
I still need you
I still care about you
Though everything's been said and done
I still feel you
Like I'm right beside you
But still no word from you
Lagu I Still dari sebuah boyband legenda Amerika berputar dari playlist musik random yang disetel oleh Patricia dari ponselnya. Mengapa setiap ia teringat Ridho, sebuah lagu yang pas sekali dengan hatinya itu mengalun?
Siang ini mereka akan bertemu lagi, Ridho akan mengajaknya berjalan-jalan. Meskipun Patricia belum tahu kemana Ridho akan membawanya. Namun ia menyetujui ajakannya itu.
Patricia mengenakan setelan blouse berwarna salem dengan celana kulot beige dan scarf hijab bermotif abstrak berwarna senada. Ia turun dengan liftnya, setelah Ridho memberi tahu bahwa pria itu sudah berada di depan halaman hotel. Dengan hati berdebar, Patricia melangkahkan kakinya ke luar. Tidak pernah ia berdebar hebat seperti itu sebelumnya dengan pria manapun, kecuali Ridho, yang saat ini statusnya telah menjadi seorang duda.
Pria dengan rambut shortcut itu berdiri bersandar di samping pintu mobilnya. Ia terlihat tampan dengan setelan jas navy dan celana jeansnya. Bibirnya melebar menyimpulkan sebuah senyuman ketika Patricia muncul di hadapannya. Ridho membukakan pintu mobil untuknya.
“Terima kasih,” ucap Patricia memasuki mobil.
Mobil pun melaju, menuju Pantai Ancol.
Siang menuju sore memang terasa sangat panas, apalagi keduanya berjalan di sisi pantai menginjak butiran-butiran pasir yang lengket. Desiran ombak terlihat tenang, meski mereka tetap saling mengejar. Burung-burung berterbangan hinggap di kayu-kayu dermaga. Kapal-kapal kecil bergoyang terombang-ambing kecil oleh sentuhan ombak dan angin. Pemandangan ini mengingatkan keduanya akan Danau Michigan, meski cuaca di Chicago jauh lebih segar dan sejuk.
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Ridho ketika keduanya melangkahkan kaki di atas kayu-kayu dermaga.
“Kembali ke London, dan berbisnis, tentu saja!” jawab Patricia.
Ridho tersenyum.
“Kau punya banyak potensi, aku yakin kau akan sukses sebagai desainer muslim!” puji Ridho.
“Mudah-mudahan saja.”
“Kau sendiri?” Patricia bertanya balik.
“Aku ingin move on dari semua perasaan sedihku,” jawab Ridho memandangi laut di sampingnya.
“Bagaimana caranya?” tanya Patricia menatap pria itu.
Ridho menunduk sambil tersenyum kecil. Ia menghentikan langkahnya ketika sampai di ujung dermaga, memandangi langit yang sedang bercermin di laut, sehingga terlihat berkilauan.
“Aku tidak tahu, tapi pantaskah aku mengatakan ini? Setelah aku membohongi perasaanku di awal,” terang Ridho membuat kening Patricia mengernyit tidak mengerti.
“Apa maksudmu?”
Ridho mengambil nafas lalu menghembuskannya panjang. Ia tertunduk sebentar, lalu menghadapkan tubuhnya pada Patricia.
“Apa kau mau membantuku?” tanya Ridho menatap Patricia sebentar, lalu kembali menunduk.
“Membantu apa?” tanya Patricia tidak mengerti.
__ADS_1
“Membantu mengembalikan kehidupan dan perasaanku padamu,” jawab Ridho tertunduk, seperti ada penyesalan di sana.
DEG. Jantung Patricia tercebur ke laut saking terkejutnya. Apa telinganya tidak salah dengar? Apa Ridho pernah memiliki perasaan padanya dulu?
“Aku tahu, ini mengejutkanmu. Ada satu hal yang mungkin harus kau ketahui, bahwa setelah peristiwa ciuman itu, perasaanku padamu itu tumbuh, tetapi aku tak bisa membuatnya tumbuh lebih besar.”
“Apa karena aku seorang non-Muslim?” tanya Patricia menaikan intonasinya.
Ridho mengangguk pelan.
Patricia terkekeh. “Aku tahu kau memegang prinsip hidupmu begitu kuat. Jadi aku menghargainya. Tetapi sepertinya aku belum bisa membantumu saat ini,” jawab Patricia tidak berbasa-basi.
Kali ini Ridho yang terkekeh. Lalu wajahnya menengadahkan ke langit, sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku jasnya.
“Begitu ya? Kalau begitu, maafkanlah aku agar semua penyesalanku berakhir detik ini!” ucap Ridho menatap lekat wajah Patricia yang tertunduk.
“Kau tak pernah memiliki salah apapun padaku. Kau sudah memaafkanku atas perbuatanku saat itu. Jadi kita sudah impas. Tapi aku akan memaafkanmu, jika kau tetap memaksa.”
“Terima kasih!” jawab Ridho pelan, lalu berlalu dari hadapan wanita itu. Hatinya hancur, mungkin ini juga yang Patricia rasakan saat itu ketika ia lebih memilih Namira daripada wanita itu. Ia sadar ia terlalu egois, padahal jika saja Patricia menunjukan ketertarikannya pada Islam mungkin saja ia sudah bersamanya saat ini, dan membimbingnya menjadi seorang mualaf. Pria itu kesal terhadap dirinya sendiri, menganggap dirinya seperti seorang munafik yang menginginkan dua orang wanita. Pria macam apa itu, ia terus merutuki dirinya sendiri.
Sementara itu, Patricia berdiri tertegun sambil memandangi punggung Ridho yang berjalan tertunduk. Ia menanyakan pada hatinya sendiri, apakah ini yang ia inginkan? Sementara hatinya sedang berteriak nama pria itu, yang hampir setahun ini sudah berhasil diusir dari hatinya.
Status Ridho membuka peluang perasaannya masuk kembali. Apalagi pria itu sudah memintanya sendiri, tetapi entah mengapa egonya menahannya. Apa ia ingin membalas dendam atas perasaannya yang dulu tidak tersampaikan? Ia membutuhkan banyak waktu untuk memikirkan hal ini.
Patricia berjalan mengikuti langkah Ridho yang sudah berada jauh di depannya. Dengan pikiran berkecamuk dan hati semrawut, ia memandangi pemandangan laut.
“Kau mau pulang?” tanya Ridho setelah menunggu Patricia sampai di dekatnya.
“Terserah kau saja,” jawabnya lesu.
Patricia mengangguk pelan.
\=\=\=\=\=
Rerumputan hijau menyelimuti hampir semua pusara yang berjejer rapi di salah satu taman makam di Kota Jakarta. Matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan semburat keoranyean bersama kelabu di langit luas.
Ridho menaruh beberapa tangkai bunga sedap malam di atas makam istrinya.Hatinya kembali menyayat ketika ingatannya berlalu ke empat bulan lalu. Teriakan istrinya ketika mengalami pendarahan terdengar lagi dalam benaknya, membuat mata pria itu berkaca-kaca lalu meneteskan bulir air matanya.
Hal itu membuat Patricia menjadi sedih. Cinta Ridho untuk Namira pasti tulus, tetapi sayang sekali pria itu hanya mengecapnya seumur jagung, menyisakan duka mendalam di hatinya.
Patricia berdoa untuk mendiang temannya itu. Meskipun Patricia mengenal Namira sebentar saja, tetapi perempuan itu juga yang membantunya mengenalkan pada Islam, sehingga hati dan hidupnya kini sudah jauh lebih baik. Patricia mengambil tisu miliknya, lalu disodorkannya pada pria yang tidak malu untuk menangis di hadapan seorang wanita.
“Ah, maaf!” ucap Ridho mengerjapkan matanya.
“Kau rapuh sekali, Ridho! Kuatlah dan jalani hidupmu lebih baik. Aku yakin Namira tidak menginginkanmu terus menangis seperti ini. Iya kan Namira?” tanya Patricia pada pusara Namira di hadapannya. Sementara Ridho menatap wanita itu.
Patricia membungkuk lalu berjongkok di sisi makam Namira, ia mengusap batu nisan bertuliskan nama temannya itu.
“Namira... apakah aku boleh membantu lelakimu ini memperbaiki hidupnya?”
Ridho terkesiap dengan ucapan Patricia.
“Apakah boleh aku meneruskan kebahagiaan untuknya?” tanya Patricia lagi sambil meneteskan air matanya, lalu menatap wajah Ridho yang sudah memandanginya sejak tadi.
__ADS_1
“Bolehkah aku?”
“Pat…” ucap Ridho tersenyum penuh haru.
Patricia tersenyum.
“Aku ingin kau mengulangi pertanyaanmu tadi di depan pusara Namira!” seru Patricia berdiri.
“Baiklah….”
Ridho kembali mengambil nafas.
“Patricia, apakah kau mau menikah denganku?” tanya Ridho dengan mata berkaca-kaca.
Hening. Namun, Patricia mengangguk mantap.
“Kau harus temui papaku!” ujarnya, membuat bibir keduanya tersenyum lebar.
Living in a world so cold
You are there to warm my soul
You came to mend a broken heart
You gave my life a brand new start and now
I'm in love
You took my heart away
When my whole world was gray
You gave me everything
And a little bit more
And when it's cold at night
And you sleep by my side
You become the meaning of my life
Holding your hand
I won't fear tomorrow
Here where we stand
We'll never be alone
[You Took My Heart Away - MLTR]
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Kisah cinta segitiga Ridho, Namira, dan Patricia akhirnya selesai :')