Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 77


__ADS_3

Ferdian tampak sibuk mencetak jurnal ilmiah yang sudah dibuatnya sejak lama. Hari ini kuliah seminar sastra akan diadakan di ruang utama gedung B. Para mahasiswa yang berencana akan menyusun skripsi sudah pasti harus melewati kuliah wajib ini dan mempresentasikan jurnal ilmiah yang akan mereka teruskan menjadi skripsi nantinya.


"Kamu datang di seminar aku kan?" tanya Ferdian pada Ajeng yang masih bersiap-siap.


"Iya, aku datang kok, cuma aku sampai siang aja! Selepas dzuhur aku ada kelas," jawab Ajeng merapikan rambutnya. Hari ini Ajeng tampak menipiskan riasan di wajahnya, meskipun begitu ia tetap saja cantik dan menawan.


"Aku harus cepet ya biar dapat giliran awal?"


"Iya makin cepet kamu absen, makin cepet kamu bisa presentasi di awal!"


"Oke deh, kamu udah siap kan?"


"Yuk!" ajak Ajeng mengambil tas dan map kerjanya.


 


Ruang utama gedung B yang cukup luas itu sudah diisi oleh puluhan mahasiswa yang akan mengikuti seminar sastra. Namun tidak hanya mereka, teman-teman mereka, atau mahasiswa lainnya pun boleh menyaksikan seminar hari ini. Ruangan pun terasa sesak dan penuh. Para dosen Sastra Inggris yang bertugas mengawal seminar hari ini pun datang satu per satu, mengisi kursi kosong paling depan untuk berhadapan dengan mahasiswa yang akan mempresentasikan jurnal ilmiah mereka.


"Kamu udah siap, Fer?" tanya Ajeng sebelum mereka masuk ke dalam ruangan.


Ferdian tampak tegang sambil membawa map yang ada di tangannya. Ia mengatur ritme nafasnya, berusaha mungkin untuk tenang.


"Bismillah, siap! Doain aku ya, mudah-mudahan gak dicecar!"


Ajeng tertawa kecil. "Kamu mahasiswa pintar dan cerdik, pasti lancar!" puji Ajeng menguatkannya.


"Makasih Sayang! Yuk masuk!"


 


Keduanya pun melangkah masuk menuju ruangan ber-AC tersebut. Ajeng telah duduk di sebuah kursi kosong di depan. Ia menyapa rekan-rekan kerjanya yang lain. Sementara Ferdian, mengisi daftar hadir peserta seminar. Ia mendapat nomor urut tampil ke lima dan berharap agar istrinya masih bisa melihatnya menampilkan presentasi di depan nanti.


Ardi yang memimpin jalannya seminar membagi-bagikan kertas jurnal yang sudah dibuat oleh para mahasiswa peserta seminar. Ada sepuluh jurnal yang akan dipresentasikan di sesi pertama ini. Novi yang duduk di sebelah Ajeng, mencolek lengan wanita hamil itu.


"Ferdian maju ya hari ini?" tanya Novi sambil mencari sosok suami kawan di sampingnya itu.


"Iya, dia ikut seminar hari ini," jawab Ajeng membuka-buka kertas jurnal mahasiswa.


"Mantap lah! Awas dicecar Ardi! Siapa tau dia punya dendam, hihi!" ujar Novi cekikan.


"Haha, lihat aja lah nanti!"


"Kamu harus jadi tameng suami dong!"


"Ferdian itu pintar, aku yakin dia bisa, meski tanpa bantuan aku!" ucap Ajeng yakin.


"Iya sih, kita lihat aja nanti. I can't wait (Aku udah gak sabar)!" ujar Novi antusias.


 


 


Andre memasuki ruangan seminar. Ternyata ia tidak sendiri, seorang wanita berjalan mengikutinya dari belakang.


"Hey!" sapa Andre pada Ajeng dan Novi, Andre duduk di sebelah Ajeng.


"Navaaa!" sapa Ajeng antusias pada perempuan berambut model bob sebahu itu.


"Haiiii....!" balas Nava yang kemudian duduk di kursi belakang Andre.


 


 


"Ehem....udah resmi kayanya?" sindir Ajeng berbisik pada Andre.


Andre terkekeh, "Belum! Doain aja sebentar lagi, hehe..." bisik pria itu.


"Sip, semangat terus!" ucap Ajeng pelan.


"Dia pengen lihat seminar hari ini katanya!" terang Andre.


"Modus itu mah, pengen lihat kamu kali, Dre!" goda Ajeng, suaranya masih berbisik.


Andre jadi menahan tawanya. Pipinya merona.


 


 


"Ssst...mau mulai tuh!" serga Andre, meski wajahnya masih tetap merona malu.


Ajeng ikut menahan tawa.


 


 

__ADS_1


"Siapa itu Jeng?" tanya Novi, yang kali ini ikut kepo, dan memang selalu kepo.


"Calonnya si Andre!" jawab Ajeng berbisik di telinga Novi.


"Ooh...cantik ya?"


"Iya, mahasiswa pasca sarjana!"


"Hmm...ya Susan gagal maju nih!"


"Haha, suruh cari yang lain aja. Mereka udah bertahun-tahun juga soalnya," ucap Ajeng sok tahu.


"Waaah....gitu ya?"


"Eh tuh calon kamu udah pasang wajah serius!" ucap Ajeng menyenggol Novi agar ia memperhatikan Ardi yang bersiap membuka acara di depan.


Kali ini wajah Novi yang jadi merona tersipu-sipu.


 


Kuliah seminar pun dibuka hari itu. Ardi mempersilakan mahasiswa yang mengisi daftar hadir pertama untuk tampil ke depan. Snack box dan botol air mineral diberikan kepada para dosen yang bertugas dalam seminar hari itu.


Tak terasa empat mahasiswa dari semester 7 jurusan sastra sudah menampilkan presentasi jurnal ilmiah, mereka juga sudah mendapatkan dosen pembimbing untuk membantu menyusun skripsi mereka.


"Selanjutnya, Ferdian Setya Winata!" panggil Ardi.


Ferdian melangkahkan kakinya menuju meja yang ada di depan. Wajahnya terlihat tegang dan gugup. Ajeng jadi ikut tegang melihat suaminya itu. Ajeng menyemangatinya lewat ekspresi wajahnya, membuat pria itu tersenyum. Ferdian memasang flashdisknya di laptop yang tersedia dan terhubung dengan layar monitor. Ia membuka slide powerpoint-nya.


"Assalamu'alaikum. Today I'm going to explain about my journal work for my final assignment (Hari ini saya akan menjelaskan karya jurnal ilmiah saya untuk tugas akhir kuliah saya)!" Ferdian membuka presentasi.


"Untuk karya ilmiah nanti, saya akan memberi judul awal yaitu Animal Symbols and Myths in Edgar Allan Poe's Stories (Simbol dan Mitos Binatang dalam Karya Edgar Allan Poe). Karya yang akan saya ambil adalah The Black Cat, A Tale of a Ragged Mountain, dan The Tell- Tale Hearts," ucap Ferdian.


Dengan lancar dan fasih, Ferdian menjelaskan poin-poin yang akan ia bahas untuk dijadikan bahan skripsinya. Isu-isu yang terdapat di dalam novel milik pengarang besar asal Amerika itu juga sudah dikuasainya dengan baik. Konsep yang diambil olehnya memang sudah matang, ia hanya perlu mengerjakan skripsinya lebih lanjut.


"Bahasan dan isu-isu yang kamu jelaskan ini sebenarnya sudah banyak dibahas dalam skripsi-skripsi lain. Apa yang membedakan karya ilmiah kamu dengan karya ilmiah lainnya?" tanya Ardi, setelah Ferdian mempresentasikan jurnalnya.


"Jika menurut Bapak seperti itu, saya akan mengambil sudut pandang bagaimana akhirnya simbol dan mitos ini mempengaruhi alam bawah sadar tokoh utama, apakah menurut Bapak hal itu menjadi berbeda?"


"Skripsi kamu tidak akan berbeda jauh dengan mereka. Karya ilmiah dibuat adalah untuk membuka wawasan yang baru bagi para pembacanya. Kalau dengan begitu kamu sama saja seperti yang lainnya." ujar Ardi santai.


Ferdian menunduk, sambil berpikir. Ia sudah berusaha untuk mengambil unsur-unsur yang jarang dibahas oleh para analis yang ia cari selama ini.


"Tapi Ardi, selama skripsi itu belum pernah dibahas oleh mahasiswa kita di kampus ini, maka setahu saya, itu sah-sah saja!" ujar Ajeng yang mengetahui hal terkait skripsi di dalam kampus mereka.


"Memang benar seperti itu, saya hanya menguji sejauh mana mahasiswa di depan ini bisa mengeksplor lagi karya yang akan dibahasnya," jawab Ardi menatap tajam Ferdian.


"Saya sepakat dengan Pak Julian, bagaimana dosen lainnya? Apakah konsep yang diajukan Ferdian bisa lanjut untuk skripsi?" tanya Mr. Mike.


Dosen-dosen lainnya sepakat dan telah memberikan persetujuan, begitu juga Ardi yang terpaksa tidak melanjutkan pertanyaannya tadi. Para dosen pun berunding untuk memutuskan siapa yang akan menjadi dosen pembimbing bagi Ferdian nanti. Wajah Ardi tampak terlihat kesal setelah berunding tadi.


"Baiklah, Ferdian, kamu bisa lanjut untuk membahas apa yang sudah kamu tampilkan pada hari ini untuk skripsi kamu. Untuk dosen yang membimbing kamu nanti adalah, saya sebagai dosen pembimbing pertama dan juga Andre sebagai dosen pembimbing ke dua. Silakan kembali ke tempat duduk kamu, terima kasih!" terang Ardi.


Mata Ferdian berbinar, ia telah berhasil melewati tahap seminar ini. Meskipun ia mendapatkan Ardi sebagai dosen pembimbingnya, seperti dugaan Ajeng waktu itu, akan tetapi hal itu tidak menjadi masalah baginya. Apalagi sepupunya, Andre akan membantunya nanti.


"Terima kasih semuanya!" ucap Ferdian menundukkan badannya, lalu kembali ke tempat duduknya.


Hatinya benar-benar lega. Akhirnya ia bisa fokus untuk mengerjakan skripsinya, dan berharap lulus di tahun depan. Sehingga ia bisa benar-benar bisa fokus menjadi kepala rumah tangga serta ayah bagi anaknya nanti.


\=====


Siang itu Ferdian mengajak kawan-kawannya untuk makan siang di luar kampus. Bukan hanya Ferdian yang lulus dalam seminar, ada Ridho, Ghani juga Malik yang lulus hari itu. Bahkan tiga dari mereka memiliki dosen pembimbing yang sama, yaitu Andre.


"Tos dulu dong! Kita berhasil nih hari ini!" ujar Ferdian mengangkat gelas berisi cappucino floatnya.


"Yang tos cuma berempat aja deh!" ucap Danu iri.


"Kita juga kan doain kalian biar cepet nyusul tiga bulan lagi!" kata Ferdian menyemangati dua kawannya lagi yaitu Danu dan Syaiful.


"Aamiiin!" ucap semuanya lalu bersulang.


 


"Eh Pul, lo kemarin ke Taman Belajar Anak kayanya ada gebetan ya?" tanya Ferdian menyuap menu makan siangnya.


"Bener tuh!" timpal Danu yang sepertinya lebih tahu.


"Serius?" tanya Ferdian menyenggol kawannya yang ada disamping kirinya.


"Ngincer mahasiswa semester 3 tuh, tapi ceweknya cupu gitu, kacamata besar, rambut keriting, haha!" jawab Danu.


Syaiful menyikut keras tubuh Danu.


 


 


"Ari maneh, nyeri nyaho (Kamu tuh, sakit tahu)!" ucap Danu refleks.

__ADS_1


"Gandeng maneh mah (Kamu berisik tau)!" seru Syaiful.


 


 


Ferdian jadi memikirkan gebetan Syaiful yang dimaksud oleh Danu tadi.


"Serena?" tebak Ferdian.


 


"Eh darimana Lo tau, Fer?" tanya Danu.


"Ya tau lah, gue anak TBA juga!"


"Oh iya ya! Hehe!" ucap Danu terkekeh.


 


"Ciyeee....Ipul udah move on, euy!" seru Ghani mengangkat jempolnya.


"Harus move on atuh, Miss Ajeng kan udah ga bisa pindah kepemilikan!" tegas Ferdian.


"Fokus lulus dulu dong, baru cari kekasih hati, setuju gak?" kali ini Ridho mengingatkan.


"Mantap! Ridho emang paling sholeh lah!" puji Malik setuju, membuat Ridho cekikan tersipu.


 


 


Syaiful malah diam saja menjadi bahan obrolan kawan-kawannya. Tumben sekali, biasanya dia paling heboh.


"Kenapa diam aja, Lo Pul?" senggol Ferdian.


"Teuing atuh (gak tau tuh)!" malah Danu yang menjawab.


"Pul!" panggil Ferdian.


 


 


"Ah ini mah baru ditolak cinta kayanya!" kali ini Malik yang menebak.


Syaiful menunduk lalu mengangguk. Kelima kawannya menatap iba. Ferdian menepuk-nepuk pundak di sampingnya.


"Disuruh lulus dulu, Pul!" ujar Ridho.


 


 


"Apes aja lah kisah lo, Pul! Sabar ya!" Ghani menyemangati.


"Padahal Ipul ganteng lho, tapi otaknya aja kurang ganteng!" celetuk Danu, membuat Syaiful menoyor kepalanya.


 


 


"Ya udah dulu lah sedihnya, kita seneng-seneng dulu aja hari ini. Gue bayar semua nih!" ucap Ferdian membuat kelima kawannya menjadi berbinar-binar.


"Duh makasih banyak Pak Bos, moga makin banyak rezekinya!" ucap Ridho.


"Makin banyak juga anaknya!" timpal Ghani.


"Bikin anak mah rajin ya, gak usah ditanya si Ferdi mah! Haha!" ujar Danu memukul-mukul meja.


Keenam pria itu tertawa-tawa sambil menikmati menu makan siang, termasuk Syaiful yang memang baru ditolak halus oleh Serena kemarin. Namun kawan-kawannya itu berhasil mengubah moodnya bagus kembali.


 


\=====


Lanjut lagi nanti yaa....


Like, vote, comment, tipsnya dulu dong


Makasiiiiih ^_^


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2