
Weekend itu Ferdian dan Ajeng tengah menemani anak-anak mereka di halaman belakang rumahnya. Ferdian membawa Baby Finn berenang-renang mengenakan pelampung berbentuk bulat agar tubuh gembulnya bisa mengambang di atas permukaan kolam air yang sudah dipenuhi berwarna-warni bola. Finn begitu antusias menciprat-cipratkan tangannya pada air. Sementara kakak perempuannya, Kirei, melempar-lempar bola-bola kecil itu ke arahnya.
Ajeng membawa nampan berisi jus strawberry segar serta beberapa kudapan ringan yang ia taruh di sebuah meja kecil di samping kolam persegi empat itu. Melihat ibunya membawa kudapan, Kirei langsung menghampirinya dan mengambil jus kesukaannya itu. Meski bertubuh besar dan lebih dari berat badan idealnya, Kirei termasuk anak yang cukup gesit dan pandai berenang. Gadis siswa SMP itu keluar dari kolam dan meraih gelas berisi jus.
“Kalau minum itu pelan-pelan, Kirei Sayang!” ucap Ajeng memperhatikan anak gadis satu-satunya.
“Ye-s, M-om!” ucapnya terbatuk-batuk, karena jus terasa dingin sekali di mulutnya.
“Daddy istirahat dulu!” panggil Ajeng pada suaminya yang masih asyik membawa Finn berjalan mengitari kolam yang tidak terlalu luas itu.
“Iya sebentar lagi!” jawabnya mengangkat Finn ke atas kepalanya, lalu mendudukannya di atas lehernya, membuat bayi itu mencengkram rambut tebal milik ayahnya.
Ferdian berjalan menghampiri istri dan anaknya, lalu mendudukan diri di keramik samping kolam. Pria tinggi itu meraih gelas jusnya, setelah memberikan Finn pada Ajeng yang langsung melilitkan bayinya dengan handuk.
“Rain kemana?” tanya Ferdian setelah meminum setengah isi gelasnya.
“Rain masih tidur kali. Padahal kemarin bilangnya mau latihan basket!” jawab Ajeng masih mengeringkan anaknya dengan handuk tebal.
“Rain, Rain!” Ferdian menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu meminum jus buah segarnya.
Arsene dan Rain memang cukup berbeda dalam sifat dan sikap mereka. Hanya saja, Ajeng dan Ferdian tidak pernah membandingkan mereka. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang membuatnya unik.
“Kirei pengen ke toko Abang Acen, Dad! Pengen makan cheese cake yang kemaren abang bikin!” seru Kirei menaruh gelasnya yang sudah kosong di atas meja, membujuk ayahnya itu.
“Oh ada menu baru ya?” Ferdian malah bertanya pada istrinya.
“Iya, kayanya baru dijual hari ini. Kemarin kan Abang libur, jadi bikin itu di sini dan langsung dieksekusi di dapur pastry tokonya. Dia jual sore-sore, ternyata malah banyak permintaan buat hari ini,” terang Ajeng yang lebih mengetahui kondisi bisnis anaknya. Ferdian memang sibuk beberapa hari ini, selain mengurusi bisnisnya sendiri, kadang ia diminta Damian mengurusi perusahaan keluarganya di Jakarta.
“Alhamdulillah! Kalau lihat Abang rasanya tenang hati Daddy. Mau kerja fokus di bisnisnya, mau kuliahnya dulu diselesaikan, atau mau nikah muda pun, Daddy dukung terus!” ucap Ferdian sambil memasukan kudapan ke mulutnya.
“Iya. Aku juga belum tahu kapan Arsene mau datang ke rumah Zaara. Dia udah bilang itu minggu kemarin. Katanya mau mengutarakan niat baik setelah Idul Adha nanti. Tapi belum tau lagi udah fix atau belum.”
“Really?” tanya Ferdian tidak percaya.
“Iya, Daddy! Anak kamu itu udah pengen nikah, malah ribut lagi sama Raffa. Kan aku gak enak sama Sita!”
“Siapa yang ngajak ribut duluan?” tanya Ferdian, karena ia yakin Arsene bukan anak pencari masalah.
“Mereka berdua! Masalah perempuan aja diributin,” protes Ajeng, kadang ia merasa kesal melihat anak-anak muda yang ribut hanya masalah sepele. Apalagi seperti tontonan di televisi.
“Ya udah, biarin aja. Kalian emak-emaknya gak usah ikut campur, biar mereka selesaikan urusan mereka sendiri.” jawab Ferdian santai.
"Kita harus tanya dia lagi, Sayang! Jangan sampai kaya Raffa kemarin yang keliatan banget buru-buru untuk lamar Zaara," terang Ajeng yang kini menyuapi Finn dengan mpasi bubur oatnya.
"Kamu dengar cerita dari siapa?" Ferdian menatap istrinya serius.
"Sita cerita sama aku. Dia juga agak kesel sama anaknya, bayangin aja Raffa maksa minta uang ke dia untuk beli gelang emas buat hadiah Zaara. Tapi gak jadi, akhirnya mereka cuma kasih hadiah sederhana aja. Apa kita juga harus gitu kalau Arsene niat lamar Zaara?"
Ferdian termenung sebentar setelah menyimak cerita istrinya. Ia yakin sekali Arsene bukan orang seperti itu. Arsene sangat perhitungan dan detail, bahkan ia akan mengambil resiko terkecil ketika memutuskan sesuatu yang besar sekalipun. Tetapi anak itu memang kadang bertindak di luar dugaan sesekali. Ferdian yakin anaknya itu memiliki rencana matang terkait hal ini.
"Daddy yakin, Abang Acen akan mempertimbangkan matang segala sesuatunya. Mommy gak usah khawatir. Kalau dia memang mau maju, kita dukung. Kalau dia butuh bantuan materi, sebisanya kita bantu. Tapi kita harus tau, apa argumentasinya bisa diterima atau enggak," ucap Ferdian.
"Iya sih, Mommy ngikut aja!"
"Mandi dulu sana, Rei! Kita ke toko Abang!" seru Ferdian, membuat Kirei kegirangan dan langsung berlari dari sana.
"Mommy mau ikut?" tanya Ferdian.
"Enggak, Mommy di sini aja!" jawab Ajeng.
"Oke, Daddy pergi dulu, jangan kangen ya?!" ucap Ferdian mengecup pipi istrinya, membuat Ajeng tersenyum tersipu-sipu sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sementara itu, Arsene menyiapkan menu barunya yaitu cheesecake. Ia membuat cheesecake dengan ukuran loyang bulat ukuran sedang dengan berbagai varian topping. Belum disajikan semua saja, kue keju lembut yang langsung lumer dimulut itu sudah habis ketika dibawa dari lemari pendingin dan ditaruh di etalase. Para pelanggannya sangat antusias dengan menu baru yang ada di sana. Meskipun harga cheesecake jauh ebih mahal dari varian menu kue lainnya, bagi para penggemar keju, kue itu wajib dicicipi.
Arsene menaruh strawberry yang sudah dibikin menjadi selai segar di atas cheesecake-nya. Beberapa buah potongan strawberry juga ditaruh di sana setelah krim pekat dibubuhkan. Wanginya sungguh sangat menggoda, dengan perpaduan keju, vanilla, serta strawberry. Cheesecake strawberry dijual per slice, dan pelanggan boleh memesan ukuran besar, jika menghubungi minimal satu hari sebelumnya.
Alice dan Fea berada di depan kasir melayani para pembeli yang datang bergantian terus-menerus tanpa henti. Sepertinya hari ini akan benar-benar sibuk di toko Sweet Recipes. Hari Sabtu Minggu, jumlah pengunjung memang cukup banyak dibanding hari biasa. Oleh karena itu, Arsene selalu terjun setiap weekend. Ia beruntung Fea ikut membantu mereka meski bayarannya hanya beberapa potong kue yang ia sukai, gadis itu sangat senang menerimanya. Dia memang karyawan sukarela.
Beberapa bahan sudah habis hari itu. Arsene harus kembali berbelanja agar stoknya tidak kehabisan mendadak. Terutama bahan untuk frosting dan topping. Fea memaksa sepupunya itu agar ia bisa ikut untuk mengantar Arsene belanja ke hipermarket. Terpaksa Arsene mengabulkannya.
Pria muda itu menjinjing keranjang saat mengitari rak-rak berisi kelengkapan bahan memasak. Biasanya ia meminta para supplier bahan kue untuk mengirim bahan keperluannya. Hanya saja karena topping buah segar kali ini disajikan pada menu cheesecake miliknya, dan permintaan cukup besar, maka ia harus segera menambah stok buah strawberry yang sudah semakin tipis.
Arsene mengambil beberapa kotak plastik berisi buah strawberry, blueberry, dan raspberry. Ia juga mengambil beberapa bungkus kraker untuk cheesecake tanpa ovennya. Krim keju serta heavy krim diambilnya juga untuk menambah stok. Fea berjalan di sampingnya sambil melihat-lihat barang-barang yang ada di rak.
"Mau beli apa?" tanya Arsene pada sepupunya itu.
"Boleh jajan?" tanyanya antusias.
Arsene mengangguk.
"Yeaaay, aku mau potato chip sama minuman soda ya Abang Acen!" pinta Fea riang.
Mereka berdua berjalan menuju koridor makanan ringan. Arsene membeli banyak snack untuk para karyawannya yang lain. Fea juga tak mau kalah mengambil snack kesukaannya.
"Heh pelan-pelan itu ambilnya!" seru Arsene pada Fea yang kalap mengambil snack kesukaannya.
"Mumpung Abang mau traktir, aku ambil banyak! Hahaha!" ucapnya tertawa lebar.
Arsene hanya menarik bibirnya melihat tingkah sepupunya yang heboh sendiri itu.
"Eh ada Arsene?" sebuah suara keibuan membuat dirinya menoleh ke samping.
"Tante Karin?!" ucapnya terkejut.
"Iya, Tante! Kebetulan ada barang di toko yang habis," ucapnya. Pria itu tampak memindai daerah sekitarnya, mencari sosok yang lain.
"Ini siapa?" tanya Karin ramah pada gadis di sebelah Arsene yang membawa beberapa snack besar di pelukannya.
"Ini Fea, Tante! Sepupu saya." Fea tersenyum pada wanita berhijab lebar itu.
"Ooh," respon Karin mengangguk-angguk.
Arsene terlihat tampak gugup sambil bertanya-tanya, apakah wanita di depannya itu sudah tahu perihal surat yang dititipkan Zaara pada suaminya? Apakah mereka sudah membahas hal itu atau belum, ia jadi salah tingkah.
"Tante sendirian?" tanya Arsene.
"Enggak, sama Zayyan ke sini. Zaara lagi sibuk sama kerjaan barunya," jawab Karin, seolah-olah Arsene bertanya pada sosok anak sulungnya.
"Emang Zaara kerja apa, Tante?"
"Edit naskah," jawab Karin.
Arsene baru tahu ternyata Zaara memiliki ketertarikan di dunia literasi sebagai editor. Pria itu mengangguk. Melihat Karin dengan ekspresinya yang biasa saja padanya, Arsene berasumsi kalau Zaara pasti belum memberikan surat itu pada abinya.
"Saya duluan ya Tante, masih banyak kerjaan!" pamit Arsene membungkuk sopan pada Karin.
Karin mengangguk tersenyum. Lekas Arsene menarik ujung jaket Fea yang matanya masih terus memandangi snack yang membuatnya kelayapan. Gadis itu memang sangat menyukai makanan ringan sejenis chips.
"Abang minumannya belom beliii!" teriaknya berjalan mundur karena Arsene menarik dari belakang tubuhnya.
Suasana di luar hipermarket cukup padat diisi oleh banyak mobil dan motor. Arsene menjinjing kantong belanjanya, lalu menyerahkan pada sepupunya sambil berjalan menjauhinya.
__ADS_1
"Abang Acen mau kemana?" tanya Fea melihat abang sepupunya menjauhi.
"Tunggu di sana, Abang mau telepon dulu!"
Arsene mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menekan salah satu nama di nomor kontaknya, dan menempelkan ponsel itu tepat di telinganya.
"Assalamu'alaikum," sapanya.
"Wa'alaikumsalam," sebuah suara lembut kecil menjawab teleponnya.
"Ra, aku mau tanya, apa amplop yang ada di kamu itu udah dikasihkan ke Abi kamu?" tanya Arsene tanpa basa-basi, membuat sosok di seberang sana terkejut.
"Astaghfirullah, afwan aku lupa! Aku lupa beneran!" ucapnya panik dan terdengar heboh terus meminta maaf karena kelalaiannya.
"Ya udah, gak apa-apa, tolong segera kasihkan ya?" pinta Arsene dengan lembut.
"Iyaa aku kasih sekarang nih!" seru Zaara masih terdengar panik.
Arsene tersenyum, "makasih Ra!"
"Sama-sama, Afwan!"
Sambungan itu terputus, Arsene menggelengkan kepalanya. Ternyata akhwat itu cukup pelupa, atau memang dia pada dasarnya pelupa. Ia teringat bagaimana Zaara sering melupakan dompet berisi recehan koinnya saat sekolah dulu. Kini Arsene benar-benar tegang. Tetapi dia harus kembali bekerja di tokonya, ia harus fokus di sana sekarang.
Zaara mencari amplop putih yang masih tertutup rapat itu dari dalam laci meja belajarnya. Melihat abinya yang sedang membaca kitab tebal di ruang kerjanya, entah kenapa hatinya berdebar. Ia khawatir dengan isi surat dari Arsene dan hanya berharap isinya tidak macam-macam.
Zaara mengetuk pintu ruang kerja abinya yang terbuka dengan ragu-ragu.
"Bi, boleh masuk?" izinnya pelan.
Reza menoleh pada putrinya yang masih berdiri di depan pintu, ia menutup buku setelah menaruh pembatas di dalamnya.
"Masuk aja, Sayang! Ada apa?" tanyanya.
Zaara mendudukkan dirinya di kursi berhadapan dengan ayahnya yang masih terus menatapnya heran.
Zaara menaruh surat itu di atas meja ayahnya.
"Ada titipan!" ucap Zaara singkat dan pelan.
"Dari siapa? Raffa?!" Tebak Reza.
"Bukan!"
"Terus?" Reza mengambil amplop panjang itu, lalu mulai menyobek bagian pinggirnya perlahan.
"Arsene!"
Reza mengangkat alisnya, lalu mulai membuka kertas bergaris yang terlipat itu. Zaara memperhatikan ayahnya yang terlihat membaca tulisan tangan yang tidak bisa ia baca. Wajah ayahnya nyaris tanpa ekspresi masih dengan alis terangkatnya, kacamata terpasang di wajahnya. Kemudian ayahnya itu menghela nafas, sambil melipat kembali kertas itu dan memasukannya ke dalam amplop.
Zaara berdebar kencang, ketika ayahnya kini menatapnya tajam sambil melipat tangan di atas meja. Ia tersenyum pada putrinya.
“Kamu mau ta'aruf sama Arsene?”
DEG.
\======
Bersambung ....
ayo vote yang banyak biar bisa up lagiii 😂
__ADS_1
makasiiiih selalu dukung author
like dan komennya jangan lupa 😘