Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 66


__ADS_3

Ajeng berjalan menghampiri suaminya. Karena sejak tadi ia memanggil namanya, Ferdian tidak merespon saja.


"Fer?" panggil Ajeng masuk ke dalam kamarnya.


Ajeng menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tubuh suaminya yang berbaring di atas kasur dengan mata terpejam. Ternyata suaminya itu sedang tidur. Apa ia sangat lelah jadi tidur lebih cepat malam ini? Tanya Ajeng dalam hatinya.


Ajeng jadi tidak tega membangunkan suaminya itu. Ia sejenak melupakan perihal es krimnya. Ia kembali ke dapur dan mengupas buah-buahan.


Setelah menyadari istrinya tidak berada dalam kamar, Ferdian beranjak dari tidurnya. Ia bisa bernafas lega, meski sedikit. Ia hanya pura-pura tertidur, khawatir kalau istrinya itu akan marah-marah karena ia lupa membeli eskrimnya. Tetapi memang sebaiknya dia tidur saja dulu. Ferdian memasang alarm pukul 21.30 agar ia bisa terbangun untuk sholat isya. Ia tahu jam segitu istrinya pasti sudah tertidur pulas. Ferdian kali ini benar-benar terlelap dalam tidurnya.


Bunyi alarm terdengar keras di samping tubuh Ferdian. Ferdian langsung terbangun dan mematikan alarm yang sudah dipasangnya tadi. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya di kasur, matanya terpejam lagi.


"Fer, bangun! Kamu belum sholat lho!" ucap Ajeng yang berada di sampingnya.


Ferdian langsung terperanjat bangun. Ia menoleh pada istrinya yang masih asyik membaca sebuah novel. Tiba-tiba jantungnya jadi berasa tidak karuan. Ia kira istrinya sudah tidur seperti biasa, tetapi malam ini belum.


"Kamu belum tidur, Sayang?" tanya Ferdian mengusap wajahnya.


"Belum! Aku malah keasyikan baca novel," jawab Ajeng yang matanya tetap tertuju pada bacaannya.


"Ayo cepet tidur, kamu gak boleh kekurangan tidur!" perintah Ferdian.


"Iya bentar lagi! Udah sana cepet sholat, aku tidur bareng kamu!"


Ferdian menghela nafas. Ia berharap Ajeng tidak menyinggung soal es krim lagi. Ferdian pun bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan sholat isya yang tertunda.


"Fer, kamu lupa gak bawa es krim ya?" tanya Ajeng selepas Ferdian selesai menunaikan kewajibannya.


Ferdian menenggak salivanya. Istrinya memang penagih janji. Ia hanya menyengir mendengar pertanyaan istrinya.


Ajeng mendeliknya kesal. Ia menutup novelnya, mematikan lampu, dan menutupi tubuhnya dengan selimut, tanpa berkata apa-apa lagi.


Ferdian menatapnya cemas. Ia langsung merangkul tubuh istrinya dari belakang.


"Maafin aku ya, Sayang? Aku benar-benar lupa! Aku buru-buru pulang biar pas maghrib udah ada di rumah!" ujar Ferdian lembut.


Namun tidak ada jawaban dari istrinya. Ferdian berusaha membalikan tubuh istrinya.


"Maafin gak?" tanya Ferdian menatap istrinya yang belum terpejam.


"Hmm..."


"Besok aku beliin ya!" ucap Ferdian.


"Kamu harus tau tentang perempuan, Fer! Jangan pernah janjikan sesuatu sama perempuan. Karena sekalinya bikin janji dan kamu lupa, itu akan menjatuhkan harapannya. Lebih baik kasih kejutan tanpa pemberitahuan, sekecil apapun itu, perempuan bakal senang menerimanya," ucap Ajeng memainkan rambut depan suaminya.


Ferdian tersenyum lebar, "Baiklah kalau begitu!" ucapnya sambil mengecup lekat kening istrinya.


\=====


Sementara itu di tempat lain, Nava menatap ponselnya gugup. Ia hendak menelepon Gerry malam itu untuk menanyakan perihal Andre yang ditemuinya tadi di kampus. Hanya saja hatinya masih merasa ragu-ragu. Namun ia memutuskan untuk benar-benar menghubungi Gerry.


"Halo Ger?" tanya Nava di telepon.


"Kenapa Va? Tumben kamu telepon, biasanya anti banget!" tanya Gerry yang tahu sekali kebiasaan temannya yang seorang introvert itu.


"Andre, Ger!"


"Kenapa Andre?" tanya Gerry penasaran.


"Apa dia udah nikah?" tanya Nava polos.


Pertanyaan itu sontak membuat Gerry tertawa-tawa. Nava mengerutkan wajahnya.


"Kenapa kamu tanya itu?" tanya Gerry menyelesaikan tawanya.


"Umm...hari ini aku lihat dia!" jawab Nava.


"Benaran?"


"Iya, kita ketemu dong!"


"Wow, hebat!"


"Jawab pertanyaan aku, Ger!" seru Nava panik.


"Kalau udah kenapa?" tanya Gerry ingin menguji wanita itu.


 


Nava merobohkan tubuhnya di kasur apartemennya. Bukannya menjawab pertanyaan Gerry, ia malah membenamkan kepalanya di bawah bantal. Sementara teleponnya itu masih tersambung.


"Va, inget lagi roaming woy! Pulsa kamu nanti habis!" ujar Gerry yang mengingatkan kalau dirinya sedang berada di Singapura.


"Istrinya lagi hamil!" teriak Nava, membuat Gerry sedikit menjauhkan telinga dari ponselnya.


Gerry tertawa lagi. Ia tidak mengerti mengapa temannya sampai berpikiran seperti itu.


"Bagus dong! Jadi kamu bisa nikah sama aku!" ucap Gerry tanpa beban, yang membuat wanita itu semakin pusing dibuatnya.


"Capek ngomong sama kamu, Ger!" ujar Nava kesal dan langsung menutup teleponnya.


Gerry terkejut bukan main. Ia keliru, ternyata temannya itu tidak bisa diajak bercanda. Nava benar-benar serius kali ini. Ia mencoba menghubungi nomor Nava kembali, namun wanita itu tidak mengangkat teleponnya. Ia hanya bisa menghela nafas dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu, Nava lebih memilih untuk berpikir sehat dan merenung. Ia baru saja bertemu dengan pria itu, seharusnya ia mengajaknya untuk berbincang dulu sebelum menyimpulkan sesuatu yang bahkan tidak diketahuinya sama sekali. Bodoh sekali, rutuknya untuk diri sendiri.


Nava kembali menghubungi Gerry. Namun bukan untuk menanyakan status Andre.


"Aku bisa jelasin, Va!" ujar Gerry setelah mengangkat telepon dari Nava.


"Aku minta nomor Andre, kamu punya kan?" tanya Nava tanpa basa-basi.


"Iya, aku punya!" jawab Gerry.


"Cepet kirim ke whatsapp aku ya, thanks!" ucap Nava datar dan langsung menutup kembali teleponnya.


Gerry menggeleng-gelengkan kepala saja. Ia langsung mengirim nomor milik Andre pada Nava.


[Go, fight, win!] ketik Gerry setelah mengirim nomor Andre di chat.


[Gerry dodol!] balas Nava.


Dengan perasaan cemas kini Nava berpikir haruskah ia menghubungi Andre malam ini atau besok pagi atau justru minggu depan saja. Ia harus memberanikan diri seperti ketika ia mengutarakan perasaannya dulu meski hanya lewat email.


Nava mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Ia menekan nomor itu di ponselnya.

__ADS_1


Sambungan itu terhubung. Satu kali, dua kali, belum juga diangkat pemilik nomor.


"Halo?" sapa suara di seberang, membuat jantung wanita itu berdegup dua sampai tiga kali lebih kencang.


"Halo dengan siapa ini?" tanya pria itu, bahkan suaranya memanglah milik Andre yang tidak pernah berubah sejak hampir delapan tahun lalu.


"Halo," ucap Nava pelan, memberanikan dirinya.


"Maaf, dengan siapa saya bicara?" tanya Andre lembut.


"Ah, maaf sepertinya salah sambung," ucap Nava beralasan, ia gugup sekali sebenarnya.


"Anda cari siapa ya?"


"Cari..., um..., cari Mister...,"


Andre masih terus mendengarkan dengan sabar, meski sebenarnya ia tidak tahu apakah sambungan teleponnya memang benar untuknya atau bukan.


"Cari Mister Real Gombal," ucap Nava mengernyitkan sebelah alisnya.


DEG.


Seketika jantung Andre melompat. Ia hafal betul julukan itu adalah miliknya, pemberian dari Nava.


"Nava?! Is that you (Apakah itu kamu)?" tanya Andre gugup.


Lidah Nava membisu dan tak sanggup berkata-kata.


"Nava?! Jawab aku!" seru Andre.


"I-iya, ini aku, Navarina Aurella, Mister!" ucap Nava kaku.


Andre merasa lega sekaligus gugup di saat yang bersamaan. Ia penasaran kenapa wanita itu bisa menghubunginya, mungkin ia sudah sadar kalau dosennya itu adalah sahabatnya waktu SMA dulu.


"Oh God! There you are (Ya Tuhan, kamu disana)! Jadi kamu benaran mahasiswaku yang tadi terlambat ya?" tanya Andre meyakinkan dirinya sendiri.


"I-iya," jawab Nava lagi-lagi kaku.


Andre tersenyum lega. Ia merasa bahagia sekali.


"Maaf, tadi pagi aku sama sekali gak sadar kalau itu kamu, Dre!" ungkap Nava dengan ragu-ragu.


"Gak masalah! Wajar kok, kita udah lama banget gak ketemu!"


Lalu keduanya terdiam, suasana telepon pun hening.


"Nava...," panggil Andre memastikan kalau wanita itu masih tersambung dengan telepon.


"Iya?"


"Bisa kita ngobrol lebih santai atau ketemuan maksudnya, di luar kampus tentunya!" ucap Andre terkekeh.


Nava tersenyum.


"Boleh, kapan?"


"Kapan kamu kosong?" tanya Andre.


"Aku kira, kamu pasti lebih sibuk!" jawab Nava.


"Nah kan, ya udah, kita bisa ketemuan Sabtu ini, bisa?"


"Boleh, nanti aku hubungi lagi ya, Va?"


"Oke!"


"Oke kalau gitu aku pamit dulu ya, Dre?" izin Nava, karena waktu juga sudah menunjukan pukul 21.57 wib.


"Va..." panggil Andre.


"Kenapa?"


"Thanks ya udah hubungi aku," ucap Andre.


"Sama-sama," balas Nava.


"Good night!"


"Nite!"


Nava menjatuhkan tubuhnya di kasur. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Namun hatinya kini sedang berbunga-bunga. Sejenak ia berpikir, kalau saja Andre telah beristri mungkin ia tidak akan mengajaknya ketemuan hari Sabtu nanti. Betulkan?


\======


Pagi itu, langit cukup cerah. Angin pagi berhembus lembut mengantarkan sang daun rapuh bersandar di atas tanah. Andre berniat menemui kawan lamanya, Nava, yang kini menjadi mahasiswanya di kampus. Karena sebenarnya mereka tinggal di lingkungan yang tidak jauh dari kampus, jadi mereka hanya bertemu di Kafe Roxie saja.


Nava yang sudah duduk di salah satu sofa di pojok kafe lantai dua, terlihat gugup dan tegang. Beberapa kali ia menghela nafas dan menghembuskannya panjang, untuk membuat dirinya relaks. Tak lama kemudian, Andre, yang mengenakan setelan kaos kemeja casual, muncul dari tangga. Ia mengedarkan pandangan mencari sosok yang akan ditemuinya. Kemudian melangkahkan kakinya setelah mengetahui sosok wanita itu ada di sana.


"Hey, udah lama?" sapa Andre mengejutkan Nava dari belakang.


Nava langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia mengulurkan tangannya.


"Apa kabar, Dre?" tanyanya ramah tapi terasa canggung.


Andre menyambut uluran tangannya, "Baik, Va! Kamu?"


"Aku juga baik," jawab Nava gugup dengan senyuman tipis.


Keduanya kemudian duduk di sofa.


 


"Selama ini kamu sibuk apa aja Va?" tanya Andre membuka percakapan.


"Um...aku jadi penulis, Dre!" jawab Nava.


"Oh wow, jadi cita-cita kamu udah kesampaian?"


Nava tersenyum mengangguk.


 


"Udah berapa karya yang udah terbit, Va?"


"Lima novel, Dre!"

__ADS_1


"Wow, keren!"


"Ini novel terbaru aku, buat kamu!" ucap Nava menyodorkan sebuah buku, membuat Andre antusias.


"Thanks, Va!"


"Dan ini juga, novel pertama aku. Aku kira kamu harus baca, karena ini tentang kisah kita selama SMA!" Nava menyodorkan satu buku lagi pada Andre.


"Woah, benaran Va? Ini buat aku?!" tanya Andre tidak percaya.


 


 


Nava tesenyum, "Iya buat kamu! Itung-itung balasan hadiah yang kamu kirim waktu itu!" ujar Nava.


"Haha, padahal gak usah dibalas juga gak apa-apa! Tagihan dulu kan bercanda aja!" ujar Andre mengingat ia pernah memberikan sebuah kotak berisi bermacam-macam souvenir dari London.


"Gak apa-apa Dre. Kamu mesti baca karya aku, udah janji kan dulu?" ucap Nava menagih janji Andre dulu ketika SMA. Karena Nava memang bercita-cita menjadi penulis, Andre berjanji akan membaca karya-karyanya.


"Siap deh!"


"Jangan lupa kasih aku masukan dan kritik ya!" ucap Nava.


"Sipp!"


Andre menaruh dua novel pemberian Nava di sampingnya.


 


"Eh iya, kita belum pesan apa-apa lho?!" ujar Andre.


"Oh iya, kamu mau pesan apa?"


"Aku pesan tiramisu layer cake sama cappucino float aja!" jawab Andre.


"Oke!" Nava memanggil pelayan untuk mencatatkan pesanan keduanya.


 


Keduanya kemudian berbincang tentang kehidupan mereka selama ini. Meski sedikit terasa canggung, namun mereka masih bisa mengakrabkan diri. Apalagi ketika keduanya bercerita tentang masa-masa SMA mereka dan raihan yang mereka peroleh saat ini. Keduanya sama-sama bisa dikatakan meraih impian yang mereka cita-citakan dulu.


"Kamu udah nikah ya Dre?" tanya Nava memberanikan diri. Hal itu sontak membuat mata Andre terbelalak terkejut.


"Kenapa kamu tanya itu, Va?" tanya Andre penasaran.


"Um...nebak aja!" ucapnya tak mau mengambil resiko malu.


"Belum!" jawab Andre jelas dan singkat, kali ini gantian Nava yang terkejut.


"Terus yang kemarin pulang bareng sama kamu itu siapa? Yang lagi hamil?" tanya Nava penasaran.


"Maksud kamu Ajeng? Itu temen dosen di kampus, istrinya sepupu. Kebetulan sepupu aku pulang lebih sore, jadi dia minta tolong aku buat antarkan istrinya pulang," jawab Andre.


"Oohh..." entah kenapa hati Nava terasa lega sekali.


"Kamu lihat aku pas pulang?"


"Hehe, iya, aku kira itu istri kamu lagi hamil, soalnya keliatan akrab banget!" jawab Nava kikuk.


Andre tersenyum saja mendengar alasan Nava. Dalam hatinya ia senang, ternyata Nava masih menaruh perhatian padanya.


 


 


"Kamu sendiri, belum ada pasangan gitu?" kali ini Andre yang bertanya.


"Aku terlalu sibuk di dunia kepenulisan, jadi malah terlarut sendiri di dalam cerita!" jawab Nava terkekeh.


"Awas nanti kamu nyasar di dunia kamu sendiri lho, terus gak sadar tiba-tiba jadi perawan tua!" ujar Andre bergurau.


"Ish, jahatnya! Enggaklah, makanya kuliah lagi biar agak waras lagi ini otaknya! Haha!"


"Haha, bercanda doang!" ucap Andre tertawa.


"Ah kamu sendiri juga," ucap Nava mencebik. "Sibuk kuliah sampai S3, nungguin sampai rambut habis ya, Dre?"


"Haha enggaklah!"


"Terus kapan eksekusi?" tanya Nava ingin tahu.


"Kapan ya? Maunya kapan?" tanya Andre, membuat wanita itu malah jadi berdebar mendengar pertanyaan Andre.


"Ya...i-i-tu terserah kamu lah," ucap Nava kikuk menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Andre tertawa-tawa melihat wanita di hadapannya yang terlihat grogi.


 


"Va, coba deh bikin cerita tentang perjodohan, kaya kisah sepupuku itu Ferdian sama Ajeng. Lucu kayanya!" ucap Andre mengingat cerita Ajeng tentang perjodohannya dengan sepupunya itu.


"Oh ya? Cerita perjodohan emang lagi hits banget, nih!"


"Iya, kayanya emang menarik dan pasar pembacanya juga banyak," ujar Andre.


"Wah, kayanya kamu harus kenalin aku sama siapa tadi namanya?"


"Ajeng! Iya, itu dosen di kampus kita juga. Cuma mungkin bentar lagi cuti karena mau lahiran," jawab Andre.


"Boleh deh, lain kali kenalin ya?!" pinta Nava.


"Pastinya!" jawab Andre tersenyum.


 


Tak terasa matahari telah naik. Percakapan yang cukup panjang telah usai di antara keduanya yang telah terpisah jarak dan waktu. Namun kini keduanya telah bertemu, entah benang apa yang akan mereka rajut nantinya.


\=====


Like, Vote & Commentnya yuk


Makasiiiih ^^


 

__ADS_1


 


__ADS_2