
Sekarang, Ervita baru benar-benar merasa sedih. Malam tiba, wanita itu sudah dipeluk oleh suaminya dengan begitu erat. Bahkan beberapa kali, Pandu mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
"Aku belum berangkat ke Surabaya saja, kamu sudah nangis, Dinda," ucap Pandu.
Yang ada justru Ervita kian menangis sesegukan. Air matanya sampai membasahi kaos yang sekarang dikenakan oleh suaminya. Namun, Pandu begitu sabar dan juga tidak marah. Sepenuhnya Pandu yakin bahwa semua ini pasti karena rasa cinta Ervita kepadanya.
"Sini cerita sama kamu, kenapa nangis? Aku masih belum berangkat loh. Masih minggu depan. Masak nangisnya sekarang sih?" tanya Pandu.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Iya, belum ditinggal berangkat ke Surabaya, sudah kangen dan sedih," balasnya.
Inilah jawaban yang Pandu tunggu. Benar bahwa Ervita menangis karena terbawa perasaan, takut untuk berpisah dan mungkin ada kekhawatiran lain di dalam diri Ervita.
"Nanti, kalau memang kewalahan mengasuh dua anak, Ibu biar ke sini, Dinda. Ibu juga tidak keberatan kok untuk bantu-bantu kita. Kamu juga jangan sungkan. Begitu ada yang mau dibantuin, bilang saja sama Ibu. Nanti kan kalau aku sudah pulang, yang pasti aku akan bantuin kamu lagi," ucap Pandu.
"I ... iya, Mas," balas Ervita dengan masih terisak.
Pandu menjadi gemas. Kalau Ervita sedang menangis seperti ini, rasanya Pandu seperti menghadapi Indi. Harus menenangkan istrinya. Pun, kadang dia terlihat gemas dengan Ervita.
"Seminggu, kalau kita menikmatinya dan berharap yang baik, akan terasa sebentar kok, Dinda. Kayak kebangun dari mimpi aja," balas Pandu.
"Aku coba ya, Mas. Aku sesedih ini juga karena tidak pernah kamu tinggal sebelumnya. Selain itu, ada baby jadi aku lebih cengeng deh."
Fakta yang Ervita sampaikan sekarang memang karena dia merasa bahwa sebelumnya tidak pernah ditinggal jauh oleh Pandu. Sejak menikah, hingga sekarang. Tidak pernah ditinggal. Selain itu juga mungkin karena dirinya memiliki bayi dan tengah memberikan ASI, ada gejolak hormon tersendiri. Itu yang membuat Ervita menjadi lebih cengeng sekarang.
__ADS_1
"Udah, sini ... aku peluk. Aku kerja juga buat kamu dan anak-anak, Dinda. Pasti karena kamu cinta banget sama aku yah? Sampai udah sedih kayak gini. Boleh sedih, tapi jangan lama-lama yah. Nanti berdampak ke ASI kamu, kasihan Irene. Dia kan butuh banget ASI dari Bundanya. Mau cerita apa lagi Dindaku?"
Dengan cepat Ervita menggelengkan kepalanya. "Kangen," ucapnya manja.
"Sama, Dindaku ... aku juga kangen banget sama kamu. Janji, aku bakalan fokus untuk bekerja saja. Tidak akan macam-macam. Kamu juga tahu sendiri bahwa aku adalah orang yang tidak neko-neko dan pasti memegang teguh kesetiaanku," ucap Pandu.
"Iya Mas," balas Ervita.
Rasanya memang begitu aneh, tapi memang baru mendengar bahwa suaminya itu akan bekerja di luar kota selama satu minggu saja rasanya sudah kangen dan sudah sedih terlebih dahulu. Untung, Pandu adalah pria yang sabar dan memberikan waktu untuk bisa mendengarkan istrinya itu. Jika tidak, sudah pasti Ervita tidak bisa menyalurkan emosinya sekarang.
"Kamu bucin ya, Dinda?" tanya Pandu kemudian.
"Hmm, bucin gimana?" tanya Ervita.
"Budak cinta, Bucin gitu, kayak anak muda zaman sekarang. Iya kan?" tanyanya.
Pandu kemudian tertawa. "Janganlah ... jangan sampai bucin sama orang lain. Udah, tutup mata ya Dinda ... bucinnya sama Mas Pandu aja," ucap Pandu sekarang dengan tangannya yang menutup kedua mata Ervita.
Melihat suaminya yang bersikap aneh, Ervita akhirnya bisa tertawa. Tangisannya menghilang begitu saja. Pun, dengan Pandu yang merasa beruntung bisa mencairkan suasana. Mengubah tangisan menjadi tawa itu tidak mudah, dan sekarang Pandu berhasil membuat istrinya berhenti untuk menangis dan mendapatkan kembali tawanya.
"Mas Pandu juga tutup mata yah ... jangan melihat ke orang lain. Jangan hanya aku di rumah cuma memakai daster, Mas Pandu jadi terpikat dengan aneka pesona di luar sana. Aku gak mau," balas Ervita.
"Pasti, Dinda ... Mas Kanda sih cuma memandang kamu saja. Kamu memiliki hati dan hidupku, tak akan berpaling pada yang lain."
__ADS_1
"Janji?"
Ervita menyahut, sekarang wanita itu mengangkat jari kelingkingnya, berharap suaminya akan berjanji dan menautkan jari kelingkingnya. Sebatas simbol saja, jika keduanya sama-sama berjanji.
"Janji."
Pandu menjawab, dan kemudian dia menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Ervita. Tidak hanya itu, Pandu pun menundukkan wajahnya, dan mengecup tangan Ervita dengan jari kelingking mereka yang masih bertaut.
Cup!
"Janji, Dindaku ... memiliki kamu dalam hidupku aku tidak niat dengan wanita lain. Yang memakai daster di rumah ini lebih cantik dan yang sudah menemaniku berjuang bersama. Ibu dari anak-anakku. Tidak akan silau dengan yang lain, Dinda. Mas Pandu hanya untuk Dinda," ucap Pandu sekarang dengan sungguh-sungguh.
Sekarang, Ervita memeluk suaminya, dengan kedua tangannya yang melingkari pinggang suaminya. Setelahnya, Ervita kembali berbicara.
"Aku benar-benar berterima kasih kepada Tuhan. Aku bersyukur memiliki kamu sebagai suamiku. Aku cinta kamu, Mas," ucapnya.
"Sama, Dindaku ... aku juga cinta banget sama kamu," balas Pandu. "Sudah yah ... jangan menangis lagi. Kan nanti selama di Surabaya, kita bisa saling video call. Di Surabaya jadi inget masa bulan madu kita ya, Dinda," ucap Pandu.
"Inget lah ... kamu sangat bersemangat kala itu," balas Ervita.
"Next time, kita harus mengulangnya, Sayang ... quality time berdua. Bisa leluasa dan bisa menggila bersama. Aku dan kamu," ucap Pandu.
Ervita kemudian menggelengkan kepalanya. "Untuk waktu dekat tidak bisa, Mas. Soalnya Irene masih begitu kecil. Nunggu dia sudah besar, saja. Toh, kita bisa berbagi waktu yang panjang seumur hidup kita kan?" tanya Ervita.
__ADS_1
"Iya, Dinda ... sampai pethuk pathi, ya," balas Pandu.
Sekali lagi pria itu mengucapkan bahwa cintanya sampai ajal menjemputnya. Keinginan untuk selalu bersama hingga akhir usia.