Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 70. Perkumpulan Keluarga


__ADS_3

Pertemuan keluarga besar Marthawinata berlangsung sejak pagi ini. Sebagai tuan rumah, Keluarga Gunawan Winata sudah berada di kediaman nan megah itu sejak hari kemarin malam. Semuanya telah berkumpul di sana, ada Keluarga Damian beserta istrinya Tania dan dua anaknya, Fea dan Alvin. Terdapat juga Keluarga Resha dan suaminya Leon, beserta dua anaknya Naomi dan Cheryl. Tentu saja Keluarga Ferdian beserta istri dan empat anaknya.


Undangan Arsene dan Zaara sudah dicetak dan rencananya akan dibagikan secara eksklusif pada anggota Keluarga Marthawinata yang lain hari ini. Arsene tengah bersiap-siap menemui semua saudara sepupu jauhnya yang mungkin akan berkata yang tidak-tidak mengenai pernikahan di usia mudanya. Meskipun masih mengalir darah yang sama, tetap saja ada di antara mereka yang memiliki lidah tajam nan licin. Ferdian sudah mewanti-wanti anak sulungnya itu untuk mengabaikan siapapun yang akan berkomentar negatif terkait pernikahannya.


Acara yang tersaji itu memiliki konsep formal santai, dan beberapa hiburan akan tersaji di sebuah panggung kecil. Silaturahmi keluarga besar itu dihelat di halaman belakang yang luas. Alunan musik sudah tersaji di sana, seorang pianis memainkan dengan handal jari-jari ajaibnya. Arsene berjalan-jalan di taman belakang itu sambil mengambil sebuah minuman ringan bersama adiknya Rainer. Keduanya duduk di depan panggung kecil sambil menunggu tamu yang akan datang.


“Nikah itu emang enak?” tanya Rainer yang polos.


“Ada enaknya ada enggaknya,” jawab Arsene.


“Terus kenapa Abang mau nikah cepet kalau tau ada yang gak enaknya?”


“Hidup itu pilihan, Rain! Kamu bisa memutuskan apa yang kamu mau. Asal kamu bertanggung jawab dengan itu. Tapi pilihannya harus ke arah yang baik ya! Nikah salah satunya. Tapi gak mudah. Kamu bakal ngerti suatu saat nanti!” jelas Arsene.


Rainer mengangkat bahunya saja. Lalu remaja itu menemui sepupunya yang ribut tertawa-tawa. Fea selalu menjadi pusat perhatian jika ada pertemuan seperti ini, sepupu-sepupu yang lainnya selalu merasa nyaman dengannya. Gadis itu memang sangat jauh berbeda dengan karakter ayahnya, Damian, yang terkenal dingin dan tegas. Rain terpaksa bergabung dengan sepupunya yang kebanyakan sepantaran dengannya, karena menurutnya, Arsene sudah tidak lagi asyik diajak bicara, ia terlalu dewasa pikirannya. Setidaknya itu yang dipikirkan Rainer tentang abangnya. Ada Fea dan Naomi yang satu angkatan dengannya. Ia berharap Kenzie akan segera datang, karena remaja itu adalah sepupu yang paling dekat dengannya.


Tidak lama kemudian, beberapa keluarga lain berdatangan. Arsene berjalan dan menyambutnya. Ia menyalami mereka semua yang kemudian memberikan selamat kepadanya yang akan melangsungkan pernikahan sebentar lagi.


“Abang Acen udah mau nikah aja nih! Pasti banyak yang patah hati lho di sini juga!” ucap Nenek Indah, adik dari kakeknya, Opa Gunawan.


Arsene menyengir saja mendengar ucapan nenek yang masih terlihat cantik itu. Wanita itu datang bersama suami dan kedua anaknya, Andre dan Belinda.


“Aduh ini calon pengantin muda, makin ganteng aja!” ucap Andre menepuk bahu Arsene. Pria itu datang bersama istri dan kedua anaknya.


“Hehe, makasih Uncle Andre!” ucapnya.


“Acen semester berapa sekarang?” tanya Nava yang menggandeng lengan suaminya.


“Semester satu, Onty!”


“Wah kereeen!” ucap Nava takjub.


“Moga lancar ya, Cen!”


“Aamiin.”


Mereka langsung disambut oleh Ferdian dan Ajeng, yang sudah lama juga tidak bertemu dengan mereka. Andre sendiri masih menjadi dosen di Universitas Mentari. Sedangkan Nava masih aktif menjadi penulis fiksi seperti kerjaan dia sebelumnya. Anak-anak mereka telah tumbuh. Kenzie Fabian, anak pertama mereka, adalah seorang siswa IPA di kelas XI. Sementara Ezra Januar, anak kedua mereka, adalah seorang siswa IPA di kelas X.


Rainer sangat senang dengan kedatangan Kenzie dan Ezra. Tentu saja ia sudah membawa bola basket kesayangannya agar bisa bermain di lapangan kecil yang berada di sana. Sementara itu keluarga-keluarga lainnya pun berdatangan. Keluarga Rudi Winata datang, keluarga mereka terkenal sebagai saingan dari Gunawan, meski itu adalah adiknya sendiri. Istrinya, Siska Hadikusuma adalah wanita yang sering menyindir keluarga suaminya itu. Kali ini wanita tua itu sudah tidak berbuat banyak, ia duduk di kursi rodanya yang didorong oleh anak tunggalnya, Bara Anumerta, CEO dari Anumerta Textile Group. Ia datang ditemani salah satu istrinya dan ketiga anaknya yang remaja.

__ADS_1


Bara dan istrinya menyalami Ferdian dan Ajeng yang menyambut kedatangannya. Disambut juga oleh Damian serta Resha di sana. Entah mengapa aura persaingan bisnis antar keluarga itu sangat terasa kuat ketika mereka tengah berkumpul di sana. Bara memang saingan berat Damian yang merupakan CEO Winata Corp. menggantikan ayahnya yang sudah pensiun beberapa belas tahun lalu. Hanya saja, jika dilihat dari level perusahaan, bagaimanapun posisi Damian jauh lebih tinggi dari Bara.


Acara silaturahmi keluarga besar dimulai pagi itu setelah kursi-kursi yang berderet rapi di sana telah penuh terisi. MC membuka acara dan Tuan Gunawan selaku tuan rumah memberikan sambutan serta ucapan terima kasih karena keluarga besarnya mau memenuhi undangannya untuk hadir di acara ini.


“Adapun alasan acara ini digelar, ini tidak lain karena cucu kebanggaan kami, yaitu Arsene Rezka Winata, akan melangsungkan pernikahannya tepat di awal Agustus. Jadi kami mengundang kalian kemari adalah untuk meminta doa restu serta kehadirannya nanti di pesta resepsi pernikahan Arsene dan Zaara. Mungkin nanti Ferdian yang akan menjelaskan terkait teknis pesta resepsinya yang mungkin akan terasa asing untuk kita semua.” Tuan Gunawan telah selesai memberikan sambutannya.


Kali ini giliran Ferdian, sebagai ayah dari Arsene, yang akan memberikan untaian kalimat agar keluarga besarnya bisa menghadiri pesta resepsi pernikahan anak sulungnya itu.


“Ini adalah pernikahan yang mungkin terasa berbeda. Pihak perempuan meminta agar pesta diadakan terpisah sesuai dengan konsep pernikahan ala Islam. Jadi tanpa mengurangi rasa hormat, tamu laki-laki dan perempuan akan dipisah dalam pesta resepsi pernikahan Arsene dan Zaara.”


Penjelasan Ferdian memancing berbagai respon di tengah keluarga besarnya. Ada yang takjub dan salut, ada juga yang heran bahkan nyinyir. Namun tentu saja hal itu tidak akan mengubah apapun.


Ferdian turun dari panggung setelah menjelaskan semuanya, sehingga nanti mereka tidak akan terkejut lagi ketika menghadiri pesta pernikahan Arsene. MC mempersilakan kepada para hadirin untuk menikmati jamuan makan siang itu sambil ditemani iringan piano.


Para anak muda yang memiliki darah Marthawinata yang mengalir di tubuh mereka itu duduk di barisan belakang, dan tampak tidak fokus mendengarkan paman mereka yang sedang berbicara di depan. Arsene juga duduk di sana, bersama Rainer dan Ezra di sebelahnya. Sementara di barisan lain ada anak-anak dari Bara. Mereka bergantian mengambil makanan dan minuman ringan yang sudah tersaji di sana.


“Lu kenapa mau nikah muda, Sen?” tanya sepupu Arsene bernama Karel yang duduk di hadapan Arsene.Ia adalah anak sulung Bara yang sudah berkuliah di semester tujuh. Wajahnya kekar dan terlihat arogan dari penampilannya.


Arsene menatapnya dingin dari tempat duduknya. Ia kenal betul pemuda di depannya yang sedang menyunggingkan senyumnya itu. Pemuda itu juga yang pernah membuat kakinya retak ketika bermain futsal saat mengunjungi Indonesia di momen lebaran, di usianya yang menginjak 9 tahun. Bahkan Arsene harus menjalani sesi terapi lagi karena luka retakannya itu terjadi di bekas kecelakaannya dulu. Arsene harus berhati-hati.


“Lu hamilin anak orang?!” ucap pria bertubuh atletis itu sembarangan. Saudara-saudara sepupu lainnya tertawa-tawa mendengar omongan Karel.


“Apalagi kalau bukan ngehamilin anak orang?! Ternyata polos-polos gini bejat juga kelakuannya!” sahut Brian, adik Karel yang sama kurang ajarnya dengan kakaknya itu.


Arsene hanya menatap dingin mereka berdua.


“Eh mulut lo tuh dijaga, m*nyet!” seru Fea yang tiba-tiba saja menghampiri.


“Eh ini cabe tengik tiba-tiba muncul aja macam tuyul!” seru Brian maju menantang Fea.


“Gue gak takut sama lu!” ucap gadis itu berani.


“Alaaah, paling nanti lari ke bapak lo itu!”


Arsene berdiri dan menghalangi Fea dari Brian yang terus melangkah maju.


“Kalian gak usah ganggu kita. Cukup kita lihat aja nanti apa yang akan terjadi!” ucap Arsene berusaha tenang.


“Apa maksud lo, Sen?!” tanya Karel terpancing emosinya.

__ADS_1


“Kalian iri liat gue nikah, hah?! Kalian boleh tuduh gue sesuka kalian. Tapi lihat aja nanti!” ucap Arsene dengan tatapan songongnya. Tentu saja ia harus menatapnya dengan seperti itu untuk membuat nyali kedua pemuda itu sedikit ciut kalau ia adalah pemuda bersih yang terjaga dari pergaulan bebas.


Arsene sedikit tahu siapa Karel dan apa yang ia kerjakan di luar sana. Ia dengar saja dari Fea yang sering membawa berita keluarganya ketika sedang menjaga toko kuenya. Karel hidup di dunia yang bebas dan gelap. Ia bahkan sempat teringkus oleh pihak kepolisian karena aksi balap liarnya di jalan-jalan yang sepi ketika tengah malam beberapa waktu lalu. Mahasiswa seni itu juga sering kedapatan berganti-ganti pacar di kampusnya. Sebuah tato di lehernya dan tindikan di telinga kirinya menyiratkan itu. Entah darimana Fea mendapatkan berita itu, mungkin dari ayah atau ibunya yang memang bersinggungan langsung dengan perusahaan ayah Karel.


Keberadaan para anak muda itu memang cukup jauh dari orangtua-orangtua mereka, sehingga tidak ada satupun orangtua yang menengahi keributan yang terjadi di dekat lapangan kecil ini.


Tiba-tiba saja datang pria tegap dan berjambang di rahangnya.


“Karel, Brian! Pindah!” seru ayah mereka, Bara. Sorot mata pria itu menyiratkan ketidaksukaannya atas perlakuan anaknya pada Arsene.


Tanpa perlawanan lagi, Karel dan Brian, mengikuti perintah ayahnya itu meski dengan delikan tajam pada Arsene dan Fea ketika meninggalkan mereka.


“Cih sumpah ya padahal aku udah berdoa biar mereka gak dateng! Ngeselin banget sih!” geram Fea mengepal tangannya.


“Tau tuh, bikin ulah aja kalau ketemu kita!” sahut Rainer.


“Mereka benci karena iri sama kita. Tapi entah apa yang bikin mereka iri. Kamu tau sesuatu Fe?” tanya Arsene masih menatap punggung sepupunya itu.


“Perusahaan ayah mereka mau kolaps lho!” bisik Fea.


“Serius?!” tanya Arsene dan Rainer bersamaan.


“Makanya tadi bapaknya itu marahin, biar mereka gak bikin ulah sama kita. Toh saham perusahaan mereka udah Papi ambil alih biar gak jadi bangkrut!” cerita Fea.


“Kamu denger dari siapa?” tanya Arsene penasaran.


“Aku kan punya agen rahasia, ho ho ho!” ucap gadis itu bangga dan tertawa dengan suara kerasnya.


Arsene dan Rainer menggeleng bersamaan.


\======


Bersambung lagi


Hehe


Hayooo vote yang banyak ah biar cepet nih prosesi nikah Arsene dan Zaara


Like dan komentarnya juga tinggalin yaa

__ADS_1


Thank youu


__ADS_2