
Ajeng baru saja keluar dari toilet, entah kenapa tiba-tiba perutnya merasa mules setelah selesai mencuci tangan. Akhirnya wanita itu kembali lagi ke dalam toilet. Ferdian pasti sudah lama menunggunya di sana. Ah, mungkin saja dia sudah masuk ke dalam ruangan, kasihan juga kalau lama-lama berdiri di sana.
Ajeng berjalan menuju meja penerima tamu. Dua orang wanita menyapanya dari meja itu, mereka tampak terkagum-kagum dengan wajah Ajeng.
"Halo, kamu peserta reuni atau kerabat ya?" tanya seorang wanita bergaun pink dusty.
"Saya kerabat dari peserta alumni," jawab Ajeng.
"Siapa nama peserta reuninya?" tanya teman di sampingnya.
"Ferdian Setya Winata."
Wajah dua wanita itu terlihat terkejut dan saling memandang.
"Ferdian sudah ada di dalam. Silakan isi di kolom ini!" ucap wanita bergaun pink lagi.
Ajeng pun mengisi daftar hadir dan menandatangani kolom itu.
"Silakan masuk!" ucap mereka ramah.
Sebelum Ajeng memasuki ruangan, seorang fotografer menyuruhnya untuk berpose dahulu di depan sebuah banner yang disediakan untuk berfoto. Ajeng pun tersenyum manis saat sebuah kamera mengambil fotonya beberapa kali. Sang fotografer pun berterima kasih padanya.
Ajeng memasuki ruangan luas yang memiliki lampu-lampu kristal di atasnya. Ruangan itu begitu terang dengan lampu kuning keemasan. Meja-meja bundar yang sudah dipenuhi peserta reuni tampak rapi. Karpet empuk berwarna maroon diinjaknya sambil memperhatikan dimana suaminya itu duduk. Ia tidak terlalu pandai mencari orang apalagi dalam ruangan yang luas ini. Ia sadar matanya itu sudah tidak normal lagi. Jadi ia putuskan untuk duduk di salah satu meja bundar yang masih kosong, sementara ia akan menghubungi suaminya melalui ponselnya.
Ajeng sudah duduk di sebuah kursi yang dibalut dengan kain berkilauan berwarna gold. Ada 7 kursi kosong lagi yang belum terisi mengelilingi meja Di atas meja bundar itu terdapat setangkai mawar merah. notebook, gelas dan air mineral, serta sebuah bingkisan yang terbungkus dalam kantong kertas di depan masing-masing kursi. Ia mengeluarkan ponselnya, dan langsung mengetikan sesuatu di aplikasi whatsapp miliknya.
[Kamu dimana, Sayang? Aku udah di dalam, tapi aku pusing cariin kamu!] ketik Ajeng.
Sambil menunggu pesan balasan, Ajeng kembali memperhatikan meja sekitar. Meja-meja di barisan depannya sudah terisi penuh. Mereka asyik bercakap-cakap satu sama lain, wajar mungkin karena sudah lama tidak bersua. Sesekali tampak orang-orang memandang ke arahnya lalu berbisik-bisik. Namun ia tidak mempedulikannya, hal yang sudah biasa baginya. Ia kembali memandangi ponselnya, namun belum ada balasan dari suaminya itu. Dimana Ferdian? batinnya bertanya-tanya.
"Boleh saya duduk di sini?" sebuah suara berat dan merdu membuatnya menoleh.
Seorang pria tinggi berkaca mata, wajahnya tampak dewasa dan tampan. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu dengan celana jeansnya.
"Emm...silakan!" jawab Ajeng tersenyum tipis.
Pria itu pun duduk di sebelahnya, menggeser sedikit menjauhinya.
"Saya Erlan, dulu kelas XII IPA 5," sapanya mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Ajeng!" jawabnya singkat membalas jabatan tangan kekar pria itu.
"Kamu dulu masuk kelas mana ya?" tanyanya.
"Ah, saya cuma tamu di sini, saya datang dengan F..."
Tiba-tiba datang sekelompok orang yang juga duduk di meja mereka. Tiga orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Maka meja itu pun secara otomatis menjadi penuh.
"Erlan ya?" tanya seorang wanita berambut lurus panjang, yang berdiri menjabat tangannya.
"Iya!" jawabnya.
Mereka pun saling berjabat tangan tidak terkecuali Ajeng, meski ia tidak mengenali siapa pun di antara mereka.
"Kenalin dong pacar cantiknya!" seru seorang pria yang memiliki brewok pada Erlan.
Erlan mengangkat alisnya. Begitu juga dengan Ajeng, mereka saling berpandangan.
"Itu di sebelah kamu, pacarnya kan?" seru pria itu lagi.
"Bukan, ini teman saya, Ajeng!" ucap Erlan.
"Maaf ya!" ucap Erlan lembut berbisik di samping Ajeng.
Ajeng tersenyum tipis saja.
Sementara itu, di meja barisan paling depan, kepala Ferdian terus berputar-putar mencari keberadaan istrinya. Lengannya terus diapit oleh Rachel, membuat ia sedikit risih karena menempel dengan salah satu bagian menonjol dan empuk milik Rachel. Ia berusaha melepas, tetapi wanita itu malah semakin mendekapkan lengannya ke dadanya. Jadi ia diam saja, berharap Rachel segera melepas lengannya itu. Teman-teman laki-laki di mejanya hanya memandangnya iri.
Dua orang MC mendatangi panggung, acara akan segera dimulai. MC itu pun membuka acara, dan menyambut para peserta reuni. Mereka pun memberi waktu dan tempat kepada ketua pelaksana acara reuni malam ini yang dibawakan oleh salah satu kawan mereka.
Ferdian mengambil ponselnya dengan susah payah dari saku celananya. Namun ia berhasil, ia melihat sebuah pesan instan dari istrinya itu. Langsung saja ia mengetikan balasannya.
[Aku di meja paling depan, Sayang! Meja paling kanan. Kamu dimana?]
Ferdian masih mencari-cari ke belakang. Rachel melepas dekapannya, ketika ia bertepuk tangan dan mengambil air minum. Lega sekali perasaan Ferdian, entah apa yang akan dilakukan istrinya itu jika sampai melihatnya.
[Aku di meja paling belakang, sebelah kiri.]
__ADS_1
Ferdian pun agak setengah berdiri untuk memperhatikan keberadaan istrinya. Ah, ketemu! Tetapi wajahnya itu langsung mengeras ketika melihat Ajeng tampak tersenyum berseri-seri di samping pria yang selalu menjadi saingannya dulu di sekolah. Ia bertanya-tanya, kenapa bisa ia bersama pria itu?
"Cari siapa sih Fer? Dari tadi gak bisa diam?" tanya Rachel, ikut menoleh mencari sekiranya apa yang dicari oleh Ferdian.
"Cari istri gue!" ujarnya singkat, membuat wanita bertubuh molek itu mematung. Lalu mengorek telinganya, apa ia tidak salah dengar?
Ferdian beranjak dari tempat duduknya. Membuat kawan-kawannya itu memperhatikannya, dari meja satu ke meja lainnya. Rahangnya mengeras, ia berjalan dengan langkah lebarnya menuju tempat duduk istrinya itu.
Ajeng sedang berbincang sedikit dengan Erlan tentang masalah kesusastraan, sepertinya mereka cukup akrab karena Erlan pun kuliah di jurusan Sastra Inggris. Pria itu sudah mengetahui, kalau Ajeng adalah istri dari seorang Ferdian. Meski awalnya terkejut karena Ferdian ternyata menikah di usia yang sangat muda, tetapi ia hanya mengajak Ajeng ngobrol agar wanita itu tidak terasa kaku di sana.
"Sayang yuk ke meja depan!" ucap Ferdian yang tiba-tiba berada di samping Ajeng.
Mendengar panggilan 'sayang', semua orang di meja itu menoleh pada Ferdian. Semuanya terkejut. Ajeng menoleh pada suaminya.
Orang-orang yang duduk bersama Ajeng dalam satu meja melongo, tidak percaya. Mereka memandangi Ferdian lalu kembali menatap Ajeng.
"Yuk!" Ajeng beranjak dari tempat duduknya, lalu merapikan roknya.
Ferdian menarik lengan Ajeng. Namun wanita itu menahannya sebentar, ia menoleh pada Erlan.
"Saya pindah ya, terima kasih sudah mengajak saya berbincang-bincang!"
"Sama-sama," jawab Erlan, ia mendelik pada Ferdian yang menatapnya tajam.
Ferdian pun menarik lengan Ajeng. Pasangan itu seketika menjadi sorot perhatian pleh hampir semua peserta reuni, karena Ferdian membawa istrinya berjalan di bagian tengah dimana ada karpet merah khusus melangkah ke arah panggung terhampar di sana. Mereka tampak serasi satu sama lain, apalagi Ferdian menggenggam erat tangan istrinya. Rachel yang melihat hal itu semakin bengong dan melongo saja, tidak percaya kalau Ferdian menggandeng seorang perempuan cantik sekali. Sebuah kamera terlihat sedang mengambil foto keduanya saat di karpet merah itu.
"Kamu duduk di sini, aku cari kursi dulu!" ucap Ferdian, ia lalu meminta sebuah kursi pada panitia. Sedangkan Ajeng tersenyum pada orang-orang yang ada di meja bundar tempat dimana Ferdian duduk tadi. Steve dan Vino tertegun dengan kecantikan Ajeng. Begitu pula dengan Natasya, yang juga terkejut.
Ajeng pun tersenyum kecil pada wanita yang ada di sampingnya, meski tidak mendapat senyum balasan. Rachel lekas-lekas mengalihkan perhatiannya pada panggung dengan sedikit delikan. Sementara Ajeng, memperhatikan penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Ia terkekeh kecil sambil memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, Ferdian datang dengan sebuah kursi yang diantar oleh petugas hotel. Ia duduk di samping istrinya berdempetan sekali. Ia juga memeluk tubuh istrinya dari belakang, membuat orang-orang di sekitarnya tampak iri dan cemburu.
"Cih, sok mesra banget sih!" umpat Rachel sambil terus melirik pasangan yang ada di sebelahnya. Meski suara itu kecil, tetapi Ajeng bisa mendengarnya dari samping.
Ajeng menggenggam erat tangan Ferdian yang melingkar di pinggangnya, ia membuat suaminya itu semakin dekat dan mengeratkan pelukannya. Dengan tatapan angkuh, Ajeng memamerkan kemesraannya lagi di depan mata Rachel yang tidak melepaskan tatapan padanya.
"Dih!"
\=====
Bersambung dulu yaa
Yuk ah komennya yang ramai
__ADS_1
Like dan votenya juga biar makin seru
Makasih yaa