Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 65


__ADS_3

Ajeng baru saja mengelus-elus pipinya yang merona akibat ulah suaminya yang mengecupnya tiba-tiba.


"Jangan mesra-mesraan di kampus gitu dong!" ucap seseorang, membuat Ajeng menoleh ke belakang.


"Eh, Pak Julian!" ucap Ajeng tersipu-sipu karena terciduk seorang dosen berusia 40 tahun.


"Haha! Kalian itu lucu banget! Bikin orang yang LDR kaya saya jadi baper, apalagi yang jomblo tuh!" ucap Pak Julian terkekeh.


Wanita yang mengenakan dress bermotif bunga-bunga vintage itu hanya menyengir malu saja.


"Saya masuk kelas dulu ya, Pak?!" pamit Ajeng yang kemudian masuk ke dalam kelas ajarnya yang berisi mahasiswa semester lima.


\=====


Ponsel Ajeng berdering tepat setelah ia selesai mengajar. Mahasiswa-mahasiswa telah keluar dari kelasnya. Ia mengangkat telepon.


 


"Halo?" sapa Ajeng.


"Kamu pulang sama aku ya kata Ferdian?" tanya suara itu, Andre.


"Eh, iya, Dre! Gak apa-apa ngerepotin?" tanya Ajeng sungkan.


"Iya, santai aja lagi, kan kita searah ini," ucap Andre tanpa beban.


"Oke, makasih ya!"


"Kamu ngajar dimana?"


"Aku baru selesai nih, di gedung B!" jawab Ajeng sambil memperhatikan kalau isi kelasnya sudah kosong.


"Oke!"


Panggilan itu pun terputus, karena pemilik suara itu ternyata sudah ada di depan pintu kelas.


 


 


"Hey, tunggu ya, aku beres-beres dulu!" ucap Ajeng yang sadar kalau Andre sudah berada di luar kelas.


"Oke, santai aja!" jawab Andre menyandarkan tubuhnya di depan pintu.


Sementara itu, Ajeng terburu-buru memasukan buku-bukunya ke dalam tasnya. Ia segera menggandeng tasnya dan melangkah keluar.


 


 


"Kamu ngajar di sini juga barusan?" tanya Ajeng.


"Iya, tadi ngajar anak mahasiswa baru soalnya," jawab Andre yang kali ini bersama-sama menuruni tangga ke lantai satu. Mereka berjalan pelan-pelan, karena kehamilan Ajeng yang sudah besar, jadi tentu saja harus lebih hati-hati melangkah.


"Eh, kamu jadi ngajar pasca sarjana?"


"Iya, langsung dikasih jadwal jam pertama!"


"Hebat! Beda nih lulusan luar negeri, udah profesional banget kayanya!"


"Haha, kebetulan aja karena mata kuliah yang ada di silabus ajar bisa aku kuasai!"


"Just enjoy your job (nikmati aja pekerjaan kamu), Dre!" ucap Ajeng yang kali ini keduanya sudah berada di luar gedung B dan berjalan menuju ruang dosen untuk mengisi absensi pulang.


 


 


"Gimana kehamilan kamu lancar?" tanya Andre menatap Ajeng yang semakin kelihatan berisi.


"Alhamdulillah sih kalau aku enjoy aja. Sempet khawatir justru sama ayahnya dedek ini," ucap Ajeng menepuk pelan perutnya yang besar.


"Kenapa emang?" tanya Andre penasaran.


"Kamu gak tau ya?"

__ADS_1


"Apa ya?" tanya Andre berpikir-pikir.


"Ferdian sempet trauma sama kehamilan, gara-gara waktu kecilnya itu lho!"


"Ooh iya, aku pernah denger kabarnya, waktu itu kayanya aku masih di London deh! Pas aku balik ke Indonesia, dia udah sembuh kayanya! Tapi dia gimana sekarang?"


"Sejauh ini masih gak bermasalah lah! Ya mudah-mudahan sampai lahiran nanti juga gak kenapa-napa!"


"Baguslah! Ah Ferdian, aku yakin dia lebih kuat dari itu!" ucap Andre tersenyum.


"Iya!" ucap Ajeng tersenyum juga.


 


Sepasang mata menangkap keakraban kedua dosen itu dari jauh. Hatinya berdebar tidak karuan. Pikirannya melayang dan bertanya-tanya. Apakah ada hubungan di antara keduanya?  Nava menatap cemas dan ragu pada Andre dan seorang wanita hamil yang tidak ia ketahui namanya. Ia juga sempat melihat keduanya tadi di kantin yang sedang berbincang akrab, sehingga membuatnya tidak jadi memasuki kantin tadi siang. Ia tertegun dan terus memperhatikan keduanya sampai memasuki gedung dekanat.


Nava masih duduk di sebuah kursi di taman fakultasnya siang itu sambil membaca diktat perkuliahannya. Tak lama kemudian, kedua dosen itu muncul lagi bersama, keluar dari gedung dekanat. Lalu keduanya masuk ke dalam mobil yang sama sambil tertawa-tawa riang. Pemandangan itu membuat hatinya sakit. Jangan-jangan wanita itu istrinya Andre? Hanya itu yang ada di pikirannya saat ini, sehingga ia tak lagi bisa meneruskan bacaannya.


"Jeng, aku udah ketemu wanita itu lho!" ucap Andre yang mengemudikan mobilnya.


"Cinta pertama kamu?" tanya Ajeng penasaran.


"Iya, haha...!" jawab Andre tertawa lega.


"Wow, selamat dong! Terus?"


"Tahu gak? Ternyata dia kuliah di kampus kita, dan aku mengajar di kelasnya. Tadi pagi kita ketemu," cerita Andre senang.


"Dia kuliah pasca sarjana?" tanya Ajeng memastikan.


Andre mengangguk.


"Dia pasti ingat kamu, kan Dre?"


Andre menggeleng, ada senyuman getir di bibirnya itu.


"Kok bisa?"


"Aku juga gak yakin kenapa bisa gitu? Apa dia udah lupa sama aku?" ucap Andre ragu-ragu.


"Ah masa! Mungkin dia belum sadar aja kali!" ucap Ajeng berusaha meyakinkan Andre.


"Haha, sabar Dre! Pasti dia bakalan sadar kok kalau dosennya itu ternyata temen SMA nya dulu," ucap Ajeng.


"Iya, betul!"


Mobil pun melaju ke jalan raya yang terlihat lengang. Tak butuh waktu lama, mobil itu kini sudah tiba di halaman apartemen milik Ajeng dan Ferdian.


"Makasih ya, Dre!" ucap Ajeng sebelum turun dari mobil Andre.


"Sama-sama!"


"Jangan lupa, nanti kalau ngajar lagi langsung minta nomor dia! Awas kemburu disamber orang lain," seru Ajeng mengingatkan.


"Haha, iya deh Bumil!"


"Bye!" ucap Ajeng tersenyum.


"Byel!"


\=====


Ferdian tengah berkumpul di sekretariat BEM pusat yang terletak di sebelah masjid kampus. Ia bersama kurang lebih 15 anggota BEM lainnya tengah membicarakan untuk acara malam puncak ospek sore itu.


"Ada saran gak kita mau ngadain acara apa untuk malam puncak nanti?" tanya Dodit ketua BEM tahun ini.


"Mau konser musik?" saran Bayu, seorang anggota BEM dari fakultas ilmu komunikasi.


"Jangan dong, yang lebih manfaat gitu!" sergah Natalie, mahasiswi dari fakultas ekonomi.


"Bang Fer, ada masukan gak? Cengar-cengir mulu lihatin hp!" ujar Johan sang wakil ketua BEM yang memergoki Ferdian tengah tersenyum. Ia sedang membalas pesan singkat istrinya.


"Iya nih, beda udah nikah mah! Happy terus!" ujar Vivian, mahasiswi fakultas hukum.


"Haha, maaf ya guys!" ujar Ferdian tertawa.

__ADS_1


"Jadi apa dong, acaranya minggu depan kan?" tanya Dodit lagi.


"Gimana kalau acara talkshow aja, cara menggaet dosen cantik di kampus!" ujar Syaiful konyol.


"Atau sekalian aja, talkshow cara membuat anak!" timpal Johan lebih konyol lagi.


"Gilaaaaa!!!" seru anak-anak mahasiswi.


Sedangkan mahasiswa-mahasiswa cowok tertawa terbahak-bahak, sambil dorong-mendorong tubuh temannya satu sama lain. Memang mereka, para cowok, paling heboh kalau membahas urusan seperti ini.


"Biar si Ferdi sama Miss Ajeng jadi bintang tamunya, hahaha!" ujar Syaiful lagi.


Ferdian yang jadi bahan bully, hanya mendelik ke arah teman-temannya. Baru kali ini ia dibully karena sudah menikah, padahal biasanya ia selalu jadi sumber rujukan.


"Woy serius, serius! Atau gak gue balik nih!" sergah Ferdian mengancam.


"Jangan ambekan dong Bang! Yuk ah serius!" ucap Bayu.


"Kalau gue saranin, kalian bikin acara training motivasi aja. Biar mahasiswa baru pada semangat belajar. Kalau bisa sih, acaranya gak usah malem, pagi atau siang aja di hari libur kaya hari Sabtu. Kalau malam itu riskan, apalagi buat mahasiswa yang gak ngekos. Emang kalian mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama mahasiswa baru?" terang Ferdian.


"Iya boleh juga. Kita ganti konsep gitu ya? Jadi judul acaranya bukan malam puncak, tapi acara puncak aja." ujar Dodit kali ini.


Mahasiswa lain tampak merenung. Mereka semua akhirnya sepakat untuk mengubah konsep acara seperti yang diusulkan oleh Ferdian.


"Sip, acara kita ubah ya fix! Vivian, kamu coba list motivator yang bagus, biar kita undang. Kalau bisa sih yang skala nasional, biar mahasiswa makin semangat datang!" ujar Dodit.


"Oke!" jawab Vivian, mencatat tugasnya.


"Ya udah gue balik sekarang ya, istri udah nungguin nih!" seru Ferdian berdiri dari tempat duduknya.


"Emm, enak banget deh ada yang nungguin!" timpal Johan iri.


"Yang nunggu lagi ngambek nih, gak bisa lama-lama jadinya!"


"Ya udah thanks banget ya Bang Fer!" ujar Dodit.


"Gue duluan ya semuanya!" pamit Ferdian.


Ferdian segera menuju halaman parkir fakultasnya lagi untuk mengambil mobilnya. Matahari sudah tenggelam, hari sudah mulai gelap. Namun adzan maghrib belum berkumandang. Ferdian bergegas pulang karena ia sudah janji pada Ajeng untuk pulang setelah maghrib.


Pria yang mengenakan kemeja salur itu membuka pintu apartemennya. Seketika adzan maghrib berkumandang. Ia merasa lega sudah menepati janji pada istrinya. Namun kemana Ajeng? Istrinya itu tidak ada untuk menyambutnya.


"Sayang!" panggil Ferdian sambil melepas sepatu dan kaos kakinya, yang kemudian ditaruhnya di rak.


Ferdian menaruh tas dan kunci mobilnya di atas meja belajarnya. Lalu berjalan ke kamarnya, tidak ada Ajeng di sana. Pria itu kemudian masuk ke dalam walk in wardrobe-nya. Ia memperhatikan pintu kamar mandinya yang transparan. Ah, ternyata wanitanya itu sedang berendam di bathub. Ia masuk ke dalam.


"Kamu udah pulang?" tanya Ajeng yang mengusap tubuhnya dengan busa.


"Tumben lagi berendam?" tanya Ferdian membuka seluruh pakaiannya. Wangi vanilla tercium di seluruh ruang kamar mandi.


"Iya, mau relaksasi pakai minyak esensial."


"Boleh ikutan ga?" tanya Ferdian genit.


"Bilas dulu badan kamu!" seru Ajeng.


Ferdian terkekeh dan langsung masuk ke dalam shower room. Namun ia tidak ikut berendam dan langsung mandi seperti biasanya.


"Gak jadi ikut berendam?" tanya Ajeng melihat suaminya yang sudah bersih dan segar.


"Enggak ah, nanti aja! Aku mau sholat, kamu cepetan udah adzan tuh!"


"Okay!"


Setelah selesai mandi dan sholat maghrib, Ajeng berjalan menuju dapur. Ia membuka lemari esnya, mencari sesuatu di dalam freezer.


"Sayang, es krim aku mana?" teriak Ajeng pada suaminya yang berada di dalam kamar.


Ferdian membelalakan matanya. Ia lupa untuk membeli eskrim yang dijanjikannya. Ferdian melirik ke kanan dan kiri, mencari alasan untuk disampaikan pada istrinya itu.


"Ferdian!!!"


\=====


Nah lho, Ferdian dimarahin bumil lho! :D

__ADS_1


LIKE, VOTE, KOMEN, yang mau kasih tips juga boleh lho seikhlasnya :D


Ditunggu masukannya juga, makasiiiih ^^


__ADS_2