
Tirai putih tertiup angin sore yang lembut, membentuk gelombang-gelombang kecil yang saling beriringan dari satu sisi ke sisi lain. Aura dingin nan kelam menusuk kulit hingga ke tulang. Semerbak bau alkohol tercium pekat. Kedua mata wanita yang memiliki bulu mata lentik itu terlihat bergetar. Ia mulai membuka matanya perlahan. Silau lampu ruangan menyorot matanya, membuat ia mengerjap. Wangi yang dibencinya kini terhirup bebas oleh indera penciumannya. Seketika hatinya tersentak, menarik tubuhnya untuk terbangun.
“Arsene!” teriaknya.
“Mana Arsene mommy?!” teriaknya lagi pada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Wajah orang-orang yang dikenalnya satu persatu dipandanginya. Mata mereka berkaca-kaca, tampak sesak menahan nafas di dalam dada. Ada papa, mama, Andre, dan juga kedua mertuanya.
“Mana Arsene, Pa?” teriak Ajeng menggoyang tubuh papanya yang duduk di sampingnya. Selang infus yang dipasang di tangannya ikut bergoyang, membuat labu berisi larutan elektrolit tergoncang.
Papa memeluk tubuh putrinya yang bergetar, dan mengusap kepalanya.
“Kamu harus kuat, Sayang!” ucapnya pelan.
Mendengar hal itu, tangisnya pecah dari matanya, langsung membanjiri seluruh wajahnya. Ingatannya berputar pada peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Tubuhnya menjadi lemas kembali, membuat ia tergolek di atas matras.
“Ferdian mana? Aku butuh Ferdian….” ucapnya lirih di antara selingan tangisannya.
Tak kuasa menahan bendungan air mata, mama dan bunda mertuanya pun ikut terhanyut dalam suasana itu. Mereka berdua saling berpelukan. Ruangan itu diliputi aura duka yang amat gelap. Terasa suram dan dingin.
\=\=\=\=\=
Ferdian tertunduk lemas di atas kursi ruang tunggu bandara O’Hare, Chicago. Ia tidak mampu menahan lagi perasaannya. Seluruh wajahnya terlihat merah padam, matanya berair, dan rahangnya mengeras. Sesekali ia menelan salivanya. Nafasnya tercekat. Pria itu sedang menunggu kedatangan pesawat yang akan mengantarkannya ke negara asalnya.
Pikirannya kacau dan hatinya hancur berkeping-keping, ketika telinganya mendengar kabar anak yang dicintainya tengah menjadi korban kecelakaan di kampusnya sendiri. Entah apa yang terjadi sehingga kejadian itu menimpa anaknya.
Perasaannya dipenuhi kesedihan, amarah, kekhawatiran, dan segala perasaan buruk lainnya. Kini pikirannya tidak bisa condong positif sebelum ia bertemu dengan fisik anaknya itu. Sebuah suara panggilan ditujukan kepada seluruh penumpang menuju Indonesia untuk segera menaiki pesawat malam itu. Ia bergegas bangun dan pergi menuju pesawat yang akan mengantarnya.
\=\=\=\=\=
Ajeng duduk di samping tubuh Arsene yang tertidur lelap dengan wajah memar kemerahan. Sekeliling kepala anak gemuk nan lucu itu diperban karena luka yang cukup dalam di dahinya. Begitu pula dengan kaki kirinya yang patah karena benturan keras oleh motor besar yang menabraknya. Ia menggenggam tangannya yang mungil.
Ajeng menatapnya sendu nyaris kosong. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Bahkan beberapa menit sekali, butiran kristal bening itu muncul kembali.
You are my sunshine
My only sunshine
You make me happy
When skies are gray
You'll never know, dear
How much I love you
Please don't take my sunshine away
Lagu You're My Sunshine yang pernah didengarnya di playlist musik online kini mengalun lembut menyayat di dalam benaknya. Ia harus bersyukur karena Allah belum mengambil nyawa anaknya. Ini teguran keras bagi dirinya sebagai orang tua.
Suara pintu kayu berdecit menggesek permukaan lantai. Angin dari luar yang berhembus kencang seketika menerbangkan tirai gorden yang ada di dalam ruangan. Ajeng menoleh perlahan, dilihatnya wajah yang sangat dirindukannya. Bagai rerumputan kering yang tinggal di musim kemarau, setetes air hujan turun membasahi hatinya yang hampa. Hatinya bertabuh kencang. Pemilik wajah itu terlihat tak kalah sendu dalam tatapannya yang tertunduk. Matanya terlihat berkilauan karena menahan tangis.
Pria itu menaruh kopernya di belakang pintu yang sudah tertutup, dan langsung berjalan menghampiri anaknya yang pulas. Perlahan dan lekat ia tatap anaknya. Tubuhnya bergetar dan tidak mampu lagi menopang, sehingga ia hanya bisa berlutut karena lemas.
“Arsene ini daddy, Sayang! Daddy pulang!” ucap Ferdian lirih yang sudah bangkit.
Namun kondisi Arsene masih di dalam pengaruh obat bius sehabis operasi tulang tadi pagi. Anaknya itu tidak bergeming.
Ferdian menciumi pipi dan tangan anaknya yang tidak berdaya, dengan air mata yang jatuh di atas kulitnya yang lembut. Ia terus melakukan itu, sampai-sampai wanitanya tidak digubris.
Ajeng menyentuh tangan Ferdian untuk membuatnya sadar, kalau istrinya itu ada di hadapannya. Ferdian menatapnya dengan mata kemerahan, lalu tertunduk lagi. Tangannya menghindari sentuhan itu.
Hati Ajeng entah mengapa merasa tergores, sentuhan tangannya itu diabaikan bahkan dihindari oleh suaminya. Ia hanya memandanginya saja sambil menggenggam erat ujung bajunya. Apa suaminya itu marah, kecewa, dan tidak suka pada dirinya? Apa ia menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang dialami anak mereka? Apa ia benci padanya? Pertanyaan itu berkecamuk di dalam benaknya.
Hujan rintik-rintik mengguyur langit Kota Bandung dengan lembut. Terasa semakin sendu suasana yang ada di sana. Bahkan tidak ada percakapan panjang di antara kedua insan yang sempat terpisah beberapa bulan itu. Mereka hanya terdiam di tempat masing-masing, berlarut dalam pikirannya. Meskipun sebelumnya rindu dalam jiwa mereka tengah membuncah. Sepertinya rasa itu telah luruh tergantikan oleh perasaan sedih yang menyelimuti. Udara dingin menyapa semakin membuat hati beku.
“Kamu udah makan?” tanya Ajeng memecah keheningan.
‘Aku gak lapar,” jawabnya singkat. Tentu saja langsung menyudahi topik itu.
Ajeng tertunduk lesu. Pikirannya berkecamuk lagi, sambil mencari-cari kira-kira topik apa yang bisa membuat suasana dingin ini menjadi hangat. Akan tetapi ia menyerah, suasana yang ada di hadapannya ini tidak mungkin menghangat apalagi anaknya itu belum tersadar dari tidurnya.
Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar dari pintu. Ferdian membukakannya.
“Kamu sudah sampai, Fer?” tanya mama mertuanya yang datang.
Pria itu mengecup punggung tangannya.
“Iya, Ma! Tadi siang.”
__ADS_1
Mama mengelus lengan menantunya. “Kalian yang tabah ya? Ini ujian dari Allah.”
Ferdian mengangguk kecil.
Mama berjalan menghampiri putrinya yang masih menatap sendu anaknya. Wanita paruh baya itu berdiri di sampingnya sambil merangkul bahu.
“Arsene anak yang kuat. Mama yakin dia pasti tumbuh jadi anak yang hebat,” ujar mama.
Ajeng merengkuh tubuh mamanya, menenggelamkan wajahnya di perut yang sudah menjadi rumahnya dulu sewaktu janin. Tubuhnya terisak lagi.
“Kamu harus kuat, Sayang! Mama yakin kamu pasti bisa melewati ini semua,” ucap mama mengelus rambut putrinya itu.
“Kalian pulanglah dulu dan beristirahat. Biar mama dan papa yang jaga Arsene malam ini. Kalian pasti butuh waktu berdua,” ujar mama lagi, kini menatap pada menantunya.
Ferdian mengangguk. Ajeng berdiri lalu memeluk lagi ibunya. Keduanya memutuskan pulang ke apartemen.
\=\=\=\=\=
Sudah tiga hari apartemen itu kosong tanpa penghuni. Perkakas dan barang furnitur terlihat sedikit berdebu meski tata letaknya rapi. Bi Asih sementara diizinkan pulang bersama anaknya, karena kondisinya belum fit benar. Ferdian menatap hunian yang sudah ia tinggalkan selama tiga bulan ini. Suasananya sedikit berubah, dengan banyaknya barang-barang dan mainan milik Arsene. Juga banyak stempel dan coretan hasil buah karya anaknya itu. Ia tersenyum kecil.
Ajeng berjalan menuju kamarnya. Ia sedikit merapikan dan membereskannya. Hatinya masih gelisah, karena Ferdian belum berbicara padanya. Tatapan mereka bertemu ketika suaminya itu masuk ke dalam kamar. Lekas-lekas Ajeng mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ferdian membuka jaket dan kaos yang dipakainya sejak tadi. Tubuh dan hatinya terasa sangat lelah. Apalagi tangisnya tadi seolah meruntuhkan seluruh jiwanya. Dipandanginya Ajeng yang tampak salah tingkah tengah mengambil pakaiannya untuk dimasukan ke dalam tempat cuci. Ia sadar wanitanya itu tampak lebih kurus sejak saat terakhir mereka bertemu secara langsung. Namun ia tidak bisa menyentuhnya saat ini. Hatinya masih dilanda kekecewaan, bahkan amarah yang berusaha ia padamkan. Jadi, memutuskan untuk tidak berbicara dengannya adalah keputusan yang tepat dibandingkan ia harus menyakitinya dengan perkataannya. Memang ia belum tahu bagaimana peristiwa mengerikan yang menimpa anaknya itu terjadi. Ketenangan yang ia butuhkan saat ini. Ia pun berjalan menuju kamar mandi setelah menanggalkan semua pakaiannya.
Sementara itu, nafas Ajeng terasa mencekat di tenggorokannya. Sudah hampir empat jam Ferdian bersamanya, tetapi ia tidak bisa berbicara panjang dengannya. Hatinya terlalu segan dan takut menghadapi kenyataan bahwa pria itu memang menyimpan kekecewaan padanya.
Ajeng memasak hidangan makan malam seadanya dengan bahan-bahan yang tersedia di dalam kulkasnya. Tak butuh waktu lama, hidangan itu sudah tersaji di atas meja makan. Dengan langkah ragu, ia berjalan menuju kamarnya untuk mengajak suaminya ke ruang makan.
“Sayang….” panggilnya dengan lisan yang kaku.
Ferdian, yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur, menoleh padanya.
“Kita makan dulu,” ucapnya singkat.
“Maaf, aku gak lapar. Aku capek, mau langsung tidur,” jawabnya.
Ajeng mengerjapkan matanya, sambil berusaha tenang.
“Oohh… ya udah. Kamu istirahatlah dulu!” ucapnya sambil tertunduk, lalu kembali ke meja makan.
Bulir air matanya kembali terjatuh. Mengapa bisa sesakit ini? Tanyanya dalam hati. Ia mengambil sebuah piring untuknya, dan menaruh hidangan makan malam di atasnya dengan porsi yang sangat sedikit.
Dengan air mata yang terus mengalir, ia menyuap sendok demi sendok ke dalam mulutnya meski terpaksa. Dentingan sendok beradu dengan porselen, memecah hening yang ada di sana. Terasa nyaring dan mengerikan. Sementara itu, Ferdian memejamkan matanya. Tubuhnya terlalu letih untuk berpikir.
\=\=\=\=\=
Hening. Lagi-lagi suasana itu menyapa pagi itu. Hanya ada suara dentingan peralatan makan ketika suami istri itu menikmati hidangan sarapan pagi mereka. Ajeng sudah tidak tahan lagi dengan suasana itu. Ia menghentikan makannya, membuat Ferdian menoleh ke arahnya.
“Kita gak bisa hidup kaya gini terus, Fer! Aku gak tahan. Please, bicara sama aku. Mau kamu marah, kecewa, atau benci, tapi jangan diamkan aku kaya gini!” ujar Ajeng dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu kamu marah sama aku kan?! Kamu pasti salahkan aku atas semua yang terjadi sama Arsene kan?! Aku memang ibu yang gak becus ngurus anaknya, dan kamu berhak kecewa sama aku. Tapi kasih tau aku, jangan diam kaya gini terus!” seru Ajeng lagi yang kini air matanya sudah luruh.
Ferdian menatap lekat pada istrinya. Istrinya itu benar, ia sedang memendam rasa kecewa dan marah yang disembunyikannya. Tetapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat ini.
“Kamu mau marah sama aku, marah aja! Aku gak akan larang. Aku emang berhak dimarahi!” ucap Ajeng dengan emosional. Dadanya naik turun karena mengatur nafasnya.
“Ya, kamu benar! Aku emang sedang marah sama kamu. Tapi aku gak mau bikin masalah ini semakin rumit. Makanya aku pilih diam,” jawab Ferdian, membuat Ajeng terdiam lalu terkekeh dalam tangisnya.
“Kamu boleh hukum aku, Fer! Kalau kamu anggap aku gak bener ngurus Arsene!” pekik wanita berambut panjang itu.
Ferdian tertunduk. Ia mengepalkan tangannya. Amarah yang tertahan di dadanya harus bisa ia taklukan. Ia tak ingin lisannya menyakiti perasaan istrinya lebih dalam.
“Berikan aku waktu untuk meredam rasa marahku!” ujar Ferdian, membuat Ajeng tidak mengerti.
“Maksud kamu?” tanya Ajeng.
“Jangan temui aku dulu untuk saat ini!” perintahnya, membuat wanita di hadapannya mengernyit.
Bagai terkena lemparan meriam panas, hati Ajeng hancur. Bukan itu yang ia inginkan. Mengapa bisa suaminya itu berkata seperti itu bahkan ketika hatinya tengah retak karena kejadian yang menimpa anaknya? Ia ingin suaminya itu memaafkan dirinya.
Ajeng terkekeh dengan ucapan tidak masuk akal suaminya.
“Aku serius!” ucapnya lagi tanpa memandang istrinya.
“Kamu mau kita pisah?!"
“Bukan seperti itu!” sergah Ferdian, menegakkan tubuhnya.
“Terus apa?!"
__ADS_1
“Biarkan aku berpikir sendiri, dan jangan temui aku dulu sebentar!”
“Kamu gila, Fer! Dimana otak kamu? Padahal aku lagi butuh kamu dan kamu malah suruh aku menjauhi kamu?” pungkas Ajeng.
“Aku ingin kita saling introspeksi dan membersihkan hati!" jawabnya kini menatap sendu wajah istrinya.
“Tapi kenapa aku harus menjauhi kamu?” tanya Ajeng beranjak dari kursinya.
“Karena aku gak mau nyakitin hati kamu!”
“Oke, kalau gitu!”
Ajeng beringsut pergi dari hadapan suaminya menuju kamarnya. Lalu ia membereskan semua pakaiannya dan pakaian milik Arsene ke dalam kopernya. Air matanya terus membanjiri pipinya. Ia masih tidak mengerti apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Hanya saja, pergi dari apartemen ini adalah satu-satunya hal dipikirkannya saat ini untuk mengabulkan permohonan suaminya.
Ferdian tidak bergeming di atas meja makan. Namun dirinya terkejut ketika Ajeng menarik koper besar dari dalam kamarnya.
“Kamu mau kemana?” sergahnya mengejar Ajeng.
“Kamu bilang aku harus jauhi kamu, gitu kan yang kamu mau?!” pungkas Ajeng berusaha melabrak pertahanan tubuh suaminya menuju pintu utama.
“Biar aku yang pergi dari sini!” sahut Ferdian menahan laju koper wanitanya.
Ajeng menghentikan langkahnya, lalu menatap tajam mata suaminya.
“Terus kenapa kamu pulang ke Indonesia kalau mau kamu kaya gini Fer?! Kenapa kamu gak diem aja dan marahi aku dari sana?!” pungkas Ajeng, ia menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu meluruhkan tubuh di atas lantai. Ia tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran suaminya itu.
“Apa kamu khawatir aku bakal gak becus rawat Arsene?!" tanyanya mendongakkan wajah ke arah suaminya yang masih berdiri.
"Apapun yang ada di dalam pikiranmu itu terserah! Yang pasti aku akan terus mendampingi Arsene sampai dia bisa jalan lagi. Aku akan berhenti kerja dan melepas semua karir dan cita-cita aku selama ini,” terang Ajeng yang terduduk di atas lantai.
Ferdian tersentak mendengar ucapan istrinya. Ajeng kembali berdiri dan membawa kopernya pergi. Sementara Ferdian berdiri terpatung di atas kakinya yang beku. Tatapannya lurus entah memandangi apa. Ia membiarkan istrinya pergi dengan luruhan tangis dan hujaman tombak yang tertusuk di hatinya. Seketika, tubuhnya bergoncang hebat, bagai ada puluhan peluru yang menembak dirinya bersamaan, membuat kakinya tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia merobohkan diri di lantai sampai kepalanya bersujud menyentuh dinginnya permukaan granit yang halus. Apakah ini yang ia inginkan? Benaknya terus bertanya-tanya.
“Pak ke rumah sakit Kenanga ya?” pinta Ajeng sambil terisak menaiki taksi online yang sudah dipesannya.
Supir taksi itu melihat ke arahnya dengan tatapan heran sekaligus simpati. Ia hanya mengikuti instruksinya dan berlalu menuju rumah sakit yang tidak terlalu jauh itu.
Tangisan wanita itu belum juga reda. Hatinya terlalu sakit. Tak disangka olehnya, Ferdian lebih memilih menjauh darinya di kala ia butuh rengkuhan dan kekuatan pria itu. Apakah pria itu memang sangat marah padanya atas kecelakaan Arsene? Apa ia benar-benar menyalahkan dirinya? Mengapa ia bisa berpikir egois seperti itu padanya?
Ajeng mengambil beberapa helai tisu dari dalam tasnya untuk mengusap air matanya yang tidak pernah berhenti. Ia sadar ia terlalu mencintai Ferdian, sehingga ketika muncul keputusan sepihak itu hatinya merasa terkoyak-koyak. Wanita itu harus menenangkan diri, berusaha bersikap positif meski dalam keadaan titik terendahnya kali ini. Tak boleh ia terbawa oleh emosi yang mungkin bisa membawa masalah ini menjadi lebih krusial.
Pelataran rumah sakit yang ramai sudah menjadi pemandangan biasa. Orang-orang berlalu-lalang karena sibuk mengurus administrasi pasien yang sakit atau menunggu obat hasil resep dokter. Ajeng menurunkan barang-barangnya di teras yang tidak terlalu ramai. Setelah membayar taksi online-nya, kakinya membawanya ke sebuah masjid yang hening. Ia menaruh kopernya di sana, lalu mengambil air wudhu.
Waktu pagi ini masih menunjukan pukul delapan lewat. Suara riuh dari arah rumah sakit hanya terdengar sayup-sayup ketika wanita itu mengucurkan air keran yang membasuh tangan dan wajahnya, serta bagian lainnya. Diambilnya mukena putih miliknya. Pikiran dan seluruh jiwanya kini terpusat pada satu titik, Yang Maha Kuasa, pemegang seluruh takdir hidupnya.
Dengan khidmat, ia memasrahkan diri, menyembah dan tunduk di hadapan Yang Maha Kuasa. Meminta belas kasih dan ampunan atas segala yang ia lakukan dalam hidupnya selama ini. Ia mengemis, sadar dirinya tidak memiliki apa-apa, kecuali karena kasih sayang-Nya. Tangisnya kembali mengalir dalam suasana yang syahdu, entah mengapa begitu terasa nikmat. Tidak pernah ia merasakan kenikmatan beribadah seperti ini dalam hidupnya, ketika justru ia berada dalam titik terendahnya. Ia merasa tersakiti, terhempas, tersungkur ketika menyaksikan anaknya, begitu juga ketika tadi Ferdian memintanya untuk menjauh, tetapi ia bisa merasakan hikmah dari ini semua. Begitu kasih sayang Allah sangat besar untuknya. Ia terlalu keras untuk diberi peringatan yang lembut, maka Allah beri ujian ini untuk dirinya yang banyak membangkang.
Teringat kembali ia pada nasihat suaminya, ketika Ramadan kemarin.
"Hidayah Allah itu sudah ada, tapi kita terlalu egois dan tidak mau menjemputnya. Apa kita mau menunggu Allah memberikan cobaan-Nya yang paling menyakitkan agar kita sadar?”
Seketika tubuhnya bergejolak, hatinya tertampar beberapa kali merasakan perih di sekujur tubuhnya. Ia berteriak dalam telapak tangannya yang meredam suaranya. Mengapa baru menyadarinya sekarang? Kemana saja ia selama ini? Bahkan ketika Ferdian menyuruhnya untuk mulai mengkaji, sibuk selalu menjadi alasan klasiknya untuk menghindar. Suaminya itu tidak protes dan masih sabar menghadapinya. Egonya terlalu keras seperti batu yang tertanam jutaan tahun di dalam lapisan bumi. Makanya, Allah tidak memberi ujian yang remeh, agar ia sadar dengan cobaan keras inilah ia bisa mengeruk manisnya iman.
Ajeng beristighfar, dan terus melafalkan itu dengan suaranya yang lirih dan berbisik. Matanya semakin merah dan membengkak. Ia tidak peduli. Ia ingin Allah mengampuni dosa-dosanya selama ini. Tangisan dan rasa penyesalan itu membuat tubuhnya lelah sehingga ia tidur di atas sajadah pagi itu.
\=\=\=\=\=
Ferdian berjalan gontai di sepanjang lorong rumah sakit. Tatapan matanya kosong, sementara pikirannya tengah berbaur antara kecemasan akan Arsene dan rasa bersalahnya terhadap apa yang diucapkannya tadi pada istrinya. Pria itu membuka pintu kamar rawat anaknya perlahan.
“Mana Ajeng?” tanya mama mertuanya ketika melihat Ferdian datang sendiri dengan wajah kusutnya.
“Aku gak tau, Ma!” jawabnya lemas.
“Kenapa? Apa yang terjadi?!” tanya mama cemas.
“Kalian bertengkar?!” tebak mama.
Ferdian hanya mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Ia yang memulai pertengkaran tadi pagi, karena meminta istrinya menjauh darinya sementara.
“Aku akan jaga Arsene, Mama istirahat saja!” ujarnya terduduk lemas di bangku samping kasur Arsene.
Mama hanya menghela nafas.
“Kalian sudah dewasa. Mama percaya kalian bisa selesaikan masalah ini baik-baik. Jangan bawa Arsene pada masalah kalian, kecelakaan itu sudah garis takdir dari Allah. Ini adalah ujian besar buat kalian berdua. Mama harap kalian bisa bijak memikirkannya,” ucap mama menasihati menantunya.
“Mama akan pulang. Semoga kalian bisa baikan. Arsene butuh dukungan kalian berdua. Jangan biarkan dia semakin menderita. Cukuplah ia sakit karena kecelakaan itu, dan bukan karena kalian. Assalamu’alaikum.”
Ferdian menjawab salam dengan hatinya. Mama mertuanya itu benar. Kecelakaan Arsene adalah takdir yang sudah digariskan Allah padanya, bahkan sebelum anak itu lahir ke dunia. Mengapa dirinya malah sibuk menyalahkan Ajeng, meski kata itu tidak pernah terlontar dari mulutnya? Benar, ia sedang marah dan kecewa, tetapi mengapa harus dilampiaskan semuanya pada istrinya? Bukankah seharusnya ia menunjuk dirinya sendiri karena meninggalkan keluarganya?
Ferdian menjambak rambutnya sendiri. Kini ia tidak tahu dimana Ajeng, apakah wanita itu akan kembali ke sini. Ia mengkhawatirkannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Speechless >.<