Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 39


__ADS_3

Setelah hubungan Ajeng dan Ferdian tercium oleh publik, mereka pacaran atau menikah, ternyata masih sebatas rumor. Oleh karena itu, keduanya merencanakan sebuah pesta syukuran kecil untuk membuat rumor itu berubah menjadi sebuah fakta yang menyatakan bahwa keduanya sudah menikah. Mereka mengundang para petinggi di universitas dan fakultas, teman-teman dosen, teman sekelas, juga kerabat yang memang mereka kenal.


Pesta itu mereka adakan di rooftop apartemen dimana mereka tinggal, karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan kampus, juga karena tempatnya cukup bagus dan luas. Mereka sudah menyewa vendor wedding organizer yang sama seperti ketika pesta resepsi pernikahan mereka 6 bulan yang lalu.


Tamu undangan berjumlah sekitar 150 orang. Dekorasi pesta kecil itu menggunakan tema vintage & old stuff, jadi suasana terlihat lebih klasik. Warna dusty pink, krem, dan mocca mendominasi suasana pesta yang diadakan pukul 10 pagi itu.


Tentu banyak pihak yang terkaget-kaget dengan berita pernikahan Ajeng dan Ferdian ini. Banyak juga yang merasa sedih dan patah hati, karena gebetan mereka ternyata telah menjalin hubungan resmi. Namun begitu, mereka tetap datang ke pesta ini.


Ajeng mengenakan sebuah midi dress berwarna broken white berlayer, dengan sebuah tali pinggang berwarna dusty pink. Ia menggunakan riasan minimalis, rambutnya yang panjang diikatnya, dilengkapi dengan sebuah bandana cantik. Terlihat klasik, cantik, dan berkelas.


Sedangkan Ferdian mengenakan setelan jas berwarna beige dengan kemeja broken white. Rambutnya disisir rapi ke arah kiri dengan gel rambut, sehingga berkilauan. Ia lebih terlihat gagah, tampan, dan dewasa.


Para tamu undangan telah berdatangan. Alunan live music akustik dari petikan gitar mengiringi jalannya acara. Menu hidangan yang lezat dan bervariasi sudah tersaji di atas meja. Bunga-bunga cantik seperti mawar pink, putih, dahlia juga baby breath ikut menghiasi.


“Selamat ya Miss Ajeng & Ferdian, gak nyangka lho kalian ternyata udah nikah, aku jadi sedih deh! Eh, maksudku ikut berbahagia aja, huuu!” ucap Sally berakting, sambil menyalami tangan keduanya.


“Ya elah, tuh si Syaiful bisa kali digandeng ke pelaminan!” ujar Ferdian, membuat teman perempuan di kampusnya itu mendengus.


“Makasih ya udah datang!” ucap Ajeng ramah.


“Sama-sama Miss! Eh, Fer, itu yang pakai tuksedo warna navy siapa? Kenalin dong!” tanya Sally antusias melihat ke arah Andre yang juga datang ke pesta.


“Sepupu gue! Kenalan aja sendiri, lo kan SKSD (sok kenal sok deket)!” ujar Ferdian.


“Cih, pelit deh!”


“Itu di belakang lo, antrian udah panjang woy!” seru Ferdian, membuat perempuan di depannya itu melompat karena kaget.


“Iya dah, gue kenalan sendiri aja!” ucap Sally sambil melengos pergi.


Tamu undangan, satu per satu, mereka mengucapkan selamat dan juga doa untuk pernikahan Ajeng dan Ferdian. Termasuk juga Ardi yang datang menghadiri, meski hatinya masih merasa perih dan sedikit tidak percaya kalau wanita pujaannya selama ini telah menikahi salah satu mahasiswanya.


“Selamat ya Ajeng, Ferdian! Semoga kalian live happily ever after till jannah (hidup bahagia selamanya sampai ke surga)!” doa itu tulus ia ucapkan kepada keduanya.


“Thanks banget, Di!” ucap Ajeng.


“Makasih banget ya Pak Ardi udah datang!” Ferdian ikut berterimakasih.


Ardi tersenyum ramah, lalu berjalan menuju teman-temannya yang sudah berkumpul lebih dahulu sambil menikmati hidangan yang tersaji.


“Di, jangan sedih ya?” ujar Novi melihat Ardi yang duduk di sampingnya.


“Biasa aja lah, patah hati juga gak usah dilebih-lebihin, ya namanya juga gak jodoh, mau gimana lagi, kan?” ucap Ardi meminum cocktail buah segarnya.


“Betul, hidup itu harus jalan terus. Masih banyak perempuan baik di depan sana, termasuk di samping kamu, Di!” senggol Susan, sambil melirik ke arah Novi.


Wajah Novi malah menjadi merah dibuatnya. Sementara Ardi hanya terkekeh geli.

__ADS_1


Para tamu sepertinya sudah semua berdatangan, dan rooftop dengan hembusan angin segarnya semakin ramai saja siang itu.


“Kok kita kaya pengantin baru lagi ya?” ucap Ajeng pada suaminya yang masih duduk di kursi pelaminan, sambil memegang segelas mojito.


“Iya nih, nanti malam pasti jadi panas lagi,” ujar Ferdian genit.


“Tapi bukan malam pertama ye!” delik Ajeng geli.


“For me, every day is a new lovely day with you! (Buat aku, setiap hari itu selalu menjadi hari baru yang menyenangkan bersamamu!)” perkataan Ferdian itu selalu berhasil membuat hati Ajeng terbang dan berbunga-bunga.


“Fer, Ajeng, kalian dansa dong!” tiba-tiba sebuah suara memanggil keduanya. Tepuk tangan dari para tamu undangan pun sontak riuh.


“Dansa, dansa!” sorak yang lain, ikut menimpali.


Ajeng menatap Ferdian bingung. Ferdian dengan sigap berdiri dan meraih tangan Ajeng. Para tamu bertepuk tangan meriah untuk kedua pasangan yang berada di pelaminan.


Para pemain akustik yang handal mengubah permainan musik mereka menjadi lebih mellow dan lembut. Alunan biola semakin membuat suasana syahdu. Musik A Thousand Year milik Christina Perri mengalun lembut.


“Just hold my hand, keep your eyes lock on mine! (Genggam tanganku, tatap mataku saja)!” ucap Ferdian, membuat hati wanita itu seketika menjadi gugup.


Keduanya berdansa mengikuti alunan musik, mengalir begitu saja. Para tamu melihat keduanya takjub dan tersentuh di saat yang bersamaan. Banyak hati yang merasakan cemburu melihat pasangan selebriti kampus itu.


“Kok gue jadi pengen ya?” celetuk Sally, pada kawan di sampingnya, Lisa.


“Gue juga, hiks hiks! Mak gue pengen kawin, Mak!”


“Ah, elo ganggu aja!” protes Lisa yang terkejut.


“Ya Allah, beri aku jodoh kaya Miss Ajeng, ya Allah! Satu aja, kalau empat juga boleh tapinya!” celetuk Syaiful dengan tangan menengadahkan ke atas.


“Jangan ngimpi, satu aja udah mustahil kayanya buat Lo!” ucap Ghani.


“Berharap boleh kan, jadi gak usah ganggu!” protes Syaiful kesal.


Ghani hanya menggeleng-geleng kepala saja melihat tingkah kawannya itu.


Tak terasa, pesta itu pun usai tepat di pukul 13.00 siang. Matahari sudah sangat terik bersinar, semakin terasa panas membakar kulit. Para tamu hadirin pun kembali ke kediaman masing-masing.


“Bang Andre, mau mampir dulu?” tanya Ferdian melepas jasnya karena kegerahan.


“Ah gak usah, lain kali aja! Kalian pasti kecapean, lagian aku juga mau sekalian ngecek ke apartemen dulu!” jawab Andre.


“Ooh gitu! Ya udah, makasih ya udah dateng!”


“Sama-sama, aku pulang ya Fer! Nicky udah nunggu di mobil soalnya!”


“Oh iya!”

__ADS_1


“Salam aja buat istri kamu! Cepet kasih aku ponakan ya, haha!”


“Haha doain aja deh!”


\=\=\=\=\=


Ferdian merebahkan tubuhnya di atas sofa. Peluh keringat bercucuran di dahinya. Hari memang terasa sangat panas, untung saja pesta diadakan lebih pagi.


“Capek, Sayang?” tanya Ajeng merebahkan tubuh di sampingnya. Ajeng sudah berganti pakaian, bahkan tampaknya sudah mandi lagi.


“Kamu udah mandi?” tanya Ferdian melihat rambut istrinya yang masih basah meski sudah dikeringkan handuk.


Ajeng mengangguk sambil tersenyum.


“Kok gak ngajak-ngajak?”


“Kamu kan baru nyampe, aku pulang udah dari tadi!”


“Panas banget ya? Aku juga mandi dulu deh, belum sholat juga nih!”


“Ya udah sana, aku siapin baju kamu dulu!”


Ferdian melenggang menuju kamar mandi. Ia meninggalkan ponselnya di atas meja. Sementara Ajeng masih duduk di atas sofa untuk sejenak beristirahat sebelum akhirnya ponsel milik Ferdian berbunyi.


Ajeng melihat ke arah layar, namun nomor yang tertera tidak dikenal, karena Ferdian mungkin tidak tahu atau memang tidak menyimpannya. Ajeng berniat mengangkatnya, toh sekarang semua orang tahu kalau ia adalah


istrinya. Ajeng mengangkat ponsel itu, baru saja ia akan menyapa, tiba-tiba sebuah suara memanggil.


“Kak Ferdian, tolong aku dong, please! Aku butuh pertolongan kakak! Kakak dimana?” ujar sebuah suara perempuan, terdengar nyaring.


“Maaf, ini dengan siapa?” tanya Ajeng.


Tiba-tiba suara itu berhenti. Sambungan pun terputus. Ajeng pun bertanya-tanya dalam hatinya. Apa ini adik kelasnya? Mengapa menelepon di saat masih liburan mahasiswa? Apakah memang masih ada kegiatan di kampus? Tanyanya dalam hati.


Ajeng menghela nafasnya, dan kembali menaruh ponsel itu di atas meja. Ia akan memberitahu suaminya saja jika sudah selesai mandi.


Siapa ya?


\=\=\=\=\=


Coba tebak! Pasti pada tau :D


Yuk poinnya jangan lupa kasih ke Author biar idenya makin mengalir nih ^_^


Like juga ya


Makasiiiiiiih

__ADS_1


__ADS_2