
Suasana gerbang utama kampus Universitas Bumi Pertiwi terlihat ramai oleh mahasiswa-mahasiswa baru berseragam putih abu. Meski mereka masih mengenakan seragam SMA, mereka sudah diterima dan menjadi mahasiswa baru di kampus negeri unggulan di kota itu. Mereka berjejer rapi sesuai dengan fakultasnya.
Zaara terlihat berdiri di dalam barisan mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Budaya itu. Meski ia berasal dari jurusan IPA, dalam tes ujian masuk universitasnya, gadis itu terpaksa menyebrang jurusan ke sosial demi masuk ke jurusan Sastra Indonesia. Beruntungnya, ia bisa diterima di kampus unggulan itu.
Seorang kakak senior menginstruksikan agar membawa mereka ke dalam lapangan stadion utama, berkumpul dengan mahasiswa lainnya dari berbagai fakultas yang ada. Setiap masing-masing mahasiswa telah membawa barang yang sudah diinstruksikan kepada mereka sebelumnya, yaitu membawa satu kilogram beras dan satu buah bibit pohon buah-buahan, yang rencananya akan ditanam di tanah kosong milik fakultas mereka masing-masing. Untuk beras, barang itu akan disumbangkan kepada yang membutuhkan, dengan harapan para mahasiswa UBP bisa meningkatkan rasa solidaritas kepada sesama sebelum mereka menempuh studi mereka di kampus ini.
Zaara memberikan sekantong plastik berisi beras 1 kg yang dibawanya kepada salah satu senior perempuan yang menghampirinya. Di stadion itu, para mahasiswa menyimak semua sambutan yang dibawakan oleh rektor dan jajarannya. Penyambutan mahasiswa baru khusus dari pihak rektorat selesai siang ini, dan akan dilanjutkan ke fakultas masing-masing. Meski panas membakar, mahasiswa-mahasiswa baru itu tetap terlihat bersemangat sambil membawa bibit pohon yang dipegangnya.
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya sudah berkumpul di sebuah halaman berumput yang lapang, yang terletak di bagian belakang gedung perkuliahan. Halaman itu bisa menembus ke Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang terletak di sebelahnya. Hanya ada beberapa pohon di sana yang tumbuh. Banyak lubang sudah digali oleh para tukang kebun. Ada sekitar 200 orang mahasiswa baru dari berbagai jurusan di FIB ini. Mereka semua berjejer rapi mendengarkan instruksi dari senior mereka. Mata mereka mengernyit karena sinar matahari siang menyorot wajah mereka, membuat keringat berpeluh mengucur dari dahi.
“Siang ini kalian harus mengumpulkan semua bibit pohon yang kalian bawa,” ucap salah satu mahasiswa senior laki-laki yang mengenakan jas almamater kampus.
“Kalian tahu apa tujuannya?” tanyanya lagi.
“Untuk ditanam, Kak!” jawab beberapa orang.
Para mahasiswa senior tertawa, “yaiyalah untuk ditanam. Pohon itu mesti ditanam oleh kalian sendiri. Kalian juga yang akan merawatnya selama kuliah di sini, dengan harapan pohon kalian yang berbuah nanti akan bermanfaat dan hasilnya akan disumbangkan untuk warga sekitar sebagai bentuk bakti sosial.”
“Kak ini kan Fakultas Ilmu Budaya, kok sibuk rawat pohon?” tanya mahasiswa senior lain, seolah ia menebak pertanyaan yang muncul di benak para mahasiswa baru ini.
“Pohon itu bagian dari makhluk hidup dan ciptaan Tuhan. Di sini kalian akan melatih jiwa kepedulian kepada pohon yang kalian tanam. Jika kalian rawat sepenuh hati, itulah cerminan dari diri kalian sendiri. Meskipun nanti juga ada dari pihak fakultas yang akan senantiasa membantu dan memantau pohon-pohon kalian.”
Para mahasiswa mengangguk-angguk, paham akan apa yang dijelaskan oleh mahasiswa senior itu. Meskipun mereka juga tidak yakin, apakah mereka bisa merawatnya dengan baik atau tidak.
“Program ini memang baru diluncurkan tahun ini, jadi hari ini akan ada pakar botani yang akan membantu kita,” terang senior itu lagi.
Zaara menyimak penjelasan dari mahasiswa seniornya dengan baik. Ia berharap pohon yang dibawanya hari ini akan bisa dirawatnya dengan baik. Mahasiswa senior saling berbicara di depan, mungkin berkoordinasi untuk acara selanjutnya.
“Baiklah, sebelum kita menanam pohon. Kami ingin ada salah satu perwakilan mahasiswa baru di sini yang mau menjelaskan pohon apa yang dibawa dan alasan kenapa kalian bawa pohon itu!”
Para mahasiswa baru pun mulai tegang, karena mereka tidak sampai memikirkan hal itu ketika memilih bibit-bibit pohon itu. Jadi mereka merasa gugup jika harus ditunjuk ke depan.
“Sebelum kami tunjuk, apakah ada di antara kalian yang bersedia ke depan untuk menjelaskan? Sekalian saja perkenalkan diri kalian di depan teman-teman seangkatan.” Beberapa mahasiswa senior berkeliling mengitari barisan para mahasiswa yang masih terlihat tegang.
Tiba-tiba sebuah tangan terangkat dari barisan mahasiswa baru di bagian belakang. Sang senior menunjuk mahasiswa baru itu agar berdiri di depan bersanding dengannya. Para mahasiswa baru berbisik-bisik ketika mahasiswa itu membawa bibit pohonnya ke depan. Zaara masih asyik memperhatikan pohon miliknya sambil berpikir mengenai alasannya memilih pohon ini untuk ditanamnya.
Sang senior merangkul bahu mahasiswa baru yang terlihat percaya diri tengah memegang bibit pohon miliknya.
“Silakan perkenalkan dirimu terlebih dahulu!” ucap senior yang ternyata adalah ketua BEM FIB.
Mahasiswa baru itu berdeham sebentar, lalu menarik nafas, agak sedikit gugup sepertinya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya di awal.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semua.
__ADS_1
Ia berdeham lagi. Zaara menoleh ke depan, ke arah mahasiswa baru itu.
DEG.
Tiba-tiba jantungnya melompat kencang, ketika dilihatnya wajah mahasiswa baru yang ternyata ia kenal. Matanya membesar untuk memastikan penglihatannya apakah memang benar pria itu yang berada di depan?
“Nama saya Arsene Rezka, jurusan Sastra Inggris, asal dari SMAN 50 Bandung. Hari ini saya membawa pohon kelengkeng untuk ditanam.”
Mulut Zaara menganga melihat Arsene yang berada di depan. Ia tidak menyangka sama sekali kalau Arsene akan berkuliah di universitas, bahkan fakultas yang sama dengannya meski berbeda jurusan. Padahal ia pikir, Arsene akan pergi keluar negeri, karena teman sebangkunya itu pernah bercerita padanya. Kenapa tiba-tiba ia bisa kuliah di sini? tanya Zaara dalam hati.
“Kenapa kamu bawa pohon kelengkeng?” tanya senior itu.
“Pohon kelengkeng mudah tumbuh dan berkembang. Tetapi jika ingin berbuah lebat dan baik, maka perawatannya harus diperhatikan. Banyak manfaat yang didapat jika buah ini tumbuh, kelengkeng mengandung vitamin C yang cukup tinggi, ada juga senyawa antioksidan yang bisa menangkal radikal bebas, selain itu banyak sekali nutrisi yang bisa didapat jika kita mengkonsumsi buah yang menyegarkan ini,” terangnya.
“Apa kamu sanggup untuk merawatnya?” tanya seniornya lagi.
“Saya akan berusaha merawatnya dan membuatnya berbuah. Meskipun mungkin perlu kesabaran dan ketelatenan, saya akan mencobanya,” ucapnya percaya diri sambil tersenyum pada seseorang yang menatapnya dari baris ke dua dari depan.
Zaara tertunduk tersipu, merasa Arsene tersenyum ke arahnya. Ia jadi salah tingkah dibuatnya. Semua mahasiswa pun bertepuk tangan memberi apresiasi pada Arsene. Mahasiswa senior itu mempersilakannya duduk kembali ke tempatnya.
Setelah itu, para mahasiswa baru dipersilakan untuk memilih lubang-lubang yang sudah digali. Di sana mereka bisa menanam pohon-pohon yang mereka bawa. Sementara para tukang kebun akan kembali menutup lubangnya jika bibit-bibit pohon itu sudah tertanam di sana.
Zaara berjalan bersama para mahasiswi yang baru berkenalan dengannya, mereka memilih lubang-lubang yang berada di dekat dengan gedung, karena untuk memudahkan mereka merawatnya tanpa harus pergi jauh dari gedung perkuliahan. Beberapa senior mengawasi mereka.
Zaara menoleh ke sumber suara. Pria itu tersenyum padanya, lalu pergi berlalu dari sana menuju tanah yang dekat dengan pohon-pohon tinggi. Zaara menoleh kepada kawan-kawan barunya.
“Yuk ikutin dia, lumayan, siapa tau bisa kenalan,” ucap seorang mahasiswi berkuncir bernama Terry.
“Kasian juga kalau pohonnya gak tumbuh. Yuk kita tanam di sana aja!” ucap mahasiswi berhijab bernama Hana.
Zaara tersenyum, lalu mengikuti kedua kawan barunya yang mengikuti langkah Arsene.
Arsene tampak sedang menanam bibit pohonnya di samping pohon besar yang menaunginya. Meski lubang-lubang itu cukup jauh dari gedung perkuliahan, ia berharap tanah dimana ia menanam pohon itu memiliki nutrisi baik, sehingga pohonnya akan tumbuh. Pria itu bahkan menutupi lubang tanamannya dengan tangannya sendiri, membuat tanah yang terlihat cokelat dan hitam itu menempel di jari-jarinya.
Ketiga mahasiswi di belakangnya memperhatikannya lebih dulu, lalu memasukan pohon mereka ke dalam lubang yang mereka pilih. Zaara masih berdiri di tempatnya, sambil memperhatikan Arsene yang belum selesai menutup lubang dengan tanah.
“Kenapa kamu kuliah di sini? Aku kira kamu pergi ke Sydney!” ucap Zaara memandangi punggung Arsene.
Pria muda itu menoleh, tersenyum kecil. Ia berdiri dan menepuk-nepuk tangannya yang penuh dengan tanah.
“Ada impian yang tertinggal di sini. Jadi aku mau kejar dulu sebelum ke Sydney,” ucapnya santai.
“Oh ya?”
“Ya, mudah-mudahan aja cepet dapetnya.”
__ADS_1
“Apa itu, kalau aku boleh tau?”
“Nanti juga tau sendiri!” jawab pria itu masih dengan senyumannya yang khas.
Zaara mengalihkan pandangannya ke arah lain, sambil memperhatikan lubang-lubang yang ada di sekitarnya.
“Mau aku bantu?” tawar Arsene.
Zaara kembali menghadapkan wajahnya ke arah pria itu, lalu tersenyum kecil.
“Makasih, aku coba dulu sendiri!” ucapnya lalu pergi dari hadapan Arsene, memilih satu lubang di bagian samping kiri pohon yang menaunginya. Dengan hati-hati, Zaara menanam pohon mangga miliknya. Hatinya berdoa, agar pohon ini bisa tumbuh dengan baik dan berbuah pada masanya nanti. Ia pun melakukan apa yang dilakukan Arsene, memindahkan sendiri tanah itu untuk menutupi lubang, tanpa khawatir tangannya penuh dengan kotoran. Arsene memperhatikannya.
Zaara menepuk-nepuk tangannya. Melihat Arsene yang masih berdiri di belakangnya, membuat ia bertanya-tanya.
“Kenapa pilih kuliah di FIB?” tanyanya penasaran.
“Karena ada kamu,” jawabnya santai.
Zaara menggeleng kecil sambil tersenyum pada dirinya sendiri, lagi-lagi pria ini menggodanya. Sepertinya memang lebih baik tidak bertanya saja sekalian daripada hatinya jadi memerah karena menahan kekakuan di sana. Zaara melangkahkan kakinya dan meninggalkan pria yang tampak menahan tawanya itu.
“Hati-hati banyak lubang!” seru Arsene.
Zaara terus melangkah meninggalkannya, disusul oleh kedua teman barunya kemudian.
“Kamu kenal cowok itu, Zaara?” tanya Terry.
“Iya,” jawab Zaara singkat.
“Wuih, kenal di mana?” tanya Terry lagi.
“Kita satu sekolah dan satu kelas!” jawab Zaara lagi.
“Wah, kenalin dong!” seru Terry.
Zaara hanya tersenyum menanggapi temannya itu.
“Lain kali ya, yuk kita pulang!” ajaknya ramah.
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu yaa
Jangan lupa like, vote, dan commentnya
makasiiih
__ADS_1