
Hari itu pun tiba. Ajeng membawa serta Arsene ke kantor bersamanya. Hari ini memang jadwal mengajarnya hanya ada satu mata kuliah saja di pagi hari. Jadi ia bisa membawa Arsene dan Bi Asih, tentu saja. Sementara Ferdian juga akan berada di sana sambil mengawasi anaknya. Kesibukan Ferdian memang tidak terlalu menyita waktu, meski untuk beberapa bulan ini, ia juga sering membantu ayahnya di perusahaan selain mengurusi bisnisnya sendiri.
Arsene sudah bisa berjalan meski masih tertatih-tatih dan terjatuh kemudian. Namun ia selalu bersemangat untuk bangkit lagi. Watak pekerja keras turunan mommy-nya sudah bisa terlihat dari sana. Ia pun begitu lincah dan riang, seperti daddy-nya. Ferdian harus memperhatikannya dengan esktra ketika mengantar anaknya berjalan-jalan di sekitar koridor gedung D yang suasananya lebih sepi dibandingkan gedung lain. Beberapa mahasiswa S2 yang berjalan di sana tampak gemas ketika melihat tingkah Arsene yang berjalan.
"Ngasuh Fer?" tanya sebuah suara yang dihafal oleh pria itu. Ferdian menggendong anaknya, lalu menoleh ke sumber suara.
"Bang!" ucap Ferdian pada Andre yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.
"Hai Cen, ketemu uncle lagi nih!" seru Andre menghampiri Arsene.
Andre mengambil alih Arsene dari gendongan Ferdian.
"Gimana Arsene udah bisa punya temen belum?" tanya Ferdian penasaran.
Andre tidak merespon karena ia sibuk menggelitik tubuh Arsene dengan hidungnya.
"Woy!" seru Ferdian.
Andre tertawa-tawa. "Kemarin diperiksa ke dokter, katanya positif!" jawab Andre tersenyum.
"Alhamdulillah."
"Teh Nava masih kuliah?"
"Lagi nyusun desertasi sekarang."
"Wah, harus cepet-cepet nih, kalau udah hamil nanti makin repot."
"Iya betul, makanya dia rajin penelitian. Cuma ya aku harus temenin dia terus kemana-mana."
"Iyalah bagus itu."
"Kamu kapan berangkat ke Amrik, Fer?" tanya Andre membetulkan posisi gendongannya, Arsene semakin berat saja menurutnya.
"Bulan Maret!"
"Dua bulan lagi ya?"
Ferdian mengangguk. Terlihat wajah sendunya. Andre menepuk bahu sepupunya itu.
"You can do this (kamu bisa), Fer! Emang berat ya ninggalin istri dan anak, apalagi Arsene lagi lucu-lucunya begini. Tapi demi masa depan kalian, kamu pasti bisa lewatin ini semua."
"Yes you're right. I must be strong (Iya, kamu betul. Aku harus kuat)!"
"Oh iya, aku harus balik ke Ajeng nih. Kevin mau datang kemari katanya."
"Siapa Kevin?"
"Mantan hatinya Ajeng."
"Mau apa?" tanya Andre terheran-heran.
"Ngasih undangan nikahnya. Sama mau ketemu Arsene, katanya."
"Ooh... oke deh!"
Ferdian kembali menggendong Arsene, mereka pun berjalan menuju taman fakultas dimana Ajeng sudah menungguinya di sana, di sebuah pohon rindang. Angin meniup rambut Ajeng lembut ketika Ferdian berada jauh dari sana. Seorang laki-laki tinggi menghampirinya, mereka saling berjabat tangan dan melempar senyum.
Meskipun Kevin berada di sana untuk mengantar undangan pernikahannya, entah kenapa tetap saja hati Ferdian tidak suka melihatnya. Namun ia sudah memaafkan pria itu dan akan membiarkan putranya bertemu dengannya. Ferdian memperlambat langkahnya sambil terus mengawasi pria itu dari jauh.
"Mana anak kamu Jeng?" tanya Kevin memperhatikan sekitarnya. Ia membawa kotak dengan gambar-gambar lucu yang membungkusnya. Sepertinya Kevin membawakan hadiah juga untuk Arsene.
"Tadi sama ayahnya lagi main, mungkin bentar lagi kesini."
Kevin menenggak salivanya, ia cukup terkejut dengan kabar Ajeng kalau Ferdian ternyata ada di sini juga. Ia merasa bersalah saat dulu.
"Nah itu datang!" ucap Ajeng.
Arsene berteriak riang ketika bertemu dengan mommy-nya. Seketika anak itu berteriak ingin digendong oleh ibunya.
__ADS_1
Mata Kevin dan Ferdian saling bertemu. Ferdian tersenyum tipis pada Kevin, yang juga membalas senyuman itu lebih lebar.
Kevin memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya pada Ferdian.
"Apa kabar?" sapanya.
Ferdian sebentar memperhatikan wajah pria yang ada di hadapannya. Lalu menyambut uluran tangan Kevin.
"Kabar baik," jawabnya singkat.
Ajeng menatap kedua pria di depannya dengan gugup.
"Hai Arsene!" ucap Kevin ramah pada anak yang digendong oleh Ajeng.
"Cen, kenalin ini om Kevin, teman mommy. Salam dulu!" seru Ajeng.
Kevin pun mengulurkan tangannya di depan Arsene, membuat anak itu menyambutnya dan mengecupnya..
"Om punya hadiah buat kamu, diterima ya? Semoga suka!" ucap Kevin sambil menyodorkan kotak kecil itu pada Arsene.
Ferdian mengawasinya dari samping.
"Say thank you, Cen!" seru Ajeng.
"Te tyu!" ucap Arsene singkat, ia kembali sibuk dengan kotak yang dipegangnya sekarang.
"Sayang, aku ke kantin dulu ya? Ada temen-temenku di sana!" ucap Ferdian. Ia sadar suasana di antara mereka terlalu kaku dan tegang.
"Ohh...oke, nanti aku nyusul!"
"Saya permisi dulu, Mas!" ucap Ferdian pada Kevin.
Kevin mengangguk dan tersenyum. Ferdian pun pergi dari sana. Ia berusaha percaya pada Ajeng dan Kevin.
"Sepertinya suami kamu masih benci aku ya," ucap Kevin.
"Kalau dia benci kamu, dia gak akan pergi dari sini," jawab Ajeng, ia mendudukan dirinya pada sebuah kursi dan memangku Arsene yang mulai menyobek-nyobek kerta kado.
Kevin terkekeh.
"Mana undangan kamu?" tembak Ajeng, karena pria itu tampak termenung.
"Oh iya!"
Kevin mengeluarkan sesuatu dari tas ransel yang dibawanya. Lalu menyerahkan sebuah kertas undangan berwarna hijau toska dengan list emas yang menghiasinya.
"Wow!" ucap Ajeng antusias, menerima kertas undangan itu dari tangan Kevin.
Ajeng membukanya dengan antusias. "Kevin dan Jingga, how sweet!" wanita itu melirik sekilas pada pria yang duduk di sampingnya.
"Baca yang baik dan seksama ya. soalnya resepsinya itu berbeda dari yang lain!"
"Oke! Kamu tolong pangku Arsene dulu ya, sekalian latihan gendong anak!"
Kevin terkekeh. Ajeng memberikan Arsene pada Kevin. Kevin tersenyum senang, ia membantu Arsene untuk membuka kertas kado yang sebagian masih menutupi kotak itu, meski Arsene sudah merobeknya.
"Jadi acaranya diadakan minggu depan. Tamu laki-laki dan perempuan akan dipisah. Tidak diperkenankan untuk makan sambil berdiri. Mengenakan busana yang sopan dan tidak berlebihan," ucap Ajeng membacakan catatan kecil yang ada di belakang sampul undangan tersebut.
"Awesome (Luar biasa)!"
"Kamu jangan terkejut ya pas nanti datang ke pesta resepsi! Jujur ini juga pertama kalinya buat aku dan aku gak kebayang sama sekali pestanya seperti apa. Aku cuma menyerahkan ini semua sama calon istri aku."
"Aku gak akan terkejut. Sahabatku, Karin, juga pernah cerita terkait pestanya. Justru aku antusias banget pengen hadir di pesta resepsi kamu, Kev!"
"Karin?" tanya Kevin, seperti ia pernah mendengar nama itu, tetapi tidak yakin.
"Iya, dia sahabat SMA aku. Dia sempat tinggal di rumah aku, tapi sekarang mereka udah pindah ke rumah mereka sendiri. Katanya nikah dia juga kaya gitu, terpisah antara tamu laki-laki dengan perempuan."
"Nama suaminya siapa?"
__ADS_1
"Mas Reza!"
Kevin terkejut mendengar ucapan Ajeng. Dunia begitu sempit rupanya. Ia terkekeh.
"Kenapa kamu ketawa? Kenal Karin emangnya?" tanya Ajeng terheran-heran.
"Karin itu kakak iparnya Jingga! Kamu inget pas aku bilang aku masih berusaha curi hati kakaknya?"
Ajeng mengangguk-angguk.
"Kakaknya Jingga, Reza, sempat tidak merestui hubungan kami, you know lah, aku bukan laki-laki yang sholeh, meski sekarang aku juga sering ikut pengajian tiap minggu, setidaknya untuk mengimbangi istriku nanti. Aku juga ingin jadi lebih baik."
"Oh ya? Jadi Mas Reza bakal jadi kakak ipar kamu, Kev?" Ajeng jadi tertawa-tawa.
Kevin mengangguk.
"Terus sekarang gimana? Masih gak suka sama kamu?"
"Entahlah Jeng. Tapi dia udah setuju sama pernikahan ini. Jingga adalah anak yatim, jadi pasti keputusan kakak-kakaknya sangat berpengaruh. Alhamdulillah dia masih mau terima aku yang penuh kekurangan ini."
"Syukurlah. Aku percaya, kamu bisa dapatkan yang terbaik. Semoga acaranya lancar ya, Kev! InsyaAllah kita akan datang di acara pernikahan kamu!"
"Makasih banyak Jeng!"
"Wah berarti aku bakal ketemu Karin di sana ya, aku belum pernah sih ketemu sama Jingga! Pengen lihat dong wajahnya, ada fotonya gak?" tanya Ajeng.
"Aku punya satu," ucap Kevin tersipu-sipu.
"Kok cuma satu?"
"Laki-laki itu harus menundukan pandangannya, demi menjaga kehormatan wanita yang belum halal dimilikinya. Jadi aku simpan saja satu dulu," terang Kevin. Pria itu membuka ponselnya dan membuka galeri fotonya. Ia berikan ponselnya pada Ajeng.
"Cantik banget, Kev! Masya Allah, sholeha lagi!" seru Ajeng ketika melihat wajah Jingga yang cantik berseri meski mengenakan kerudung besar, seperti Karin.
"Alhamdulillah."
Ajeng mengembalikan ponsel itu pada Kevin.
"Kamu udah berubah banyak Kev!"
"Masih banyak hal yang mesti aku pelajari, Jeng! Terutama masalah agama. Aku tahu pernikahan aku dan Jingga akan merubahku secara total. Tapi aku bersyukur."
Ajeng tersenyum, ia pun menyadari sesuatu pada dirinya. Ia belum merealisasikan permintaan suaminya ketika Ramadhan kemarin. Ia tahu, Ferdian sendiri sering menghadiri kajian-kajian keislaman ketika dirinya bekerja. Aktivitasnya selama ini membuatnya tidak bisa menyempatkan waktu untuk menghadiri kajian. Atau justru itu hanya alibinya saja untuk menghindar?
"Jeng, aku pergi lagi ya, masih banyak urusan yang harus aku selesaikan!" ucap Kevin, ia memberikan Arsene kembali pada mommy-nya.
"Iya, Kev! Semoga lancar semuanya ya?"
"Aamiin. Ditunggu ya minggu depan."
"Insya Allah!"
"Bye Arsene!" ucap Kevin melambaikan tangan pada balita itu.
"Bye bye!" ucap Arsene membalas lambaian tangan pada Kevin. Kata bye bye adalah kata yang paling mudah diucapkannya.
"See you, Kev! Makasih banyak ya undangan dan hadiah buat Arsene."
"Sama-sama. See you too!"
\=====
Like, comment, dan votenya yaa
Next apa lagi ya? Ada yang mau kasih ide?
Thank youuu
__ADS_1