Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 38. Bingkisan


__ADS_3

Zaara dan kawan-kawannya telah selesai mengerjakan tugas kelompok siang itu. Mereka tengah membereskan barang-barang mereka, lalu satu persatu membayar pesanan mereka yang belum terbayar secara bergantian. Zaara tampak kikuk untuk membayar pesanannya di hadapan Arsene yang ditemani oleh gadis periang di sampingnya. Arsene menyerahkan barcode untuk pembayaran digital para gadis itu.


“Ra, tunggu!” seru Arsene ketika Zaara akan membalikan badannya menyusul teman-temannya yang lain.


Zaara terkejut dan terdiam di tempatnya.


Arsene berlari ke dapur, lalu kembali lagi dengan tiga kotak berwarna pink pastel berisi cupcake.


“Ini buat kamu, Terry sama Hana. Makasih ya buat yang kemarin!” ucap Arsene tersenyum ramah.


“Oh, beneran nih?” tanya Zaara ragu-ragu.


“Iya, itu udah aku pisahin kok spesial untuk kalian. Dan ini aku titip buat abi sama umi kamu ya?”


“Wah, makasih banyak ya Sen! Semoga tokomu laris manis,” ucapnya.


“Aamiin. Makasih juga, sering-sering datang ya!”


Zaara hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Arsene, lalu melirik ke arah Fea yang juga tersenyum ke arahnya.


Ia mengangguk dan berlalu dari hadapan mereka.


Tiba-tiba, Raffa datang ke arahnya ketika gadis berhijab itu akan membuka pintu.


“Ra, bisa bicara sebentar?” tanya pria yang tampak modis itu.


“Ada apa Mas Raffa?” tanya Zaara terheran-heran.


Arsene memperhatikan keduanya dari balik meja kasir. Hatinya berdenyut dan penasaran dengan apa yang akan diutarakan oleh Raffa. Ia menghela nafas.


“Abang Acen, tuh cowok yang ganteng itu lho. Dia tipikal cowok aku bangeeet!” ucap Fea riang dan heboh meski ia mengecilkan suaranya.


Namun Arsene bergeming dan tidak merespon pada Fea, matanya tetap tajam melihat keberadaan dua sosok yang masih berdiri di balik pintu kaca itu.


“Kita keluar sebentar ya, bisa kan?” ajak Raffa.


Mata Zaara membesar, ia mengikuti pria tinggi itu dan berbicara di luar di samping mobil yang Raffa bawa. Arsene masih terus memperhatikannya. Bahkan ia sengaja duduk di sebuah kursi yang bisa melihat jelas pemandangan di luar.


Raffa terlihat membuka pintu mobilnya, lalu membawakan sebuah tas jinjing kertas dari sana. Ia memberikan tas itu pada Zaara yang kemudian tersenyum kaku membalasnya. Keduanya pun berpisah, karena Zaara pergi menyusul teman-temannya. Arsene bergegas kembali ke meja kasirnya sebelum Raffa masuk.


“Ih Abang mencurigakan, ngapain nguntit orang itu?” tanya Fea penasaran.


“Gak apa-apa kok!”


“Eh cewek itu yang Abang suka kan?” tanya Fea.


“Yang mana?!” tanya Arsene terkejut, karena ia belum memberitahu perasaannya kecuali pada keluarganya saja, dan Fea tidak termasuk.


“Itu yang pakai kerudung hijau tadi, ya kan?”

__ADS_1


Arsene termenung. Apakah memang raut wajahnya terlihat sangat jelas kalau dia menaruh rasa pada Zaara? Sampai-sampai Fea bisa menebaknya dengan jitu. Arsene hanya mengernyitkan matanya menjawab pertanyaan Fea lalu berjalan menuju dapur.


Waktu terus berjalan, setelah kepulangan Zaara, toko Arsene semakin ramai saja. Banyak di antara mereka membawa kue-kue itu untuk dibawa pulang. Bahkan ada yang memborong muffin buatan Arsene untuk dijadikan oleh-oleh, sehingga Arsene harus kembali terjun ke dapur untuk menambah porsi stok muffinnya.


Apalagi Fea sempat berteriak-teriak di depan tokonya sambil menyebar leaflet promo hari ini. Gadis itu benar-benar luar biasa memaksimalkan suara cempreng dan wajah imutnya, beberapa pemuda yang terhipnotis langsung berbelok dan masuk ke dalam toko.


"Terima kasih sudah dataaaang! Sering-sering datang kemari yaa, apalagi kalau ada akyuu!" ucapnya percaya diri sambil memasang wajah sok imutnya, ketika Raffa dan kawan-kawannya pulang.


Raffa menyengir saja melihat gadis aneh di matanya itu.


"Siaaap! Raffa pasti sering-sering kesini kok!" ucap Jane menepuk bahu sohibnya. Raffa mendeliknya.


"Ah namanya Raffa ya? Aku Fea gadis paling imut dan cantik dari keluarga Winata!" ucapnya.


Arsene menepuk jidatnya melihat kelakuan sepupunya itu. Tetapi ia beruntung, gadis itu juga yang membuat tokonya ramai hari ini.


Target promosinya telah berhasil mencapai 50 kue gratis, bahkan lebih. Dapur pastry-nya terus bekerja sepanjang siang dan sore, mengeluarkan aroma manis dan hangat jika berada di dekatnya. Kini matahari telah tenggelam, satu jam lagi toko tutup. Hanya tersisa beberapa kue saja di etalase, seperti cupcake dan cake pops. Muffin dan eclairs sudah ludes terjual. Besok Arsene akan menambah menu baru dan beberapa varian baru.


\=====


Sore itu, perut Zaara terasa lapar. Ia teringat pada bingkisan kue yang diberikan Arsene tadi siang. Gadis itu lekas-lekas membuka kulkasnya dan mengambilnya, lalu kembali ke kamarnya.


Satu buah cupcake dengan frosting cream matcha dan satu buah muffin choco chips berada di dalam kotak berwarna pink pastel itu. Zaara memandanginya. Ia mengambil muffinnya terlebih dahulu dan mencicipinya. Rasanya sangat lezat, seperti kue yang selalu ia dapat di bawah meja sekolahnya dulu. Ia yakin muffin itu buatan tangan Arsene langsung. Setelah itu ia mencoba cupcakenya, agak terasa berbeda dengan cupcake yang diberikan Arsene, meski sama lezatnya. Zaara menyandarkan tubuh di kursinya. Mengapa akhir-akhir ini ia selalu memikirkan Arsene? Pria yang tiba-tiba hadir dan menjadi teman sebangkunya, membuat hidupnya berwarna meski belum sepenuhnya. Ia teringat pada buku Nikah Muda yang diterimanya beberapa bulan lalu, apakah memang itu darinya? Mengingat pria itu selalu memberinya kejutan yang tidak disangka-sangka.


Zaara masih mengumpulkan tulisan-tulisan kutipan yang diberikan oleh Arsene padanya. Kata motivasi yang selalu membuatnya semangat menyambut hari. Kata-kata itu juga yang membuatnya sedikit demi sedikit berubah lebih lembut dalam menerima orang. Ia menyimpannya selalu di dalam buku catatan hariannya.


Zaara mengeluarkan satu bingkisan dari Raffa. Pria itu memberikannya tadi siang. Zaara membuka bungkusnya, sebuah kain berwarna peach terbungkus plastik terdapat di dalamnya. Zaara mengeluarkan kain itu yang ternyata kerudung syari. Hatinya terkejut, kenapa bisa Raffa mengirimnya benda ini? Hari ini bukan ulang tahunnya, atau tidak ada momen apapun yang spesial.


Assalamu’alaikum wr. wb.


Zaara, mohon maaf, saya mungkin mengirimkan surat itu terlalu mendadak. Tetapi harus ada yang saya sampaikan sama kamu segera mungkin. Saya sudah lama menaruh rasa sama kamu, dan saya memiliki niat serius untuk meminangmu. Minggu depan, saya akan datang ke rumah bersama orangtua. Sebelum saya datang, jika kamu ingin menyampaikan sesuatu, silakan hubungi nomor saya di 0813xxxxxxxx.


Saya akan mempersiapkan diri sebelum bertemu abi kamu. Semoga Allah meridhoi ikhtiar saya. Jazakillah khair.


Wassalamu’alaikum wr. wb.


DEG.


Jantung Zaara meledak seketika mendapat surat berisi demikian dari Raffa. Apakah mungkin Raffa yang mengirim buku Nikah Muda untuknya? Kini asumsinya berubah 180 derajat pada Raffa.


“Ra!” terdengar panggilan dan ketukan di pintu. Itu suara abinya.


Zaara lekas-lekas menyembunyikan surat dan hadiah dari Raffa.


“Masuk aja, Bi!” ucapnya setelah memasukan benda-benda itu ke dalam lemarinya. Mejanya masih berantakan karena kotak kue yang baru dimakannya. Reza masuk ke dalam kamar anak gadisnya itu, sambil memperhatikan meja belajarnya yang berantakan.


“Kamu dari toko kue Arsene ya?” tebak abinya.


“Iya, tadi kan Zaara udah bilang sama Abi.” Zaara membereskan sampah-sampah kertas yang ada di sana. “Oh ya ada kue titipan juga dari Arsene.”

__ADS_1


Reza tersenyum kecil, lalu duduk di pinggir matras kasur anaknya.


“Abi ingin tanya beberapa hal sama kamu, Ra!”


Zaara melebarkan matanya.


“Kenapa, Bi?” tanyanya penasaran.


“Buku Nikah Muda itu apa sudah kamu baca semua isinya?” tanya Reza.


Hati Zaara semakin tidak karuan, telapak tangannya basah karena gugup. Ia sedikit tertunduk. Mengapa tiba-tiba saja abinya bertanya seperti itu?


“Sudah, Bi!” jawabnya pelan.


“Gimana menurut kamu tentang menikah muda?”


Zaara menggumam pelan, hatinya berdebar.


“Umm… menurut Zaara sih kalau untuk menikah muda harus benar-benar siap mental. Sering, para pemuda itu masih pendek pemikirannya dan belum bisa memandang jauh kedepan. Mereka lebih sering memikirkan gengsi dan kemauan, tapi lupa dengan resiko di masa depan. Itu juga yang akhirnya membuat mereka terjerumus dengan zina atau hamil di luar nikah,” terang Zaara.


“Kalau ada seseorang yang mau nikah muda demi menghindari zina, gimana menurut kamu?”


“Sebenarnya nikah muda bagus jika niatnya lurus untuk ibadah. Tapi itu balik lagi pada kesiapan mereka. Ini gak cukup dengan mental aja, Bi. Kata umi, kita pun perlu bekal iman dan ilmu. Harta bisa dicari, tapi iman dan ilmu perlu dipersiapkan secara matang, karena setelah nikah bisa jadi masalah akan bertambah rumit.”


“Lalu bagaimana dengan cita-cita? Apakah menurut kamu nikah muda bakal menghambat?” tanya Reza lagi.


“Kalau Zaara baca dari buku, nikah muda sama sekali tidak akan menghambat. Zaara sepakat dengan pernyataan itu, manusia itu selalu berproses, meskipun mereka punya targetan kapan cita-citanya akan terwujud tapi Allah yang menentukan hasil semua itu. Bisa jadi lebih cepat atau lebih lambat. Yang penting ikhtiar mereka sungguh-sungguh, baik belum atau sudah menikah.”


Reza mengangguk-angguk mendengar jawaban dari anaknya.


“Kenapa abi tiba-tiba tanya itu?” tanya Zaara terheran-heran.


“Sepertinya ada seseorang yang berniat serius sama kamu. Buktinya dia kirim buku itu, bisa jadi pertanda keseriusannya. Dia mungkin ingin kalian sama-sama mempersiapkannya. Abi pikir dia cukup baik mempersiapkan masa depannya. Bukan hanya sekedar materi, tapi juga agamanya. Apa kamu siap jika harus nikah muda?”


“Abi tau siapa yang kirim buku ini?” tanya Zaara.


Reza mengangguk kecil.


Jantung Zaara berdebar semakin kencang. Ia kembali teringat pada surat dari Raffa. Apakah memang pria itu yang mengirimkannya? Apa memang pria itu menyiapkan semuanya untuk menikah muda dengannya? Zaara menundukan kepalanya yang penuh diliputi pertanyaan yang masih menjadi misteri di benaknya.


“Abi pengen tahu sejauh apa kesiapan kamu untuk nikah muda, apa kamu siap?”


DEG.


\=====


Bersambung dulu yaa


Likee, commentnya yaa

__ADS_1


VOTE jangan lupaa


makasiiih


__ADS_2