Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Temu Kangen


__ADS_3

Lintang, keponakan Pandu satu-satunya dari pihak Pertiwi dan Damar tampak begitu girang, hingga anak kecil berusia hampir 5  tahun itu tampak berlari-lari ke arah Om-nya.


"Om Pandu ... Om Pandu ...."


Pun dengan Pandu yang begitu senang rasanya bisa kembali bertemu dengan Lintang. Sosok Om idaman dan kesayangan bagi Lintang. Bahkan Lintang memilih keluar terlebih dahulu untuk bisa memeluk Om-nya itu.


"Om Pandu," ucap Lintang lagi.


"Lintang ... sudah semakin besar yah," balas Pandu.


Kemudian Lintang menatap Indi yang tingginya lebih kecil darinya, dan memeluk Indi di sana.


"Halo, Indi," ucapnya.


"Mbak Lintang ...."


Indi membalas dengan memeluk Lintang. Tentu saja walau masih kecil, mereka masih ingat bahwa Lintang adalah saudaranya. Kini menjadi sepupuan karena Bundanya yang sudah menikah dengan Om Pandu.


Hingga tidak berselang lama Pertiwi dan Damar sudah keluar dari pintu kedatangan. Terlihat Pertiwi dengan perutnya yang kian membuncit dan pipinya kian chubby. Terlihat Pertiwi yang sudah tersenyum melihat adik dan adik iparnya itu.


"Gimana kabarnya, Ndu?" tanya Mbak Pertiwi di sana.


Belum juga Pandu menjawab, Mbak Pertiwi sudah berbicara terlebih dahulu, "Ya, pastinya sehat ... sudah ada yang mengurusi sekarang. Adikku makin cakep, wajahnya sumringah gitu," balas Pertiwi.

__ADS_1


Sumringah bermakna bahagia. Wajah yang berseri dan terlihat tidak ada kecemasan di sana. Sebagai seorang kakak walau jarang bertemu, bisa Pertiwi lihat bahwa adiknya itu memang terlihat bahagia sekarang.


"Apa loh, Mbak ... baru ketemu saja sudah bicara yang enggak-enggak," balas Pandu dengan tertawa.


Kemudian Pertiwi pun memeluk Ervita di sana, "Gimana kabarnya? Senengnya, bisa hamil barengan yah," balas Pertiwi yang tangannya mengusapi perut Ervita yang sedikit menyembul itu.


"Baik Mbak ... Mbak juga sehat kan? Selisih tiga bulan Mbak," balas Ervita.


"Aku dulu itu berdoa, pengen hamil barengan sama kamu. Ternyata dikabulkan yah ... sekarang kita hamilnya barengan. Sudah melakukan cek USG belum?" tanya Pertiwi.


"Sudah Mbak ... cuma kami merahasiakan jenis kelamin baby nya karena Mas Pandu ingin kejutan waktu hari persalinan nanti," balas Ervita.


Pertiwi pun tertawa mendengarnya. Baginya adiknya, yaitu Pandu masih saja sama dan juga lebih memilih sabar menunggu. Bahkan untuk jenis kelamin anaknya saja, Pandu melakukan hal yang sama. Padahal, mengetahui di awal juga tidak masalah.


Hingga Pandu dan Mas Damar pun saling menyapa di sana, "Sehat Ndu?"


"Alhamdulillah, sehat Mas ... mana biar kopernya tak bawain," balas Pandu.


"Alah, biar aku saja, Ndu ... gak banyak kok," balas Damar.


"Ya gak apa-apa, Mas ... Mas Damar gandeng Mbak Pertiwi saja, biar enggak ngambek," balas Pandu.


Melihat Pandu dan Pertiwi yang baru saja bertemu sudah saling jahil satu sama lain, Ervita pun tertawa di sana. Suaminya itu tetap menjadi seorang adik yang terkadang jahil kepada Kakaknya sendiri. Justru lucu melihatnya.

__ADS_1


"Om Pandu ... katanya Eyang, Om Pandu sudah punya rumah sendiri yah? Lintang main ke rumahnya Om Pandu dan Bulik Ervi boleh?" tanyanya.


"Tentu saja boleh ... bobok di rumahnya Om Pandu dan Bulik Ervi juga boleh," balas Pandu.


Jika anak-anak zaman sekarang terbiasa dengan panggilan Tante, Lintang justru diajari untuk memanggil Ervita dengan panggilan Bulik. Dalam bahasa Jawa, Bulik terdiri dari dua kata yaitu Ibu dan Cilik atau kecil. Sehingga Bulik adalah ibu yang lebih muda usianya, sama artinya dengan panggilan Tante dalam bahasa Indonesia.


"Boleh Bulik?" tanya Lintang kemudian.


Ervita pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Boleh kok Mbak Lintang. Lagian Mbak Lintang kan di Jogjanya lama, jadi nanti main saja sama Indi. Wah, Indi pasti seneng punya teman bermain," balas Ervita.


"Main Little Ponny ya Mbak Lintang," sahut Indi.


"Iya, tapi Little Ponnyku cuma bawa dikit, Ndi ... pinjam mainan kamu boleh?" tanyanya.


"Iya, boleh kok Mbak ... harus berbagi ya Nda," balas Indi dengan menatap wajah Bundanya.


Melihat Indi dan Lintang, Pertiwi pun tersenyum di sana. "Di Lampung itu, Lintang sering banget loh nanyain Indi ... pengen main sama Indi. Sekarang, bisa ketemu yah. Temu kangen. Pasti seneng banget bisa main lagi," ceritanya.


"Sama Mbak Pertiwi ... Indi juga sering nanyain Mbak Lintang. Sudah jadi saudaraan sekarang ya Mbak," balas Ervita.


Pertiwi pun menganggukkan kepalanya, "Seneng ya Vi ... sekarang. Makasih yah udah mendampingi Pandu. Percaya Vi ... adikku itu tidak akan macam-macam orangnya," ucap Pertiwi.


"Iya Mbak ... makasih juga sudah menerima aku dan Indi menjadi keluarga."

__ADS_1


Ervita pun juga menyampaikan terima kasih karena di dan Indi yang sebenarnya bukan siapa-siapa, tetapi diterima sebagai saudara dan keluarga. Mendapatkan Pandu juga membuat Ervita mendapatkan keluarga baru. Sangat senang dan bersyukur rasanya.


__ADS_2