Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 77. Sehari Bersama (2)


__ADS_3

Arsene dan Zaara sedang berbelanja di supermarket siang itu. Rencananya mereka akan memasak sesuatu di rumah Zaara setelah ini, Arsene ingin mencicipi masakan buatan istrinya. Arsene mendorong sebuah troli kecil, sementara Zaara memilih bahan-bahan yang akan dimasaknya.


Mereka tertawa-tawa saja ketika mengingat kejadian tadi di pinggir danau, ketika seorang petugas keamanan kampus memergoki keduanya yang sedang bermesraan karena disangka sedang berpacaran. Akan tetapi akhirnya mereka tetap pergi dari sana, setelah menunjukkan bukti kalau keduanya telah menikah sah.


Arsene menghentikan trolinya, ketika istrinya sedang memperhatikan bahan-bahan yang terdapat di rak dingin berisi sayuran dan buah-buahan segar.


“Mau masak apa?” tanya Arsene ketika Zaara melihat-lihat sayuran.


“Capcay sama ayam goreng, gak apa-apa?”


“Aku suka!” jawab Arsene tersenyum.


Zaara memasukan beberapa buah wortel, jagung semi, sawi, kekian ayam, serta bunga kol ke dalam troli setelah ditimbang. Lalu mengambil seekor ayam yang sudah dipotong dan ditimbang, kemudian dimasukkan kembali ke keranjang trolinya. Mereka juga membeli beberapa bumbu yang Zaara ingat-ingat tidak ada ada di rumahnya.


Arsene juga membeli beberapa cemilan dan minuman ringan yang akan dibawanya ketika pergi ke bandara esok pagi. Setelahnya mereka langsung pergi menuju kediaman orangtua Zaara.


“Assalamu’alaikum…” ucap Zaara dan Arsene berbarengan.


“Wa’alaikumsalam…” jawab Karin dan Zayyan yang sedang berada di ruang keluarga.


“Eh anak-anak Umi udah pulang.” Zaara dan Arsene mengecup punggung Karin.


“Kita mau masak di sini ya Mi?” izin Zaara.


“Boleh banget.”


“Abi belum pulang, Umi?” tanya Arsene.


“Belum, nanti sore baru pulang!”


Arsene mengangguk-angguk.


“Abang duduk aja, biar aku yang masak.” Zaara membawa bahan-bahan perlengkapannya yang sudah dibelinya tadi.


“Gak butuh bantuan?” tawar Arsene.


“Gak usah, aku udah sering kok bantuin Umi masak.”


“Siap deh!”


Sementara Zaara pergi ke dapur, Arsene duduk di atas sofa bergabung dengan Zayyan yang sedang menonton film. Sedangkan Karin akan memperhatikan anaknya yang akan menyiapkan makan sore untuk suami dan keluarganya itu.


“Liburan kemana aja, Yan?” tanya Arsene pada adik iparnya itu.


“Ah di rumah aja, Bang!”


“Main sekali-kali ke rumah. Rain aja diem terus di kamar main game.”


“Iya nanti coba ke sana,” jawab remaja pria berambut lebat itu.


Mereka berdua akhirnya terlarut menikmati film animasi fantasi yang ditayangkan oleh stasiun televisi. Sementara itu Zaara sibuk untuk menyiapkan bahan masakan. Zaara memang sering membantu ibunya memasak jika sedang hari libur atau kuliah siang. Jadi kemampuan itu ia dapatkan begitu saja, tidak terlalu handal tapi tidak buruk juga. Zaara tengah memotong sayuran, tiba-tiba saja Arsene menghampiri. Melihat tidak ada ibu mertuanya di sana, pria itu tersenyum dan berdeham.


“Eh, kok kesini?” tanya Zaara terkejut.

__ADS_1


“Ingin lihat aja! Boleh kan?” Arsene duduk di kursi meja makan.


“Aku jadi grogi kalau dilihat sama kamu,” ucap Zaara membulatkan bibirnya.


“Kenapa grogi?”


“Karena kamu chef berbakat. Kalau lihat aku masak pasti jadi aneh! Apalagi aku masaknya berantakan dan lama!”


Arsene terkekeh.


“Jadi aku harus ngapain?” tanya Arsene.


“Jangan kesini!”


“Kalau bantuin boleh gak?” tawar Arsene kali ini.


Zaara berpikir sebentar.


“Ya udah deh boleh!”


Sejurus kemudian, Arsene bangkit dan membantu istrinya untuk memotong sayuran yang bermacam-macam. Sementara itu Zaara membuat bumbu ayam dan memasaknya di atas panci.


Kerja Arsene sangat cepat. Tak butuh waktu lama, ia sudah menyelesaikan potongan sayurnya. Zaara terkejut. Pria itu membersihkan sayuran, lalu berlanjut mencacah bawang dan bumbu lainnya.


“Oke, stop! Makasih banyak Abangku sayang, sekarang balik lagi ke ruang keluarga ya?” pinta Zaara melihat kerjaan Arsene sudah selesai.


“Oke deh! Tapi…”


“Tapi apa lagi?” tanya Zaara curiga.


Zaara menghela nafas, ia memperhatikan sekelilingnya, lalu mengecup pipi suaminya perlahan. Bunyi kecupan muncul dari sana.


Arsene tersenyum lebar. Pria itu membalas kecupan itu di pipi istrinya, membuat Zaara tersipu-sipu dan mendorong tubuh suaminya keluar dari area dapur. Gawat kalau pria itu tetap berada di dapur, bisa-bisa pipi gadis itu yang matang. Zaara kembali ke dapur dengan wajah merona dan terlihat senyum-senyum sendiri.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, masakan Zaara telah selesai. Ia menyajikan dua menu masakan sederhananya di atas meja makan dan mengajak makan semua keluarganya. Zaara dan Arsene menikmati makan siang itu di atas meja makan. Sementara Zayyan menikmati makannya di depan televisi karena film yang ditontonnya belum selesai. Karin tidak bergabung karena sedang tidur siang.


“Gimana rasanya?” tanya Zaara harap-harap cemas.


Arsene menyuapkan makanan itu ke mulutnya, lalu mengunyahnya pelan. Seperti sedang berada di acara masterchef saja, Zaara menunggu komentar suaminya.


Arsene mengangguk-angguk, masih sambil mengunyah masakan buatan istrinya itu.


“Enak!”


“Beneran? Gak boleh bohong!” ucap Zaara.


“Capcaynya enak. Bumbunya pas, aku suka yang gak terlalu banyak garam. Matangnya sayur juga pas, gak terlalu overcooked. Kalau ayam gorengnya, ini gorengnya belum rata. Sebelah sini kering, baliknya masih belum kering.” Arsene menunjukkan permukaan kulit ayam goreng bagian paha yang digoreng oleh Zaara.


Zaara tertawa kecil, melihat ayam gorengnya. Ia memang sedikit takut untuk membalik ayam goreng. Minyak panas sering menciprat ke kulit tangannya. Oleh karena itu, ia selalu membiarkan ayam goreng itu sebentar sebelum dibalikkan dalam keadaan kompor mati.


“Hehe, maafkan! Aku belum bisa goreng ayam dengan benar!” ucap gadis itu.


“Gak apa-apa, nanti juga biasa kok!” Arsene membesarkan hati istrinya.

__ADS_1


Keduanya menikmati makan siang bersama sampai akhirnya adzan ashar berkumandang. Mereka kembali ke kediaman Arsene setelah berpamitan dengan Karin. Arsene harus memastikan persiapan barang-barangnya untuk berangkat besok pagi.


Arsene mengunci pintu kamarnya. Tiba-tiba saja ia membuka tangannya di depan Zaara meminta pelukan hangat. Zaara menyambutnya. Keduanya berdekapan erat.


“Besok lusa kita gak bisa pelukan kaya gini!” ucap Arsene menggoyangkan tubuhnya yang masih mendekap erat tubuh istrinya.


“Jadi kita pelukan terus hari ini?”


Arsene memperhatikan wajah istrinya, ia mencolek hidung gadis itu.


“Maunya sih, sekalian aja pakai lem super lengket, terus kamu ikut ke Sydney!”


Zaara terkekeh-kekeh.


“Aku cek barang-barang dulu ya? Habis ini kita lengketan lagi!” pinta Arsene membuat Zaara tak bisa menahan senyumnya.


Zaara melepas kerudungnya dan gamisnya. Sementara suaminya mengecek barang bawaannya, gadis itu membersihkan dirinya di sore hari.


\=\=\=\=\=\=


Koper dan tas ransel milik Arsene sudah ditaruh di dekat pintu kamarnya. Pria itu sudah mengecek semua barang miliknya untuk dibawa negara asal kangguru itu. Setelah makan malam bersama keluarganya, Arsene dan Zaara kembali ke kamar mereka. Arsene menyalakan musik jazz untuk membuat suasana malam lebih santai dan tenang, karena hatinya memang sedang tidak tenang malam itu. Ia terlalu cemas menghadapi hari esok.


Zaara mengenakan gaun tidurnya dengan potongan lengan pendek dan bukaan dada yang rendah yang memperlihatkan leher jenjang putih dan tulang selangkanya. Ia sudah kembali membersihkan bagian tubuhnya sebelum tidur. Mengenakan gaun berwarna maroon itu, Arsene menatap istrinya dengan terkaget-kaget. Tidak menyangka Zaara akan mengenakan gaun seperti itu, meski sebenarnya tidak terlalu terbuka. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan wajah polosnya yang bersih.


“Mau kemana?” tanya Arsene terpana.


“Mau tidur!” jawab Zaara.


“Cantik amat mau tidur juga?!”


“Kan tidurnya bareng suami, jadi harus cantik, ya kan?”


Arsene menarik lengan Zaara dan membawanya ke dalam dekapannya, mencium wangi aroma yang menguar dari tubuh istrinya. Pria itu menarik tengkuk leher istrinya dan mencicip lagi bibir istrinya. Lebih dalam dan lebih syahdu karena iringan musik lembut yang mengalun. Jantung keduanya berpacu dengan cepat yang mampu membuat waktu terasa berhenti. Darah berdesir deras di sepanjang alirannya dalam tubuh. Arsene membawa tubuh istrinya berbaring di atas kasur, tampaknya pria itu terlalu hanyut dalam perasaan dan momen itu. Tangannya mulai bermain menyusuri sesuatu yang tak pernah ia sentuh sebelumnya. Waktu benar-benar terasa berhenti, begitu pula dengan putaran bumi yang sejenak tertunda ketika dua insan dilanda asmara.


Asa tengah terbang menuju langit malam, berusaha meraih bintang di atas sana. Namun sesuatu berhasil menurunkan asa itu sehingga kembali ke permukaan bumi.


Nafas Arsene terdengar menderu, pria itu menenggelamkan wajahnya pada dada istrinya yang gaunnya sudah terlihat tidak anggun lagi. Arsene menghentikan semua permainannya. Kepalanya terasa panas, terlebih lagi sesuatu di bawah sana. Mengingat istrinya sedang haid, hal itu membuatnya benar-benar frustrasi. Zaara yang tengah mengatur kembali nafasnya, hanya bisa mendekap suaminya ke dalam tubuhnya tanpa bisa lagi berbuat apa-apa.


Tidak ada komunikasi di sana. Masing-masing dari mereka tenggelam dalam pikiran dan perasaan sendiri yang terlalu sesak jika harus diungkapkan. Akhirnya keduanya tertidur begitu saja dengan posisi yang saling berdekapan erat dan musik masih mengalun lembut menemani mereka tidur.


Hari terlalu cepat berlalu.


\=\=\=\=\=\=


Duuuh >.<


Bersambung dulu yaa


Klik tombol LIKE ya


Tinggalkan komentar kamu juga di episode ini


VOTE untuk dukung author di Rank Atas

__ADS_1


Makasiiiih ^_^


__ADS_2