
Pagi itu Ferdian pergi ke cafe miliknya di Jalan Dipati Ukur, setelah ia mengantar sang istri ke kampus untuk bekerja mengenakan motornya. Rencananya hari itu, pria bertubuh tinggi itu akan mengevaluasi kinerja tim dan karyawannya selama enam bulan terakhir ini. Terlebih lagi, bulan Ramadhan akan segera tiba. Harus ada promosi yang menarik pelanggan agar mereka bisa mengunjungi cafe miliknya yang sudah berjalan hampir 3 tahun itu.
Ferdian tampak keren meski hanya mengenakan kaos oblong berwarna hitam dan celana jeansnya. Kedatangannya di cafe yang memiliki dekorasi tropical modern itu, berhasil mencuri perhatian para pengunjung yang kebanyakan adalah para mahasiswi yang biasanya menongkrong di sana sambil menunggu perkuliahan mereka. Ferdian berjalan menuju bar cafe dan langsung disambut oleh karyawan-karyawannya.
"Bos apa kabar?" tanya Luki yang bertugas menjadi kasir hari ini.
"Baik Luk! Yang lain udah pada datang kan?" tanya Ferdian memastikan kalau tim manajemen dan marketing sudah berada di sana untuk rapat.
"Udah Bos! Udah pada ada di ruang belakang!" terang Luki.
"Sip!"
Ferdian pun berlalu dan menuju sebuah ruangan kecil di belakang dekat dengan bagian dapur. Ruangan itu terpisah dari cafe sehingga cukup aman untuk dijadikan tempat rapat atau diskusi. Ada empat orang yang sudah duduk di sofa ruangan itu. Mereka pun menyapa Ferdian, yang merupakan atasan mereka.
"Laporan evaluasi penjualan selama enam bulan terakhir udah gue rangkum di sini ya Fer!" ucap Vanessa, bagian tim keuangan. Ia memberikan sebuah map berisi laporan keuangan.
"Lo bikin tembusannya ke Kak Resha juga kan?" tanya Ferdian mengambil map itu dari wanita berambut ungu dan berkaca mata.
"Udah gue kirim semalem!"
"Oke, thanks! Ini gue liat dulu ya? Kalian obrolin aja masalah promo buat Ramadhan. Kalau bisa jangan sama kaya tahun kemarin, bikin yang beda dan fresh!"
Ferdian berjalan ke luar ruangan dan duduk di sebuah kursi yang berada di bawah pohon rindang. Ia memperhatikan dengan teliti laporan hasil penjualan selama enam bulan terakhir, dimana dia sedang sibuk mengurusi skripsinya kemarin-kemarin. Ferdian mengernyitkan alisnya, ketika melihat ada angka-angka yang tidak masuk ke dalam logikanya. Bahkan jumlah angka itu tidak sinkron dengan jumlah di bulan sebelumnya. Ferdian menandai angka itu dan akan menanyakannya pada Vanessa nanti. Ia kembali memperhatikan hal lainnya yang menurutnya sudah normal. Ia pun berjalan kembali ke dalam ruangan.
"Nes, gue mau tanya." ucap Ferdian, ia menaruh mapnya di atas meja dalam keadaan tertutup.
"Kenapa?"
"Menurut lo apa ada yang aneh dari jumlah profit dua bulan terakhir, khususnya bulan Maret kemarin?" tanya Ferdian.
Baru saja Vanessa akan mengambil map itu, namun Ferdian menahannya.
"Lo pasti tau ketika buat laporan itu!" ucap Ferdian.
Vanessa tampak berpikir dan mengingat-ingat laporan yang dibuatnya. Kemudian matanya membesar.
"Ah iya gue baru inget. Bulan Maret ya? Gue juga pas ngerekap data penjualan Maret ngerasa ada yang aneh. Kok profit kita itu hasilnya jomplang banget sama jumlah pemasukan. Tapi gue udah itung emang segitu hasilnya Fer! Bahkan udah gue itu berulang kali, tetep aja sama!" terang Vanessa.
"Menurut kalian kenapa?" tanya Ferdian pada timnya.
"Jangan-jangan ada yang sengaja ambil uang dari mesin kasir?!" tebak Gian, bagian dari tim marketing.
"Wan, yang jadi kasir selama bulan Maret siapa aja?" tanya Ferdian pada Ridwan, yang merupakan seorang manajer.
"Gue tempatin 3 orang bergantian. Ada Sandi, Luki, sama Intan."
"Ya udah panggil 3 orang itu sekarang!" ucap Ferdian ketus. Suasana pun menjadi tegang. Mereka tahu kalau ada masalah seperti ini Ferdian pasti akan bersikap tegas dan ketus. Ia tidak akan segan-segan mengeluarkan karyawan yang bermasalah.
"Sekarang Fer?" tanya Ridwan.
"Iyalah, gue mau selesaikan permasalahan ini sekarang juga!" ucap Ferdian tegas.
"Oke!"
"Gi, lo jaga kasir dulu sementara gih!" suruh Ferdian.
"Eh kok gue?"
"Biar Vanessa dan Ridwan disini sambil interogasi mereka. Bisa kan?" tanya Ferdian.
"Oke lah, terpaksa!"
__ADS_1
Ridwan yang sudah keluar memanggil Luki dan Intan yang kebetulan memang ada kerja saat itu. Sementara Sandi kebagian tugas sore hari. Ridwan segera meneleponnya agar pria berambut gondrong itu segera datang ke cafe.
Luki, Intan, dan Ridwan pun pergi ke belakang dan menghadap atasan mereka.
"Ada apa Bos?" tanya Luki pada Ferdian.
"Lo berdua jadi kasir di bulan Maret?"
Keduanya mengangguk ketika mendengar nada Ferdian terdengar ketus dan tegas.
"Apa kalian bener-bener mencatat uang pemasukan hari itu dengan jujur?"
"Kalau gue, gue selalu catat semua uang yang masuk hari itu. Plus dengan receh-recehnya," terang Luki.
"Saya juga Kak!" ucap Intan.
"Gimana kalian bisa meyakinkan gue kalau kalian emang jujur?" tanya Ferdian.
"Jujur, gue sangat menghormati Lo, Bos! Meski lo lebih muda dari gue! Gue juga gak berani bohong selama hidup gue, apalagi masalah pekerjaan kaya gini. Gue nyaman kerja di sini, jadi gue berusaha mungkin untuk jujur dalam bekerja!" terang Luki. Tatapan matanya tegas dan tajam menata bosnya itu. Dari matanya itu Ferdian bisa menilai bahwa Luki tidak berbohong. Nada suaranya pun terdengar tegas dan tidak ragu-ragu.
"Oke, gue terima kasih sama lo! Gue hargai jawaban dari lo, Luk!" ucap Ferdian menepuk pundak Luki.
Kali ini Ferdian menatap Intan. Perempuan muda yang usianya mungkin baru saja lulus dari SMA. Ia tertunduk.
"Kalau kamu gimana, Tan?"
Intan tidak berani menatap bosnya. Ia masih terus menunduk.
"Saya selalu mencatat uang penjualan setelah cafe tutup, karena saya ingin fokus dan menghitung dengan benar. Setelah menghitung, saya juga biasanya menghitung ulang agar tidak salah. Sama seperti Kang Luki, saya juga nyaman bekerja di sini, jadi sebisa mungkin saya bisa bertahan di sini."
Ferdian melipat tangannya di depan dadanya. Ia juga mendengar kalau perempuan ini berkata jujur. Meskipun ia menunduk, suaranya tidak bergetar.
"Oke, saya hargai jawaban kamu!"
"Sandi mana, Wan?" tanya Ferdian.
Orang yang dimaksud pun tiba, masih dengan helm yang terpasang di kepalanya. Ia begitu terkejut ketika melihat Ferdian ada di sana. Ridwan tidak memberitahunya kalau ada bosnya di sana. Ridwan hanya menyuruhnya datang ke cafe segera karena membutuhkan bantuannya.
"A..ada apa ini Bos?" tanya Sandi tegang, melihat dua rekannya berdiri di hadapan Ferdian. Ia melepas helmnya dan menaruhnya di atas sebuah meja panjang.
"Gue cuma mau tanya, lo jadi kasir di bulan Maret?" tanya Ferdian.
"I-iya, kenapa ya?"
"Apa lo selalu mencatat uang hasil penjualan harian dengan teliti?"tanya Ferdian.
"I-iya Bos!"
"Gimana caranya biar gue yakin kalau lo jujur?" tanya Ferdian menatap tajam dan lurus pada Sandi. Sandi menenggak ludahnya.
"Mmh...itu gue emang selalu catat pas cafe tutup. Gue biasanya langsung setor sama Teh Vanessa."
Ferdian terdiam. Ia berusaha berpikir bagaimana menentukan kejujuran karyawan di hadapannya ini.
"Oke, kalian balik kerja! Thanks!" ucap Ferdian yang langsung menuju ruangan kecil itu lagi. Vanessa dan Ridwan mengikutinya.
"Gimana Fer?" tanya Vanessa, sesekali ia melirik tiga orang karyawan di luar yang kini sudah membubarkan diri. Gian kembali masuk ke dalam ruangan.
"Kalian pernah dapat keluhan gak dari salah satu dari mereka?" tanya Ferdian.
"Gak pernah sih!" jawab Vanessa dan Gian.
__ADS_1
"Wan, lo pernah? Lo kan manajer mereka!"
Ridwan tertunduk dan tampak memikirkan sesuatu.
"Gue pernah!" jawabnya singkat.
"Dari siapa?" tanya Ferdian.
Ridwan menghela nafas.
"Sepertinya gue tau orangnya."
Sontak membuat ketiga orang lainnya membelalakan matanya.
"Sandi kayanya udah 'pinjem' duit penjualan kita, Fer!" ucap Ridwan.
"Kenapa lo bisa berkesimpulan begitu?"
"Itu karena dia cerita sama gue."
"Maksud lo apa?!" tanya Ferdian ketus.
Ridwan tertunduk dan merasa bersalah. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Gue mergokin Sandi masukin duit dari mesin kasir ke dompetnya," terang Ridwan.
"Dan lo diam aja?!" teriak Ferdian. Vanessa berusaha menahan lisan Ferdian, agar Ridwan melanjutkan ceritanya.
"Karena kepergok, dia bilang bakal balikin duitnya dengan cara potong gajinya sebesar 10% tiap bulan. Dia bilang ibunya sakit dan butuh pengobatan segera, makanya dia nekat ngelakuin hal itu," terang Ridwan menunduk.
"Dia cerita sama lo, tapi lo ga bantu apa-apa? Dan malah ngebantu buat ngambil duit perusahaan diam-diam?!" sentak Ferdian.
"Gue tau, gue minta maaf Fer! Tapi emang gue lagi gak ada duit buat bantu dia."
"Terus kenapa lo gak bilang sama gue, hah?! Gue paling gak suka kaya gini! Kalau ada masalah karyawan, lo harusnya langsung cerita sama gue. Gimana caranya biar mereka bisa kerja nyaman, profesional, tanpa bikin ulah kaya gini!"
Ferdian menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya salah satu dari tim kepercayaannya ternyata bisa bertindak seperti itu. Bahkan ia lebih kecewa dengan Ridwan dibanding Sandi. Sedangkan Ridwan masih tertunduk lesu. Dalam hatinya, mungkin saja Ferdian akan memecatnya hari ini juga. Padahal ia adalah salah satu orang kepercayaan Ferdian untuk cafe ini sejak awal berdiri. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Jadi ia pasrah saja, meskipun sebenarnya ia tidak ingin pergi dari cafe ini.
"Gue balik dulu lah!" ucap Ferdian.
"Rapatnya gimana Fer?" tanya Vanessa.
"Lanjut lagi nanti, gue mau pikirin solusi dari masalah ini,"
"Oke!" jawab Vanessa lemas.
"Dan Lo, Wan! Lo siap-siap aja buat hengkang dari sini!" ucap Ferdian mengancam.
Ridwan memejamkan matanya sambil menahan nafasnya.
Ferdian pun berjalan menuju keluar cafe. Para karyawan melihatnya keheranan karena ekspresi marah tertangkap jelas di wajahnya. Pria berkaos hitam itu pun menaiki motor dan mengenakan helmnya. Ia pun berlalu menuju kampusnya untuk menemui sang istri, yang diharapkannya bisa membantunya memecahkan permasalahan yang dialaminya hari ini.
\=====
Bersambung dulu yaa
Yuk ah komen dulu, menurut reader solusinya gimana ya?
Jangan lupa like dan Vote juga tips yaa
Makasiiiih ^_^
__ADS_1