Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 130. Trik


__ADS_3

Arsene mulai kalut dan panik saat Astria tersenyum menyeringai padanya. Ia berdiri di tempatnya dengan nafas menderu. Berpikir apa yang akan Astria lakukan padanya? Ia tidak boleh lengah.


“Apa mau kamu?” seru Arsene.


“Gak ngapa-ngapain kok, cuma main aja sebentar!” Astria melahap sebuah cupcake, meninggalkan krim di bibirnya yang merah menyala itu. Sambil terus berdiri menghalangi sebuah pintu yang kemungkinan menjadi pintu keluar satu-satunya.


“Lagian bentar lagi teman-temanku datang. Kamu mau ikut pesta sama aku? Bakalan asyik lho, banyak cewek-cewek seksi dan cantik yang gak ada apa-apanya dibanding Zaara!” ucapnya sinis.


Arsene berusaha menahan emosinya dan tidak terpancing. Kemudian Astria bertepuk tangan, tiba-tiba dua orang pemuda tinggi besar dengan ototnya yang menyembul masuk ke dalam ruangan sempit itu. Mereka mencoba menahan tubuh Arsene dan mengikat tangan dan mulutnya.


"Eh, mau apa kalian?!" Arsene memandang tajam.


Arsene terus meronta-ronta berusaha melawan agar kedua pria itu tidak berhasil mengikat tangannya. Ia berhasil menendang salah satu di antara pemuda berotot besar itu, tetapi masih kalah kuat karena satunya lagi menyergapnya dari belakang. Astria menjadi penonton saja di sana, menatapnya dengan puas. Mulut Arsene sudah diikat dengan sebuah kain, membuatnya kesulitan untuk berteriak. Sementara tangannya juga sudah terikat ke belakang dengan sangat kuat hingga terasa perih di kulitnya. Ia jadi menyesal karena tidak mengindahkan peringatan istrinya. Astria memang benar-benar gila.


“Bawa dia ke gudang bawah tanah. Sekap di sana, jangan sampai ada orang tahu!” ucap Astria santai.


“Siap Non!”


Arsene menggeram, menyumpah serapahi wanita gila yang tersenyum sinis padanya. Ia berhasil menendang kaki ramping wanita itu hingga tersungkur ke lantai ketika kedua preman itu menyeretnya paksa. Astria berteriak, “ikat kakinya juga, b*go!”


“Baik, Non!”


“Dia juga harus ngerasain rasanya jadi tahanan rumah kaya gimana!” teriak Astria.


Dua pemuda tadi menyeret paksa tubuh Arsene menuruni tangga bawah tanah hingga ia jatuh terguling-guling. Salah satu dari mereka memberikan tali lagi dan mulai mengikat Arsene yang tengah meringkuk di atas ubin semen yang berdebu.


BUG. Arsene menendang wajah pemuda berotot yang akan mengikat kakinya, hingga hidungnya berdarah. Sehingga satu pemuda lagi yang bertindak. Arsene sudah berdiri,i tubuhnya terasa remuk karena jatuh terguling. Hanya saja ia masih merasa kuat. Meski tangan dan mulutnya terikat, ia masih bisa menggunakan kakinya untuk melawan. Setidaknya itu yang ia pelajari saat berlatih taekwondo di Singapura dulu.


Arsene memasang kuda-kudanya, bersiap melawan. Agak sulit pergerakannya dengan tangan terikat keras seperti itu. Namun ia akan mencoba.


Pemuda berotot tadi mengepalkan tinju pada wajah Arsene yang dengan cepat membungkuk untuk menghindar. Sebagai gantinya, ia menendang pemuda itu tepat di dagunya. Pemuda itu mundur beberapa langkah, mengusap wajah yang berdarah.


Kini perlawanan Arsene semakin sulit karena dua pemuda tadi sudah berdiri kokoh untuk menyerangnya bersamaan. Benar saja, pipi kanannya terluka karena pukulan keras oleh pemuda yang hidungnya terluka karena tendangan Arsene tadi.


Arsene tersungkur di lantai dengan darah mengucur di pelipisnya dan dengan cepat diseret kembali oleh kedua pemuda tadi untuk dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang lebih kecil. Ia berhasil disekap setelah sebelumnya kepalanya dibenturkan ke tembok. Arsene tidak sadarkan diri.


\=\=\=\=\=\=


Zaara menatap ponselnya cemas. Sudah satu jam berlalu tetapi Arsene tidak kembali juga. Ia sudah mencoba menghubungi ponsel suaminya, tetapi tidak ada sambungan di sana. Ia juga menghubungi Alice, tetapi Arsene memang belum tiba.


Kepanikannya kini meningkat bersama kecurigaannya. Zaara kembali menggunakan ponselnya, menanyakan alamat penerima dimana Arsene mengantarnya. Alice memberitahunya.


“Bi, bisa bantu aku cari Arsene?” tanya Zaara cemas.


“Emang kemana Arsene?”


“Aku takut, Arsene disekap Bi!”


“Astaghfirullah, kenapa emangnya?” Reza bertanya-tanya terkejut.


“Udah cepet Abi jemput Zaara. Zaara mau telepon Daddy sama Opa Gunawan mau minta tolong!”


“Iya-iya! Abi kesana sekarang!”

__ADS_1


Reza datang bersama Ferdian malam itu selepas maghrib setelah mendapat kabar dari Zaara walau masih sebatas asumsi gadis itu. Zaara menjelaskan semuanya agar asumsinya tidak sekedar prasangka. Oleh karena itu, ia membutuhkan kehadiran Opa Gunawan bersamanya agar bisa membantunya mencari Arsene yang sudah tidak ada kabar selama dua jam. Padahal jarak menuju Bubbly Club cukup memakan waktu lima belas menit saja.


Reza dan Zaara pergi ke tempat hiburan malam itu. Sementara Ferdian akan menjemput ayahnya.


Zaara menatap gedung yang berkilauan dengan lampu-lampu itu dengan curiga. Terdengar suara dentuman musik yang hingar bingar dari dalam. Ia tidak akan meluapkan emosinya dulu. Tidak terlihat mobil milik ibu mertuanya di sana. Karena parkiran sudah dipenuhi oleh tamu-tamu yang datang mengunjungi bachelorette party malam itu.


“Ada mobil mertua kamu?” tanya Reza pada anaknya.


“Gak ada, Bi! Tapi aku tetep curiga!”


“Coba kita tanya Pak Satpam!” ucap Reza turun dari motornya.


Reza dan Zaara menghampiri petugas keamanan. Melihat ada gadis berhijab lebar di sana, petugas keamanan jadi bertanya-tanya.


“Ada yang bisa dibantu?”


“Betul ini tempat pestanya Astria?” tanya Zaara tidak ragu-ragu lagi.


“Betul, kenapa ya?”


“Apa Bapak lihat ada anak muda bawa mobil putih mengantar kue tadi sore ke gedung ini?” tanya Zaara memicingkan mata.


Seketika raut wajah petugas itu menjadi tegang, matanya membesar. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya itu.


“M-maaf, se-sepertinya tidak ada! Ha-hanya ada tamu Nona Astria!” ucapnya terdengar gugup.


“Bisa panggilkan Astria ke sini?!” tanya Zaara ketus.


“Anak saya tidak akan menginjakkan kakinya di tempat maksiat, Pak! Cepat panggil anak itu kemari!” ucap Reza memasang wajah sangarnya.


“B-baik, Pak!”


Petugas keamanan itu segera berlari ke samping gedung. Tidak lama kemudian, keluar beberapa pemuda berotot. Berjaga di depan halaman. Sebagian dari mereka menghampiri Reza dan Zaara.


“Apa perlu Anda kemari?” ucap salah satu pemuda tinggi, hidungnya terlihat ada luka baru.


Zaara memicingkan matanya memperhatikan wajah itu dalam remang cahaya.


“Anak saya ingin bertemu dengan temannya, Astria! Panggilkan dia!” ucap Reza.


“Nona Astria sedang sibuk. Anda bisa mengunjunginya di dalam atau tunggu hingga pesta selesai!” ucap pemuda itu mengeraskan rahangnya.


Reza mendengus kasar. Baru kali ini ia menghadapi preman tempat hiburan malam.


“Panggil sebentar aja bisa gak sih?!” tanya Zaara setengah berteriak.


Pria berotot itu melangkah maju ke hadapan Zaara, membuat Reza bersiap-siap menghadangnya.


Sebuah mobil van hitam tiba-tiba menepi dan berhenti, tepat di samping Reza dan Zaara yang sedang berdiri gusar di hadapan seorang preman. Seorang paruh baya turun dan keluar dari mobil.


“Selamat malam, Tuan-tuan!” ucap sebuah suara serak dari mobil van hitam itu.


Supirnya membukakan pintu mobil dan membantunya turun. Pria paruh baya yang mengenakan jaket kulitnya keluar dari sana. Tubuhnya masih tegak berdiri meski usianya sudah 60 tahunan.

__ADS_1


Seketika Zaara berlari menghampirinya ketika sang supir sudah menutup pintu mobil. Gadis itu mengecup punggung tangan kakek suaminya.


“Ada apa, Nak?” tanya Opa Gunawan mengelus kepala Zaara.


“Tolong Zaara, Opa! Tolong cari Abang Arsene. Terakhir kali Arsene pergi ke tempat ini dan sekarang teleponnya gak bisa dihubungi sama sekali,” terang Zaara cemas.


Opa Gunawan terdiam mendengarkan istri dari cucu pertamanya itu.


“Zaara pikir, Opa bisa bantu. Zaara tau kalau Astria itu anaknya Pak Wildan Tarumanegara. Opa pasti kenal kan?”


“Hmm…” Opa Gunawan mengangguk-angguk.


“Zaara khawatir Arsene kenapa-napa, karena Astria punya dendam sama kita.”


“Begitu? Baiklah, Opa coba kondisikan!”


“Fer! Temani Ayah!” ucap Gunawan.


“Iya!” Ferdian langsung menghampiri ayahnya.


“Zaara tunggu di sini aja ya sama abi, di dalam terlalu berbahaya. Biar Daddy dan Opa yang cari Arsene di dalam!” ucap Ferdian menenangkan menantunya.


“Iya Daddy!” jawab Zaara penuh harap.


Ferdian menatap Reza. Reza mempercayakan kepadanya. Ia mendekap bahu putrinya yang cemas bukan main.


“Selamat malam! Ini Gunawan, kamu bisa datang ke Bubbly Club punya adikmu itu, Dan?” tanya Gunawan dalam teleponnya.


“Mengapa dadakan, Tuan?”


“Ada hal yang darurat di sini. Saya sudah di tempat!”


“Baiklah kalau begitu.”


Sengaja Gunawan menggunakan fitur loudspeaker dalam teleponnya tadi agar para preman tersebut mendengarnya. Seketika mereka berlari ke dalam gedung, berusaha mengkonfirmasi pada tuan rumah pesta.


“Apa sih ganggu pesta aku aja?!” teriak Astria di depan pintu utama, ketika salah seorang pria berotot memberitahukannya kalau ada kerabat ayahnya yang datang berkunjung dan menyuruh ayahnya kemari.


Gadis itu membelalak melihat di halaman gedung hiburan malam itu tampak banyak orang yang wajahnya ia kenali. Terutama ada Pak Gunawan, yang ia ketahui sebagai atasan ayahnya di perusahaan propertinya dulu. Meski kini sudah berganti, tetap saja Keluarga Gunawan Winata adalah atasan dari keluarganya itu.


Seketika raut Astria berubah menjadi panik dan ketakutan. Apa ada hubungannya dengan Arsene? Kemudian ia melirik pada Zaara yang menatapnya tajam.


“Mampus gue!” ucapnya pada diri sendiri.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu yaa


Ayo votenya yang banyak dong, dikasih adegan actionnya ala Arsene nih XD


LIKE dan Komentarnya juga jangan lupa yaa


Makasiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2