Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 43


__ADS_3

“Akrab banget kayanya kalian?” sindir Susan yang melewati meja Ajeng dan Andre.


“Iri ya, San?” celetuk Ajeng.


“Enggak juga tuh! Kalian emang udah kenal satu sama lain ya?” tanya Susan penasaran.


“Baru kenal juga sih, ya kan Dre?!” ucap Ajeng melirik Andre.


“Iya, kita baru kenal kok!”


“Terus kok bisa akrab gitu? Ah kalian, jangan-jangan ada apa-apa nih! Awas Dre, si Ajeng ini kan udah punya suami paling ganteng di kampus! Idolanya para mahasiswa dan dosen lho!” Susan memperingatkan, nadanya serius meskipun ia tampak ingin mencandai rekan kerjanya itu.


Ajeng dan Andre tertawa-tawa saja mendengar ucapan Susan.


“Ye….kalian malah ketawa-ketawa gitu!”


“Susan, Susan! Andre ini kan sepupunya Ferdian!” ujar Ajeng memberitahu.


“Oh ya?!” Susan membelalak.


“Iya! Emang kita juga baru kenal pas acara keluarga kemarin. Andre kan baru pindah dari London juga!” terang Ajeng membuat hati Susan agak sedikit lega.


“Ooh begitu ya, alhamdulillah  masih ada kesempatan!” ucap Susan menengadahkan kedua tangannya ke atas.


“Tuh masih ada yang jomblo juga disini!” ucap Ajeng melirik Andre.


Andre hanya tertawa-tawa saja melihat tingkah Susan yang konyol tetapi sok jaga image setelah ucapan Ajeng itu.


\=\=\=\=\=\=


Malam itu Andre menatap layar ponsel miliknya, lalu ia mencari nomor seorang sahabat SMA-nya. Saran Ajeng benar, ia harus menghubungi teman-teman SMA-nya, setidaknya ia mungkin akan mendapat kabar tentang perempuan yang selama ini bersemayam di hatinya. Walaupun, nomor temannya ini apakah masih aktif atau tidak, ia sendiri belum tahu. Terakhir kali ia menghubungi adalah sekitar enam bulan lalu, ketika dirinya baru menjalani prosesi wisuda S3-nya.


Andre sendiri bukanlah tipikal pria yang memiliki akun media sosial. Bahkan ia baru memiliki akun media sosial sejak kepindahannya ke Indonesia. Hal ini membuat dirinya sulit menghubungkan diri dengan teman-temannya yang lain.


Andre menekan tombol panggilan untuk sebuah kontak bernama Irvan di ponselnya. Nada sambungan terdengar di sana. Beruntung, nomor itu masih aktif digunakan oleh temannya itu.


“Hallo, assalamu’alaikum?” tanya sebuah suara di seberang telepon, sebuah suara laki-laki yang tidak berat dan aksen Sundanya terdengar jelas.


“Wa’alaikumsalam, ini Irvan?” tanya Andre memastikan.


“Iya betul, ini siapa ya?” tanya pria itu. Tentu ia tidak tahu, karena nomor Andre sudah berganti dengan kode wilayah Indonesia.


“Andre, Van! Apa kabar?”


“Euleeuh ini beneran Andre? Kok nomornya ganti ya?”


“Iya, aku udah ganti nomor, soalnya udah balik nih ke Indonesia!” terang Andre.


“Eh beneran? Lo di Indonesia, Bro?!” nada pria itu terdengar sumringah.


“Iya, aku udah di Bandung sekarang!”

__ADS_1


“Woooaaah! Atuh hayu kita ketemuan! Kok gak ngasih tau sih?”


“Baru dua bulan ini kok, masih sibuk beres-beres kemarin,” ucap Andre.


“Lo tinggal dimana sekarang? Masih rumah yang dulu?”


“Mama masih di sana, tapi aku gak tinggal di sana. Sekarang tinggal sendiri lah!”


“Eh dikirain teh bawa partner dari sono!”


“Belom dapet jodoh, haha! Kapan nih kita meet up?”


“Kapan atuh? Lo ada waktunya kapan mas bro?”


“Sabtu ini?”


“Hayu lah! Nanti gue ajak yang lain ya?”


“Emang siapa aja?” tanya Andre, hatinya cukup gugup jika saja nama perempuan yang ia tunggu disebut juga.


“Paling Diandra sama Shera!”


Hati Andre lega, tapi di sisi lain kecewa karena nama yang diharapkannya tidak disebutkan temannya itu.


“Oh iya boleh! Mau meet up dimana nih?”


“Nanti gue pastiin lagi deh, gue hubungi via chat oke!”


“Sama-sama, Dre! Ah gue jadi gak sabar ketemu Lo!”


“Haha, see you ya!”


“Yoo!”


Andre merasa lega akhirnya bisa bertemu dengan kawan-kawannya selama SMA dan ia akan mencoba


mencari tahu kabar terkait kawan perempuannya itu. Apalagi Irvan akan mengajak Shera bertemu dengannya, yang tak lain adalah sahabat dari cinta pertamanya itu.


Andre menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ia memejamkan matanya meski pikirannya sedang melayang ke masa silam, mengenang ke masa dimana ia masih bisa melihat gadis itu.


\=\=\=\=\=


Ferdian sedang membaca modul perkuliahan miliknya di atas kasur. Ia tampak fokus mempelajari mata kuliah barunya yang membuatnya antusias karena membahas tentang sejarah kesusastraan Inggris di Amerika. Ajeng yang sibuk merapikan pakaian yang baru selesai dicuci dari binatu, sesekali menengok suaminya itu dari walk-in


wardrobe-nya. Hatinya lagi-lagi cemas, apakah ia harus mengatakan sekarang mengenai kecerobohannya itu atau nanti saja? Namun ia memutuskan untuk mengatakannya nanti saja, lagipula ia pun belum pasti akan hamil. Jadi


sebaiknya jika sudah positif hamil ia akan memberitahukannya.


“Sayang!” panggil Ferdian, melihat istrinya itu belum juga selesai dengan pekerjaan ibu rumah tangganya.


“Ya, Sayang?” jawab Ajeng, memasukan pakaiannya ke dalam lemari.

__ADS_1


“Bobo yuk!”


“Iya sebentar lagi!”


Tak lama kemudian Ajeng keluar dari lemari pakaiannya dan menghampiri suaminya yang tengah membetulkan posisi bantalnya.


“Udah selesai belajarnya?”


“Udah ah, ngantuk!”


“Eh aku mau tanya dulu, target lulus kamu kapan sih?”


“Tahun depan! Aku juga udah ambil mata kuliah di semester 8, jadi mudah-mudahan bisa lebih cepet sih!” terang Ferdian.


“Ooh, baguslah!” Ajeng sedikit merasa lega.


“Emang kenapa?”


“Enggak kok! Jadi udah kebayang mau bahas apa untuk skripsi nanti?”


“Umm….kayanya aku mau bahas karya sastra bergenre horror atau thriller aja!”


“Kaya film kesukaan kamu ya?”


“Haha, aku emang paling tertarik dunia begituan, ya seenggaknya jadi bisa lebih semangat aja ngerjainnya. Aku juga lagi coba cari teori yang berkaitan.”


“Mau ambil karya sastra punya siapa?”


“Edgar Allan Poe, maybe!”


“As I guess! Coba cari sudut pandang yang agak berbeda, karena yang bahas Poe itu udah cukup banyak lho di kampus kita!”


“Oh ya? Ya ini masih rencana sih, aku harus banyak ke perpustakaan ya buat lihat-lihat skripsi dari mahasiswa yang udah lulus?”


“Iya coba cek aja karya ilmiah yang udah ada, bisa buat perbandingan atau referensi kamu nanti,” ujar Ajeng.


“Siap Bu Dosenku yang cantik! Yuk ah bobo, besok ada jadwal pagi kan?”


Ajeng mengangguk. Ferdian mengecup hangat kening istrinya dan membenamkan tubuhnya dengan selimut


tebalnya.


Ajeng menatap wajah Ferdian yang sudah terlelap. Ia hanya ingin mempercayai bahwa kedepannya akan baik-baik saja. Hanya itu yang ia yakini saat ini, ya semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu dicemaskannya lagi.


\=\=\=\=\=


Kehidupan rumah tangga Ajeng & Ferdian masuk ke fase selanjutnya ya. Jadi konfliknya bisa jadi akan meluas tidak hanya mengenai orang ketiga saja. Ditambah juga dengan kisah Andre dan juga kenangan akan masa lalunya, juga apakah berpengaruh dengan hubungan Ajeng dan Ferdian? Kita lihat nanti yaa


Keep reading


Ditunggu masukannya juga ya, siapa tau bisa jadi inspirasi buat ceritanya.

__ADS_1


Makasiiiiih


__ADS_2