
Siang itu menjadi pelampiasan para mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Mereka bersandar memenuhi kursi yang tersedia di gedung-gedung kampus. Kantin untuk mereka terlalu sesak. Bahkan mereka sampai senggol menyenggol untuk sekedar membeli sebungkus makanan ringan. Sepertinya dekan mesti membuatkan mereka satu kantin lagi, atau memperluas kantin yang ada, agar para mahasiswa, dosen, dan staff tidak lagi harus berebut tempat duduk dan meja.
Andre menghampiri sebuah kursi di samping kolam yang sudah diduduki oleh mahasiswanya, alias Nava. Pria berwajah manis itu sudah memiliki janji sebelumnya untuk bertemu dengannya di sana.
"Hei!" sapa Andre pada Nava yang melepas earphone-nya.
"Hai!" sapa Nava tersenyum.
"Penuh ya?" tanya Andre memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada tempat duduk lagi di sana.
"Iya nih, mau duduk dimana? Pindah aja yuk!" ajak Nava.
"Kamu udah makan siang?" tanya Andre.
"Belum, kita pesan aja dulu, nanti minta anter!"
"Boleh!"
Keduanya pun berjalan menuju bagian kasir untuk memesan makanan siap saji dan meminta untuk di antar ke kursi di depan tangga yang terlihat kosong, meski tidak ada meja di sana.
"Jadi kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Andre.
"Aku ngekos deket sini aja, biar gak terlalu jauh dari kampus," jawab Nava.
"Ooh..."
"Kamu sendiri?"
"Aku tinggal di Apartemen Royal Kenanga!"
"Ooh, gaya banget deh! Beda ya dosen mah tinggalnya di apartemen."
"Haha, itu gara-gara mama aku yang udah sewain duluan."
Nava mengangguk-angguk.
"Gimana kuliah kamu lancar sejauh ini?"
"Alhamdulillah, lancar aja sih. Cuma otak aku ini responnya lambat, jadi mesti belajar banyak. Hehe!"
"Kalau butuh apa-apa panggil aku aja, kita bisa belajar bareng kaya dulu kan?" tawar Andre.
"Haha, aku jadi malu, Dre! Dari dulu kamu jadi guru bimbel gratis aku!"
"Kenapa malu, aku ikhlas kok!"
Nava terkekeh mengingat masa-masa SMA nya. Sepulang sekolah ia dan teman-temannya selalu belajar privat dengan Andre karena mereka tidak ikut bimbel berbayar.
Tiba-tiba lewat di depan mereka, Ferdian dan Ajeng yang hendak pergi ke kantin. Andre memanggil keduanya.
"Eh ada Bang Dre disini, siapa nih? Pacar ya?!" celetuk Ferdian.
Andre dan Nava sama-sama tersipu dibuatnya.
Ajeng menyenggol lengan suaminya.
"Ini mahasiswa aku, Fer! Kenalin, Nava ini Ferdian, sepupu aku!"
Nava mengulurkan tangannya pada pria tinggi berkemeja biru muda itu. Baru saja Ferdian hendak menyambut tangan Nava, seketika Ajeng menggeser tubuh suaminya dan ia menyambut tangan Nava.
"Aku Ajeng, istri Ferdian!" ucap Ajeng tersenyum ramah menjabat tangan Nava.
Ferdian jadi tersenyum menyengir saja dari jauh sambil mengangguk pada wanita di samping Andre itu. Nava membalas senyuman Ajeng ramah.
"Yuk Sayang!" ajak Ajeng pada suaminya.
"Kantin penuh lho! Tapi lihat lagi aja, siapa tau udah ada kursi dan meja kosong!" ujar Andre memberitahu.
"Ya udah kita lihat dulu!" timpal Ferdian.
"Kita ke kantin dulu ya Dre! Nava!" ucap Ajeng mengangguk, langsung mengapit lengan Ferdian dan menyeretnya ke kantin.
Nava tertawa kecil.
__ADS_1
"Lucu ya?!" ucap Nava melihat tingkah suami istri di hadapannya tadi.
"Itulah mereka! Ajeng lagi cemburuan banget selama hami! Makanya agak protektif gitu sama suaminya," ujar Andre.
"Jadi Ferdian itu mahasiswanya Ajeng?"
"Iya, karena perjodohan mereka bisa nikah. Tapi setahuku, Ferdian emang udah incer dosennya itu sejak lama."
"Keren banget lah! Mesti kenalan nih sama Ajeng!"
"Mau bikin cerita mereka?"
"Ya siapa tau bisa muncul inspirasi."
Pesanan milik mereka pun akhirnya datang. Terpaksa, mereka menadah wadah makanannya dengan tangan mereka sambil menikmati makan siang.
Ajeng dan Ferdian muncul lagi, mereka baru saja keluar dari kantin sambil membawa botol air mineral.
"Penuh ya?" tanya Andre.
"Iya nih, padahal mau numpang makan aja!" jawab Ferdian.
"Duduk di sini aja," tawar Nava, karena kursi mereka masih muat untuk ditempati dua orang lagi.
Ajeng langsung duduk di sebelah Nava membuat perempuan itu semakin berdekatan dengan Andre, diikuti oleh Ferdian yang duduk di samping Ajeng.
"Kamu Nava, mahasiswa pasca ya?" tanya Ajeng memastikan. Instingnya mengatakan kalau itu adalah wanita yang ditunggu Andre selama ini.
"Iya betul! Dan ini Miss Ajeng ya, dosen di sini juga?"
Ajeng mengangguk tersenyum. Ajeng mengeluarkan kotak makan siangnya.
"Pegangin dong, Sayang!" ucap Ajeng menitip botol air mineralnya pada suaminya yang sedang asyik melahap makan siangnya.Ferdian jadi repot karena di pangkuannya jadi terdapat banyak barang, ada kotak makan yang ia pegang, tas ranselnya, dan juga dua botol air mineral.
"Selamat makan!" ucap Ajeng yang sebelumnya melafalkan doa.
"Nava lagi ada bimbingan sama Mister Andre kah?" tanya Ajeng setelah berhasil menelan makanannya.
"Ah enggak, kita cuma makan bareng aja kok!"
"Kalau pacar, kenalin dong Bang!" celetuk Ferdian lagi, membuat Andre yang sedang minum menjadi tersedak.
Nava mengeluarkan tisu dari tasnya dan memberikannya pada kawan di sampingnya.
"Gak usah disembunyiin kalau sama aku mah!" ujar Ferdian.
Ajeng menyuruh suaminya diam sementara Andre repot membersihkan tumpahan air yang mengenai bajunya. Ajeng memperhatikan kedua orang di sampingnya itu. Nava begitu perhatian sekali, sampai-sampai mau mengelap celana jeans milik Andre dengan tisunya. Ia jadi tersenyum sendiri.
"Iya kalau hubungan itu gak usah ditutup-tutupi ya, ntar disamber orang baru nyesel deh!" kali ini Ajeng ikut menimpali.
"Kaya kita dulu, iya kan Sayang?" ucap Ajeng lagi, sengaja memanas-manasi.
"Emang kalian kenapa?" tanya Nava yang jadi penasaran.
"Jadi sasaran tembak seseorang, padahal kita udah nikah. Yaitu, gara-gara pernikahan kita disembunyikan gitu!" jawab Ajeng.
"Itu kan kamu aja, Sayang! Aku sih enggak!" ucap Ferdian.
"Iya aku aja yang ditembak seseorang, tapi kamu juga tetep banyak yang suka kan?"
"Hmm..." respon Ferdian.
"Tuh harus hati-hati di kampus ini. Lihat aja, banyak mata yang lihatin kita di sini!" ujar Ajeng lagi.
Memang sejak tadi ketika Ajeng dan Ferdian duduk di samping Nava dan Andre, banyak perhatian mahasiswa tertuju ke arah mereka berempat.
Nava jadi tertawa-tawa mendengar ocehan pasangan di sampingnya itu. Andre menggeleng-geleng dibuatnya.
"Ya kalau emang udah resmi baru dikasih tau lah!" kali ini Andre berucap lantang.
Wajah Nava jadi merona seketika. Hatinya berdebar kencang. Refleks ia menepuk paha Andre, berusaha menyadarkannya.
Jantung Andre jadi melompat seketika. Ia tidak sadar dengan ucapannya tadi. Bibirnya terasa kaku. Ia pura-pura terbatuk.
Ajeng dan Ferdian jadi tertawa-tawa.
__ADS_1
"Oh jadi belum resmi ya?" sindir Ferdian.
Nava terlihat menahan nafas.
"Duh, maaf ya Va! Kalau ada pasangan ini jadi ikutan konyol!" ucap Andre ingin menutupi ucapannya tadi.
Nava tersenyum saja, wajahnya masih terlihat tersipu-sipu, dan Andre bisa melihatnya.
"Sayang kita pindah yuk, kayanya jadi ganggu deh!" ajak Ajeng.
"Yah belum habis nih, nanggung!" ucap Ferdian.
"Eh kalian di sini aja dulu, habisin makanannya!" ujar Nava.
Acara makan siang tampaknya memang sedang terganggu. Bahkan Nava jadi kehilangan selera makannya karena terlalu grogi. Ia mencoba melanjutkan makan siangnya sampai habis. Begitu juga dengan ketiga orang di sampingnya.
"Kita duluan ya!" pamit Ajeng yang sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Kok cepet banget!" tanya Andre.
"Iya, aku masih ada kelas. Ferdian juga!"
"Ooh...."
"Yuk, Sayang!" ajak Ajeng pada suaminya yang masih memasukan barang-barang pada tas ranselnya.
"Maaf ya udah ganggu waktu berdua kalian!" ucap Ajeng lagi.
Nava dan Andre menyengir saja.
"Bang Dre, kasih tau ya kalau udah resmi!" ujar Ferdian memperingatkan.
Andre menggeleng-geleng saja.
"Bye, Andre, Nava!" ucap Ajeng merangkul lengan suaminya dan keduanya pun berjalan meninggalkan sepasang makhluk rupawan itu.
"Sorry ya Va, jadi terganggu!" ucap Andre mengusap tengkuk lehernya.
"Ah gak apa-apa kok, malah seru!"
Andre tertawa kecil.
"Dan ucapan aku tadi anggap aja angin lewat," kata Andre ragu.
"Mau angin badai juga gak apa-apa kok, hati aku udah dibikin kusut sama kamu!" ucap Nava tersipu-sipu.
DEG. Apa maksud ucapan Nava tadi, Andre khawatir salah paham.
"Maksud kamu?" tanya Andre membesarkan matanya yang bulat.
Nava hanya tersenyum menyungging dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia pun langsung melangkahkan kaki, kembali ke gedung perkuliahan.
Andre menatapnya dengan keheranan.
"Ayo, Dre!" ajak Nava.yang menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.
Andre segera bangkit dan mengejar Nava yang sudah kembali berjalan. Entah kenapa hatinya merasa bahagia, meskipun ia tidak mengerti ucapan Nava tadi. Sepertinya masih ada pintu terbuka lebar untuknya.
\=====
Ciyee ada yang seneng, author ikut seneng aja deh ^_^
Like, vote dan comment juga yaa
Andre
__ADS_1
Nava