Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 5. Bergabung


__ADS_3

“Ciyeee…,” sorak sebagian besar kawan sekelas Zaara, ketika dirinya memasuki kelas bersama Arsene yang berjalan di belakangnya.


Mata gadis itu sontak terbelalak memandangi kawan-kawannya. Benarkah mereka menyoraki dirinya? Dengan mata yang masih membesar, ia berjalan menuju bangkunya diikuti Arsene yang justru tampak biasa saja, seolah tidak pernah ada sorakan itu.


Kawan-kawan mereka terus memandanginya sambil tertawa-tawa dan berbisik-bisik, sampai mereka berdua duduk di bangkunya.


“Kenapa sih rame?” tanya Arsene polos.


“Gak tau tuh! Iri aja kali!” ucap Zaara kesal.


“Ya udah anggap aja gak ada,” jawab Arsene mengambil buku dari dalam tasnya.


Zaara setuju dengan Arsene kali ini. Gadis itu juga mengeluarkan bukunya, untung saja guru mereka segera tiba beberapa menit kemudian, sehingga keributan kelas hilang seketika.


“Zaara!” panggil Arsene sore itu sebelum pulang.


Sementara Zaara seperti biasa, masih sibuk mengecek barang bawaannya.


“Kenapa?” tanyanya datar tanpa memandang kawannya di sebelah.


“Yang tadi makasih banyak ya,” ucap Arsene karena pertolongan Zaara mengobati luka memarnya.


“Iya sama-sama,” jawab Zaara melirik sedikit ke arah Arsene.


“Makanya gak usah berantem sama anak gak jelas,” seru Zaara.


“Udah dibilang saya gak berantem kok!” protes Arsene.


“Terus kenapa dong?”


“Ya ada yang mukul aja, iseng banget!” jawab Arsene.


“Benaran? Gak mau kamu lapor ke guru BK?” tanya Zaara memastikan.


“Gak, saya gak mau cari masalah!”


“Itu aja kamu udah kena masalah. Cari solusinya deh, biar kamu gak dapat pukulan kaya gitu lagi. Ngeri lihatnya!”


Arsene terdiam. Zaara benar, ia harus segera mencari solusinya agar Ricky dan gengnya tidak berbuat masalah lagi dengannya. Apakah ia harus memberi mereka uang sesuai dengan apa yang mereka minta? Ah, itu tidak sesuai dengan kata hatinya. Bahkan ia saja harus bekerja dulu untuk mendapatkan uang untuk membeli barang kesukaannya.


Ya, Arsene memang sudah bekerja di usianya yang sangat muda. Di Singapura, ia bekerja di tempat bisnis daddy-nya, meski hanya part-time. Hanya saja khusus untuk tahun ini, kedua orangtuanya tidak mengizinkannya bekerja dulu, mengingat persiapan ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi. Padahal tangannya itu sudah gatal sekali untuk membuat sesuatu, sesuai dengan minatnya. Arsene akan segera mencari solusi, selain ia harus memberikan uang pada Ricky. Pasti ada jalan.


"Saya duluan ya, Ra! Assalamu'alaikum..." pamit Arsene.


"Wa'alaikumsalam..."


Arsene dan Rainer tiba di kediaman kakeknya. Seketika Nenek Aryani terkejut melihat ada plester menempel di pipi cucunya itu.


“Arsene, pipi kamu kenapa?” tanyanya dengan suara seraknya.


“Kesikut orang, Nek! Luka sedikit aja!” jawabnya sedikit berbohong.


“Jangan bohong kamu! Kamu berantem ya?” tebak neneknya itu.


“Enggak, Nek! Aku gak bohong, aku gak berantem!” sergah Arsene, ia hanya tidak ingin neneknya mengetahui kalau ada sekumpulan anak yang sudah memukulnya.


Mendengar keributan yang ada di ruang tengah, Kakek Jaya yang berada di halaman belakang menghampiri mereka.


“Ada apa ini ribut-ribut?” tanyanya, kemudian melihat pipi Arsene, ia pun jadi ikut bertanya.


“Aku gak berantem, Kek! Hanya saja ada siswa iseng!” ucapnya kali ini.


Kakek Jaya menghela nafas. Ia percaya pada cucunya yang memang tidak pernah berbuat tingkah.


“Sudah-sudah kalian istirahat aja!” ujarnya kali ini, membiarkan Arsene dan Rainer kembali ke kamarnya. Arsene merasa lega.


“Abang, apa kakek bakal lapor sama mommy?” tanya Rainer sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.


“Gak tau juga, mudah-mudahan enggak sih!” jawab Arsene.


“Iya. Gue juga tadi dapet ancaman gitu, tapi untungnya mereka gak mukul karena ada guru yang lewat jadi gue buru-buru aja masuk!” terang Rainer.


“Oh ya? Kurang ajar banget sih mereka!” geram Arsene.

__ADS_1


“Terus kita mesti gimana, Bang? Kasih mereka duit?”


“Jangan, gak usah! Itu cuma bikin mereka makin buruk aja. Biar abang pikirin dulu!” ujar Arsene, lalu berlalu ke dalam kamarnya.


\=====


For Zaara:


“The best way to cheer yourself is to try to cheer someone else up.” (Cara terbaik untuk menyenangkan dirimu yaitu cobalah untuk menyenangkan orang lain)


– Mark Twain


Thank you for the day & keep smile :)


Zaara menemukan kotak berisi kue muffin pagi hari ini di laci kolong mejanya lagi. Hari ini muffin yang ia dapat adalah muffin vanila dengan topping buah blueberry. Kuenya terasa hangat, pasti baru saja diangkat dari oven. Dirinya tentu semakin penasaran saja, siapa pengirim kue-kue beserta catatan berisi kutipan tulisan itu. Namun tetap saja ia merasa senang, karena buah blueberry adalah kesukaannya selama ini. Ia tersenyum.


Romantis? Bisa jadi. Tapi apakah ada maksud tertentu?


Pikirannya berkecamuk. Apakah memang ada secret admirernya baru-baru ini? Atau hanya teman yang ingin memberinya hadiah saja? Gadis itu menghela nafas dan terduduk di atas kursinya.


Tak lama, Arsene juga tiba di sana. Lelaki muda itu terlihat membawa goodie bag berisi tumpukan kotak persegi panjang. Zaara yang melihat itu, rasa keponya meningkat.


"Bawa apa tuh?" tanyanya penasaran.


"Ini? Kotak makan siang," jawab Arsene lalu menaruh kantong itu di bawah mejanya.


"Banyak banget kayanya," sahut Zaara yang rasa penasarannya belum reda.


"Iya, mau dikasihkan untuk ke beberapa teman baru," jawab Arsene melepas tas ranselnya.


"Hmm..."


Arsene melirik sekilas ke arah Zaara.


"Kenapa, mau?" tawarnya.


"Enggak sih. Aku udah ada bekal," jawab Zaara.


"Oh baguslah, soalnya saya bawa pas-pasan," terang Arsene.


"Ciyee... kayanya dapat kue lagi ya?" tanya Arsene menggodanya.


"Gak tau kerjaan siapa ini!" ucap Zaara sedikit kesal.


"Dimakan aja dulu, siapa tau enak," ucap Arsene, membuka jaket miliknya.


"Rasanya sih enak banget, apalagi ini pakai blueberry, kesukaan banget. Tapi caranya itu lho bikin hati gak enak."


"Kenapa? Jadi kepikiran?" tebak Arsene tersenyum.


"Iya lah! Kan pengen ucap terima kasih, tapi gak tau siapa orang yang ngasih," ucap Zaara mengerucutkan sedikit bibirnya.


"Udah tanya sama teman yang datang pagi?" tanya Arsene penasaran.


"Udah, tapi mereka tetap gak tau," ucap Zaara menggidikan bahunya.


"Hmm..."


Bel masuk pun berdering nyaring, membuat seisi kelas tampak heboh. Apalagi untuk mereka yang datang tepat waktu ketika bel berbunyi, membuat mereka bernafas terengah-engah karena berlari mengejar waktu. Zaara memasukan kue itu kembali ke meja lacinya.


"Gak dimakan sekarang?" tanya Arsene.


"Nanti aja, udah mau masuk!" jawab Zaara menaruh kotak itu di bawah meja.


"Nanti keburu ding..., uhuuuuk...!" ucap Arsene, tiba-tiba ia tersedak cukup keras.


Zaara menatapnya dengan mata lebar.


"Minum tuh!" ucapnya melihat botol air minum kawan lelakinya itu.


Arsene masih terbatuk. Langsung disambarnya botol miliknya, dan meminumnya. Jantungnya berdebar kencang. Hampir saja.


\=====

__ADS_1


Arsene sudah menemukan solusi agar ia tidak terjebak lagi dengan ancaman Ricky dan gengnya. Apalagi mereka sudah mengancam Rainer juga, ia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Terpaksa jalan ini yang harus dipilihnya, semoga saja berhasil.


Pria remaja itu sudah menanyakan kepada Fahri dan Abdul, tempat yang biasa disinggahi oleh Ricky dan kawan-kawannya. Dengan membawa sebuah goodie bag, Arsene berjalan menuju sebuah tempat yang belum ia pernah kunjungi sebelumnya. Fahri dan Abdul mengantarnya, sampai tibalah ia di sebuah pendopo seni di belakang ruangan UKS. Tempat itu dipenuhi berbagai karya seni dari para siswa, ada lukisan, kerajinan tangan, patung-patung kecil, dan beberapa alat musik. Suasananya sepi, tetapi terdengar pecahan tawa dari sana. Itu pasti Ricky dan gengnya.


“Kalian antar gue sampai sini aja! Gue akan lanjutkan sendiri,” ucap Arsene mantap. Sedangkan Fahri dan Abdul saling berpandangan, antara heran, cemas, dan bingung.


“Thanks ya!” ucap Arsene lalu berjalan menuju sumber suara dimana tawa-tawa itu datang.


“Tungguin gak mas bro?” tanya Abdul pada Fahri.


“Penasaran gue, tungguin aja! Khawatir apa-apa tuh si Arsene,” jawab Fahri.


“Oke!”


Kedua siswa itu pun mencari tempat tersembunyi di sebelah tangga yang jarang terpakai, dari sana mereka bisa melihat gerak-gerik Arsene.


Sementara itu Arsene berjalan tenang ke arah tiga siswa cowok yang sedang tertawa-tawa sambil  menikmati beberapa snack di tangan mereka. Arsene sedikit merasa lega, kalau ketiga siswa itu tidak merokok diam-diam di belakang sekolah. Melihat kedatangan Arsene yang tiba-tiba, Ricky memasang badannya dan menghampirinya.


“Mau apa lo kemari? Mau kasih duit yang gue minta kemarin ya?” tebaknya dengan nada mengancam.


Arsene menatap mata Ricky. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari goodie bagnya.


“Udah gue bilang, gue gak punya banyak duit. Jadi gue bawain ini aja buat kalian,” ucapnya sambil memberikan sebuah dus kotak pada Ricky.


Ricky memandang dus kotak itu terkejut. Namun ia mengambilnya, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah chicken katsu lengkap dengan nasi juga kentang dan wortel serta saus berwarna cokelat yang melumurinya. Wanginya tercium lezat dan menggoda. Arsene memberi itu juga kepada dua kawan Ricky yang lain, Nicko dan Beni.


Ricky saling berpandangan dengan kedua kawannya, lalu kembali memandangi Arsene yang masih menatapnya lekat tanpa ekspresi, kecuali ketenangan.


“Gue mau gabung sama geng lo, boleh gak?” tanya Arsene tersenyum menyungging.


Tentu saja itu membuat Ricki, Nicko, dan Beni tersentak bersamaan.


“Gue bisa kasih makan kalian tiap hari dengan masakan buatan gue sendiri. Asal gue diizinkan gabung sama geng kalian, gimana?” tawarnya.


Tawaran menarik sebenarnya bagi Ricky & geng. Mereka selalu merasa kelaparan di tengah hari. Mereka memalak anak-anak lain hanya agar bisa mengisi perut mereka yang kosong dengan makanan yang cukup mewah di kantin. Konyol sebenarnya. Tapi tawaran Arsene sangat tepat sasaran bagi mereka.


Lagipula sudah lama sekali kelompok mereka tidak kedatangan anggota baru. Wajah sangar Ricky, Nicko, dan Beni membuat siswa sangat segan dan takut kepada mereka bertiga. Jadi setelah membayar uang yang diminta, Ricky selalu berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi.


“Masakan buatan lo emang enak?” tanya Ricky ketus, ia masih memegang dus kotak itu.


“Lo bisa buktiin. Masakan gue lezat, berkualitas, dan bergizi pastinya. Orang-orang biasanya bayar mahal buat dibikinin menu kaya gitu,” ucap Arsene percaya diri. Memang benar, ucapan Arsene tidak bohong sama sekali.


Ricky mendatangi kedua kawannya, sambil duduk di tangga pendopo, lalu membuka dus dan menikmati isinya. Ternyata benar, lidah mereka tidak bisa berbohong ketika merasakan makanan yang diberikan Arsene. Saus yang penuh dengan rempah berbaur dengan daging ayam empuk yang renyah di bagian luarnya, sungguh sangat lezat. Bahkan mata mereka saja sampai berbinar saking lezatnya. Arsene tersenyum puas meski dari ketiga siswa itu belum ada yang memujinya. Ia hanya memperhatikan dari gelagatnya saja.


Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan menu itu. Lalu ketiganya berdiskusi mengenai tawaran Arsene dan mengangguk bersamaan. Ricky berjalan menghampiri Arsene yang masih berdiri.


“Oke gue terima lo masuk geng kita, sesuai dengan tawaran lo tadi,” jawab Ricky, nadanya terdengar lebih sopan dan ramah, tidak ketus seperti tadi.


“Thanks! Oh ya, gue ada permintaan lain!” ucap Arsene membuat Ricky mengernyit.


“Apa itu?”


“Jangan palak duit lagi sama siswa lain ya? Lo bisa minta makanan apapun yang lo mau, gue bisa bikin. Asal kalian janji gak bakal palak siswa-siswa. Bisa kan?”


Ricky menyilangkan lengan, dan mendekap tubuhnya sendiri. Ia menghela nafas.


“Oke!” jawabnya sambil mengangkat dagu.


Arsene memberi kepalan tangannya, memberi isyarat agar pria didepannya itu membalas tos-an kepalan tangannya pertanda setuju. Ricky melakukan itu. Arsene pun berlalu dari sana dan kembali ke kelasnya.


Nicko dan Beni sekonyong-konyong menghampiri tubuh Ricky yang mematung, lalu memprotes permintaan Arsene terakhir.


“Kita lihat aja nanti! Kalau sampai dia bohong, kita hajar habis-habisan!” ucap Ricky memandang punggung Arsene yang sudah menjauh.


\=====


Nah lho, bisakah Arsene komit terhadap janjinya?


Hmm….


Yuk LIKE, COMMENT, VOTE dan TIPS jangan lupa


Support terus Author Aerii

__ADS_1


Terima kasih ^_^


__ADS_2