Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

Terdengar bunyi telapak kaki yang menuruni anak tangga. Jejak-jejak kecil yang tentu sudah bisa Ervita ketahui siapa pemilik jejak kaki itu. Semakin mendekat, hingga terdengar suara yang memanggil.


"Yayah ...."


Ya, itu adalah Indi yang rupanya menuruni anak tangga. Sebenarnya di atas Mei sudah menahan Indi untuk berada di atas dulu. Akan tetapi, Indi memilih untuk turun. Dia ingin mencari Yayahnya. Sehingga kala itu, Indi pun benar-benar turun dan memanggil Pandu, Yayah. Panggilan kesayangan dari Indi untuk Pandu.


Melihat Indi yang datang, Pandu membuka tangannya. Sebab, biasanya Indi akan segara menghambur ke dalam pelukan Yayahnya. Pun, Pandu dan Ervita yang bersikap biasa saja karena memang tidak akan menghalangi Indi, tadi Indi dibawa naik ke atas hanya supaya tidak mendengar pembicaraan saja.


"Yayah," panggil Indi lagi dengan sedikit berlari dan berhambur ke arah Pandu.


"Ya, Sayang ... ada apa Mbak Didi?" tanya Pandu dengan lembut.


Mengamati interaksi Pandu dan Indi, Firhan memandangnya dengan hati yang hancur. Bagaimana tidak hancur, seharusnya dialah yang berhak atas Indi. Seharusnya, sosok yang dipanggil Ayah adalah dirinya. Namun, justru Pandu, bukan Ayah Biologis yang mendapatkan panggilan sayang yang indah dan lembut dari Indi. Pun, dengan sikap Indi yang bergelayut manja dalam pangkuan Pandu.


Definisi sakit, tapi tak berdarah. Nyerinya menusuk sampai ke ulu hati. Dada Firhan pun terasa sesak. Bayi yang dulu dia tolak, dia hina sejak di dalam kandungan, bahkan ketika bertemu di Jogjakarta saat KKN, Firhan justru menuding benihnya sudah bercampur dengan benih milik Pandu.


Ada sayatan yang melukai hatinya, memang sama sekali tidak berdarah, tapi terasa sangat sakit. Tidak mengira anak yang lahir dari kesalahan itu, sudah tumbuh besar. Wajahnya cantik, kulitnya kuning langsat, dan cara berbicaranya yang menggemaskan.


"Yayah, tadi Didi mau turun sama Yayah ... nanti ke alun-alun beli telor gulung ya Yayah," pintanya.


Bahkan Indi terlihat abai dengan dua tamu yang duduk di ruang tamu. Yang dia ajak bicara hanya Yayahnya saja. Sementara Ervita mengusapi puncak kepala Indi yang memang jika sudah dengan Pandu, Indi menjadi seperti itu.


"Iya, nanti sore yah. Itu ada Tante disapa dulu," ucap Pandu yang meminta Indi untuk menyapa Wati dan Firhan.

__ADS_1


Namun, Pandu hanya menyebut Tante saja. Sebab, Pandu juga mengakui dalam hatinya seakan tidak rela jika Indi memanggil pria lain dengan panggilan Ayah. Lebih baik, Pandu menunjuk salah satunya saja. Berbeda cerita jika memang Firhan yang berbicara dan meminta Indi memanggilnya apa.


"Beri salam, Nak," ucap Ervita kepada Indi.


Indi pun turun dari pangkuan Yayahnya, kemudian menjabat tangan Wati terlebih dahulu. Dia tapi merasakan tidak nyaman, karena Indi beberapa menatap wajah Bundanya. Perasaan anak kecil itu begitu lembut dan sensitif, sehingga Ervita juga menyadari bahwa putrinya memang belum nyaman.


"Halo, namanya siapa nih?" Wati bertanya dengan masih menjabat tangan Indi.


"Indira, Tante ... kan sudah ketemu tadi," balas Indi. Rupanya Indi masih mengingat dengan Wati karena beberapa saat tadi dia melihat Wati ada di Taman Cerdas, dan sekarang bertemu lagi.


"Ah, iya ... Tante sampai lupa," balas Wati.


Di dalam hatinya Wati mengamati Indi yang memang cantik. Namun, tidak dipungkiri di wajahnya ada sedikit kemiripan dengan Firhan. Akan tetapi, Wati hanya menyimpan dalam hatinya saja. Tidak bersuara secara langsung.


Kemudian ketika hendak menyapa Firhan, Indi menoleh ke belakang dan menatap Ayah dan Bundanya bergantian. Rasanya, Indi juga tidak ingin menyapa, tapi Bunda dan Yayahnya sama-sama menganggukkan kepalanya. Sehingga Indi bergeser dan mengulurkan tangan kecilnya.


Deg.


Hati Firhan rasanya kian bertambah sakit. Pria yang dari benihnya Indi bisa lahir justru dipanggil Om, sementara pria yang kini Firhan percayai bukan Ayah Biologis Indi, justru dipanggil Yayah. Ini adalah sebuah pukulan untuk dirinya. Pun, dengan Ervita yang membiarkan Indi saja.


"Oh, iya ... nama kamu siapa?" tanya Firhan.


"Namanya Indira, Indi," balas Indi dengan cepat.

__ADS_1


"Indi kalau mau boleh memanggil Om dengan panggilan Ayah," kata Firhan sekarang.


Memang seharusnya yang layak dan berhak dipanggil Ayah adalah Firhan. Oleh sebab itu, Firhan memberanikan diri untuk berkata demikian. Dulu, dia kesal dengan Ervita dan bayinya. Sekarang, dia juga memberikan izin kepada Indi untuk memanggilnya Ayah.


Indi yang masih kecil diam. Setelahnya, Indi justru menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini Om ... Didi kan sudah punya Yayah," jawabnya.


Usai berbicara demikian, Indi melepaskan tangan Firhan yang masih memegangi tangannya, kemudian dia kembali berlari ke arah Pandu.


"Yayah ... Yayahnya Didi kan Yayah," ucapnya.


Ervita dan Pandu memilih menganggukkan kepalanya. Sementara Firhan merasakan hatinya sangat sakit. Dia menerka apakah dulu Ervita juga kesakitan seperti ini, ketika dia menolaknya? Ketika keluarganya menolaknya dan enggan untuk memberikan pertanggungjawaban?


Kini Firhan baru bisa merasakan rasanya tertolak oleh buah hatinya sendiri. Wati tampak menepuk lengan suaminya. Seolah Wati ingin menguatkan suaminya. Hanya dengan memberikan sentuhan saja.


"Ya sudah, Didi naik lagi ya Yayah. Nanti malam ya, Yah. Indi sayang Yayah," ucap Indi.


Setelahnya Indi kembali berlari naik ke atas. Sementara Wati seakan berbisik kepada Firhan untuk mengajaknya pulang. Firhan memberikan anggukan kepala secara samar.


"Ya sudah, Vi ... aku dan istriku sekalian mau pamit pulang," ucap Firhan dengan menegakkan punggungnya. Perlahan pria itu berdiri dan mengajak Wati untuk pulang.


"Terima kasih untuk waktunya Mbak Ervi dan suaminya. Mohon maaf jika ada kesalahan, sekali lagi terima kasih," ucap Pandu.


"Iya, sama-sama," jawab Ervita.

__ADS_1


Kemudian Firhan dan Wati berpamitan pulang. Ervita dan Pandu pun mengantarkan sampai ke depan rumah. Sepulangnya Firhan dan Wati, Pandu langsung merangkul istrinya. Walau Ervita terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya Pandu tahu dengan isi hati istrinya.


Tidak mudah diperhadapkan lagi dengan masa lalu. Terlebih itu adalah masa lalu yang pahit dan getir. Namun, sebagai janji Pandu bahwa dia akan selalu mendampingi Ervita.


__ADS_2