Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Curhat dengan Pertiwi


__ADS_3

Usai beberapa pekan menikmati waktu refreshing dan sekaligus healing di Pantai Laut Selatan, tidak terasa waktu melahirkan untuk Pertiwi kian dekat. Wanita hamil itu mulai merasakan kesusahan tidur di malam hari lantaran beberapa kali terbangun untuk buang urin. Selain itu juga, Pertiwi ada kecemasan tersendiri perihal persalinan nanti apakah suaminya bisa menemaninya. Sebab, pesawat dari Lampung harus transit ke Jakarta dulu, dan setelahnya baru dilanjutkan dari Jakarta ke Jogjakarta.


Mungkin jika ada suaminya yang ada di sisinya, Pertiwi menjadi lebih tenang. Namun, karena suaminya bekerja di Lampung membuat Pertiwi merasa lebih cemas. Sama seperti sekarang ini ketika Pertiwi dan Lintang bermain di rumah Pandu dan Ervita, wanita hamil itu seolah ingin curhat kepada adik iparnya yaitu Ervita. Namun, Pertiwi mengurungkan niatnya karena Ervita sendiri dalam kondisi hamil. Takutnya, Ervita ikut kepikiran. Akan tetapi, jika dipendam sendiri rasanya juga tidak enak. Untung saja, Ervita seolah melihat kecemasan di wajah kakak iparnya itu.


"Mbak Pertiwi kok kayak cemas gitu. Kenapa Mbak?" tanya Ervita yang kala itu sembari melakukan packing, bungkus-membungkus pesanan batik.


"Gak apa-apa kok, Vi," balas Pertiwi.


"Kalau mau cerita ... cerita saja, Mbak ... Ervi seneng kok dengarin cerita dari Mbak Pertiwi," balas Ervita.


Bahkan sekarang Ervita membuka hati dan sepenuhnya mempersilakan kakak iparnya itu untuk bisa berbicara. Walau tangannya sembari membungkus batik, tapi telinga Ervita bisa merespons dengan baik.


"Ganggu kamu enggak nanti?" tanya Pertiwi.


"Enggaklah Mbak ... cuma Ervita sambil nata batik ini yah," balasnya.


Pertiwi pun akhirnya tersenyum. "Biasa Vi ... Ibu hamil dalam usia kandungan yang sudah tua, mendekati hari persalinan jadi lebih mudah cemas," balasnya.


"Cemasnya karena apa Mbak?" tanya Ervita lagi.


"Kira-kira nanti Papanya Lintang bisa datang sebelum persalinan enggak ya Vi? Kadang itu takut. Apalagi Lampung ke Jogja itu jauh. Naik pesawat aja harus transit dulu, takut enggak keburu, Vi."

__ADS_1


Mendengarkan cerita dari Pertiwi, barulah Ervita memahami bahwa yang dicemaskan kakak iparnya itu adalah perihal waktu. Waktu persalinan dan waktu kedatangan suaminya.


"Mau melahirkan normal atau caesar Mbak?" tanya Ervita kemudian.


"Posisi bayinya sudah mulai masuk panggul sih, Vi ... maunya sih normal. Cuma kalau normal nunggu kontraksi pembukaan dulu baru bisa ngabarin Mas Damar. Kalau Caesar kan kita sudah bisa milih tanggalnya yah, jadi pasti Mas Damar pulangnya bisa satu hari sebelumnya," balas Pertiwi.


Ervita mendengarkan dengan beberapa kali menganggukkan kepalanya. "Benar Kak ... dulu Mbak Lintang itu lahirnya normal kan yah? Yang adiknya gak pengen caesar Mbak?" tanya Ervita.


"Katanya penyembuhannya lebih sakit itu loh, Vi ... aku takutnya sih itu," balas Pertiwi.


"Kan sekarang ada metode ERACS dan katanya tidak begitu sakit kok, Mbak ... sapa tahu Mbak Pertiwi mau mencobanya."


"Bisa untuk pertimbangan ya, Vi ... soalnya Mas Damar juga belum beli tiket pesawat untuk pulang. Soalnya tiket kalau refund terus, kitanya rugi karena bisa nambah biaya terus, selain itu harganya kepotong terus juga. Jadi dulu itu Mas Damar bilang bahwa dia akan pulang ketika perutku terasa mules-mules," cerita Pertiwi.


"Takutnya juga kalau kontraksi palsu, Mbak ... dulu aku waktu hamil Indi ngerasaain kontraksi palsu. Mau pulang ke kost, itu rasanya pinggangku sakit banget, kakiku untuk jalan juga rasanya kesakitan. Cuma, ya gimana lagi dipaksakan jalan," cerita Ervita.


"Terus kontraksi sungguhannya berapa lama jaraknya?" tanya Pertiwi.


"Setelah dua minggu baru kontraksi beneran dan melahirkan Indi, Mbak," jawabnya.


Kali ini sebenarnya bukan hanya Pertiwi yang bercerita, tetapi Ervita juga bisa menceritakan pengalamannya dulu. Ya, dulu Ervita merasakan kontraksi palsu yang hanya beberapa menit datang dan hilang begitu saja. Semula dia juga merasa panik, takutnya jika bayinya akan segera lahir. Akan tetapi, bayinya baru lahir dua pekan kemudian.

__ADS_1


"Kamu sendiri besok mau melahirkan Caesar atau normal, Vi?" tanya Pertiwi kemudian.


"Ya kalau bayinya sudah masuk ke panggul, tidak ada lilitan di badannya, dan tidak begitu besar, mending aku mencoba untuk melahirkan normal saja kok, Mbak," jawabnya.


Ya, syarat seorang ibu bisa melahirkan secara normal setidaknya harus memenuhi tiga syarat utama yaitu bayinya sudah masuk ke panggul dengan syarat posisi bayi tidak sungsang, kemudian tidak ada lebih dari dua lilitan tali pusar di badannya, yang terakhir berat badan bayi tidak lebih dari 3,5 kilogram. Ervita sendiri masih ingin melahirkan secara normal.


"Kamu hebat, Vi ... enggak takut?" tanya Pertiwi kemudian.


"Secara manusiawi ya takut, Mbak ... cuma ya gak apa-apa. Kodratnya seorang wanita kan harus melahirkan, Mbak ... jadi yah, dijalani saja. Lagipula, nanti aku lebih siap deh Mbak ... soalnya aku memiliki Mas Pandu," balas Ervita.


Ya, ada satu yang selalu Ervita ingat dan tanamkan dalam hatinya bahwa ada Pandu nanti. Dia tidak akan kesakitan di brankar rumah sakit sendirian. Melainkan ada Pandu yang akan berdiri di sampingnya. Tentu, kali ini Ervita juga sangat yakin bahwa suaminya bisa menjadi sosok yang diajak untuk turut berjuang bersama melahirkan bayinya nanti.


"Aku senang melihat kamu dan Pandu bisa saling memiliki. Walau adikku pengalaman berpacaran dan mengenal wanita tidak banyak, tapi Pandu itu pria yang baik, Vi ... dia itu anak yang baik, adik yang baik, dan tentunya suami yang baik," balas Pertiwi.


Bukan bermaksud menyanjung tinggi adiknya. Namun, Pertiwi yang adalah kakak kandungnya sangat yakin bahwa Pandu memang adalah sosok yang baik.


"Mas Pandu juga seorang ayah yang baik, Mbak," imbuh Ervita sekarang.


Pertiwi pun menganggukkan kepalanya. "Tuh, bener banget. Jangan takut nanti, ada Pandu yang akan siap siaga," balasnya.


Ervita merespons dengan menganggukkan kepalanya. Dia yakin dengan ucapan Pertiwi sekarang. Memiliki Pandu di sampingnya seakan menambah kekuatan baru untuknya. Oleh karena itu, Ervita tidak takut. Ada suaminya kini yang akan menggenggam tangannya.

__ADS_1


__ADS_2