Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kehamilan Wati yang Bertambah Bulan ....


__ADS_3

Di Solo ....


Usai kehamilan Wati tidak terasa sudah bertambah bulan. Sekarang, usia kehamilan Wati sudah menginjak tujuh bulan. Perut Wati semakin membuncit. Kendati demikian, Wati terlihat sangat bersemangat. Wanita itu tampak tak mengeluh sama sekali. Justru, dia sangat bahagia ketika tinggal dua bulan menuju waktunya bersalin. Selain itu, Firhan juga sangat perhatian dengannya, sehingga Wati mengaku tidak memiliki kesulitan selama hamil.


"Perutnya semakin membuncit yah, Sayang," ucap Firhan kepada istrinya.


Tangan pria itu bergerak dan mengelus perut Wati yang memang membuncit. Ada kalanya Firhan merasa kasihan dengan Wati. Selain itu, terkadang kaki Wati juga tampak besar sebelah. Oleh karena itu, Firhan sering meminta Wati untuk beristirahat saja.


"Iya, Mas ... sudah tujuh bulan. Gak kerasa, rasanya baru kemarin positif hamil, dan sekarang sudah tujuh bulan saja," balas Wati.


"Baby kita made in Malang ya, Yang," balas Firhan yang tentunya mengajak istrinya itu bercanda.


Tentu Firhan masih ingat bahwa kehamilan Wati dulu terjadi karena Honeymoon mereka ke Malang. Menyempatkan waktu untuk liburan bersama usai Firhan sembuh dari disfungsi ereksinya. Untuk Wati dan Firhan kehamilan ini benar-benar berkah tersendiri untuk mereka berdua.


Seorang suami yang divonis tidak bisa bertahan terlalu lama, tidak bisa memberi kenikmatan untuk istrinya pada akhirnya dengan pengobatan rutin akhirnya berhasil sembuh. Seorang istri yang dulu selalu berderai air mata, mengharapkan seorang anak, akhirnya Allah kabulkan. Ketika doa dijabah oleh Allah, rasanya sungguh luar biasa. Hati rasanya selalu melimpah dengan ucapan syukur yang tiada akhir.


"Kota Apel, lucu banget sih Mas," balas Wati.


"Iya, memang. Kan tidak lama setelahnya kamu positif hamil. Bagiku ini mukjizat yang luar biasa, Yang. Sampai persalinan nanti, pastinya penuh mukjizat dari Allah," balas Firhan.


"Amin. Benar sekali, Mas. Aku juga berpikirnya demikian. Nanti baby kita ini namanya siapa, Mas?" tanya Wati tiba-tiba.


Selama ini memang keduanya belum membalas nama untuk bayinya. Namun, sekarang usia kehamilan sudah tujuh bulan. Rasanya mereka juga harus menyiapkan nama yang bagus dan tentunya menyematkan doa untuk bayinya nanti.


"Siapa ya, Yang. Jujur, aku belum kepikiran," balas Firhan.


"Namanya Indi itu sapa, Mas?" tanya Wati kemudian kepada suaminya.

__ADS_1


Firhan tersenyum tipis, dia kemudian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu nama panjangnya, Yang. Namanya Indira. Panjangnya aku tidak tahu, yang pasti tidak akan memakai nama Hadinata bukan? Sebab, dia lahir ketika Ervita belum menikah dengan Pandu," balas Firhan.


Wati mendengar suara suaminya itu. Sekaligus dia baru tahu, bahwa pernikahan Ervita dan Pandu pun baru terjadi ketika Indi sudah dilahirkan. Praktis, Indi memang lahir di luar pernikahan. Tidak ada pertanggungjawaban sama sekali dari siapa pun.


Usai mengatakan itu, Firhan kembali berbicara kepada Wati. "Lihatlah, aku bukan pria yang baik kan? Aku merenggut mahkotanya, membuatnya hamil, dan tidak bertanggung jawab sama sekali. Sekarang, aku juga tidak tahu nama anak itu. Hanya Indira, itu yang aku tahu. Yah, mungkin sebanding dengan penolakan Indi atasku. Aku seorang ayah, yang dipanggil Om oleh darah dagingku sendiri," kata Firhan.


Kadang rasa sesak itu kembali datang. Dia masih terngiang-ngiang bagaimana Indi memanggilnya Om. Itu pun bukan sepenuhnya kesalahan Indi, melainkan Firhan yang memilih untuk mengalah. Daripada putrinya menolaknya terus-menerus dan takut saat melihatnya. Sehingga, Firhan memutuskan untuk mengalah.


"Kan masa lalu, Mas. Aku yakin kamu adalah ayah yang baik untuk baby kita nanti. Jadi, mau kasih nama siapa?" tanya Wati lagi.


Sebisa mungkin Wati mengalihkan pembicaraan supaya suaminya itu tidak kepikiran. Selain itu, Wati juga sangat yakin bahwa Firhan adalah sosok ayah yang baik untuk baby mereka nanti. Semua itu terlihat dari perubahan sikap Firhan dan juga bagaimana Firhan memperlakukan dia, mencurahkan perhatian penuh untuk Wati.


"Kamu ada request nama enggak, Yang?" tanya Firhan.


"Aku belum kepikiran sih, Mas. Mungkin nama yang Jawa gitu bagus deh. Unik aja," balas Wati.


Wati merespons dengan menganggukkan kepalanya. Nama depan mungkin Wati bisa mencari-cari, dan nama belakangnya pastilah nama suaminya.


"Apa harus berawalan I kayak namanya Indi sih, Mas?" tanya Wati.


"Enggak, suka-suka kamu saja, Sayang. Nanti aku tambahkan saja namanya," jawab Firhan.


"Oh, kirain mau berawalan I kayak Indi. Kan bagaimanapun mereka kakak adik nanti," balas Wati.


"Memang kakak adik. Cuma, kayaknya mereka akan memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Terlebih Indi yang berada di Jogja, dia sudah bahagia bersama Pandu," jawab Firhan.


"Ya sudah, di dalam hidup ada pilihan juga kan Mas? Indi yang kecil sudah bisa memilih sosok ayahnya, dan sampai dewasa nanti. Yang pasti, ketika dewasa dia tahu sosok ayahnya, ya kamu terima dengan tangan terbuka," ucap Wati.

__ADS_1


"Sampai dia dewasa nanti, aku juga tidak bisa menjadi wali nikahnya, Yang," balas Firhan.


"Kenapa, Mas?" tanya Wati dengan mengernyitkan keningnya.


Setahunya ayah biologisnya adalah suaminya itu, bukan Pandu. Sehingga tidak mungkin bagi Pandu menjadi wali nikah Indi. Yang layak adalah Firhan.


"Dia tidak memiliki nasab. Dia mengikuti nasab Ibunya. Sehingga, aku pun tidak bisa menjadi walinya nanti."


Mendengar apa yang Firhan sampaikan Wati merasa sangat pedih. Dia tidak bisa membayangkan bahwa Indi akan menikah tanpa diwalikan ayah biologisnya. Dia akan diwakilkan wali hakim. Selain itu, nama yang disebut di belakangnya adalah nama Ibunya. Dia adalah gadis yang mengikuti nasab sang Ibu.


"Ya ampun, kasihan ya, Mas," balas Wati.


"Iya, aku juga tidak mengira bahwa dampaknya sejauh ini. Kasihan putriku itu," balas Firhan.


Wati juga merasa iba. Sekarang Indi masih kecil, sehingga tidak begitu tahu tentang hal demikian. Akan tetapi, ketika dia beranjak dewasa dan akan ada pria yang mempersuntingnya pastilah semua tabir akan terbuka. Di dalam hatinya, Wati mendoakan ada pria baik dan berhati mulia yang mau menerima Indi.


***


Dear Pembaca Setia Muara Kasih Ibu Tunggal,


Cerita ini akan segera selesai yah. Tinggal beberapa bab lagi untuk Ending. Namun, jangan khawatir yah karena kita akan bersambung ke cerita Indi sewaktu besar nanti.


Kapan akan dipublish? Jika tak ada kendala, cerita Indi akan mulai dipublish awal bulan nanti. Selalu dukung dan ikuti selalu yah.


Terima kasih,


Kirana🤗❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2