Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 85. Ketegangan


__ADS_3

WARNING 21++ (IMPLISIT)


Sayup-sayup suara deburan ombak yang menepi meraih sesuatu di pesisir pantai terdengar dari kamar yang hening tanpa suara, ketika dua insan kekasih sedang khusyuk menjalankan shalat isya berjamaah. Keduanya mengucap salam. Zaara meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangannya. Arsene mengusap kepala gadis itu dan mencium ubun-ubunnya. Keduanya menengadahkan tangan ke langit untuk bermunajat pada Ilahi.


Arsene membawakan sebuah mangkuk berisi salad buah yang diambilnya dari meja dapur setelah selesai dengan ibadah wajib di malam hari. Ajeng sudah menyiapkan hidangan simpel itu untuk makan malam keluarganya. Arsene menyerahkan mangkuk salad itu pada istrinya yang telah berganti pakaian dengan sebuah gaun tidur anggun berwarna salmon. Aksen gelombang cantik yang menghiasi lengan serta rok semakin membuatnya terlihat imut dan cantik. Gadis itu menguncir rambut panjangnya hingga ke atas puncak kepalanya. Wajahnya terlihat semakin cerah dan berseri, membuat pria yang baru memasuki kamarnya terpana.


“Cantik banget!” puji Arsene melihat penampilan istrinya malam itu, apalagi wangi parfum menguar lembut dari tubuh gadis itu membuat rasa rindu dan hasrat yang terpendam selama ini merangkak naik. Hanya saja ia harus bersabar sebentar untuk menghabiskan hidangan makan malam mereka dahulu.


Televisi datar yang berada di dalam kamar menyala menampilkan acara hiburan malam. Keduanya duduk di sebuah kursi panjang sambil menikmati salad buah dalam satu mangkuk itu. Tawa pecah saat keduanya menonton acara dari stasiun televisi swasta Korea Selatan berjudul ‘I Can See Your Voice’, ketika mendengar suara sumbang salah satu peserta yang dianggap menjadi pemenang dan memiliki suara bagus oleh para tamu acara. Tebakan para tamu yang adalah selebriti tampaknya salah besar, sehingga mereka harus bernyanyi bersama dengan pemilik suara sumbang.


Arsene tidak bisa menghentikan tawanya ketika mendengar suara sumbang dari peserta acara yang sama sekali tidak pas dengan nada yang berharmoni.


“Lucu parah!” ungkapnya tertawa-tawa sambil bertepuk tangan.


Zaara hanya menggeleng melihat tingkah suaminya itu. Humornya benar-benar receh.


“Habisin dulu!” ucap Zaara menyuapi suaminya itu potongan buah segar berbalut mayones yang tersisa beberapa buah lagi.


“Hati-hati keselek, ketawanya ditunda dulu!” katanya lagi.


Benar saja tidak lama, Arsene terbatuk-batuk karena tersedak sebuah apel karena tidak menelan dengan benar. Zaara langsung menyodorkannya segelas air minum.


“Tuh dibilang apa!”


“Hihi maaf, gak kuat tahan ketawa!” jawab Arsene setelah meneguk air putih dari gelas belimbingnya.


Salad buah sudah habis, begitu pula dengan acara hiburan tadi. Arsene mengembalikan mangkuk itu ke dapur yang dicucinya langsung. Ruang makan dan ruang santai sudah sepi. Ia kembali ke dalam kamarnya, karena tampaknya keluarganya sudah beristirahat semua. Zaara terlihat sedang merapikan kasur, lalu menaiki dan menyandarkan tubuhnya di atas dipan kasur yang sudah diganjalnya dengan bantal empuk. Arsene bergabung di sebelahnya setelah televisi sudah dimatikannya.


“Kamu capek, Sayang?” tanya Arsene yang menengkurapkan tubuh di samping istrinya. Wajahnya terlihat berbinar dengan harap-harap cemas.


“Lumayan!” Zaara menjawabnya singkat, entah mengapa jantungnya kini berdebar hebat, sama persis ketika dulu pertama kalinya mereka tidur bersama.

__ADS_1


“Ngantuk?” tanya Arsene lagi.


“Mmh… se-sedikit!” ucapnya pelan. Pipinya terasa panas, apalagi melihat wajah tampan suaminya yang segar.


Zaara tertunduk sambil memainkan roknya, terlihat grogi. Arsene yang menyadari hal itu tentu saja jadi gemas untuk menggodanya. Pria yang mengenakan kaos oblong putihnya itu bangkit dan duduk di sebelah istrinya. Sengaja menempelkan lengannya dengan lengan Zaara, sehingga kulit mereka saling bersentuhan. Desiran tubuh bergetar hebat menyentak jantung mendorong hawa panas sehingga terasa di sekujur tubuh. Arsene memainkan jari di atas pahanya. Kali ini kekikukan menyapanya juga.


"Aku mau tanya, boleh?" tanya Arsene sambil menggaruk-garukkan jarinya di pelipisnya.


Zaara menoleh ke arahnya, "tanya apa?"


Jantung Arsene kembali berpacu dengan cepat.


“Apa kamu udah baca terkait hubungan suami istri?” tanya Arsene ragu-ragu.


Zaara memutar bola matanya ke atas, lalu ke kanan.


“Mmh… udah tapi sedikit!” ucapnya pelan sekali.


Arsene jadi semakin gugup saja, kali ini ia memainkan kakinya untuk digoyang-goyangnya di atas kasur. Suasana hening membuat kedua insan muda itu semakin canggung saja. Hanya ada suara nyanyian ombak yang bersahutan dengan angin malam mengiringi malam yang terasa panas itu.


Zaara mengeratkan cengkramannya di kain roknya. Kepalanya menunduk lalu mengangguk.


Namun, Arsene tidak memperhatikan gerak tubuh jawaban dari istrinya itu. Ia masih menunggu jawabannya, kaki dan tangannya terus digoyangkannya karena cemas.


"Jadi gimana?" tanyanya lagi.


"I-iya, aku siap!" jawab Zaara memberanikan diri.


Getaran hebat menyapa keduanya. Arsene menggenggam tangan kiri istrinya dan menuntunnya agar gadis itu duduk di atas pahanya, posisi yang selalu membuatnya terlena ketika menatap wajah cantik istrinya.


Untuk sekian kalinya, anggota tubuh milik perempuan ramping itu bergemetar hebat, nafasnya menyesuaikan ritme jantungnya yang berpacu cepat. Zaara menenggak saliva yang tertahan di kerongkongan. Sementara Arsene menatapnya lembut dan teduh, meski sama-sama gugup.

__ADS_1


“Bilang kalau kamu gak nyaman, janji?!” ucap Arsene menangkup pipi istrinya dengan kedua telapak tangannya sambil terus menatap gadis di depannya. Zaara mengangguk pelan sambil memejamkan matanya. Arsene melafalkan doa sakral yang sudah dihafalnya berbulan-bulan lalu di dalam hati ketika kening mereka saling beradu.


Arsene mengecup lekat kening Zaara lalu mengecup lembut pucuk hidung, beralih ke dua pipi bulatnya. Zaara hanya terpejam dengan ritme detak jantung yang tak mampu ia kuasai, sambil merasakan sentuhan-sentuhan lembut di wajahnya. Sebuah kecupan kecil mendarat di bibirnya beberapa kali yang membuatnya tak bisa merapatkan kembali dua bibirnya, sehingga pria di depannya bisa lebih leluasa bergerak aktif memulai permainan pertamanya malam ini.


Arsene benar-benar memperlakukan istrinya dengan lembut dan tidak tergesa-gesa, meskipun dari nafasnya terdengar memburu seperti deru mesin pesawat terbang yang baru saja mengudara ke langit.


Arsene menarik halus tengkuk leher istrinya, ia mulai terbuai dengan suasana. Getaran asmara mengalun lembut dalam tutur bahasa tubuhnya. Dirapatkannya tubuh Zaara dengan tubuhnya. Tangannya mulai bergerak aktif menyusuri barang berharga tubuh gadisnya. Bibirnya turun mencicipi bagian yang lain, membuat tanda cinta yang tak bisa lagi dielak gadis itu terdengar dari desahan yang kuat. Pria muda itu semakin liar meskipun tetap berusaha untuk menguasai akal sehatnya dan tidak terdorong oleh nafsu yang sudah tertanam.


Pusat tubuhnya sudah meminta haknya, hanya saja ia harus lebih bersabar. Permainan pertamanya itu ternyata tidak mudah, apalagi ia harus membuat gadisnya bisa rileks dengan berbagai macam sentuhan cinta yang ia berikan. Kini sudah tidak ada penghalang lagi di antara mereka berdua.


“Bilang kalau sakit ya?” ucap Arsene lirih dengan nafas menderu dan keringat yang sudah berpeluh. Zaara mengangguk, tubuhnya terlalu tegang dan kaku meski ia pun menikmati sentuhan lembut suaminya.


Pria itu mulai mencoba. Hanya saja ternyata tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Apalagi tubuh bagian bawah istrinya itu gemetaran hebat, membuat ia tak bisa mengakses pintu harta karun. Ia sudah berusaha membuat istrinya tenang dan santai, tetapi tetap saja tidak bisa. Pria muda itu mulai dilanda frustrasi. Apalagi kelelahan sudah melandanya. Posisi itu terlalu menyulitkannya untuk menentukan letak yang pas. Kepalanya terasa berat dan panas seolah akan meledak. Ia berusaha menahan geramnya khawatir istrinya itu merasa ketakutan. Ia tidak ingin menodai malam ini menjadi kenangan yang buruk. Beberapa menit berlalu, ia terus berusaha dan masih saja kesulitan. Arsene menarik kasar rambut depannya seraya menahan nafas, gusar.


Akhirnya, pria itu menyerah karena lelah. Tubuhnya terlalu letih dan tidak bisa melanjutkan lagi permainannya, meski kepalanya sudah penat karena hasratnya tidak terpenuhi. Arsene menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya yang melihat ke arahnya dengan terheran-heran. Nafasnya terengah-engah dengan dada yang naik turun.


Zaara menggigit bibir bawahnya, cemas. Ia merasa bersalah, meskipun masih tidak tahu apa yang terjadi, mengapa suaminya itu malah ambruk di sebelahnya. Tak ada satu katapun terucap oleh pria yang memejamkan matanya.


“Abang…, kenapa?” tanya Zaara kebingungan. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh suaminya.


Mata Arsene terbuka, menatapnya sayu dan lemah. Arsene menggeleng, kemudian terpejam lagi.


Zaara mengelus pipi suaminya itu yang terlihat pucat pasi karena kelelahan, lalu ikut tertidur di sebelahnya karena tubuhnya pun ternyata terlalu lelah.


\======


>.<


Bersambung...


Tinggalkan komentar kamu yaa

__ADS_1


Jangan lupa vote


Klik LIKE


__ADS_2