Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 15. Gelap


__ADS_3

Telepon Karin masih tersambung pada putra pertama sahabatnya itu.


“Ya udah makasih ya, Sen! Tante dan Om Reza mungkin bakal cari ke sekolah langsung!” ucap Karin, lalu berpamitan dan menutup teleponnya.


Perasaan Arsene tidak enak. Pikirannya berkecamuk dan ikut cemas. Pasalnya gadis itu terlihat baik-baik saja di sekolah tadi. Ia memang melihatnya sebelum sholat ashar tadi terlihat berbincang akrab dengan teman rohisnya kemudian masuk menuju tempat wudhu. Setelah itu ia tidak melihatnya lagi, kecuali tasnya yang masih berada di tempat duduknya.


Pikiran Arsene terganggu, ia tidak mungkin lagi bisa belajar atau memilih tidur. Sosok Zaara sudah memasuki benaknya sejak awal mereka bertemu, meskipun ia menilai Zaara cukup aneh. Tetapi perubahan sikap Zaara yang melunak padanya, membuat Arsene menaruh perhatian padanya.


Diambil jaket tebal hitam miliknya, lalu disambarnya kunci motor. Arsene meminta izin pada kakeknya untuk mengunjungi sekolah, karena temannya hilang. Ia tidak bisa berbohong pada kakeknya itu, sehingga Kakek Jaya hanya berpesan untuk hati-hati padanya.


Arsene memacu motornya, membelah jalanan yang terasa lengang di malam hari. Angin berhembus kuas menerpa tubuhnya. Pikirannya cukup kalut, hanya saja ia tetap berpikir positif. Ia tahu Zaara tidak memiliki banyak teman dekat di sekolahnya, ia juga tidak kenal siapa saja teman dekat Zaara. Tetapi, ada kecurigaan yang muncul di benaknya saat itu. Ia baru menyadarinya.


Saat sehabis Arsene berkumpul dengan Ricky dan kawan-kawannya, tidak sengaja Arsene melihat Zaara tengah berhadapan dengan seorang siswa perempuan dari kelas lain yang memasang ekspresi wajah mengancam. Zaara menanggapinya dengan senyuman saja, lalu pergi masuk ke dalam kelas. Arsene tidak pernah lihat dan tidak juga hafal dengan wajah siswi yang berambut panjang lurus itu.


Motor hitam besar itu tiba di depan gerbang. Ia mengklakson motornya, agar satpam yang berjaga mendengarnya. Sepertinya Tante Karin dan Om Reza belum tiba di sana. Ia berharap bisa menemukan Zaara di sekolah.


Seorang pria paruh baya berseragam satpam berlari tegopoh-gopoh mendengar suara klakson motor malam itu. Sambil membawa pentungan, ia menghampiri gerbang dan membukanya.


“Siapa kamu?” tanyanya garang.


“Saya murid sini, Pak!” ucap Arsene membuka helmnya. Pak Satpam mengenal wajahnya karena Arsene sering memarkirkan motor di sekolah.


“Mau apa kamu kesini?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Ada temen saya yang hilang, saya mau cari di sini. Tapi Bapak jangan kasih tau siapa-siapa dulu ya, saya mau mastiin aja!” terang Arsene membuat Satpam curiga.


“Benaran itu? Siswa kelas berapa?”


“Tadi saya dapat telepon dari orangtuanya, siswa kelas 12 IPA 5, Pak! Izinin saya masuk!” pintanya.


“Ya udah, nanti saya bantu cari!” ujarnya langsung membukakan sedikit pintu gerbang sekolah.


Arsene pun masuk dan memarkirkan motornya di samping pos satpam.


“Kapan hilangnya?” tanya Pak Satpam lagi.


“Kayanya dari sore, Pak! Dia teman sebangku saya. Tadi sore saya lihat tasnya masih di kelas, jadi saya yakin kalau dia pasti masih ada di sini.”


“Oohh... ya udah kita masuk!”


Arsene segera mengenyahkan pikiran negatifnya.


Sebuah klakson mobil terdengar sayup-sayup,  itu pasti Karin dan Reza yang datang. Arsene meminta Pak Satpam untuk menghampiri dan menenangkan mereka, serta tidak memberitahu keberadaannya di sini. Sementara itu, Arsene melanjutkan pencariannya menuju masjid, tempat yang paling sering Zaara kunjungi setelah kelasnya.


Keberadaan masjid kecil itu tidak pernah dikunci oleh pihak keamanan, karena memang tidak ada barang berharga di sana kecuali kotak infak yang biasanya selalu dikelola oleh pengurus masjid setiap harinya. Masjid berwarna toska muda yang dikelilingi oleh kolam ikan itu tampak gelap, karena semua lampu padam. Arsene melangkahkan kakinya di teras masjid yang terasa dingin, lalu mulai masuk ke dalamnya. Ia menyalakan lampu dan memeriksa. Mulai dari area ibadah, ruang sekretariat khusus akhwat dan ikhwan, toilet dan tempat wudhu. Tetapi sosok Zaara tidak ada di sana.


“Zaara kamu dimana?” ucap Arsene mulai panik sambil keluar dari masjid yang kondisinya sudah kembali lagi sebelum ia tiba.

__ADS_1


Karena Pak Satpam tidak berada bersamanya, ia jadi harus menyalakan lampu senter ponselnya untuk memeriksa ruangan kelas, siapa tahu Zaara memang disekap seseorang. Entah mengapa intuisinya menyuruh Arsene untuk menyusuri lorong gelap nan pekat di belakang masjid. Itu adalah lorong menuju pendopo seni, tempat yang biasa ia kunjungi untuk berkumpul bersama Ricky. Hatinya was-was, tetapi ia harus mencobanya.


Ia memegang kuat ponsel yang sudah dinyalakan lampu senternya. Seperti film horor saja, lorong itu sebenarnya tidak terlalu panjang tetapi entah mengapa terasa lebih panjang dan tidak ada ujungnya. Temboknya digambar mural oleh para siswa kesenian dengan banyak gambar aneh yang ia tidak mengerti apa bentuknya.


Pendopo kesenian mulai terlihat. Ia menyoroti jalan kecil menuju pendopo, lalu tiba di sebuah tangga berundak pendek. Pelan-pelan ia menyoroti benda-benda yang ada di sana. Ada pahatan patung hewan, makhluk-makhluk fantasi yang aneh, serta lukisan-lukisan yang tampaknya terlihat cukup seram jika dilihat dengan situasi dan kondisi ini.


Begitu hening dan sepi, hanya terdengar desiran dedaunan yang tertiup angin malam, serta para serangga yang bernyanyi. Sehingga seolah-olah angin berbisik pelan di telinganya, membuat bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin menusuk hingga masuk ke dalam tulang. Ia harus berani.


Tidak ada yang mencurigakan di pendopo. Ruangan itu tampak sama seperti terakhir kali ia mengunjunginya. Tata letak barangnya pun sama dan tidak berubah.


Sorot lampu senter terpantul mengenai wajahnya, ketika ia berbelok dan berhadapan dengan sebuah kaca bening di sebuah bangunan kecil di samping pendopo. Ia teringat penjelasan Ricky. Bangunan itu sudah tidak terpakai lama, meskipun para siswa masih menggunakannya sebagai tempat penyimpanan barang seni.


Arsene mendekati jendela itu perlahan-lahan masih dengan kewas-wasan di hatinya. Tiba-tiba jantungnya melompat tinggi ketika melihat sebuah benda mengerikan diiringi sebuah tangisan menyayat.


DEG.


\=\=\=\=\=


Apa yang Arsene lihat ya?


Bersambung dulu yaaa :D


Ayooo like dan commentnya dong

__ADS_1


Vote dan Tips yang banyak juga yaa


Hihihihihi


__ADS_2