
Mood Ervita rasanya cukup buruk, dia masih terusik dengan perkataan Lina. Juga, dia merasa tidak suka ketika Lina bercerita bahwa di kaki Gunung Andong waktu itu Lina menunggu Pandu untuk keluar dan ingin memiliki waktu bermesraan dengan Pandu. Akan tetapi, yang keluar adalah Roni. Ada rasa tidak suka di dalam hati Ervita karena dia merasa Pandu sekarang hanya miliknya. Benar, semua hanya masa lalu. Akan tetapi, rasanya juga ketika seorang wanita menceritakan semua itu di hadapan wanita lain yang kini sudah berstatus sebagai istrinya Pandu membuat Ervita terusik dan merasa tidak suka.
Di ruang tamu itu, kurang lebih sepuluh menit sudah waktu berlalu. Sementara baik Ervita dan Pandu masih sama-sama duduk dan diam. Tak tahan jika lama-lama dalam kondisi diam seperti ini, Pandu pun beringsut, satu tangannya terulur dan menggenggam tangan Ervita di sana.
"Nda, jangan diam ... aku paling tidak bisa kalau diem-dieman kayak gini sama kamu," ucapnya.
Namun, di satu sisi Ervita masih memilih untuk diam. Dia merasa bingung juga harus merespons bagaimana. Memang semua hanya masa lalu, tetapi kehadiran Lina yang dinilai Ervita agresif bisa mengganggu rumah tangganya.
Jika Ervita diam, maka kali ini Pandu yang berinisiatif. Dia mendekat ke arah istrinya itu dan merangkulnya. Tidak bermaksud modus, tapi Pandu kala itu mendaratkan kecupan demi kecupan di pipi Ervita.
Chup! Chup! Chup!
"Kalau sebel bicara, Nda ... jangan diam kayak gini. Aku paling tidak bisa diem-dieman sama kamu. Baru sepuluh menit, aku sudah benci banget," aku Pandu dengan jujur.
"Aku gak suka," ucap Ervita kemudian.
"Iya, gak suka sama siapa?" tanya Pandu.
"Gak suka sama mantan kamu," jawab Ervita lagi.
Pandu menghela nafas di sana, "Bisa enggak, tidak usah dipikirin. Nanti yang ada justru mengusik keharmonisan rumah tangga kita. Jangan dipikiran, kamu juga baru hamil, Nda ... percayai aku saja."
Lagi-lagi Ervita diam, tetapi perasaan kesal masih ada. Sebenarnya, setiap kali bertemu Lina, moodnya menjadi hancur, juga karena entah dari siapa, Lina bisa mengetahui masa lalu Ervita.
__ADS_1
"Ya sudah, kini aku cerita ... biar Bumilku percaya sama aku. Begini Dinda ... aku bukan bermaksud menjelek-jelekkan orang lain, termasuk Lina. Akan tetapi, dia berpetualang bukan hanya dengan Roni di dalam tenda itu. Selana dua minggu, aku tahu dia bercinta dengan Anton di dalam kostnya, waktu itu aku main ke kostnya temenku yang berada di tempat kostnya Anton. Kala itu dia menangis awalnya dan bercerita juga karena aku tidak mau menyentuhnya, akhirnya terjadi juga percintaan dengan Anton. Kabarnya, dalam satu bulan kemudian Lina itu hamil muda, waktu itu dia semingguan tidak masuk kuliah. Terus ada temenku yang lain bilang kalau dia habis menggugurkan kandungannya dengan dukun beranak dengan cara dipijat gitu. Jadi, mana yang salah Dinda? Melakukan percintaan sembarangan dan menggugurkan bayi dengan cara dipijat kayak gitu. Aku yakin tangisan Lina dan aku yang tidak mau menyentuhnya dijadikan alat supaya dia dikasihani pria lain dan akhirnya ditiduri," cerita Pandu dengan panjang lebar.
Memperhatikan, Ervita pun menatap suaminya itu. Mencari tahu apakah semua yang baru saja disampaikan oleh Pandu benar adanya. Jadi, apakah alasan itu yang membuat Pandu tidak memberi maaf kepada Lina.
"Menurutku, dia tidak akan pernah cukup dengan satu pria Dinda. Air mata hanya dijadikan alat untuk mendapatkan perhatian dari pria. Mungkin pria kan melihat wanita menangis menjadi iba, dipeluk, dielus-elus, akhirnya larinya kemana Nda? Ke ranjang. Itu sudah pasti," balas Pandu dengan menghela air mata.
"Kalau dia menjeratmu dengan air matanya?" tanya Ervita kemudian.
Dengan cepat Pandu menggelengkan kepalanya, "Tidak Nda ... aku akan menjaga hati dan diriku," balasnya.
"Mungkin Lina bersikap begitu, karena kamu menjadi pria yang tidak bisa Lina taklukan dan bawa ke ranjang. Jadi, dia masih nekad gitu," balas Ervita.
"Aku terlalu takut, Nda ... bukan merasa sok suci, cuma bagiku hubungan suami istri, bercinta itu sakral. Satu-satunya hubungan yang hanya akan aku lakukan dengan pasanganku yang sah dan halal saja. Kesucian pernikahan harus dibarengi dengan kesucian melakukan hubungan percintaan yang sehat. Sehingga, memang ya kamu satu-satunya buatku. Selain kamu, aku tidak akan menyentuh orang lain," tegas Pandu.
Sungguh, hati Ervita menjadi begitu menghangat. Terlihat jelas bahwa Pandu adalah pria yang baik dan juga menghargai hubungan percintaan dalam rumah tangga. Menganggap hubungan suami istri adalah hal yang sakral. Mungkin karena itu juga, jika sudah bersama dengan Ervita, Pandu bisa menikmati percintaan dan memberikan perasaan yang sangat indah dengannya.
"Awalnya terusik, Nda ... cuma ya bagaimana lagi, karena pacaran dulu lurus-lurus saja dan menghindari kontak fisik lama-lama cuma dianggap kedok saja. Padahal aku sangat normal. Ini buktinya bahwa aku pria normal, dengan hadirnya buah hati kita ini," ucapnya.
"Sekarang masih terusik enggak?" tanya Ervita lagi.
"Enggak ... biarkan saja. Orang bisa menilai aku yang macam-macam kok, Nda ... hanya saja, semua itu tidak benar. Semua orang boleh menilaiku macam-macam, yang penting kamu menilaiku dengan benar saja, Nda. Penilaian kamu itu yang nomor satu," balasnya.
Pandu beringsut dia merangkul Ervita, dan membawa istrinya itu untuk mendekat kepadanya, mencerukkan kepala wanita itu ke dadanya, dan Pandu mendekap tubuh Ervita dengan begitu erat.
__ADS_1
"Jangan marah lagi ya Nda ... kalau lain waktu ketemu dia lagi, biarkan saja. Ucapannya akan selalu sama, menyakiti kamu dan memojokkan aku yang katanya tidak normal. Biarkan saja. Menghadapi dengan frontal seperti main tangan aku tidak bisa, Nda ... didikan dari Bapakku itu seorang pria jangan pernah memukul wanita, siapa pun itu. Jadi, caraku membela kamu dan bertahan paling dengan ucapan saja."
Usai mendengarkan penjelasan Pandu, Ervita menganggukkan kepalanya, "Iya, cuma aku gak suka kalau dia bilang ingin tidur dengan kamu. Aku gak suka," balas Ervita.
Pandu pun menghela nafasnya di sana, "Gak akan pernah terjadi, Dinda ... satu-satunya wanita yang tidur denganku hanya kamu, Ervita saja seorang, tidak ada yang lain. Mulai posesif ya Nda?" tanya Pandu kemudian dengan sedikit tersenyum.
"Aku cuma mau mempertahankan apa yang menjadi milikku," balas Ervita dengan terdiam kemudian.
Akhirnya Pandu tersenyum di sana, "Sama, aku akan mempertahankanmu sebagai milikku yang berharga. Kamu dan Indi adalah hal yang berharga untukku, Nda. Sudah yah ... jangan dibahas lagi, nanti bikin bumilku ini jadi badmood."
Pandu lantas membawa tangannya dan mengusapi perut Ervita di sana, "Adik bayi di sini baru ngapain yah? Ini jadi bukti, bahwa Yayahnya adalah pria normal. Benih kualitas super dariku," ucapnya.
Ervita sedikit beringsut dan menatap wajah suaminya yang terlihat sudah begitu sayang dengan bayinya yang masih berada di dalam kandungan.
"Masih kecil dia Mas ... perut aku saja masih rata," balas Ervita.
"Iya sih ... cuma aku sudah sayang banget sama dia. Love U Little Baby," balas Pandu.
Pandu kemudian menatap Ervita di sana, "Mau di sini terus Nda? Ke kamar yuk?" ajaknya kemudian.
"Hmm, ngapain ke kamar mas?" tanyanya.
"Mau melepaskan stress, Nda ... tukar 10 menit diem-dieman tadi dengan mengarungi Samudra Cinta. Yuk, mumpung Indi ada di rumah Eyangnya," ajak Pandu kemudian.
__ADS_1
"Ah, modus," balas Ervita.
"Yuk, Nda ... siang bergelora," balas Pandu yang sudah begitu semangat 45 kali ini.