Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 144. Kesal


__ADS_3

Arsene melahap sarapannya dengan tidak selera pagi itu. Pria itu hanya memainkan sendoknya, menyuap nasi sedikit lalu mengunyahnya malas. Sebaliknya, Zaara semakin lahap saja. Melihat tingkah suami di depannya, Zaara bertanya.


“Kenapa? Gak enak masakan aku?” tanya Zaara.


“Enggak, lagi gak lapar aja,” jawab Arsene. Ia memang tidak sedang selera memakan menu yang sederhana itu. Lidahnya menginginkan sesuatu yang lain.


“Gak tau kenapa aku pengen makan gudeg,” ucap Arsene tiba-tiba.


“Gudeg Jogja? Emang kamu pernah makan itu?” tanya Zaara terkaget-kaget.


“Pernah. Waktu Kang Satrio baru balik dari kampungnya, dia bawain itu.”


“Itu kan udah lama banget!” seru Zaara.


“Ya makanya kok pengen ngerasain lagi.”


“Aku mah belum bisa bikinnya. Kalau mau cari, setau aku ada yang jual di deket sekolah kita dulu. Tapi gak tau tuh rasanya gimana,” Zaara memberitahu sambil menghabiskan sarapannya.


“Boleh aku beli?” tanya Arsene berbinar.


“Beli aja. Nanti kamu malah penasaran!”


“Yess, nanti pulang kuliah aku mampir deh!” seru Arsene riang.


Zaara tersenyum saja melihat suaminya yang kini berusaha menghabiskan sarapannya.


Kuliah Arsene padat, meskipun ia sering mengambil kuota absennya untuk izin mengontrol tokonya ketika ramai, hanya saja tetap tidak bisa lebih dari 3 kali izin. Ia ingin mengejar ketertinggalan di semester 3, juga sekaligus mengikuti beberapa mata kuliah di semester 5.


Siang itu, Arsene pergi ke masjid bersama Adit, kawan terdekatnya. Training akidah, motivasi, dan dakwah untuk mahasiswa baru akan dilaksanakan akhir pekan ini. Sudah banyak mahasiswa baru yang mendaftar untuk acara kajian rutin tahunan itu. LDK akan menyelenggarakannya di gedung balai kampus yang cukup luas.


Arsene mendudukkan dirinya di atas teras selasar dimana tempat itu selalu menjadi favoritnya selama ini. Kepalanya terasa berdenyut siang itu karena ia belum makan siang. Pria itu tiba-tiba saja berlari kencang menuju toilet ikhwan, sambil menahan mulutnya dengan tangan.


Ada semacam tornado dalam perutnya yang membuat Arsene muntah. Tetapi tidak ada sisa makanan dari muntahannya itu. Ia bergidik setelahnya, membersihkan mulutnya. Sepertinya asam lambungnya kambuh siang ini. Perutnya masih terasa mual. ia jadi semakin tidak ingin memasukkan apapun ke dalam mulutnya. Pria itu segera kembali duduk di atas teras, mengambil obat pereda asam lambungnya dari dalam tas dan mengunyahnya untuk meredakan rasa mualnya.


“Lu kenapa Sen?” tanya Adit duduk di sebelah teman sekelasnya itu.


“Mual! Asam lambung kambuh kayanya!” jawabnya sambil mengambil botol minumnya.


“Banyak pikiran lu mah, emang mikirin apa sih?” tanya Adit ingin tahu.


“Gak tau juga, haha! Toko juga gak ada masalah sejauh ini.” Ia mengelap mulutnya dengan punggung tangannya.


“Mikirin istri?!” tebak Adit.


Arsene menatap sahabatnya itu. Berpikir sebentar.


“Entah. Gue juga baik aja sama Zaara. Kecuali….”


“Kecuali apa?”


“Ya ada lah, kemaren-kemaren sempet salah paham dikit, tapi udah kelar kok. Apa karena Zaara makin cuek sama gue ya?” pikir Arsene.


“Zaara cuek?” tanya Adit tidak percaya.


Arsene mengedikkan bahunya. “Perasaan dia makin irit kalau bicara sama gue. Gak kaya dulu. Apa karena dia sempet trauma waktu hamil gitu ya?” Arsene mengusap dagunya.


“Emang Zaara hamil?!”


“Enggak sih! Cuma dia beda aja gitu. Perhatian sih perhatian, tapi entah kenapa ngerasa beda aja bawaannya.”


“Ah perasaan lu aja kali itu mah!”


“Iya kali ya, gue aja yang lagi sensitif.”


“Acara gimana? Udah siap para pengisi materi?” tanya Adit selaku ketua pelaksana acara kali ini.

__ADS_1


“Alhamdulillah. Mereka udah nyiapin materi sesuai dengan TOR (term of references) yang udah kita bikin. Tinggal pastiin tayangan multimedia aja sih ke tim mulmed, soalnya Ustadz Rifki minta dibikinin video tentang visualisasi dakwah kampus.”


“Ooh, jadi kapan deadline tayangannya?”


“Besok.”


“Sip. Ntar lu pastiin ya, biar kalau ada editan gak mepet banget!”


“Siap lah! Angga kemana tumben gak nongol?!”


“Emang gak masuk kuliah hari ini. Ada urusan apa lah kagak tau gue juga!” jawab Adit.


“Tumben banget.”


“Mau dijodohin tuh anak tahun depan!”


“Hahaha. Kok bisa?” tanya Arsene tidak percaya.


“Mana gue tau. Dia pengen kabur ceritanya.”


“Jadi itu alasan dia gak kuliah?”


“Maybe!”


Arsene menggeleng-geleng.


Sore itu selepas perkuliahan selesai, Arsene menunggu Zaara di depan halaman parkir. Ia berencana membawa istrinya untuk membeli gudeg Jogja seperti keinginannya sejak tadi. Gadis bergamis cokelat dan berkerudung pink itu muncul dari gedung B. Bersama kelima kawannya yang lain, mereka berjalan menuju gerbang fakultas.


“Aku ke parkiran ya!” Zaara pamit untuk berpisah dengan teman-temannya.


“Iya, Ra! Besok pinjem catatan kamu ya?” ucap Hana.


“Siap!”


Dari kejauhan Arsene melihat istrinya yang sedang berjalan menghampirinya. Wajah dan pipinya terlihat semakin bulat saja, Arsene jadi ingin menahan tawanya. Hanya saja wajah itu tetap terlihat cantik, malah semakin cantik saja.


“Masih pengen makan gudeg?!” tanya Zaara.


“Iya lah.”


“Kamu ngidam? Hamil aja enggak!”


“Mana aku tau, aku pengen makan aja, kebayang-bayang rasa manis sama kreceknya itu.”


Zaara menggeleng, kemudian menaiki motor suaminya.


Mereka berdua menuju sebuah warung makan yang dimaksud Zaara tadi pagi. Sebuah warung yang memang menyediakan masakan khas Yogyakarta, terletak tidak jauh dari gedung SMA mereka. Zaara dan Arsene turun dari motor.


“Kamu mau beli?” tanya Arsene.


“Gak ah! Kamu aja. Aku gak terlalu suka.”


“Oke deh!”


“Mas, ada gudegnya?” tanya Arsene ragu-ragu.


“Ada, A! Mau berapa porsi?” tanya si penjual yang memiliki kumis tipis itu.


“Satu porsi aja, dibungkus ya!”


“Lengkap ya?”


“Iya Mas!”


Tak lama, Mas penjual tadi memberikan bungkusan berisi gudeg, opor ayam, dan sambal krecek. Wangi aromanya membuat Arsene ingin segera menyantapnya dengan nasi hangat.

__ADS_1


“Yuk!” ajaknya pada istri. “Eh kamu mau beli apa?” tawar Arsene.


“Gak ah. Aku mau masak aja yang simpel.”


“Oh ya udah!”


Keduanya kembali ke apartemen. Arsene langsung menyantap itu setibanya di apartemen lengkap dengan nasi hangatnya. Sementara Zaara hanya menggoreng ayam dan membuat tumis bayam untuk makan malamnya.


“Enaaaak!” seru Arsene riang.


“Alhamdulillah.”


“Kamu gak mau coba? Ini banyak lho!”


“Gak ah! Eneg!” kilah Zaara.


“Ya udahlah terpaksa aku harus habiskan.”


Malam tiba, Arsene menatap langit-langit kamarnya yang gelap itu. Panggilan alam dari jiwanya muncul dan bangkit. Ia menoleh pada istrinya yang sudah tertidur memunggunginya. Sudah beberapa malam, Zaara tidak pernah memeluknya dalam tidur. Padahal biasanya perempuan itu yang selalu meminta untuk dikelon sebelum tidur. Arsene mencolek lengan istrinya. Tidak ada pergerakan di sana.


Kali ini ia mencoba merapatkan tubuhnya. Jantungnya berdebar. Desiran darah mengalir cepat di dalam tubuhnya. Ia menghela nafas. Semoga percobaannya berhasil.


Arsene bangkit dari tidurnya. Ia mengecup lembut bahu dan lengan Zaara yang terbuka. Begitu pula dengan sentuhan lain yang ia coba akan membangunkan istrinya. Arsene mulai menindih istrinya, mengecup leher dan pipi, lalu membuat posisi tubuh Zaara berubah. Sehingga ia bisa leluasa menjamah tubuh istrinya itu. Zaara masih tidak bergerak, apa perempuan itu terlalu lelah sehingga tidak merasakan apa yang dilakukan suaminya?


Arsene tetap berusaha, ia menyusup di balik gaun istrinya. Melakukan sesuatu yang mungkin membuat Zaara benar-benar terbangun.


BUG.


Lutut Zaara menghentak mengenai perut bawah milik Arsene. Membuat pria itu seketika menahan nafasnya. “UGH!” geramnya kesakitan. Rasa nyeri terasa, untung saja tidak mengenai junior kesayangannya yang sedang berdiri. Seketika emosi datang menyambutnya, ia membanting sebuah guling di sana. Hasratnya hilang begitu saja berganti emosi yang memenuhi kepalanya. Pria itu pergi keluar dan memutuskan untuk tidur di kamar sebelah dengan perasaan gusar. Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Menenggelamkan wajahnya di bawah bantal dengan maksud bisa menenangkan dirinya.


Zaara sama sekali tidak tersadar akan kejadian itu karena ia tetap tertidur pulas di dunia mimpinya.


Mata Zaara bergetar, kelopaknya terbuka perlahan ketika ia merasa ada yang hilang di sampingnya. Kosong. Hanya ada bantal dan guling milik suaminya di sana. Ia jadi terperanjat bangun.


Zaara mengambil ponselnya. Alarmnya belum berbunyi meski sudah jam 3.00 dini hari. Ia terkejut mendapati suaminya tidak ada di sampingnya. Zaara bangun dan keluar dari kamarnya. Arsene juga tidak ada di sofa, yang ia pikir sedang menonton Liga Champion tengah malam.


Gadis yang mengenakan daster lengan kutungnya itu membuka pintu kamar sebelahnya. Pria itu tengah meringkuk di sana tanpa bantal dan selimut yang menutupi. Zaara jadi bertanya-tanya kenapa suaminya itu bisa tertidur di sana. Apakah dirinya membuat kesalahan?


Zaara tidak terlalu memikirkannya. Ia mengambil selimut dan menutupi tubuh suaminya. Dikecupnya pipi kekar Arsene. Zaara tidak tega membangunkannya. Perempuan itu berlalu ke kamar mandi untuk melaksanakan shalat malam.


"Assalamu'alaikum," Arsene memasuki apartemennya setelah pulang dari masjid sehabis shalat subuh.


"Wa'alaikumsalam. Abang masuk kuliah jam berapa?" tanya Zaara ketika Arsene menaruh sandalnya di rak.


"Jam 8." Arsene berlalu begitu saja masuk ke dalam kamarnya.


Mendengar jawaban datar suaminya, Zaara mengedikkan bahunya. Ia tetap melanjutkan menyiapkan sarapan paginya.


Arsene masih dengan mode 'silent'-nya ketika menyantap makan paginya. Zaara hanya membiarkannya saja. Hening pagi itu. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan porselen. Mereka telah selesai dan siap berangkat ke kampus.


"Abang kenapa?" tanya Zaara ketika ia mengecup punggung tangan suaminya di halaman parkir.


"Panas. Penat." Jawaban Arsene membuat Zaara mengernyit. Apalagi pria itu tidak menatapnya hangat seperti biasa.


"Ooh… aku ke kelas duluan ya?" pamit Zaara.


"Hmm…"


Arsene menatap punggung istrinya dengan tatapan kesal. Respon gadis itu datar dan biasa saja. Padahal biasanya Zaara akan merajuk atau memelas untuk meminta maaf jika dirinya memasang raut kesal di wajah.


"Kamu kenapa sih Sayang?" tanya Arsene pelan.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu ya

__ADS_1


Like, komen dan vote kutunggu


terima kasih


__ADS_2