
Sekarang, Ervita dan Pandu berpamitan dengan orang tuanya. Bagaimana rasanya memang sedih. Namun, Ervita dan Pandu berharap bahwa di lebaran hari kedua nanti, mereka bisa pulang ke Solo dan merayakan lebaran di Solo.
"Kami pamit dulu ya, Bapak dan Ibu. Terima kasih untuk semuanya," ucap Ervita dan Pandu.
"Iya, hati-hati yah. Nitip sedikit oleh-oleh untuk Ibu yah," balas Bu Sri yang memang menitipkan sedikit oleh-oleh untuk keluarga Hadinata.
"Bu, malahan repot-repot," balas Pandu.
Namun, Bu Sri menggelengkan kepalanya. "Tidak repot, Mas Pandu. Ibu dan Bapak justru sering merepotkan Mas Pandu. Soalnya Mas Pandu kalau datang pasti bawa oleh-oleh banyak banget," balas Bu Sri.
Pandu tersenyum. Memang ketika dia datang ke Solo, oleh-oleh yang Pandu bawa memang agak banyak karena ada Mei dan Tanto juga sehingga bisa dinikmati keluarga besar. Rasanya tidak elok, jika ada anggota keluarga yang tidak ikut
mencicipi buah tangan dari Jogjakarta.
"Semoga segera dikaruniai momongan lagi, Vi ... sapa tahu nanti yang ketiga cowok, bisa jadi temennya Mas Pandu nonton sepak bola," ucap Pak Agus.
Rupanya semua itu karena Pak Agus melihat bahwa di keluarga Ervita dan Pandu hanya ada satu pria. Rasanya jika nanti dikaruniai anak laki-laki bisa menjadi teman Pandu untuk menonton sepakbola.
"Doakan saja nggih, Pak," balas Ervita.
"Pasti. Mumpung kalian masih muda juga. Sekalian repotnya. Nanti kalau anak-anak sudah besar lebih enak, lebih nyantai," balas Pak Agus.
__ADS_1
Akhirnya sekarang, mereka benar-benar berpamitan kembali menuju ke Jogjakarta. Kali ini, juga tidak ada drama Indi yang menangis. Putrinya itu lebih tenang. Dia sudah merasa bahwa tidak ada lagi kebingungan dalam dirinya. Indi sudah yakin, bahwa dirinya memiliki satu ayah dan itu adalah ayah Pandu. Bukan orang lain.
"Lain kali kalau kita ke Solo lagi mau enggak Mbak Didi?" tanya Yayah Pandu kepada putrinya itu.
Ya, memang Pandu sering bertanya kepada Indi terkait apa yang dia mau. Sebab, Indi sudah berada dalam fase bisa mengutarakan pendapatnya, bisa menyampaikan apa yang dia mau. Sehingga, memang Pandu sering melibatkan Indi.
"Mau, Yayah. Kan Indi sudah enggak bingung. Sudah enggak takut. Indi kan putri kecilnya Yayah," balas Indi.
Pandu tersenyum. Biarkanlah waktu berlalu, dan biarkan Indi tahu apa yang dia anggap benar sekarang ini terlebih dahulu. Semua itu juga karena Pandu ini Indi tumbuh bahagia dan tidak mengalami goncangan mental. Selain itu, Pandu juga sangat menyayangi Indi. Nanti, jika memang ada masa di mana Indi harus tahu, maka Ervita dan Pandu juga harus bersiap untuk kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan.
"Baiklah, lebaran hari kedua kita ke Solo yah? Kita bersilaturahmi dengan keluarga Eyang di Solo yah," ajak Pandu.
"Iya, Yayah. Didi mau kok."
"Di Jogja nanti, Didi mau main ke rumah Eyang ya Yah? Mau maen sama Mbak Lintang," pinta Indi.
Ervita yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Indi dan Yayahnya, akhirnya mulai ikut berbicara. "Besok saja, Mbak Didi. Pasti juga capek loh setelah beberapa hari di Solo. Sepulang sekolah, bisa main ke rumahnya Eyang," balas Ervita.
"Baik, Nda. Istirahat dulu deh, kalau begitu," balas Indi.
"Nah, begitu. Dicek juga ada PR dari sekolah enggak. Kalau ada PR dikerjakan dulu," balas Ervita lagi.
__ADS_1
"Ya, Nda," balas Indi.
Perjalanan dari Solo menuju Jogjakarta memang mengalami beberapa titik kemacetan. Mulai dari area Kartasura, hingga nanti menuju ke Kabupaten Klaten. Bahkan ketika hendak masuk ke Jogjakarta juga lalu lintas ramai lancar. Oleh karena itu, Ervita juga mengingatkan suaminya untuk berhati-hati.
"Ngantuk enggak, Yayah?" tanya Ervita. Memang Ervita membiasakan untuk memanggil Yayah kepada suaminya ketika bersama Indi dan Irene. Semua juga untuk mengajarkan anak-anaknya untuk memanggil orang tuanya dengan benar.
"Enggak, Nda. Dikelilingi wanita cantik gini, aku enggak ngantuk," balas Pandu dengan tertawa.
Tentu wanita cantik yang dia maksud adalah Ervita, Indi, dan juga Irene. Memang itu cara Pandu untuk menghangatkan suasana. Hingga, hampir dua jam perjalanan akhirnya mereka sekarang sudah tiba di rumah mereka di Jogjakarta.
"Yeay, sudah tiba di rumah. Didi senang," balasnya.
"Kita juga senang. Alhamdulillah, kita tiba di rumah sebelum waktunya berbuka puasa yah," balas Ervita.
Setelahnya, Indi bertanya kepada Bundanya. "Nda, kan kita baru sampai dari Solo. Nda, belum memasak untuk berbuka dong?" tanya Indi.
Rupanya Indi juga berpikir kritis. Dia tahu bahwa mereka baru saja tiba dari luar kota, dari Solo, sehingga memang Bundanya belum memasak dan menyiapkan berbuka. Ervita yang mendengarkan pertanyaan Indi pun terkekeh geli karenanya.
"Nanti kita beli lauk saja ya, Mbak Didi. Nda masak nasinya dulu. Kan kalau nasi dimasak dengan Rice Cooker cepat. Lauknya nanti kita beli yah," balas Ervita.
"Oke, Nda. Didi mau bakso ya, Nda," pintanya sekarang.
__ADS_1
"Boleh, nanti dibelikan Yayah yah," balas Pandu.
Kembali ke rumah, membuat mereka bahagia. Liburan akhir pekan di Solo telah usai sekarang waktunya merajut hari-hari bersama, melanjutkan ibadah puasa dan terus berjuang menyelesaikannya hingga Hari Fitri nanti.