Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Embrio si Janin


__ADS_3

Bisa dibilang hari kemarin adalah hari yang begitu berat untuk Ervita. Bagaimana tidak, sejak kemarin pagi dia datang bertemu dengan Firhan dan mengatakan kehamilannya, tetapi Firhan justru mengelak dan menuduhnya yang bukan-bukan. Ibarat pepatah mengatakan, 'Habis manis sepah dibuang.' Begitu mahkota yang Ervita miliki telah robek dan tidak akan bisa kembali lagi, Firhan pun mencampakkannya begitu saja. Kisah pilunya masih berlanjut karena Ervita mendapat marah dan orang tuanya dan terusir dari rumahnya. Sebagai wanita yang hamil muda di usia belia, semua cobaan yang dihadapi Ervita ini sangat berat.


Kini, di kamar kost ini Ervita akan memulai hidupnya seorang diri. Tanpa kasih sayang dan perhatian dari Bapak dan Ibunya. Tidak ada tawa dan sapaan yang hangat dari adik kecilnya, Mei. Juga, tidak ada sosok Firhan. Walaupun di dalam hati Ervita masih mengharapkan bahwa Firhan akan datang dan bertanggung jawab atasnya dan bayi yang sekarang berada di dalam kandungannya.


"Maafkan Ibu ya Adik ... kamu masih berada di dalam kandungan Ibu saja sudah begitu banyak cobaan yang kita alami bersama. Namun, Ibu akan kuat untuk kamu. Ibu akan melakukan yang terbaik untuk kamu," ucapnya lirih.


Kini dengan meringkuk kecil di atas spring bed, Ervita masih menangis dan mengelus perutnya yang terasa masih kencang. Wanita itu berpikir apa yang hendak dia lakukan terlebih dahulu. Terpikirlah sesuatu yang harus Ervita lakukan sejak dini yaitu memeriksakan kandungannya. Sebab, Ervita tidak tahu berapa usia kehamilannya sekarang ini.


"Masih ada beberapa sisa tabungan milik Ibu, besok kita periksa ke Dokter Kandungan ya Dik ... setelah itu Ibu harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan kita. Untuk persiapan persalinan Adik nanti. Selalu temani Ibu ya, Dik ... kini keluarga Ibu cuma Adik seorang," ucapnya lagi dengan sesegukan.


Ketika banyak orang menganggap kehamilan adalah kabar baik dan mendapat selamat dari keluarga besar, tetapi nyatanya Ervita justru mengalami kehamilan dengan begitu pilu. Namun, Ervita tak ingin menyerah. Dia ingin membuktikan bahwa tanpa tempat bersandar pun, Ervita bisa. Setidaknya dia harus kuat untuk janin yang kini bersemayam di dalam rahimnya.


***


Keesokan harinya ....


Dengan dibantu oleh Lusi, Ervita mencari Bidan yang tempatnya tidak jauh dari kostnya. Untung saja, siang itu Ervita mendapatkan tempat praktik seorang Bidan yang bisa melakukan pemeriksaan kandungan dengan USG. Dulu, memeriksa kehamilan dengan alat bantu USG hanya bisa dilakukan oleh Dokter Spesialis Kandungan saja. Akan tetapi, seiring dengan berkembangnya zaman, para bidan (dolla) pun bisa melakukan pemeriksaan dengan USG. Mengingat Rupiah yang dimiliki Ervita juga tidak terlalu banyak, karenanya Ervita pun memilih untuk memeriksakan kandungannya ke Bidan tersebut.


Wanita itu datang ke tempat pemeriksaan Bidan Sri itu dengan menaiki sepeda maticnya seorang diri. Walau cuaca di kota Gudeg kala itu begitu panas terik, tetapi tidak menyurutkan Ervita untuk datang dan memeriksakan kandungannya.


"Permisi," sapa Ervita memasuki rumah Bidan Sri itu.

__ADS_1


"Ya, silakan ... ada apa Mbak?" tanya seorang perempuan yang usianya masih cukup muda.


"Saya mau memeriksakan kehamilan, Mbak," balas Ervita dengan merasa tidak yakin.


"Silakan Mbak ... kita daftar dulu yah. Sekalian Mbaknya menimbang berat badan dulu," ucap petugas itu.


Ervita pun mulai menimbang berat badannya di sana, kemudian tekanan darah Ervita juga mulai diperiksa.


"80/90 ya Mbak ... ini termasuk darah rendah," ucap Mbak petugas tersebut.


"Iya Mbak ... kalau Bidan Sri nya yang mana ya Mbak?" tanya Ervita.


"Ada di dalam Mbak ... saya daftar dulu ya Mbak. Dengan siapa ini?" tanyanya.


"Saya Dwi, Mbak ... yang bantuin Ibu Bidan untuk melahirkan," balasnya.


"Oh, salam kenal Mbak Dwi ... saya kira Bidan Sri itu mbaknya," balas Ervita.


"Mau periksaan biasa atau dengan USG Mbak Vita?" tanya Mbak Dwi kepada Ervita.


"Pakai USG boleh Mbak," balasnya.

__ADS_1


"Ya sudah, silakan masuk ke ruangan itu ya Mbak ... ini ada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) setiap kali Mbak Vita periksa ke sini tolong dibawa yah," jelas Mbak Dwi.


Tidak perlu menunggu lama, Ervita pun mengetuk pintu Bu Bidan dan hendak melakukan pemeriksaan di sana.


"Permisi," sapanya dengan sopan.


"Ya, masuk Mbak ... mau periksa sama Ibu?" tanya Bu Bidan itu dengan begitu ramah.


Ervita menganggukkan kepalanya dan kemudian menyerahkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak berwarna pink magenta itu kepada Bu Bidan.


"Kapan positifnya Mbak Ervita?" tanya Bu Bidan Sri.


"Kemarin, Bu," balas Ervita.


"Aduh, Mbak Ervita masih muda banget ... 21 tahun yah, seusia anak saya. Sekarang Ibu periksa dulu yah, Mbak Ervita silakan tidur di brankar dulu," ucap Bu Bidan Sri.


Ervita pun segera tidur di brankar itu, dan USG Gell mulai dioleskan di permukaan kulit di perutnya. Sensasi dingin adalah hal yang kali pertama dirasakan oleh Ervita. Mulailah Bidan Sri menggerakkan transducer di tangannya.


"Nah, ini embrionya ya Mbak Ervita ... masyaallah, sudah tujuh minggu usianya," jelas Bidan Sri.


Ervita mengamati di monitor, dan memang terlihat embrio layaknya titik kecil yang tidak seberapa itu berenang-renang dengan begitu lincahnya di dalam perutnya. Sungguh, melihat embrio yang tumbuh di dalam rahimnya membuat Ervita begitu terharu rasanya.

__ADS_1


Itu adalah kehidupan yang harus dia jaga untuk 9 bulan ke depan. Untuk si bakal baby yang akan terus berkembang setiap harinya, Ervita harus menguatkan hati dan dirinya sendiri. Dia sudah gagal menjadi anak, dia sudah gagal menjadi mahasiswa karena mungkin pendidikannya juga putus di tengah jalan, tetapi Ervita berjanji bahwa dirinya tidak akan gagal menjadi seorang Ibu. Segala daya dan upaya, akan Ervita kerahkan untuk menjadi seorang Ibu yang tidak pernah gagal untuk calon bayinya.


__ADS_2