Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menenangkan Mood Swing-nya Bumil


__ADS_3

Perubahan suasana hati atau mood swing begitu lekat dengan ibu hamil. Oleh karena itu, Pandu pun berusaha maksimal agar istrinya itu tidak marah. Walau sebenarnya, Pandu sangat tahu jika sekarang Ervita tengah kecewa. Namun, bagaimana lagi, Pandu tidak ingin mengambil risiko. Dia masih ingat bagaimana Kakaknya dulu merasakan kontraksi ketika sedang berada di Mall. Saat itu saja, Pandu paniknya bukan main.


Terlebih sekarang yang Pandu hadapi adalah istrinya sendiri, sudah pasti Pandu lebih panik jika terjadi apa-apa dengan Ervita. Tidak ingin mengambil risiko, memang sebaiknya menunda untuk pulang ke Solo. Namun, Pandu berjanji nanti pasti akan mengajak Ervita untuk pulang ke Solo.


"Mau telepon Mei dulu enggak? Masih jam 20.00 sekarang. Pasti keluarga di Solo masih belum tidur," ucap Pandu kemudian.


"Besok aja," balas Ervita.


"Terus maunya apa?" tanya Pandu kemudian.


"Bobok aja, Mas," balas Ervita.


Itu juga karena Ervita sudah merasa bad mood. Walau sudah tidak marah, tetap saja rasanya masih sebal. Harapannya bisa pulang ke Solo dan bertemu dengan Mei dan bayi kecilnya tidak terkabul.


"Masih marah?" tanya Pandu lagi.


"Enggak," balas Ervita.


Namun, dari jawaban yang diberikan Ervita masih berupa satu patah kata, Pandu sangat tahu bahwa istrinya itu masih kesal dengannya. Akan tetapi, Pandu memberi waktu untuk Ervita. Tidak akan membuat Ervita tertekan. Bagaimana pun, Ervita juga butuh waktu untuk memperbaiki moodnya lagi.


Pandu hanya berbaring di belakang Ervita dengan memeluk istrinya itu, dengan sesekali tangannya mengusapi perut istrinya yang kian membuncit. Jika terlalu banyak berbicara tidak akan berarti, maka Pandu ingin menenangkan istrinya dengan cara yang lain. Menyentuhnya dengan maksud Ervita bisa lebih tenang.

__ADS_1


"Nih Dinda, perut kamu sudah membuncit banget. Adik bayi juga bentar lagi sudah saatnya bertemu Ayah dan Bundanya. Kalau terjadi kontraksi di jalan, aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih, Dinda."


Pandu berbicara perlahan dengan memeluk Ervita di sana, dan tangannya mengusapi perut istrinya itu. Dipeluk oleh Pandu, dan mendapatkan usapan di perutnya, rupanya si Baby merespons, sehingga sekarang baby itu bergerak perlahan. Seolah menendang.


"Eh, Babynya menendang. Kamu tahu kalau Yayah yang berbicara ya Sayang," ucap Pandu.


Kali ini, Ervita merasakan perasaannya menjadi hangat. Suaminya itu begitu lembut dan juga justru berusaha meredam emosinya. Berusaha memperbaiki moodnya.


"Emangnya Didi yang memanggil Ayahnya dengan sebutan Yayah," balas Ervita kemudian.


Pandu diam-diam tersenyum. Ini artinya istrinya itu sudah tidak lagi marah. "Iya, kan dia adiknya Didi. Nanti manggilnya juga sama-sama Yayah. Kayak Mbak Didi," balas Pandu.


Pun dengan Pandu yang tahu cara untuk memperbaiki mood swing istrinya yang tengah hamil itu. Sekarang pun, Pandu sedikit beringsut, dan melihat wajah Ervita yang berurai air mata. Dia membuat Ervita untuk berhadap-hadapan dengannya.


"Justru nangis loh," ucap Pandu.


Tidak menjawab, Ervita justru masuk ke dalam pelukan Pandu. Mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya itu, berurai ari mata di dekapan suaminya. Pun Pandu yang justru tersenyum. Perubahan mood ibu hamil ternyata bisa sedrastis ini. Dari kesal dan sekarang menjadi menangis. Akan tetapi, Pandu sangat percaya bahwa kali ini bukan kesedihan. Mungkin istrinya itu terharu.


"Maaf ya Mas ... tadi udah sebel," ucap Ervita kemudian.


"Tidak apa-apa, Nda ... aku tahu kalau kamu sedang sebal kok," balas Pandu.

__ADS_1


"Mas Pandu gak marah?" tanya Ervita kemudian.


Pandu dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggaklah, enggak marah. Untuk apa juga aku marah sama kamu, Nda," balas Pandu.


"Jadi, nanti atau besok telepon keluarga di Solo dulu yah? Nanti aku aja yang bilang, kan kehamilan kamu sudah tua. Sudah memasuki masa bersalin. Jadi, kita bersiap dulu, Nda. Jangan lupa siapkan koper atau tas untuk perlengkapan ibu dan bayinya," ucap Pandu lagi.


Ervita pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya Mas, besok aku bersiap untuk menyiapkan koper untuk kita. Indi dititipkan ke Eyangnya dulu kalau aku bersalin ya Mas," balas Ervita,


"Iya, Indi biar sama Bapak dan Ibu dulu. Masih ada Lintang kan, jadi aman sih untuk Indi nanti," balas Pandu.


Ervita sedikit beringsut dan kemudian dia mengambil posisi duduk, hendak turun dari ranjangnya. Pandu dengan cepat mencegah istrinya itu.


"Mau ngapain Nda?" tanyanya.


"Mau minum, Mas ... haus," balas Ervita.


"Kamu duduk aja di sini, biar Kanda yang ambilin kamu minum," balas Pandu.


Mengangguk. Ervita menunggu suaminya itu untuk mengambilkannya minum, sembari Ervita mengusapi perutnya. "Maafkan Bunda yang tadi sebel sama Yayah yah. Namun, Yayah kamu justru baik banget dan bisa menenangkan Bunda. Maaf yah, Yayah sayang sama kamu dan Mbak Didi juga, Nak."


Bagi Ervita itu adalah sebuah nilai mutlak yang dia terima bahwa Pandu begitu menyayangi Indi dan adiknya nanti. Tidak membeda-bedakan keduanya. Menyayangi keduanya dengan kasih sayang yang sama besarnya.

__ADS_1


__ADS_2