
Mangkuk berisi mie instan pedas lengkap dengan sayur dan telur milik Ferdian sudah datang diantar oleh Mang Cecep, salah satu petugas kantin fakultas. Lelaki berjanggut itu juga menaruh segelas jus jambu di sampingnya.
"Makasih Mang!" ucap Ferdian.
Ferdian baru saja hendak mengangkat mangkuknya, tetapi ia langsung menaruhnya kembali karena masih sangat panas, "Aw!!" refleksnya berteriak.
"Sabar, Men!" ujar Ridho.
"Ada yang punya tisu ga?" tanya Ferdian.
"Minta aja sama Mang Cecep, biasanya ada di meja tuh!" ucap Malik.
"Tuh ambil!" ujar Syaiful menunjuk meja prasmanan. Ferdian langsung mengambil beberapa lembar tisu dan menumpuknya agar lebih tebal.
"Sibuk banget Lo, mau makan aja!" celetuk Danu.
"Sipp! Kalian liat gue oke?!" ujar Ferdian setelah memastikan mangkuk itu aman untuk diangkat.
"Mau ngapain Lo, Fer?" tanya Syaiful.
"Lihat gue baik-baik!" ucapnya lagi pada kelima sohibnya itu. Ferdian mengambil mangkuk mie instannya dengan tisu sebagai alas, agar tidak terlalu panas terasa di tangan. Ia juga menggenggam gelas jusnya dan berjalan mendekati kolam.
"Gila, Men! Itu si Ferdi mau ngapain kesana?" tanya Danu penasaran, bahkan tubuhnya dalam keadaaan setengah berdiri dari kursi duduknya dan hampir terjengkang karena tidak seimbang, saking penasarannya dengan apa yang akan dilakukan Ferdian.
"Jangan bilang, dia mau nyamperin Miss Ajeng?!" ucap Syaiful agak cepat intonasi bicaranya.
"Lihat aja dulu!" ucap Ghani.
"Gila lah, si Ferdian! Kacau, cari mati aja sama Pak Ardi!" ucap Syaiful beringas.
"Wah beneran serius, euy!" kali ini Malik yang menimpali dengan semangat ketika melihat tubuh Ferdian semakin dekat dengan meja Ajeng.
Ferdian berjalan dengan santai ke arah meja Ajeng, yang sedang lahap menikmati makan siangnya. Sedangkan Ardi berada di samping kursi yang berlawanan dengan wanita itu, sambil sesekali menyeruput minumannya. Tiba-tiba Ardi menengadahkan wajahnya ke seseorang yang membawa mangkuk dan jusnya itu. Pria berjambang tipis itu berdecak kesal.
"Maaf mengganggu, apa saya bisa duduk di sini?" tanya Ferdian sopan. Ia hanya memandangi Ajeng saja. "Meja kantin tampaknya sudah penuh!" ujarnya lagi.
Ajeng yang terkejut hanya mengiyakan, "Silakan!" ujarnya sambil memaksakan senyumannya. Hati perempuan itu berdebar tidak karuan, mengingat Ardi juga memandangi Ferdian dengan tatapan tidak suka.
"Terima kasih!" ucap Ferdian. Ia memilih duduk di hadapan Ajeng dan disamping Ardi, karena kursi itu kebetulan kosong. Pas sekali jadi ia bisa menatap istrinya kapan saja ia suka tanpa terganggu oleh pria di sampingnya itu.
Ajeng menatap mangkuk milik Ferdian yang berisi mie instan. Ia memandanginya heran dan tidak suka. Kenapa suaminya itu harus makan mie instan, apalagi terlihat jelas sambal merah berisi potongan cabai rawit segar itu berada di atasnya.
Suasana canggung pun terasa di satu meja berisi tiga orang itu.
Ferdian tampak tenang sekali meski ia tidak melakukan percakapan di sana. Ia mengaduk mie instannya sehingga menjadi warna merah menyala, meski masih ada sayuran hijau di sana. Ia pun menyuapkan mie itu ke dalam mulutnya.
Gila, pedes banget! batinnya. Namun ia berusaha tetap tenang, seolah tidak apa-apa. Ia mengunyahnya dengan lambat. Panas dari cabai seketika mulai menjalar dari lidah kemudian ke telinganya. Ia mendesis. Ajeng memperhatikan wajah suaminya itu tanpa berkata-kata.
__ADS_1
"Lihat, si Ferdi kepedesan kayanya!" tegas Danu sambil asik menepuk pundak Ridho.
"Hahaha, kocak, Men!" ujar Syaiful.
"Tapi lihat deh, Miss Ajeng aja sambil perhatiin wajah si Ferdi!" seru Ghani.
"Wah, kacau! Rencananya berhasil, euy!" timpal Malik ucapnya bertepuk tangan.
Ferdian menyedot jusnya. Kali ini pedasnya sudah sampai kepalanya, padahal baru tiga sendok ia menyuapkan mie itu ke dalam mulutnya. Ia mengerjapkan matanya, sambil terus mendesis karena kepedasan. Keringat mengalir dari dahinya.
"Are you okay?" tanya Ajeng memastikan.
Ferdian hanya nyengir sambil terus saja mendesis.
Ardi memandanginya tidak suka, apalagi Ajeng menatap mahasiswa itu dengan panik. Lagi-lagi mahasiswa di sampingnya itu berhasil membuatnya tidak nyaman. Ferdian meneguk seluruh isi jus di gelasnya, namun ternyata belum berhasil menghilangkan pedasnya. Bahkan ia sampai terbatuk-batuk karena kepedasan. Ardi mendelik kesal.
"Saya duluan ya, Jeng!" kata Ardi sambil berdiri membawa gelasnya.
"Okay!" ucap Ajeng menatapnya sebentar dan kembali memperhatikan Ferdian. Ia merasa lega Ardi pergi dari sana.
Kumpulan pria heboh di ujung meja, tertawa terbahak-bahak, sebagian lagi cekikan melihat kemenangan telak Ferdian di meja sana. Mereka menatap takjub Ferdian dari jauh.
"Sumpah, si Ferdian beneran gila!!!" seru Syaiful gemas.
Ferdian masih terus saja berusaha menghabiskan mie itu, meski kepalanya kali ini sudah pusing dan telinganya sudah panas sekali. Ah, tidak ada air mineral di sampingnya. Ia terbatuk-batuk lagi, membuat Ajeng semakin panik.
"Fer, berhenti! Itu gak baik buat perut kamu," ucap Ajeng pelan meski dia masih cemas.
"Itu kayanya Miss Ajeng jadi ikut panik deh, ya gak?" tanya Danu memastikan kepada teman-temannya.
"Kayanya! Wah misi sukses ini mah!" kata Ridho.
Ajeng mengeluarkan tisu miliknya dan memberikannya pada Ferdian. Ferdian mengangguk dan mengambil tisu untuk mengelap wajahnya yang penuh dengan keringat.
"Udah ya makannya?" bujuk Ajeng lembut dengan suara pelan.
Ferdian masih menggeleng.
Ajeng menatapnya kesal. Ada apa dengannya hingga nekat berbuat seperti ini? Apa karena kejadian di kelas tadi? Atau karena tadi ada Ardi yang menghampirinya? tanyanya dalam hati. Yang jelas, ia tidak ingin Ferdian kenapa-napa hanya karena makan mie instan super pedas ini.
Ajeng berdiri dari tempat duduknya. Ia kemudian mengambil mangkuk itu begitu saja dari hadapan Ferdian dan berjalan menuju meja kasir. Hal itu membuat kelima kawan Ferdian, kecuali Ridho, melongo kemudian bertatapan satu sama lainnya, seolah tidak percaya.
"Mang, punten, ini kayanya terlalu pedas! Mahasiswa saya jadi kepedasan tuh!" ucap Ajeng mengembalikan mangkuk yang masih berisi 1/2 porsinya lagi.
"Maaf Miss, itu akangnya yang minta!" ucap Mang Cecep sopan.
"Oh gitu ya? Ya udah saya beli air mineral aja deh 2 botol ya! Kasihan kepedasan gitu!"
__ADS_1
"Siap Miss!"
Mang Cecep menyodorkannya 2 botol air mineral berukuran sedang, Ajeng membawa air itu dan memberikannya kepada Ferdian. Ia tak peduli banyak mata memandanginya, yang penting Ferdian tidak memakan mie pedas itu lagi.
"Nih, minum!" ujarnya sambil menaruh dua botol di atas meja, di hadapan Ferdian.
"Makasih Miss! Maaf jadi merepotkan!" ucap Ferdian mangangguk, desisnya belum juga hilang. Kacau, mungkin ia akan sakit perut setelah ini, ucapnya dalam hati.
"No problem!"
Ajeng masih menatap Ferdian. Ia memastikan kalau suaminya itu baik-baik saja, apalagi setahu dia, Ferdian masih ada jadwal kuliah setelah ini. Ferdian meneguk botol berisi air bening itu dengan kencang, bunyi gluk-gluk terdengar jelas. Dua botol ludes dalam satu menit, sepertinya. Ia memegang perutnya yang kembung karena terlalu banyak minum air.
"Udah mendingan?" tanya Ajeng.
"Udah, Miss! Hehe!" jawab Ferdian canggung.
"Aku pergi dulu ya, Fer!" pamit Ajeng.
"Oke, makasih, Sa....!" jawab Ferdian terputus, ia tersenyum padanya.
Ajeng tersenyum padanya, dan berjalan keluar dari kantin.
Ferdian menepuk-nepuk perutnya yang kembung karena air. Sejurus kemudian, kawan-kawanya itu berlari menghampirinya.
"Cieee....yang misinya berhasil! Cihuy!" ucap mereka bersorak kegirangan.
"Sssttt...!! Jangan ribut! Misi rahasia ini!" ujar Ferdian.
"Keren lah!" puji Danu.
"Bukan Ferdian Winata kalau enggak keren!" ucap Ferdian sombong.
"HUUUU!!!" kawan-kawannya ramai-ramai menoyor kepala Ferdian.
"Cabut yuk ah!" ajak Malik.
"Sssst....tunggu dulu!" ucap Ferdian, membuat semuanya berhenti dan bertanya-tanya memandangi Ferdian.
Duuuuuttt!
Sontak, kumpulan pria heboh itu bubar gerak!
Mungkin membuat sebagian orang lain yang berada di dalam kantin ill feel, meski mereka tidak tahu pasti siapa orang yang mengeluarkan suara itu.
\=\=\=\=\=
Suka sama cerita Ajeng dan Ferdian?
__ADS_1
Jangan lupa vote & like ya
Thank youuuu <3