Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 30


__ADS_3

Ajeng menatap cemas pada ponselnya. Ia menelepon beberapa kali pada Ferdian, namun teleponnya itu tidak terhubung.


Malam itu padahal ia sudah berada di jalan untuk kembali pulang. Ia sudah membalas pesan yang ditanyakan oleh Ferdian tadi. Tetapi ternyata pesannya tidak sampai. Ketika dihubungi tidak tersambung, ia jadi semakin cemas.


Ia membuka akun instagramnya untuk mengecek apakah Ferdian sempat mengaksesnya atau tidak. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui dirinya ditandai dalam sebuah foto yang dipos oleh rekan yang ada di sampingnya itu.


"Nov, kok kaya gini dipos sih?!" ketus Ajeng kesal.


"Aku....cuma iseng, biar kalian makin deket!" jawabnya tidak masuk alasan di logika Ajeng.


"Ini tuh bisa bikin salah paham tau!" ujar Ajeng dengan intonasi tinggi.


Ajeng menggeleng kesal dan menyadari sesuatu, jangan-jangan Ferdian telah mengetahui foto itu makanya ia marah dan mematikan hpnya. Ia mengirim pesan langsung di akun Ferdian, berharap pria itu bisa membacanya kalau ia akan tiba di kampus sekitar pukul 2 dini hari.


"Maafiin aku ya Jeng! Aku kira kamu sedang dekat sama Ardi, soalnya pas malam di hotel wajah kamu sumringah banget setelah ngobrol sama Ardi, kaya yang sedang jatuh cinta. Makanya pas tadi kalian berdua, aku foto saja," terang Novi menyesal.


"Please Nov, sebelum lihat kejadian sesuatu itu konfirmasi langsung sama yang bersangkutan. Jangan nyebarin berita yang akhirnya bikin banyak orang salah paham!" ketus Ajeng kesal.


"Iya maafin aku, ya Jeng! Aku bakal hapus postingan aku," ujar Novi lagi.


"Percuma!" jawabnya dingin, membuat Novi menunduk penuh sesal.


Ia tahu pasti akan semakin banyak gosip tentangnya setelah ini. Ia khawatir Ferdian akan merasa tidak nyaman dengan hal itu.  Ajeng menghela nafas panjang, dan berharap suaminya itu akan baik-baik saja.


\=====


"Ajeng kamu dijemput siapa?" tanya Ardi setibanya mereka di depan gerbang utama kampus.


Ajeng berdiri di menunggu di samping gerbang. Ia tampak cemas.


"Aku..., harusnya sepupu aku yang jemput! Tapi dia susah dihubungi," ujarnya berbohong sambil terus mencoba menghubungi Ferdian.


"Pulang bareng aku aja, kita searah kan?" tawar Ardi.


Ajeng sejenak bergumam dan berpikir. Sebenarnya kalau ia pulang, jarak dari kampus ke apartemennya tidak terlalu jauh, tetapi ini sudah dini hari. Ia khawatir kalau seorang diri meski menggunakan taksi online. Lagipula, ia juga belum dapat kabar apapun dari Ferdian.


"Gimana?" tanya Ardi lagi.


"Ya udah aku ikut kamu aja. Aku pulang ke rumah orang tua aja dulu," jawab Ajeng.


"Okey, yuk! Mobil aku diparkir di sana," ajak Ardi.


Ardi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil hanya mengalun merdu musik-musik lembut, membuat Ajeng yang cemas karena Ferdian, menjadi mengantuk. Ia tidak bisa menahan kantuknya lagi dan tertidur di kursi mobil di samping Ardi.


Pria di belakang kemudi memperhatikannya sesekali dan memuji dalam hati betapa cantik wanita di sampingnya itu. Ardi menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah bergaya klasik.


"Ajeng, kita udah sampai!" ujar Ardi lembut, membangunkan wanita itu.

__ADS_1


"Mmhh.... Aku ngantuk banget, Sayang!" ucapnya tiba-tiba, masih dengan mata yang terpejam.


DEG.


Hati Ardi berdegup, darahnya berdesir mendengar ucapan Ajeng. Apa tidak salah, wanita itu memanggilnya sayang?


Pria itu berusaha bersikap dan berpikir normal, tetapi tangannya tak bisa menahan untuk tidak menyentuh pipi lembut wanita itu.


"Ajeng...! Bangun!" ucapnya lembut mengusap pipinya.


"Mmh... Aku kangen banget sama kamu, Fer!" racaunya kemudian.


'Fer?' Ardi merasa kebingungan, ia melepas sentuhannya di pipi Ajeng, membuatnya menjadi normal kembali.


Ardi menepuk bahu Ajeng agak keras, agar wanita itu benar-benar bangun.


"Ajeng!" ucapnya sambil mengguncang bahunya, membuat mata wanita itu terbuka.


"Eh, maaf aku ketiduran ya?" ucap wanita itu terlihat kebingungan.


"Aku antar kamu ya sampai depan?" tawar Ardi.


"Enggak usah, Di! Aku bisa sendiri," tolaknya halus.


Tetapi pria itu malah turun untuk mengambilkannya tas dan mengantarkannya sampai pintu terbuka. Seorang satpam membukakan pintu gerbang.


"Eh, Non Ajeng!" ucap satpam itu dan menatap heran pada laki-laki yang ada di sampingnya.


"Iya Non!" seketika satpam itu langsung masuk ke dalam dan membukakan pintu dari dalam. Papa yang sedang shalat malam mendengar kejadian itu, langsung bangun dan berjalan ke luar.


"Ardi, makasih banyak ya!" ucap Ajeng berdiri di depan pintu utama rumahnya.


"Iya sama-sama! Aku pulang dulu ya?!" pamit Ardi, pria itu kemudian berjalan menuju keluar gerbang rumah Ajeng.


"Oke, hati-hati!" ucap Ajeng.


Papa yang keluar, menatap heran pria yang berada dalam cahaya temaram lampu gerbang rumahya.


"Ferdian mau kemana?" serunya, membuat Ardi menoleh.


Mata Ajeng membelalak terkejut, dan ia mendorong tubuh papanya masuk, kemudian menutup pintu.


"Apa sih kamu? Itu suami kamu mau kemana?" Tanya Papa heran.


"Em....itu bukan suami aku, Pa!"


Papa terkejut bukan main, anak perempuannya diantar oleh pria asing pada waktu dini hari begini.

__ADS_1


"Siapa itu? Jangan bilang kamu selingkuh!" ucap Papa memancing keributan.


"Astaghfirullah! Itu temen kerja aku, Pa! Aku baru pulang dari diklat, tapi karena Ferdian susah dihubungi jadinya aku ngikut temen aku," jelas Ajeng.


Papa bernafas lega.


"Papa kira kamu main di belakang Ferdian!"


"Ya enggak lah," jawab Ajeng terkekeh.


"Terus kenapa Ferdian gak bisa dihubungi?"


"Gak tau Pa, mungkin hpnya gangguan, dan aku pulang emang dadakan, jadinya dia gak tahu sama sekali," jelas Ajeng lagi.


"Ya udah, sana istirahat!" suruh Papa.


Ajeng masuk ke dalam kamar miliknya. Ia merebahkan tubuhnya yang masih kelelahan karena perjalanan malam. Pikirannya melayang memikirkan suaminya. Apakah Ferdian melihat foto tadi? tanyanya dalam hati.


\=====


Sementara malam itu, seorang pria tidak bisa tidur nyenyak. Matanya terpejam tetapi hatinya tidak.


"Lik, kok perasaan gue yakin kalau Ajeng pulang hari ini ya?" tanyanya pada teman di sampingnya yang sebenarnya sedang terpejam.Sementara malam itu, seorang pria tidak bisa tidur nyenyak. Matanya terpejam tetapi hatinya tidak.


"Mmhh....ya udah Lo samperin aja ke kampus," jawab Malik yang setengah sadar.


"Hmm... Ya udah lah gue coba cek kesana," ujar Ferdian. Ia langsung mengambil jaket dan kunci motornya.


"Gak mau ditemenin?" tanya Malik, matanya terbuka.


"Gak usahlah, deket ini. Kalau emang gak ada, gue balik lagi!"


"Udah mending nanti pagi aja Lo pastiin! Nanti gue tanya di grup kelas siapa tau ada yang punya nomor istri Lo!" Malik memberikan masukan.


"Tapi gue gak tenang, gue harus beneran cek sekarang!" ucap Ferdian membuka kunci kamarnya.


"Ya udah Lo hati-hati di jalan!"


"Oke thanks! Gue pergi dulu!" pamit Ferdian meninggalkan kawan-kawannya di kamar asrama miliknya.


Ferdian menaiki motor gedenya, dan mulai melaju menyusuri jalan kampus yang sangat sepi dan gelap. Waktu menunjukan pukul 02.35 dini hari. Lampu-lampu di jalan menyala, angin dingin menusuk kulit. Bibir Ferdian sedikit bergetar karena udara di luar terlalu dingin. Ia melewati pohon-pohon lebat yang tinggi. Meski kampusnya memang bernuansa modern akan tetapi kalau dini hari seperti ini cukup seram juga untuk keluar. Wilayah kampusnya memang cukup luas. Terlebih lagi untuk ke gedung rektorat dari daerah asramanya harus melewati hutan kecil yang memang sengaja dipelihara oleh pihak kampus sebagai tanah resapan air hujan.


Sebenarnya bukan makhluk ghaib yang dikhawatirkannya saat ini, justru ia lebih cemas dengan makhluk bernama manusia. Hutan resapan itu dikabarkan memiliki akses langsung ke wilayah masyarakat yang kurang diperhatikan oleh pihak keamanan kampus. Sehingga sering terjadi tindak kriminalitas di hutan tersebut.


Ferdian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, saat melewati hutan tersebut. Bunyi-bunyi serangga malam masih terdengar nyaring, semakin membuat suasana mencekam. Sebuah cahaya terpantul jelas dari spion kanan motor Ferdian, membuat hati pria itu semakin cemas. Namun ternyata, motor di belakangnya itu melesat sangat cepat sehingga tidak ia sadari perut sebelah kanannya terasa dingin dan perih, membuat tubuhnya lemas dan akhirnya terjerembab di atas tanah. Tubuh Ferdian dengan keras menabrak pohon, sementara motornya tergeletak jauh di belakangnya. Pria itu tidak sadarkan diri dengan darah bersimbah di bagian perutnya.


\=====

__ADS_1


Keep like, comment dan vote yaa jangan lupa


Thank youuuuu <3


__ADS_2