga masukannya yaa


Thank you so much ^^


__ADS_2