Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Lampiasan Amarah


__ADS_3

“Aku tidak menyangka sahabatku sendiri menikungku!”


Suara seorang pria yang tidak lain adalah Firhan. Ya, Firhan rupanya tidak segan untuk menciptakan huru-hara di tempat resepsi pernikahan Rudy dan juga Tiana. Namun, apa daya … akad sudah diucapkan. Rudy dan Tiana pun sudah sah menjadi sepasang suami dan istri. Semarah apa pun Firhan kala itu tidak akan bisa melepaskan ikatan yang sudah terjalin sah di mata hukum dan agama karena Tiana dan Rudy sudah merampungkan akadnya.


Pandu dan Ervita yang baru datang pun memilih untuk tidak terlalu mendekat. Bagaimana pun mereka datang dengan membawa serta Indira, ucapan yang keras dan mungkin saja tidak baik tentu tidak baik untuk anak-anak kecil yang turut hadir siang itu.


“Kamu temanku, Rud … kamu sahabatku. Namun, kenapa kamu justru menikungku dan sekarang menikahi Tiana? Hanya berselang 1 bulan!”


Firhan berteriak dan seolah meminta penjelasan dari Rudy, temannya sejak di bangku kuliah. Teman yang sudah begitu dekat layaknya sahabat. Akan tetapi, justru kini dengan mata kepalanya sendiri Firhan melihat Rudy bersanding dengan Tiana di pelaminan. Satu bulan adalah waktu yang singkat, dan sekarang dia melihat sahabatnya yang bersanding dengan wanita yang pernah menjadi kekasihnya.


"Ah, aku masih ingat dengan jelas, kamu kan Rudy yang mengatakan masa laluku kepada Tiana? Apa dengan cara menjelek-jelekkan aku, baru kamu bisa mendapatkan Tiana? Tidak bisakah kamu bersaing secara sehat, Rud? Kamu mencoba membandingkan betapa baiknya masa lalumu dan buruknya masa laluku? Iya kan!"


Emosi dalam diri Firhan benar-benar tak terkontrol. Rasanya juga dia merasakan Rudy yang menikungnya, Rudy yang sengaja menjelekkan dirinya hingga akhirnya kini Rudy berhasil menikahi Tiana, hanya selang satu bulan dari gagalnya pernikahannya dengan Tiana.


Pandangan para undangan, kecemasan Tiana, dan beberapa tangan yang merekam dengan handphone tidak dipedulikan Firhan lagi. Hatinya terlampau sakit. Wanita yang dia cintai dan cukup lama berpacaran dengannya, nyatanya kini justru menikah dengan sahabatnya sendiri.


"Tidak seperti itu, Han," balas Tiana yang berusaha berbicara dan menenangkan Firhan.


"Tidak seperti itu apa maksudmu? Dulu kamu mencoreng wajahku dan keluargaku. Satu malam sebelum akad, kamu membatalkan semuanya. Bahkan Bapakku sampai terkena serangan stroke. Aku datang ke mari dan mengiba, tapi ini balasanmu, Tiana!"


Seolah luka, kesal, marah, bahkan dendam dilampiaskan Firhan malam ini juga. Hatinya terlampau sakit melihat kenyataan ini. Yang ingin Firhan lakukan adalah mencoreng kebahagiaan Tiana dengan membuat kekacauan ini.


"Bukan begitu, Han … bukan begitu," balas Tiana dengan menggelengkan kepalanya.


"Semua sudah jelas Tiana, kamu mengelak pun, aku tidak akan percaya. Kamu bilang aku harus meminta maaf untuk orang yang aku sakiti di masa lalu, tapi kamu Tiana, kamu orang yang menyakitiku juga dan keluargaku."


Firhan berteriak bahkan tangannya sudah terangkat dan turut menunjuk-nunjuk Tiana dan Rudy yang berdiri hanya beberapa meter di hadapannya.


"Sadar, Han … yang kamu lakukan ini tidak benar," ucap Rudy.


"Yang kamu lakukan jauh tidak benar. Kamu menikung aku. Kamu membuka aib di masa lalu. Mau kamu apa? Ha!"

__ADS_1


Emosi Firhan benar-benar mendidih kali ini. Layaknya air panas yang mendidih hingga letupannya bisa mengangkat penutup panci. Ya, sepenuhnya Firhan merasakan dadanya bergemuruh dengan amarah. Pun dengan otak dan mulutnya yang melampiaskan semua amarah itu.


“Seharunya kamu bertanggung jawab kepada wanita yang sudah kamu hamili, Han … bukan menyembunyikannya dan membohongi Tiana. Lagipula, kami memulai hubungan ini dengan keyakinan untuk mendapatkan pasangan yang terbaik,” balas Rudy.


“Sekali nikung tetap aja nikung,” balas Firhan.


"Aku akan ingat penghinaan ini selamanya. Begitu pun kalian. Pernikahan ini akan kalian ingat. Sialan!"


Usai melampiaskan semua amarahnya, Firhan memutar tubuhnya dan pandangan matanya bersitatap dengan Ervita dan Pandu yang ada di belakangnya. Firhan berjalan perlahan dan akhirnya berhenti di hadapan Ervita.


"Semua ini gara-gara kamu, sialan!"


Masih ada Firhan menyalahkan Ervita untuk apa yang sudah terjadi. Padahal hancurnya rencana pernikahannya dengan Tiana sebulanan yang lalu sama sekali bukan andilnya. Sementara untuk tikung-menikung, Ervita tidak tahu, dia datang hanya untuk memberikan selamat kepada Tiana dan juga Rudy.


Melihat Firhan yang berdiri di hadapan Ervita dan suaminya, Rudy pun turut dari pelaminan dan menarik paksa tangan Firhan, membawanya untuk menyingkir. Sebab, bisa saja mulut buas Firhan bisa melemparkan kata-kata hinaan untuk Ervita.


"Ikut aku, Han ...."


Ervita menatap kepada suaminya, dan di sana suaminya menganggukkan kepalanya. Dengan masih mempertahankan Indi dalam gendongannya, Pandu dan Ervita mengikuti Rudy ke area belakang hotel.


Rudy menyentak tangan Firhan dan membuat pria itu limbung dan nyaris jatuh.


"Firhan, harusnya kamu meminta maaf kepada Ervi ... kamu yang membuat Ervita menanggung malu seumur hidupnya. Kamu harusnya mengakui dan bertanggung jawab untuk anaknya. Dia juga anakmu," ucap Rudy.


Akan tetapi, Ervita dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak usah mengatakan semua itu Rudy. Bagiku ... semua yang ada di masa lalu sudah selesai. Aku tidak mengharapkan apa pun darinya. Maaf Rud, aku dan suamiku pergi," balas Ervita.


Itu memang karena Ervita tidak mengharapkan apa pun dari Firhan. Bahkan pengakuan dan tanggung jawab untuk Indira, Ervita juga tidak mengharapkannya. Dia dan Pandu tidak mengharapkan semuanya itu.


"Setidaknya dia harus meminta maaf, Vi ... berhutang maaf kepadamu," balas Rudy.


Pandu yang semula diam akhirnya pun berbicara. "Tidak usah ... semua yang manusia lakukan semuanya akan ditakar sama Yang Kuasa. Benar yang istriku katakan, kami tidak butuh dan tidak mengharapkan apa pun. Dia adalah anakku. Walau bukan darah dagingku, tetapi hatinya dekat denganku. Anak yang kusayangi dengan sepenuh hatiku," balas Pandu.

__ADS_1


Mendengar apa yang disampaikan oleh Pandu membuat Rudy dan Firhan menatap kepada Pandu di sana. Lantas, Pandu menatap kepada istrinya yang ada di sana.


"Yuk, Dinda ... kita pergi dari sini," ajaknya.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Aku berterima kasih untuk niat baikmu, Rud ... doaku kamu dan Tiana bisa berbahagia. Kami pamit," balas Ervita.


Di sana rupanya justru Firhan dan Rudy terlibat adu mulut dan juga membuat Tiana menyusul ke belakang dan menangis melihat Rudy dan juga Firhan. Pernikahan yang penuh bahagia justru berubah menjadi perseteruan dan juga adu mulut. Rudy yang merasa tidak menikung, dan Firhan yang merasa ditikung. Masing-masing orang memiliki kekesalannya sendiri dan amarahnya sendiri-sendiri.


***


Dear My Bestie,


Bestie, jika senggang dan berkenan silakan mampir dan dukung karya-karya berikut ini yah ....


1. Anak Genius - Antara Benci dan Rindu



2. Gerbang Perselingkuhan



3. Aku\,Apa Adanya



Terima kasih semuanya. Jangan lupa dukung karya Author yang lainnya yah.


Love U All,


Kirana

__ADS_1


__ADS_2