Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 68. Shopping


__ADS_3

Pagi itu, Arsene membawa mobil ibunya untuk menjemput Zaara. Ada Ajeng dan Finn juga yang ikut untuk membeli barang hantaran untuk calon istrinya nanti. Ajeng sudah duduk di depan dengan Finn yang berada di pangkuannya. Bayi yang kini sudah berusia satu tahun lebih itu tampak asyik memainkan mainannya yang ada di tangannya sendiri. Abangnya berusaha membuat ia tertawa selagi menunggu kedatangan Zaara, setelah ia memberhentikan mobil di depan rumahnya itu.


Zaara diantar oleh Karin yang terlihat tidak sehat pagi itu. Ajeng keluar dari mobil untuk memastikan kondisi kesehatan sahabatnya.


“Cepet sembuh ya, Karin Sayang! Ayo nih anaknya mau nikah masa uminya sakit?” ujar Ajeng membuat Karin tersenyum meringis.


“Ah ini cuma flu biasa, tapi lagi agak berat aja. InsyaAllah besok juga udah baikan.”


“Iya istirahat penuh aja. Biar Zaara aku yang urus, oke?”


“Makasih ya Jeng, aku titip Zaara dulu.”


“Kita berangkat ya, assalamu’alaikum!”


Zaara yang mengenakan setelan gamis dan khimar berwarna salem duduk di belakang kursi Ajeng. Tentu saja, ia akan canggung jika harus duduk di samping kemudi Arsene. Mobil pun melaju menuju sebuah pusat perbelanjaan yang cukup lengkap di daerah pusat kota. Jalanan cukup lengang pagi itu, sehingga mereka bisa tiba lebih cepat. Suasana gedung pusat perbelanjaan pun memang masih sepi, bahkan beberapa toko masih terlihat tutup atau mereka masih sedang membereskan barang-barang dagangan mereka.


“Jadi kita mau kemana dulu nih?” tanya Ajeng, ia menyerahkan Finn pada Arsene.


“Aku ikut Tante aja!” ucap Zaara.


“Kamu gak usah sungkan ya Zaara shaliha. Tante sama Umi Karin emang udah buat list, tapi kalau ada kebutuhan kamu yang lain, bilang aja ya?” ucap Ajeng berusaha ramah pada gadis yang terlihat canggung itu.


“Kita beli mahar aja dulu, Mom!” ucap Arsene berinisiatif.


“Oh ya, untung di lantai satu ini banyak toko perhiasan!”


Mereka berjalan menuju sebuah toko perhiasan yang cukup besar di sana. Ajeng mengajak Zaara untuk memilih cincin untuk maharnya nanti. Sementara itu Arsene berada di samping ibunya sambil melihat-lihat benda berkilauan di dalam etalase kaca tebal.


“Cincin 5 gram yang mana aja, Mba?” tanya Ajeng pada pelayan toko perhiasan yang meladeni mereka.


“Sebelah sini, Bu!” ucap pelayan toko sambil menunjukkan model cincin yang beragam.


“Di sini bisa pesan model custom juga, Bu!” ucap pelayan lagi.


“Gimana mau pesan model baru aja?” tanya Ajeng pada Zaara.


“Emang berapa lama Mba?” tanya Zaara.


“Sekitar 2-4 bulan, Kak!”


“Wah kelamaan itu sih! Ya udah cari model yang kamu suka aja ya Ra!” ucap Ajeng.


Zaara mengangguk.


Mata gadis itu menelusuri semua model cincin emas yang berkilauan. Rata-rata hampir memiliki permata di bagiannya. Ia sangat suka dengan model yang simpel dan tidak terlihat berlebihan, jadi cincin dengan satu permata saja sudah cukup baginya. Sebuah model cincin berhasil mencuri ketertarikannya, modelnya seperti yang selalu ia inginkan.

__ADS_1


“Yang ini coba, Mba!” ucap Zaara menunjuk satu cincin yang memiliki permata dengan ukiran bunga yang melingkar di sekeliling permata itu, terlihat cantik dan simpel.


Pelayan toko mengambilkan cincin itu, Zaara mencoba di jari manis kanannya. Pas sekali dengan tangannya yang ramping dan panjang itu.


Gadis itu menunjukkan tangannya di depan calon mertua dan calon suaminya, meminta pendapat.


“Cantik!” ucap Arsene.


“Apa yang cantik?” tanya Ajeng menggoda anaknya.


“Dua-duanya. Yang dipakai sama yang pakainya.” Arsene tersenyum, telinganya terasa panas ketika mengucapkan itu.


Zaara tidak kalah panas, pipinya benar-benar memerah seperti tomat, membuat wajahnya itu tertunduk.


“I love it!” ucap Ajeng mengangguk pada gadis yang tersipu-sipu itu.


“Oke kita ambil yang ini ya, Mba!” ucap Ajeng.


Zaara menyerahkan kembali cincin itu pada pelayan toko, sementara Arsene mengurusi pembayaran untuk cincin itu. Sementara Ajeng berjalan untuk melihat aksesoris perhiasan lainnya. Pelayan toko lainnya langsung menyambutnya ketika ia meminta untuk mengambilkan sebuah kalung emas.


“Kak ini mau dikasih ukiran nama di dalamnya gak?” tanya pelayan toko pada Arsene.


“Emm… pakai inisial aja, A & Z!” ucapnya.


“Baik Kak, ditunggu 10 menit ya?”


“Yakin cuma mau cincin aja?” tanya Arsene pada Zaara.


Zaara menoleh pada pria di sampingnya itu.


“Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda ‘Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.’ Aku gak mau membebani pernikahan ini di awal, karena perjalanan kita masih panjang.”


“Kamu sama sekali gak membebani aku. Aku cuma ingin ngasih yang terbaik buat calon istri aku.”


Zaara mengulum senyumnya, “makasih! Tapi lebih baik kamu simpan aja buat tabungan rumah tangga nanti.”


Arsene berdeham, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena terlihat wajah cantik berseri gadis di sampingnya itu ketika tersenyum. Ia teringat pada rencana setelah menikah yang Zaara tulis di CV ta’arufnya.


“Baiklah,” jawabnya kemudian.


“Udah selesai?” tanya Ajeng yang menghampiri mereka.


“Bentar lagi, Mom!”


“Oke!”

__ADS_1


Tidak lama kemudian, pelayan toko membawakan barang pesanan mereka dan memberikannya pada Arsene seraya mengucap terima kasih. Arsene memberikan cincin itu pada ibunya untuk disimpan.


“Kemana lagi sekarang?” Ajeng bertanya sambil melihat ponsel untuk mengecek list yang sudah dibuatnya bersama Karin. Tentu saja itu semua juga sudah didiskusikan dengan Zaara sebelumnya.


“Oke kita cari pakaian dan aksesoris dulu ya?!” Ajeng mengaitkan tangannya pada lengan Zaara, dan menariknya sehingga bisa berjalan bersama-sama. Ia harus bisa akrab dengan calon menantunya ini dan berusaha mungkin membuatnya nyaman seperti ketika bersama ibu kandungnya. Zaara ikut saja dengan calon mertuanya itu. Sementara Arsene berjalan di belakang mereka, sesekali ia tersenyum dengan tingkah ibunya yang memang sok akrab. Tetapi ia senang dengan pemandangan di depannya itu.


Mereka memasuki sebuah department store yang memiliki banyak koleksi lengkap, mulai pakaian, sepatu, tas, kosmetik, dan underwear. Kedua wanita itu sangat menikmati acara belanja kali ini. Zaara bukanlah tipe pemilih yang akan lama untuk menentukan pilihannya. Jika sudah memiliki satu pilihan, maka ia akan mengambilnya dan langsung membawanya pada pelayan. Jadi acara belanja itu tidak terlalu memakan waktu lama bahkan sampai sebelum dzuhur tiba, gadis itu sudah memenuhi list belanjanya sebanyak 80%.


Arsene sesekali duduk beristirahat bersama Finn, ketika kedua wanita yang bersamanya sedang memilih-milih barang mereka. Zaara datang dan menanyakan pendapat pria itu terkait barang pilihannya. Arsene hanya mengangguk saja dan mengiyakannya. Ia sama sekali tidak tahu selera seorang wanita, meski ia sendiri sebenarnya sudah suka dengan selera calon istrinya itu.


Arsene akan mengekori kemana pun kedua wanitanya itu pergi. Kali ini destinasi belanja terakhir, yaitu membeli pakaian dalam. Arsene seketika mematung ketika melihat Zaara dan ibunya tengah melihat-lihat sesuatu yang membuatnya tidak enak. Pria itu pura-pura berjalan menjauhi keduanya dan mengajak adiknya bermain. Ia yakin Zaara pun pasti tidak akan nyaman dengan keberadaan dirinya di sana. Ia berharap acara belanja segera berakhir.


“Kalian udah gak polos kan?” tanya Ajeng pada Zaara, ketika mengambil sebuah lingerie berwarna peach cantik berbahan brokat lembut dengan renda di bagian roknya.


Zaara menahan nafasnya.


“Ah masa polos, kan mau nikah!” Ajeng menjawabnya sendiri.


“Mommy gak tau selera Arsene gimana, tapi pakai warna ini bikin wajah cerah berseri.” Lingerie itu ditempelkannya pada tubuh Zaara, membuat wajah Zaara kemerahan.


“Satu lagi, laki-laki itu suka warna gelap. Apalagi warna burgundy ini, so sexy!” ucap Ajeng lagi sambil menempelkan kembali lingerie yang lebih terbuka modelnya.


Ajeng mencari-cari keberadaan putra sulungnya yang tidak dijangkau oleh matanya.


“Main kabur aja itu anak!” omelnya pelan.


Zaara hanya terdiam merespon calon mertuanya yang sejak tadi merekomendasikan barang-barang belanjaannya. Ia benar-benar tidak bisa berkomentar apa-apa terkait dengan lingerie yang dipilihkan Ajeng padanya. Bulu kuduknya merinding ketika melihat pakaian itu.


Tiba-tiba saja Arsene muncul dari belakang ibunya sambil setengah berlari.


“Mom, titip Finn dulu! Aku mau ke toilet!” ucap Arsene menyerahkan adiknya pada ibunya.


“Sebentar! Kamu suka modelnya kan?” tanya Ajeng menghentikan kegiatan Arsene dan memperlihatkan dua model lingerie pada anaknya itu.


Matanya melebar melihat lingerie yang terbuka dan transparan itu. Ia melirik sebentar pada Zaara.


“Astaghfirullah!” ucapnya, wajahnya terlihat merah. Ia menyerahkan Finn pada ibunya begitu saja dan lari terbirit-birit menuju toilet.


\======


Kenapa atuh Arsene? XD


Bersambung....


Jangan lupa like, vote, dan komennya

__ADS_1


Makasiiih


__ADS_2