
Andre berjalan lesu menuju kantin untuk menikmati makan siangnya seorang diri. Ia memutuskan untuk mengisi perutnya yang kosong dulu sebelum pulang ke apartemennya. Ia terpikirkan rencana yang diajukan oleh Ferdian saat tadi. Apakah akan berhasil atau justru akan menjauhkan dia dari Nava? Andre benar-benar galau berat kali ini, padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Ini tentu saja karena Nava yang belum menjawab lamarannya. Seharusnya ia bisa bersabar. Tetapi sepertinya Andre sudah memutuskan untuk mengikuti apa yang disarankan oleh sepupunya itu.
Suasana kantin siang itu tidak seperti biasanya yang penuh. Tidak banyak mahasiswa yang menikmati makan siang di sana, hanya ada beberapa meja yang terisi, selebihnya kosong. Andre memesan sebuah menu lalu duduk di sebuah meja dekat jendela. Tiba-tiba seorang gadis berambut panjang mengenakan setelan jeans dan blouse navy, datang menghampirinya.
"Mister Andre, kapan kita bimbingan?" nada bicaranya terdengar centil dan heboh. Itu adalah Sally, teman sekelas Ferdian.
"Barusan teman-teman kamu bimbingan, kenapa gak barengan?" jawab Andre datar.
"Yahh.... gak ngajak sih!" ucapnya sambil membulatkan bibirnya.
"Buat jadwal baru aja!"
"Weekend dong, Mister! Di cafe gitu biar aku semangat!" ucap gadis berambut panjang itu.
Andre terkekeh geli. Ada-ada saja jawaban mahasiswa ini. Mau kencan atau bimbingan? Sally memang selalu bersikap agresif pada Andre, meski pada awal masuk kelas gadis itu pernah terkena pengurangan nilai karena celetukannya. Ia tidak pernah berhenti mengganggunya. Bahkan ia sering sekali menghubunginya lewat chat meski isinya untuk menanyakan seputar mata kuliah.
"Kita bimbingan di kampus aja ya?" tawar Andre.
"Yah...gak ada tempat yang asik kalau di sini!" cebiknya.
"Ya udah gak usah bimbingan aja, gampang kan?"
"Ah Mister Andre!" jawab Sally cemberut.
Tak lama kemudian pesanan makan siang milik Andre pun datang. Andre mengucapkan terima kasih pada pelayan kantin.
"Saya makan dulu ya?" ucap Andre.
"Iya, Mister! Aku juga sekalian deh!" ucap Sally, lalu memanggil pelayan kantin untuk memesan makan siang.
"Kamu mau bahas skripsi tentang apa?" tanya Andre setelah selesai menelan makanan di mulutnya.
"Fiksi populer!" jawab Sally polos.
"Yakin kamu bahas fiksi populer? Emang kemarin pas seminar bahas itu?" tanya Andre, karena fiksi populer setahu dia belum bisa dibahas untuk skripsi.
"Enggak sih, hehe!" cengirnya. "Aku bahas novel kontemporer, Mister!"
"Ooh..."
Pesanan milik Sally pun datang, keduanya pun menikmati makan siang bersama sambil membicarakan rencana penelitian milik Sally.
Nava yang telah menyelesaikan perkuliahannya, masuk ke dalam kantin. Ia langsung ke meja kasir untuk memesan dan membayar langsung pesanan makan siangnya. Wanita berambut sebahu itu memilih sebuah meja di ujung dekat tangga. Hatinya terkejut ketika melihat Andre sedang makan bersama dengan seorang gadis. Bahkan pria itu selalu melempar senyum dan tawa di depan gadis itu sambil menyuap makanannya. Mengapa hatinya terasa panas tiba-tiba. Ia tahu, mungkin gadis di depannya itu hanyalah salah satu dari mahasiswi Andre.
Nava lekas-lekas mengeluarkan netbook miliknya dan menyalakannya. Sambil menunggu pesanannya datang, ia mengetikan sesuatu di microsoft wordnya. Sesekali ia melirik lagi kepada Andre. Ia teringat tadi pagi, pada saat Andre memberikan mata kuliah di kelasnya. Pria itu tidak tampak semangat, aura wajahnya lesu. Apa karena sampai saat ini, Nava belum memberikan jawabannya? Namun kenapa pria itu bisa tertawa-tawa bersama gadis yang ada di depannya saat ini? Hatinya jadi bergetar gugup. Ia kembali menekan tombol huruf-huruf yang ada di keyboard netbooknya.
"Permisi, ini pesanannya, Neng!" ucap pelayan kantin.
"Makasih, Mang!" jawab Nava. Ia menyesap jus strawberry yang dipesannya. Lalu memasang headset di telinganya sambil memutar alunan musik yang pas dengan suasananya saat itu. Hatinya terenyuh kenapa bisa lagu yang diputarnya itu cocok sekali dengan suasana hatinya. Entah kenapa matanya jadi berkaca-kaca, dan hatinya berdegup kencang.
Sekali lagi, Nava melirik ke arah Andre. Hatinya melompat ketika ternyata tatapan mereka berdua saling bertemu. Nava lekas-lekas kembali menatap layar netbooknya dengan salah tingkah. Konsentrasinya buyar. Namun ini kesempatannya untuk membuat sesuatu di dokumen miliknya, tangannya menari indah di atas tuts keyboard, meski hatinya sedang tidak seindah tarian jarinya.
Andre menunduk ketika tatapannya itu bertemu dengan wanita pujaannya.
"Mister kok ngelamun?" tanya Sally membuyarkan lamunannya yang baru beberapa detik.
"Ah enggak kok, cuma keinget sesuatu!" jawab Andre datar.
Ia sebenarnya teringat pada Ferdian, yang memberinya saran untuk berpura-pura mengabaikan Nava selama beberapa hari ini. Agar wanita itu merasa aneh dan sadar pada perasaannya sehingga ia bisa segera menjawab lamarannya.
"Jadi tadi gimana? Kamu udah baca berapa novel?" tanya Andre pada mahasiswi di depannya.
"Baru setengah dari satu novel, hehe!" jawab Sally sambil menyengir dan mengaduk minuman miliknya.
"Terus kok bisa kemaren ikut seminar?"
"Saya baca rangkuman dan review orang, dan kebetulan kan ada filmnya, jadi ya udah nonton aja dulu!." jawab Sally terlalu polos.
Andre menggeleng-gelengkan kepalanya. "Selesaikan bacaan novel kamu, tulis poin-poin dan isu yang mau kamu bahas, baru temui saya lagi!" ujar Andre.
"Gak bisa bimbingan tiap minggu?" tanya Sally berharap.
"Kalau kamu rajin penelitian gak apa-apa sih, tapi ...." tiba-tiba datang sebersit ide di kepala Andre.
"Tapi apa Mister?"
"Yah kamu baca novel penelitian kamu, kalau ada hal baru yang kamu dapat, langsung hubungi saya, oke?"
"Kita bimbingan kaya gini terus boleh, Mister? Aku gak suka kalau di perpus atau di kelas."
"Terserah kamu aja deh," jawab Andre datar.
Mata Sally berbinar, "Makasih banyak, Mister!" ucap Sally riang.
Andre tersenyum. Ia kembali melirik pada Nava, yang terlihat fokus mengetik di netbooknya.
"Saya duluan ya?" ujar Andre yang beranjak dari kursinya.
"Tunggu Mister! Bareng dong!" sergah Sally, lalu keduanya berjalan menuju kasir dan membayar pesanan mereka.
Diam-diam Nava memperhatikan keduanya. Ia tersenyum tipis. Lalu kembali mengerjakan tulisan miliknya. Hujan pun turun rintik-rintik, seolah mendukung suasana hati Nava saat itu. Ia semakin bersemangat mengerjakan tulisannya.
\=\=\=\=\=
"Menurut kamu Andre bakal ngelakuin saran kamu?' tanya Ajeng di dalam mobil ketika ia dan suaminya akan pulang ke apartemen mereka.
"Maybe, yes!" jawab Ferdian mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa yakin gitu?"
"Soalnya gak terlalu sulit dilakukan." jawabnya sambil melirik istrinya.
"Iya juga sih! Andre cuma harus bisa lebih sabar."
"Nah itu!"
"Padahal, Nava curhat sama aku lho, Fer!" ucap Ajeng, ia memang belum memberitahukannya pada siapapun.
"Wah, curhat apa emang?"
Ajeng pun menceritakan pada Ferdian kalau sebenarnya Nava sedang dilamar oleh dua orang pria sekaligus. Ajeng berspekulasi kalau mungkin hal itu yang membuat Nava menunda jawabannya pada Andre.
"Kalau aku jadi Nava, aku bakal langsung jawab terima. Penantian lama itu pasti terbayar saat itu juga. Nah, ini aneh, kenapa bisa yang katanya sama-sama menunggu tapi kok responnya gitu? Menurut kamu aneh gak sih?!" tanya Ferdian.
"Iya juga."
"Jangan-jangan...."
"Apa?" tanya Ajeng penasaran.
"Gak sih, ah semoga aja Bang Andre bisa dapetin segera jodohya!"
"Aamiiin!"
Ajeng menoleh ke samping jendela, ia melihat kerumunan mahasiswa yang memenuhi sebuah kedai mie ayam. Saat musim hujan seperti ini memang paling asyik menyantap mie ayam, bakso, dan sejenisnya. Ajeng jadi terpikirkan sesuatu. ia tiba-tiba saja ingat kedai bakmie ayam kesukaannya pada saat SMA dulu. Rasa mie ayam itu begitu lezat, rempahnya kuat, dan tekstur mienya beda dari yang lain. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah kedai itu masih berjualan sampai saat ini?
"Fer, aku minta sesuatu boleh?" tanya Ajeng sebelum mereka tiba di apartemen.
"Minta apa?" tanya Ferdian sambil meliriknya.
"Antar aku ke SMA aku dulu!"
"Emang ada apa? Kok tiba-tiba?"
"Pokoknya anter dulu aja!"
"Jangan-jangan cari mantan!" ucap Ferdian terkekeh.
Ajeng menimpuk lengan suaminya. "Ya enggak lah, dibilang aku gak punya mantan juga!"
"Terus mau apa?"
"Tiba-tiba aku kepengen makan mie ayam kesukaanku dulu!"
Ferdian langsung tertawa-tawa mendengar jawaban Ajeng.
"Ihh...mau anter gak? Atau aku pergi sendiri!" ancam Ajeng.
"Iya deh Bu Dosen galak!"
"Emang SMA kamu dimana sih? Kamu belum pernah cerita soalnya," tanya Ferdian. Mereka memang jarang menceritakan kehidupan sekolah mereka dulu, apa karena kesibukannya masing-masing jadi lebih fokus membahas apa yang ada di depan mata mereka saja.
"SMA aku di Jalan Teratai. Tau kan?"
"SMA kamu di Jalan Teratai?!" tanya Ferdian terkejut.
"Iya, SMA Lentera Nasional," jawab Ajeng datar. "Emang kenapa?"
"SMP aku juga di sana!" jawab Ferdian, yang juga membuat Ajeng terkejut.
"Oh ya?! Aku juga waktu SMP sekolah di sana!" ujar Ajeng, ia tak menyangka Ferdian bersekolah di SMP yang sama dengannya, meski karena umur mereka berbeda tetapi masih satu almamater.
"Tapi waktu SMA, aku gak lanjut di sana lagi. SMA aku di Garda Bangsa. Satu almamater sama Bang Andre," terang Ferdian.
"Ooh..."
Ferdian pun melajukan mobilnya menuju Jalan Teratai. Kalau tidak macet, mereka akan tiba di sana sekitar 20 menit dari tempat mereka sekarang. Sepertinya mereka cukup beruntung, jalanan terlihat tidak padat sehingga Ferdian bisa memacu mobilnya lebih cepat. Lima belas menit kemudian mereka melewati SMP Lentera Nasional. Gedung sekolah khusus murid SMP letaknya memang di pinggir jalan raya, berbeda dengan gedung SMA yang letaknya di belakang. Ferdian memarkirkan mobilnya di depan sebuah kumpulan kedai sederhana yang letaknya di pinggir jalan raya. Halaman parkirnya cukup luas, dan kedai itu terdiri dari gabungan kedai-kedai makan lainnya.
"Disini bukan?" tebak Ferdian, ia teringat dulu ia pun sering menyantap mie ayam buatan Mang Enggal. Tertulis di sana Kedai Mie Ayam & Bakso Mang Enggal, dan mereka beruntung kedai itu masih ada di sana.
"Iya, kok tau?"
"Yaiyalah, cuma mie ayam buatan Mang Enggal aja yang paling enak!" ujar Ferdian percaya diri.
"Ih hebat deh suami aku!"
Mereka pun keluar dari mobil dan langsung menuju kedai mie ayam itu. Beberapa siswa SMA duduk di sana sambil menikmati mangkuk-mangkuk berisi mie ayam dan bakso.
"Kamu mau pesen apa Fer?"
"Mie ayam bakso!" jawab Ferdian sambil duduk di salah satu meja di luar.
"Oke!" Ajeng memesankan untuk dia dan suaminya pada penjual. Ia pun duduk di samping suaminya yang menghadap ke jalan raya, berseberangan dengan sekolah mereka.
"Udah lama banget ya? SMP kita makin bagus aja!" ujar Ferdian memperhatikan gedung SMP-nya itu.
"Iyalah! Pasti udah banyak donatur yang bisa bikin sekolah kita makin bagus."
"Ayah juga masih donatur di Yayasan Lentera Nasional," terang Ferdian.
"Sama, papaku juga! Cuma kayanya dulu donatur belum terlalu banyak ya?"
"Iya, kayanya cuma ayah dan papa kamu aja yang jadi donatur utama, makanya bisa kenal dan akhirnya kerja sama," jelas Ferdian.
Ajeng mengangguk-angguk.
__ADS_1
Tak lama kemudian mangkuk berisi mie ayam bakso pesanan mereka pun datang, bersama dua gelas teh tawar panas.
"Bismillah...." ucap Ajeng.
Ajeng menyantap makanan di mangkuknya itu dengan nikmat. Rasa mie ayam itu tidak pernah berubah di lidahnya. Ah, ia jadi merindukan masa-masa SMA-nya dulu. Jika pulang lebih siang dan tidak ada tugas, ia sering sekali mengajak Karin dan Sita ke kedai ini. Bahkan tidak jarang, ia menraktir kedua sahabat SMA-nya itu. Ia bersyukur masih bisa menikmatinya hari ini apalagi bersama suaminya sekarang.
Ferdian pun tampak lahap menghabiskan makanannya. Dengan cepat ia berhasil mengisi perutnya dengan mie ayam dan bakso itu. Ajeng menatapnya tertegun ketika melihat mangkuk Ferdian sudah ludes.
"Ya ampun, itu lapar atau doyan, Fer?"
"Dua-duanya!" jawab Ferdian, menyengir memperlihatkan giginya.
Ajeng tertawa-tawa. "Itu ada cabe nempel di gigi kamu!"
Ferdian langsung meminum air tehnya. Lalu kembali menunjukkan gigi di depan istrinya, "udah hilang belum?"
"Udah!" jawab Ajeng, yang kemudian kembali menikmati mie ayamnya. Ia tidak mau terburu-buru.
"Anak-anak SMP pulang lebih dulu dari anak SMA ya?" tanya Ferdian.
"Dulu, iya kayanya. Soalnya aku jarang ketemu sama anak-anak SMP yang pulang barengan."
"Sama! Eh tapi aku pernah sih, tapi itu gara-gara nunggu di sekolah dulu karena hujan."
"Tapi jarang kan?"
"Iya, aku gak terlalu suka kalau pas-pasan sama anak SMA. Pada songong soalnya, apalagi anak cowok!"
"Ah gitulah kadang anak yang lebih tua usianya suka bully tanpa sebab sama yang lebih muda."
"Jadi teringat sesuatu," ucap Ferdian bergumam.
"Apa itu?"
"Pernah waktu itu pulang habis hujan besar, tiba-tiba bubaran anak SMA. Karena males pas-pasan aku jalan lambat banget, eh taunya malah kesandung gara-gara paving block ada yang lepas."
"Terus?"
"Ya kaki keseleo, celanaku basah, lutut berdarah. Untung aja masih di depan sekolah. Mana aku kan gak pernah dijemput tuh, bingung mau pulang susah jalan. Eh tiba-tiba ada anak SMA yang nolong aku, baik banget! Udah gitu cantik lagi! Dia anterin aku pulang sampai rumah. Duh, maaf ya bukan maksud bikin kamu cemburu. Tapi emang berasa ada malaikat cantik nolong aku waktu itu," cerita Ferdian terkekeh-kekeh.
Ajeng terdiam, tertegun mendengar cerita Ferdian yang juga mirip dengan kisahnya.
"Siapa namanya?" tanya Ajeng.
"Gak tau!"
"Kamu kenalan dengan dia kan?" tanya Ajeng lagi.
"Iya, tapi aku sama sekali gak inget namanya," jelas Ferdian.
Tiba-tiba Ajeng tertawa-tawa, matanya berkaca-kaca.
"Kenapa kamu ketawa?" tanya Ferdian tidak mengerti.
"Kayanya itu aku deh!"
Mata sipit Ferdian melebar. "Kamu? Yang tolongin aku dulu?"
Ajeng mengangguk.
"Ah gak usah ngaku-ngaku deh, Sayang! Bilang aja cemburu gitu!" ujar Ferdian tidak percaya, ia mengacak-acak rambut istrinya.
"Benar kok."
"Coba tebak, dulu anter aku pake mobil warna apa?"
"Silver, mobil sedan! Supir berkumis! Itu mobil papa aku!" terang Ajeng.
Kali ini Ferdian yang tertegun, lalu tertawa.
"Ya Allah! Ternyata kita pernah ketemu langsung ya selain acara ulang tahun waktu aku balita."
"Kok gak inget nama aku?"
"Gak tau juga! Padahal dulu aku pernah berdoa biar bisa ketemu lagi sama kakak kelas yang waktu itu nolongin aku. Allah Maha Baik, doaku terkabul, dan sekarang jadi istri aku!"
Ajeng jadi tertawa geli mendengan ucapan suaminya itu.
"Emang kamu inget nama aku?" kali ini Ferdian yang bertanya.
"Samar sih antara Ferry, Ardian, atau apalah yang mirip-mirip."
"Ih jadi gemes, ternyata kamu malaikat aku beneran!" puji Ferdian, menggoda istrinya.
"Lebay!" ucap Ajeng yang tersipu-sipu, wajahnya kemerahan.
Ferdian jadi gemas sekali ingin mencium istrinya itu, namun dengan cepat Ajeng menghindar dari pria itu. Ferdian memang tidak pernah memikirkan aksi konyolnya meskipun itu dilakukan di depan anak-anak SMA yang sedang melewati mereka.
Ckckck.
Duh, Ferdian!
Author jadi gemes juga deh >.<
Keep supportnya ya
Like, comment, vote dan tips
__ADS_1
Makasiiih ^_^
*boleh baca kisah Ajeng Ferdian (prequel) di karya author "Seasons of Love" yaa ❤