Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 115. Healing


__ADS_3

Arsene merebahkan tubuhnya di atas kasur apartemen miliknya. Terasa hening dan sunyi sekali, terlebih lagi hatinya yang kosong dan hampa. Seolah suasana di kamar ini mendukung perasaannya. Ia sadar, pasti Zaara selalu merasa seperti ini setiap malam ketika dirinya pergi bekerja.


Kerjanya memang tidak salah sama sekali, bahkan ia memang harus berjuang untuk menafkahi istrinya dengan baik. Hanya saja, sikap abai yang ditunjukkannya yang salah.


Ia memang sangat mencintai pekerjaannya sampai-sampai sering mengambil lembur. Ia sendiri bertanya-tanya mengapa bisa dirinya begitu tenggelam dalam dunia itu begitu dalam, hingga tidak tersadar telah mengabaikan istrinya yang sedang butuh perhatian lebih.


Menjadi mandiri untuk keluarganya bukan pilihan salah. Adalah pilihan keliru jika berpikir egois. Arsene menyadari bahwa dirinya bersikap egois, seolah-olah yang menjadi permasalahan utama dirinya dan keluarga kecilnya adalah ekonomi sehingga melupakan hal lain di luar itu. Padahal bukan hanya itu. Ia hanya harus membagi waktu dan prioritas.


Kini ia kehilangan dua harta sekaligus, calon anaknya yang sudah pasti tidak akan pernah bisa ia selamatkan dan istrinya, yang kini menjadi harapannya akan bersinar kembali.


Pria itu tertunduk lesu, sedih, dan muram. Air matanya terus mengalir tanpa henti dalam kesendiriannya. Baru kali ini perasaannya hancur berkeping-keping. Ia kecewa berat terhadap dirinya sendiri. Akankah Zaara kembali padanya? Akankah Zaara memaafkan dirinya? Arsene mengembuskan nafasnya panjang dan berat. Mengusap wajahnya yang basah, pria muda itu menyesali apa yang terjadi.


Namun, ia tidak bisa terus mengurung dalam kondisi ini. Ia harus memperbaiki atas semua yang telah terjadi. Setidaknya, selalu ada cahaya dalam ruangan gelap sekalipun. Arsene bangkit dari kasurnya, mengambil buku agendanya dan menuliskan sesuatu di sana.


Healing Moment, tulisnya di catatan.


Ia mulai merenung di malam itu, mencatat segalanya yang ia harus lakukan dan ia perbaiki. Menulis apa yang menjadi kekurangannya selama ini. Berharap dengan catatan ini dirinya akan bisa berubah.


Ada satu hal yang membuat hatinya tertusuk. Ia membaca catatan yang dulu pernah ia tulis saat baru masuk menjadi mahasiswa baru. Dulu, jiwanya sama menggebunya, tetapi entah mengapa semuanya tetap berjalan lancar bahkan semua rencananya terwujud dengan cepat. Apa karena hal itu karena kedekatannya pada Allah begitu lekat? Ia menyadari, dirinya begitu jauh dengan Allah saat ini. Ia jarang aktif mengikuti kajian rutin di masjid karena sepulang kuliah ia harus mengejar waktu untuk bekerja. Lalu pulang larut dan akhirnya tertidur sampai subuh, ia jarang mengerjakan shalat tahajudnya. Kini ambisinya adalah mengejar materi, bukan lagi ridho Allah. Mungkin Allah sedang cemburu, sehingga memberikan peristiwa ini padanya agar ia kembali pada-Nya.


Lalu apa yang harus ia lakukan untuk karirnya? Bisakah ia terus mengejar karirnya tanpa harus menduakan Allah?


Arsene beristighfar dalam hati. Ia harus memperbaiki hubungannya dengan Allah segera, dan seluruh niatnya harus diluruskan untuk-Nya saja. Satu permasalah sudah ia temukan solusinya, yang ia pikir inilah akar masalahnya.


Kini Arsene membuka laptopnya. Jarinya menari indah di atas keyboard yang sedang menyampaikan isi hatinya hari itu. Ia tengah menulis celengan rindu sama seperti yang ia lakukan saat dirinya di Sydney dulu.


Hari ini aku begitu terkejut mendapati kamu memintaku untuk tidak bertemu. Sakit sekali rasanya, bagai daun rapuh yang terinjak. Tetapi hatiku bisa menerima itu semua, mengingat aku sudah melukai hati kamu lebih dalam. Aku berharap Allah mengampuni dosaku.


Aku menyesal atas segala yang telah aku perbuat. Aku merasa hubungan ini baik-baik saja, tetapi ternyata tidak. Terlebih lagi, aku harus kehilangan anakku yang berharga.


Aku hanya ingin menulis ini, saat kita berdua terpisah kembali, meski berbeda momen. Rasanya momen ini lebih menyakitkan daripada ketika kita terpisah jarak. Aku minta maaf atas apa yang telah terjadi di antara kita. Aku akan memperbaiki semuanya, agar kamu kembali sama aku. Tunggu aku dan tetap cintai aku, Zaara Sayang.


Arsene


Arsene berharap Zaara akan membuka email bersamanya. Meskipun ia tidak akan memberitahukannya sama sekali. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.


Arsene menutup laptopnya dan memutuskan untuk tidur lebih cepat. Sudah 3 hari 3 malam, kualitas tidurnya buruk, ia harus membuat dirinya sehat dan jangan sampai daya tahan tubuhnya menurun kembali. Pria muda itu memang sangat rentan terserang rasa lelah padahal ambisinya begitu tinggi. Ia sudah menyetel alarmnya tepat di pukul 03.00 seperti kebiasaannya dulu. Masalah kerjanya akan ia pikirkan nanti.


\=\=\=\=\=\=


Sebuah kotak makan berisi menu chicken katsu saus kari kental dengan potongan wortel dan kentang terisi di dalamnya. Arsene membawa itu dalam sebuah goodybag. Ia sudah menghubungi ibu mertuanya yang mengatakan bahwa Zaara sudah kembali masuk ke kampus hari ini. Ia sendiri sudah mengantongi semua jadwal dan ruangan dimana Zaara akan berkuliah. Meskipun Zaara mungkin tidak mau bertemu dengannya. Arsene sudah memikirkan cara agar ia bisa mengirim kotak makan itu padanya.


Arsene berjalan dengan langkah ragu-ragu mendekati sebuah ruangan di gedung B. Terry keluar dari sana karena Arsene memintanya untuk menolongnya kali ini.


"Maaf aku mau titip ini buat Zaara!" ucapnya memberikan goodybag itu pada Terry.

__ADS_1


Terry memandangnya penuh curiga, lalu mengambil goodybag dari tangan pria itu.


"Gue gak tau apa yang terjadi antara lo dan Zaara. Tapi gue gak mau kepo apalagi ikut campur. Gue begini karena sayang sama Zaara. Lo harus bisa kasih dia perhatian lebih lagi, Sen!"


"Makasih banyak!" ucap Arsene pelan.


Terry kembali ke ruangan kelas yang belum datang dosennya itu.


Arsene terpaksa melakukan ini. Meminta tolong pada Terry adalah satu-satunya jalan agar ia bisa tetap terhubung dengan istrinya di kampus.


"Ra, ada titipan nih!" ucap Terry menaruh goodybag itu di atas meja.


"Dari siapa?" tanya Zaara mengernyit.


"Lu pasti tau!"


Zaara memandang pada Terry yang duduk di sebelahnya. Gadis itu membuka goodybag berwarna hitam. Menemukan secarik kertas terlipat di atas sebuah dus kotak, ia mengambilnya.


"Kemuliaan terbesar dalam hidup tidak terletak pada ketangguhan, tetapi dalam bangkit setiap kali kita jatuh." - anonymous


Aku harap kamu makan masakan aku ini. Aku minta maaf.


Zaara menghela nafas. Ia menaruh kembali kertas itu ke dalam tas dan membiarkan goodybag itu di atas mejanya. Dosen sudah datang, ia harus fokus untuk belajar.


\=\=\=\=\=\=


Pemuda itu semakin kusut saja setiap hari. Tubuhnya kurus karena pikirannya terus berputar bagaimana caranya bisa merebut kembali hati yang telah ia abaikan. Ia terkapar lemas di atas kasur kamarnya sendiri.


“Abang!” ketukan pintu terdengar bersama suara lembut.


“Masuk Mom!” jawabnya.


Ajeng masuk ke dalam kamar anaknya. Sudah hampir seminggu ini, Arsene kembali ke rumah orangtuanya. Kini ia sedang sakit dan dirawat jalan saja di rumahnya sendiri.


Ajeng membawakannya sebuah piring berisi bubur hangat dan sup daging sapi untuk membantu anaknya memulihkan kondisi kesehatannya.


“Makan dulu, Sayang!”


Ajeng menaruh piring di atas nakas. Ia duduk di tepi ranjang di samping tubuh anaknya.


“Kamu gak boleh kaya gini terus. Bangkitkan semangatmu lagi!” ujar Ajeng mengusap lembut kepala anak sulungnya. Dahi Arsene masih terasa hangat karena demam.


“Aku gak yakin, Mom!”


“Mommy gak tega lihat kamu gini terus. Kalian hanya membutuhkan waktu sesaat lagi untuk bersama.”

__ADS_1


“Apa dia masih mau nerima aku?” tanya Arsene ragu-ragu.


“Zaara butuh waktu untuk nerima kamu lagi. Manusia tempatnya khilaf, tetapi selalu ada pintu maaf yang bisa kamu ketuk. Tunggulah sampai pintu itu terbuka jika kamu memilih untuk bertahan. Kamu harus buktikan kalau kamu masih layak untuk dipertahankan.”


Arsene terdiam. Selama berpisah dengan Zaara, ia selalu mengiriminya kotak makanan beserta kalimat penyemangat untuk istrinya itu. Setiap hari juga, ia selalu mengirim email. Tetapi tidak pernah ada balasan. Ia tidak mau menghubunginya langsung, karena khawatir Zaara akan semakin menghindar darinya. Oleh karena itu, ia hanya menghubungi ibu mertuanya saja untuk mengetahui kabar Zaara.


“Abang Sayang! Kita itu mirip, kita berdua melakukan kesalahan yang sama. Kita disentil Allah untuk bisa sadar. Kamu sudah menyadari kesalahanmu kan? Yakinlah Allah masih memberi kesempatan untuk kamu dan Zaara untuk bisa bersama lagi. Ingat, Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Kamu harus bangkit dari segala kesedihan ini, bangun bisnis kamu lagi. Ada mommy dan daddy yang selalu dukung!” Ajeng menguatkan.


Mata Arsene berkaca-kaca. Ia sungguh tersiksa dengan keadaan ini. Tetapi ia sangat sadar bahwa ini semuanya adalah salahnya.


"Aku akan berusaha, Mom! Aku lalai dan aku ingin memperbaiki keadaan. Aku harap masih ada pintu maaf Zaara untukku."


Ajeng memeluk tubuh anaknya erat-erat memberikan kekuatan dari seorang ibu dan juga doa terbaik.


“Kamu pasti bisa," ucap Ajeng.


“Aku akan coba sebaik mungkin, Mom!” jawab Arsene mencoba optimis.


Ajeng mengecup kening Arsene, ia menatapnya sambil tersenyum seolah sedang berkaca. Mereka memang memiliki karakter yang mirip sekali.


Sementara itu di rumah Karin. Zaara tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus bersama adiknya yang juga akan menjadi mahasiswa baru di Universitas Bumi Pertiwi.


“Ra!” panggil Karin.


“Kenapa Mi?” tanya Zaara membetulkan kerudung segi empatnya di depan cermin ruang tengah.


Karin terdiam sejenak.


“Apa kamu gak sadar, udah beberapa hari ini Arsene gak ngirim kotak makan untuk kamu?” tanya Karin khawatir.


Zaara tertegun. Ia menyadarinya, tetapi seolah ia tidak mau memikirkannya. Setidaknya pagi ini. Tadi malam pun ia merasa tidak enak hati memikirkan kabar Arsene yang tak pernah ia ketahui.


“Apa kamu gak mau tau apa yang terjadi sama Arsene?”


“Aku belum mau bahas dia, Mi!” jawab Zaara menghindar.


“Zaara, mau sampai kapan kamu menghindari dia? Jika dia berbuat salah, bukalah pintu maaf untuknya, ini baru setitik ujian untuk kalian yang sama-sama sedang mendewasakan diri. Umi ingin kamu membuka hati dan bijak memutuskan. Bukan dengan menghindar seperti ini!”


Zaara menghela nafas. Ia tahu ini membuat semuanya rumit, hanya saja ia ingin meredakan rasa kecewanya.


“Aku masih butuh waktu, Mi! Aku berangkat dulu! Assalamu’alaikum,” pamit Zaara mengecup tangan ibunya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Karin pelan.


Karin hanya berdoa yang terbaik untuk putrinya itu. Berharap Allah menunjukkan jalan yang tepat untuk mereka. Meskipun hati terdalamnya ia berharap agar Allah masih menyatukan hati mereka.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Bersambung...


__ADS_2