
Sore itu sepulang kuliah, sesuai apa yang dikatakan Ferdian, ia akan melakukan kerja kelompok untuk proyek puisi yang akan ditampilkannya dalam sebuah teater kecil mata kuliah puisi. Ferdian bersama Syaiful, Malik, Gina dan Jessi merancang sebuah naskah yang diambilnya dari sebuah puisi kuno yang kemarin dipelajari.
Mereka mengambil salah satu sajak milik penyair terkenal William Shakespeare, yang berjudul "Shall I Compare Thee to a Summer's Day?" sebuah sajak romantis yang menggambarkan kecantikan seorang wanita yang dibandingkan dengan keindahan alam oleh seorang laki-laki. Namun pria ini meragukan jika keindahan alam hanya bersifat terbatas, yang akan pudar seiring berjalannya waktu seperti berakhirnya musim panas. Tetapi tidak bagi
kecantikan wanita itu. Selama wanita itu hidup, selama itu juga kecantikannya akan terpancar. Selama itu juga keindahannya akan mengabadikan dirinya dalam jiwa pria itu.
Konsep yang akan diambil oleh kelompok Ferdian adalah konsep video durasi pendek dengan metode stop motion. Jadi mereka akan mengambil banyak gambar berupa foto dari semua dekorasi latar belakang dan para tokohnya lalu mereka edit dan gabungkan sehingga menjadi sebuah video yang utuh. Jadi mereka tidak akan menampilkan
teater secara langsung di depan teman-teman mereka, melainkan hanya akan menampilkan sebuah video yang sudah mereka edit.
Untuk pertemuan pertama ini, cukup berlangsung singkat. Karena kelompok mereka hanya menggabungkan ide dan konsep terlebih dahulu, sebelum eksekusi lanjut untuk membuat berbagai perlengkapan yang mendukung mereka. Ferdian pulang ke rumah selepas sholat maghrib.
Ferdian berjalan menuju parkiran bersama Syaiful yang ikut menumpang motor barunya sampai ke
depan gerbang. Halaman parkir fakultas sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa motor yang terparkir di sana dalam gelapnya malam. Ferdian hendak memasang helm motornya. Namun ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Kak Ferdian!" panggil sebuah suara perempuan, namun ia tidak bisa melihat sosok yang memanggilnya itu.
"Siapa Fer?" tanya Syaiful, ia mengusap lehernya, merasa merinding.
"Ga tau tuh!"
"Jangan-jangan setan!"
"Hush! Ngaco lo!"
"Kak Ferdian tunggu sebentar!" ucap suara itu lagi, tak lama kemudian sosok itu muncul dari balik gedung B.
Ferdian mencoba mengenal sosok perempuan itu.
"Oh Serena ya?" ucap Ferdian memastikan.
"Kak boleh titip buku buat besok?" tanya Serena yang berdiri di samping motornya.
"Buku apa?" tanya Ferdian heran.
"Buku dongeng," katanya lagi.
"Ooh...buat besok ya? Tapi besok saya gak bisa kesana, sudah ada janji soalnya!" jawab Ferdian, mengingat besok ia akan ada jadwal pemotretan untuk sebuah brand fashion.
"Oh gitu ya, pasti anak-anak sedih lagi deh!" ucapnya lesu.
"Kan ada kamu yang bisa dongengin, anak-anak pasti seneng juga!" ujar Ferdian.
"Baik kalau begitu, saya pulang saja!"
"Oke hati-hati! Yuk, Pul! Keburu Ajeng ngambek nih, gawat!" ucap Ferdian pada Syaiful.
Serena yang mendengar hal itu langsung terhentak hatinya. Benarkah Ferdian pacaran dengan dosennya itu? Hatinya kecewa, padahal ia sudah satu langkah lebih maju menurut dugaannya. Ferdian setidaknya sudah pernah memujinya dan kali ini ia sebenarnya berharap pria itu akan bisa mengantarnya pulang lagi karena hari sudah mala. Tetapi sayang, ada temannya kali ini.
"Serena duluan ya!" ujar Ferdian melajukan motornya bersama Syaiful.
Perempuan itu berdiri di bawah pepohonan di bawah temaram cahaya. Ia berjalan lemas menyusuri trotoar ditemani hembusan angin malam dan suara dedaunan yang saling bergesekan. Apakah ia memang tidak ada kesempatan sama sekali untuk bisa dekat dengan seniornya itu? Bahkan sekedar menitipkan hatinya sebentar saja.
Ia memandangi ponsel di tangannya. Foto-foto yang diambilnya beberapa waktu ini cukup menghibur hatinya. Ia tersenyum menyeringai, tampak sangat mengerikan apalagi sinar dari ponselnya menyorot wajahnya yang berada dalam kegelapan malam.
\=\=\=\=\=
Ajeng tengah merapikan kasurnya ketika Ferdian terdengar baru saja menutup pintu masuk.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum..." ucap Ferdian memberi salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ajeng. ia langsung menghampiri suaminya.
"Udah makan, Sayang?" tanya Ajeng, membantu melepaskan tas dan jaket suaminya.
"Aku gak lapar, Sayang!" jawab Ferdian mengacak-acak rambut Ajeng.
"Oh jadi aku gak usah siapin makan malam?" tanya Ajeng sambil menaruh tas dan jaket ke tempat penyimpanan.
"Gak usah. Oh ya, besok kamu mau anter aku ga? Besok pulang agak siang kan?" tanya Ferdian.
"Kemana?"
"Pemotretan. Hehe, maaf jadwalnya malam, soalnya gak ada waktu lagi. Mereka minta cepet!"
"Boleh, sekalian aku pengen lihat model cakep!" ucap Ajeng genit.
"Model yang mana?"
"Ya model yang mana juga boleh deh!" canda Ajeng.
Ferdian merasa gemas dengan istrinya itu, yang dipikirnya akan main mata.
\=\=\=\=\=
Sore itu, Ferdian dan Ajeng mengemudikan mobil menuju ke pusat kota, menuju sebuah foto studio dimana Ferdian akan melakukan pemotretan untuk pertama kalinya setelah menikahi Ajeng. Sebuah layar putih sudah dibentangkan oleh para kru pemotretan, sebagai latar belakang dimana Ferdian akan diambil gambarnya.
Ferdian tengah sibuk didandani oleh perias agar wajahnya lebih terlihat eyecatching ketika nanti kamera akan menangkap wajahnya. Wajahnya dibubuhi berbagai macam jenis make up. Ajeng memperhatikannya saja dengan seksama. Kadang ia tersenyum melihat suaminya didandani seperti itu, seperti wanita saja. Bahkan bibir suaminya itu dipoles dengan liptint merah. Rambut depannya diberi sedikit gel rambut dan dibuatnya dengan style yang berantakan, namun sangat terlihat seksi. Ferdian mengenakan setelan jas berwarna navy dengan kemeja putih yang kancing bagian atas sampai dadanya dibiarkan terbuka.
"Udah siap Fer?" tanya sang fotografer.
"Okay kita mulai!" ucap fotografer.
Ferdian mulai berpose dengan gaya santai dengan senyumannya yang menawan. Atau bergantian
dengan gaya serius dengan tatapan matanya yang tajam. Ia begitu tenang melakukan pekerjaan sampingannya itu, seperti seorang profesional. Ajeng hanya bisa mengaguminya di dalam hati saat itu.
"Oke, selesai! Good Job, Fer! Kamu makin lihai aja, kayanya!" puji fotografer.
"Hehe makasih Pak! Ada penyemangat soalnya!" ucapnya melirik istrinya.
"Mantaplah!" ucap fotografer sambil memperlihatkan hasil foto asli pada keduanya. Memang hasilnya benar-benar bagus, perpaduan antara skill sang fotografer dan ketampanan Ferdian.
"Udah selesai?" tanya Ajeng memastikan kembali kalau pekerjaan suaminya sudah benar-benar selesai.
"Udah, yuk pulang!" ajak Ferdian selesai berganti baju.
Keduanya berpamitan kepada semua kru yang bertugas.
"Kamu ganteng deh, Fer!" puji Ajeng sebelum ia masuk ke dalam pintu mobilnya. Tangan perempuan itu tampak menata rambut Ferdian yang masih terlihat keren.
"Baru nyadar ya?" tanya Ferdian memandangi mata istrinya.
"Gak juga tuh, cuma suka gengsi aja! Biar kamu gak makin narsis! Haha!" ucap Ajeng jujur.
__ADS_1
"Uh dasar, muji suami itu berpahala lho!"
"Iya deh, nanti aku bakal banyak muji biar aku dapat sesi di atas kasur!" ucap Ajeng yang melingkarkan lengannya ke leher suaminya itu. Wajahnya semakin maju dan mendekati wajah suaminya. Tanpa malu lagi, ia mengecup bibir sang kekasih meski mereka sedang berada di luar.
DIIIIIT DIIIIIT
Sebuah klakson menyadarkan keduanya, yang kemudian tertawa-tawa. Meski sebenarnya klakson itu berbunyi bukan untuk mereka, tetapi berhasil membuat keduanya bubar dan masuk ke dalam mobil.
Ferdian dan Ajeng tiba di apartemen pukul 9 malam lewat, setelah sebelumnya mereka sempat mampir ke sebuah rumah makan untuk menikmati makan malam. Keduanya menaiki lift apartemen. Entah kenapa hati Ajeng merasa berdebaran, jantungnya berdegup lebih kencang. Apa karena pria di sampingnya ini terlihat lebih rupawan dari
biasanya. Mata pria itu lebih sayu dan teduh, rahangnya terlihat lebih kokoh, bahunya lebih kekar. Apa hanya perasaannya saja?
Ferdian menyentuh tangannya lembut. Seketika darah berdesir mengalir ke seluruh tubuhnya. Pria itu menarik tangannya dan menuntun masuk menuju ke dalam apartemennya. Ajeng berusaha menepis perasaannya. Namun semakin ia menahan, semakin tinggi keinginannya untuk menguasai pria itu. Ferdian mengunci kamar apartemennya. Tiba-tiba saja, Ajeng mendorong tubuhnya ke pintu. Ia sedikit berjinjit agar wajahnya bisa meraih apa yang ia mau dari pria itu.
Ajeng berhasil menggapai apa yang ia mau, yaitu bibir suaminya. Ferdian cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh istrinya itu. Tak biasanya wanita itu memulai sesuatu yang membuatnya seringkali mabuk cinta. Ia membiarkan istrinya itu melakukan apa yang dimaunya. Ia hanya membantunya, menggendong tubuhnya yang mungil sehingga wajahnya bisa saling sejajar. Keduanya saling berpagutan hingga sulit bernafas. Gairah cinta menguasai keduanya, membuat tubuh mereka terasa panas di hawa yang dingin di malam hari. Sejenak waktu terasa berhenti, membiarkan keduanya bergulat dalam selimut penuh asmara hingga terlepaslah segala hasrat yang terpendam.
Keduanya tertidur pulas setelah pergulatan tadi. Namun sesuatu berhasil membuat Ajeng terbangun. Hatinya berdebar, ada sesuatu yang diingatnya. Ia berlari menuju kamar mandi lalu ia membersihkan tubuhnya. Ia ingat, tadi malam ia belum mengerjakan sholat isya. Namun ada satu hal lagi yang membuatnya cemas. Ia lupa akan sesuatu yang seharusnya ia lakukan di dua hari ini. Ia benar-benar lupa untuk melakukannya karena pekerjaannya yang sibuk dan tentu saja hari ini yang terasa panjang. Ia harus pergi untuk berkonsultasi dengan dokter kandungannya, Dr. Sita.
Ajeng mendudukan dirinya di sebelah Ferdian yang masih terlelap tidur dengan selimut yang membalut tubuhnya. Ia melihat wajah kelelahan suaminya itu, namun ia harus membangunkannya karena ia juga belum melaksanakan sholat Isya. Malam juga sudah lewat tengah malam. Dengan perlahan dan sebisa mungkin tidak membuatnya terkejut, Ajeng menggoyang tubuh suaminya itu.
“Ferdian, Sayang! Bangun! Kamu belum sholat isya!” ucap Ajeng lembut, membuat tubuh suaminya itu bergerak dan matanya perlahan terbuka.
“Oh iya ya?”
“Udah lewat tengah malam, kamu mandi dulu sebentar!” ujar Ajeng.
“Kamu udah mandi?” tanya Ferdian yang kini tubuhnya sudah duduk.
“Udah,”
“Hmm…ya udah aku mandi dulu!” ujarnya sambil berjalan ke kamar mandi.
Ajeng belum lepas dari pikiran yang mengganggunya sejak tadi. Ia khawatir dan cemas, dan menyalahkan dirinya atas kecerobohan yang dilakukannya dua hari ini. Ia berusaha menepis pikirannya dan meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Ferdian yang baru keluar dari kamar mandi, menatap heran istrinya yang pandangannya terlihat kosong.
“Kenapa gak langsung tidur lagi?” tanya Ferdian mengeringkan rambut dengan handuknya. “Udah sholat?”
tanyanya lagi.
Ajeng mengangguk saja. Kemudian ia berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Ia benar-benar
tidak bisa terpejam. Jadi ia berniat untuk menunggu suaminya saja.
“Kamu nungguin aku?” tanya Ferdian, yang berbaring di samping Ajeng.
“Iya, aku jadi ga bisa tidur lagi!” ucap Ajeng.
“Yuk bobo! Sini aku peluk biar hangat!” ucap Ferdian menarik kepala Ajeng untuk disandarkan di dadanya, sementara tubuhnya sudah direngkuhnya sehingga ia bisa merasakan kehangatan tubuh suaminya yang membuat hatinya merasa tenang. Tak lama kemudian, Ajeng pun berhasil kembali tidur dan sejenak terlupakanlah apa yang ia khawatirkan.
\=\=\=\=\=
Kira-kira apa yang dikhawatirkan Ajeng ya?
Yuk like dan vote yaa
Biar author semangat lanjut dan idenya terus mengalir
Thank youuuuu
__ADS_1