
Arsene berlari menuju rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membuka ponselnya. Benar seperti kata ayahnya, Zaara sudah mengirim CV ta’arufnya sejak tadi malam. Langsung saja pria itu mengunduhnya dan membacanya secara perlahan dan detail. Untung saja hari ini ia kuliah pada jam ke dua, sehingga tidak akan terlalu terburu-buru.
Arsene sangat memperhatikan setiap detail kata yang tercantum di CV milik Zaara di sana. Senyumnya mengembang tatkala melihat foto gadis berpipi chubby dengan semu kemerahan itu. Arsene baru sadar kalau ternyata mereka memang hanya berbeda sebulan saja usianya. Arsene lahir bulan Januari, sedangkan Zaara Februari awal.
Ketika membaca gambaran fisik Zaara, Arsene cukup terkejut karena Zaara memiliki rambut dengan jenis bergelombang. Ia tidak bisa membayangkan secantik apa Zaara jika membuka kerudungnya karena memiliki rambut jenis itu. Lekas-lekas ia menghapus imajinasinya dan melanjutkan membaca kolom lain. Visi misi pernikahan milik Zaara tidak terlalu jauh berbeda dengan dirinya. Begitu pula dengan rencana pasca pernikahan, Zaara masih ingin berkarya meski telah menikah. Cita-citanya adalah menjadi editor naskah fiksi dan ia sedang membangun impiannya itu sejak ini dengan menjadi editor lepas di perusahaan pamannya di Natabooks Publisher. Ia pun tidak mempermasalahkan terkait keturunan, sekalipun masih memiliki status sebagai mahasiswa. Arsene salut terhadap komitmen mantan teman sebangkunya itu.
Ada satu lagi hal yang membuatnya tertarik. Zaara berharap rumah tangganya berdiri di atas pondasi sendiri, maksudnya ia berharap agar nanti mereka tidak tinggal bersama orangtua dan mandiri secara finansial, dan membangun semuanya dari nol. Ia akan berusaha membersamai suaminya sekalipun di titik terendah. Arsene tersenyum lebar, ini sangat menantangnya.
Terkait pesta pernikahan, gadis itu berharap jikalau diadakan resepsi maka kondisinya haruslah terpisah antara tamu laki-laki dan perempuan. Arsene sudah mengetahui hal ini.
Bunyi ponsel Arsene terdengar singkat. Pria itu telah selesai membaca semua CV ta’aruf milik Zaara. Arsene membuka ponselnya. Ada pesan baru di grup ta’arufnya. Itu dari Om Reza.
[Forum diskusi dibuka mulai hari ini. Di sini saya akan jabarkan peraturannya agar ta’aruf ini tetap terjaga dan semoga tetap diridhoi Allah. Yaitu :
- Menanyakan hal yang esensial (penting saja) misalnya hal-hal yang tertulis dalam masing-masing CV.
- Tidak out of the topic dan bercanda seperlunya saja :)
- Diskusi ditutup sampai jam 9 malam saja setiap harinya
- Orangtua tetap mengawasi, tetapi tidak mengintervensi atau men-judge
- Jika perlu untuk bertatap muka, silakan japri saya
- Jika tidak ada pertanyaan lanjutan, silakan putuskan apakah lanjut ke tahap berikutnya? Atau berhenti?
Yassarallahu. Semoga Allah memudahkan]
Jantung Arsene tiba-tiba saja berdebar pagi itu. Matahari masih mengintip malu-malu dari balik bukit. Kegugupan melanda Arsene. Notifikasi muncul kembali.
Ada pesan dari Zaara. Jantung Arsene melompat.
[Assalamu’alaikum. Arsene, maaf aku mau tanya. Terkait rencana kamu untuk bersekolah ke luar negeri, kira-kira kapan kamu akan mewujudkannya?]
Arsene berpikir sebentar. Ia tahu, ia tidak mencantumkan kapan akan berangkat ke Sydney atau ke negara lain untuk bersekolah di akademi memasak terbaik di dunia di dalam CV-nya itu. Hanya saja di dalam buku agendanya, ia merencanakan tahun depan, atau jika tiba-tiba saja akademi itu membuka pendaftaran maka ia berkomitmen untuk segera mendaftar. Sedangkan untuk kuliahnya di Sastra Inggris sudah diputuskannya akan berhenti sementara, ia akan mengambil cuti selama mengambil akademi itu dan melanjutkan lagi setelahnya. Perkuliahan umum di akademi memasak memakan waktu dua semester. Jadi ia masih bisa mengejar ketertinggalan di kampusnya sekarang.
[Wa’alaikumsalam. Dalam rencana aku, setelah akademi itu membuka pendaftaran] jawabnya.
Zaara langsung mengetik sesuatu lagi.
[Sekalipun itu misalnya dalam waktu terdekat?]
[Iya betul, setauku, pendaftaran akademi memasak itu dibuka dua bulan sebelum penerimaan mahasiswa] jawab Arsene.
[Oooh…]
[Apa kamu keberatan? Aku akan menyesuaikan rencanaku lagi kalau memang ta’aruf ini berlanjut ke tahap berikutnya] ketik Arsene.
[Enggak sama sekali. Aku cuma ingin tau dan kira-kira butuh berapa lama untuk proses ta’aruf ini?]
__ADS_1
[Aku ngikut aja] jawab Arsene.
Hening. Mereka berdua belum lagi mengetikan sesuatu. Arsene berpikir sejenak. Ia tidak ada masalah dengan semua yang tercantum dalam CV Zaara. Ia bisa menerima semua kelebihan dan kekurangan gadis itu. Muncul kembali pertanyaan Zaara.
[Apa pendapat kamu terkait Long Distance Marriage?]
Arsene kembali berpikir.
[LDR? Menurut aku itu bisa diterima jika keadaan memaksa. Hanya saja, hal yang menjadi prinsip dari sebuah pernikahan harus tetap terlaksana. Misalnya komunikasi, kepercayaan, kesetiaan, nafkah, dan husnudzan dengan pasangan]
[Hmm… ]
Apa Zaara bertanya seperti itu karena menghendaki pernikahan sebelum kepergiannya nanti? Bisa saja. Lagipula Arsene mengerti, dalam sebuah hubungan ta’aruf menuju khitbah lalu ke pernikahan dianjurkan tidak mengambil waktu lama. Seperti yang disampaikan Kang Ilman, lebih cepat lebih baik, dan tidak mempermainkan hati akhwatnya.
[Menurut kamu sendiri gimana?] kali ini Arsene yang bertanya, membalikan pertanyaan Zaara.
[Aku sepakat dengan jawaban kamu. Kalau keadaan memaksa, keduanya harus tetap memegang komitmen pernikahan mereka]
[Nice! Aku mau tanya, di CV kamu tertulis, terkait masalah keturunan, apa kamu sama sekali tidak keberatan sekalipun masih menjadi mahasiswa lalu menyandang status sebagai ibu secara bersamaan? Bagaimana terkait dengan pengasuhan anak?]
Zaara sedang mengetik, cukup lama. Arsene tengah menunggu.
“Cen sarapan dulu!” teriak ibunya dari balik pintu kamarnya.
“Iya, Mom! Nanti aku nyusul!” jawabnya.
“Kuliah jam berapa?”
Arsene kembali memperhatikan ponselnya. Jawaban Zaara sudah ada di sana.
[Aku udah bicarakan ini sama orangtua dan aku tetap sama jawaban aku seperti yang tertulis di CV. Selama masih berkuliah kalau nanti punya anak, aku akan titip sama umi. Jadi aku berharap, aku bisa tinggal dekat sama umi kalau sudah nikah nanti. Pengasuhan penuh akan aku lakukan setelah kuliah] jawab Zaara.
Arsene bisa menerima jawaban itu.
[Terus gimana karir setelah kuliah?] tanya Arsene lagi.
[Aku akan tetap jadi ibu yang berkarya meski hanya dari rumah dan bergelar sarjana] jawab Zaara tidak lama.
[Maaf, aku harus siap-siap dulu mau kuliah. Lanjut lagi nanti ya] ketik Zaara.
[Oke!]
Arsene menutup ponselnya, lalu menghela nafas. Ia keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuju ruang makan. Semua keluarganya sudah berkumpul di sana untuk menikmati sarapan.
“Abang tolong ambilkan gelas buat Daddy!” seru Ajeng yang sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya.
Arsene mengambil beberapa gelas termasuk sebuah mug besar yang memang dikhususkan untuk Ferdian. Ajeng menuangkan air putih hangat di samping suaminya yang sudah rapi, bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta.
“Daddy mau ke Jakarta lagi?” tanya Arsene.
__ADS_1
“Iya, pakdemu butuh bantuan Daddy lagi!”
“Ooh….”
Arsene menyendokkan nasi putih hangat dan lauk pauk hidangan untuk sarapan pagi itu. Semua menu yang tersaji pagi ini adalah buatan ibunya sendiri. Ajeng selalu seperti itu sejak di Singapura. Untuk menu makan siang, biasanya ia akan meminta bantuan asisten rumah tangganya untuk memasak. Begitu pula pada akhir pekan, Ajeng membuat dirinya libur seharian penuh meski ia tetap harus merawat anak-anaknya sendiri. Tetapi ia mengandalkan pekerjaan rumah tangga pada asistennya.
“Mommy pernah LDR sama Daddy?” tanya Arsene di meja makan.
“Pernah, tapi gak lama, karena kamu kecelakaan. Jadi Daddy langsung pulang dan memutuskan untuk gak kembali ke Amerika,” jawab Ajeng sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Berapa lama?” tanya Arsene lagi.
“Tiga atau empat bulan kayanya,” kata Ajeng mengira-ngira.
“Apa yang Mommy rasakan waktu itu?” tanya Arsene penasaran, ia ingin mendapat jawaban objektif dari wanita yang mengalaminya.
Ajeng tersenyum, ia tahu karena ia sudah membaca sekilas percakapan anaknya dan Zaara tadi.
“Jujur, Mommy merasa tersiksa. Mommy kerja waktu itu, punya kamu yang masih kecil dan lagi lincah-lincahnya, tapi gak ada Daddy di samping mommy itu rasanya punya dua sayap tapi patah sebelah. Kamu tahu kan? I felt like I’m nothing without him (Aku merasa tidak ada apa-apa tanpanya).”
Ferdian jadi tersipu-sipu mendengar jawaban istrinya itu. Ingatannya kembali ke beberapa belas tahun silam.
“Gimana rasanya kalau Mommy belum punya anak waktu itu terus ditinggal Daddy? Apa mungkin merasakan hal yang sama juga?”
“Mungkin enggak terlalu, mungkin ya! Tapi bisa jadi kegalauan tetap melanda karena ditinggal kekasih tercinta, apalagi lagi sayang-sayangnya.” Ajeng menjawab itu sambil menyuapi Finn yang sudah bangun.
Arsene terdiam. Apakah keputusan melakukan ta’aruf ini sudah benar dan tepat waktunya? Ia jadi meragukan dirinya sendiri.
“Tapi belum tentu setiap pasangan yang LDR itu akan terus mengurung dirinya dalam kegalauan ya! Banyak kok pasangan di luar sana yang kuat menjalani LDR bahkan bertahun-tahun, tetapi mereka tetap setia dan kokoh. Tergantung mereka menyikapi hal itu. Mommy kira justru kamu berada di momen yang tepat. Kalaupun kalian misalnya harus LDR selama setahun, kalian masih muda dan belum punya anak, masih sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing, bukankah waktu berjalan tidak akan terlalu terasa lambat?”
Arsene tertegun pada jawaban ibunya, seperti sedang menjawab pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
“Jadi maksud Mommy, baiknya Arsene dan Zaara melangsungkan pernikahan secepatnya?” tanya Ferdian memastikan.
Ajeng mengangguk tersenyum. “Niat baik itu harus direalisasikan secepatnya, meskipun ta’aruf ini baru mulai. Mommy kira kalian itu punya banyak kecocokan dan hal yang saling melengkapi. Mommy udah baca CV kalian masing-masing. Tidak ada perbedaan yang mencolok dari kalian berdua, apalagi terkait masalah prinsip.”
Lagi-lagi Arsene tertegun sambil berpikir keras. Kira-kira berapa lama proses ta’aruf ini menuju tahap selanjutnya?
“Oh ya, semalem mommy iseng lihat situs Le Cordon Bleu Aussie, mereka buka pendaftarannya minggu depan lho! Sepertinya kondisi di sana sudah kondusif!”
Jantung Arsene terkejut mendengar hal itu.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung...
Minta sawer poinnya yaa reader-reader ketceh kesayangan, hihi
Like dan tinggalkan komentar juga
__ADS_1
Makasiiih