
Bagi Pandu sendiri ada yang lebih indah dari sekadar menggoreng pisang goreng dan nanti akan ditaburi dengan keju parut. Perkara memasak pisang goreng bisa belakangan. Akan tetapi, untuk urusan yang satu ini tidak bisa ditunda lagi. Oleh karena itu, Pandu pun mengajak istrinya untuk segera menuju ke kamarnya.
Pandu masih ingat advice yang diucapkan oleh Dokter Arsy, jika ingin melahirkan dengan normal, mereka harus berusaha dan tentunya memanfaatkan sebaik mungkin hormon prostalglandin untuk memicu terjadinya kontraksi alamiah.
"Mas, ini pagi menuju siang loh," ucapnya.
"Iya, memang ... emangnya kenapa? Kan tidak masalah," balasnya.
Ya Tuhan, jika sudah dalam mode seperti ini. Rasanya Ervita tidak bisa mengelak dan juga merasakan suaminya yang seakan juga sudah sampai di ubun-ubun. Namun, bagaimana lagi jika suaminya sudah meminta.
Tidak langsung menuju ke ranjang, tetapi Pandu lebih memilih untuk menuju ke sofa dan juga memangku istrinya itu. Dalam posisi sedekat ini, tetap saja Ervita merasakan dadanya berdebar-debar.
"Aku semakin berat loh Mas," ucap Ervita.
Sepenuhnya, Ervita menyadari bahwa dirinya dengan perut yang kian membesar dan juga berat badan yang bertambah, Ervita menyadari bahwa tubuhnya kian berat. Namun, Pandu merasakan tidak keberatan sama sekali. Pria itu justru santai saja ketika dengan memangku Ervita.
"Tidak apa-apa. Kan semua ini juga karena kamu mengandung baby kita," balas Pandu.
"Aku naik 15 kilogram loh, Mas," balas Ervita lagi.
"Tidak apa-apa, Dinda ... tidak berat sama sekali kok," balas Pandu.
Untuk Pandu sendiri memang dia tidak berat sama sekali. Justru dengan perubahan fisik Ervita sekarang karena bukti nyata kasih seorang ibu yang mau mengalami kenaikan berat badan hingga belasan kilogram banyaknya, merasakan perubahan mood, dan juga emosi yang sering kali tidak stabil.
"Ini bukti kasih sayangmu untuk si Baby. Kamu makin cantik," balas Pandu.
Ervita pun memanyunkan bibirnya perlahan. "Merayu," balasnya.
__ADS_1
"Bukan merayu, Dinda ..., tapi aku memuja kamu," balasnya.
Tidak perlu menunggu terlalu lama, Pandu dengan begitu perlahan mulai meraih dagu istrinya dan menyapanya dengan begitu lembut. Mendaratkan bibirnya dengan mengecup kedua belah lipatan bibir istrinya itu bergantian atas dan bawah. Lantas, Pandu menggerakkan bibirnya dengan begitu indah, membuat kedua bibir untuk bertemu dalam satu muara. Ciuman yang terjadi begitu lembut, tapi penuh perasaan. Ketika Pandu menggerakkan bibirnya, dan membuai dengan indera pengecapnya, justru Ervita mencengkeram bahu suaminya itu.
Begitu juga dengan Pandu yang kini membimbing tangan Ervita untuk melingkari lehernya. Sedangkan tangannya sendiri yang kokoh memegangi pinggang Ervita, dan sesekali telapak tangannya mengusap dengan begitu lembut punggung istrinya. Usapan yang sebenarnya justru kian membangkitkan hasrat keduanya. Pandu melepaskan ciumannya sesaat, menyisakan sejengkal jarak di antara kedua wajah mereka.
"Boleh kan Dinda?" tanyanya. Walau sudah menikah sekian lama, dan sang istri adalah ladang pahala untuknya, tetapi Pandu selalu meminta izin terlebih dahulu. Tidak akan melakukan hal yang tidak dikehendaki untuk Ervita.
Pernikahan adalah ibadah yang terindah. Dalam melakukan ibadah itu, Pandu ingin sang Ervita pun melakukannya dalam keikhlasan dan tidak dalam paksaan.
"Aku takut sebenarnya, kalau ada yang datang," aku Ervita.
Bagaimana pun rasanya Ervita merasa takut, dan juga harus waspada. Bisa saja keluarga Hadinata datang ke rumah. Sungguh, itu pasti membuyarkan semua atmosfer yang sudah terjalin.
"Tidak akan," balas Pandu.
"Yakin?" tanya Ervita lagi.
Kini tidak akan memberi waktu untuk beradu argumentasi, Pandu kembali mencium bibir istrinya. Kali ini dengan nafas yang lebih memburu. Hisapan berbalut lu-matan yang dilakukan terus-menerus hingga menghasilkan suara decakan di antara keduanya. Bibir yang begitu manis, dan rongga mulut yang memberikan kehangat, disertai dengan usapan lidah yang seakan menari-nari di rongga mulut keduanya.
Pun dengan pergerakan tangan yang membeli setiap sisi telinga istrinya yang justru kian membuat Ervita meremang, dengan kian memejamkan matanya. Kini, Pandu membopong sang istri dan membaringkannya di atas tempat tempat tidur. Dia mengungkung Ervita, dengan menahan bobot tubuhnya sendiri dengan kedua siku tangannya, dengan tujuan tidak akan menindih perut istrinya yang sudah begitu membuncit.
Mulailah Pandu mendaratkan kecupan di pipi, hidung, bibir, leher, dan tangannya bergerak melepaskan daster dengan motif bunga-bunga yang dikenakan Ervita. Begitu daster itu terlepas, terbungkus di sana dengan indah buah persik yang menggoda dalam kain berenda berwarna pink yang cerah. Tidak perlu menunggu waktu lama, Pandu melepas pengait yang tersembunyi di balik punggung istrinya, dan menyapa buah persik itu, dengan menghisapnya, dan memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya.
Penjelajahan tidak berhenti di sana. Melainkan Pandu bergerak kian turun dan mengecup perut istrinya yang sudah begitu membuncit.
"Yayah tidak akan menyakiti kamu," ucap Pandu dengan begitu lembut.
__ADS_1
Itu adalah sapaan dari seorang ayah untuk bayinya.
Tidak seperti biasanya, Pandu bersikap sedikit nakal dengan menatap kepolosan sang istri yang di matanya kecantikannya justru bertambah berkali-kali lipat.
"Cantik banget, Dinda," ucapnya.
Itu adalah pengakuan jujur dari seorang Pandu Hadinata yang memang merasa istrinya kian cantik. Hamil dengan pertambahan berat badan yang drastis, justru membuat Ervita tidak kehilangan kecantikannya. Rasanya si Bumil justru kian cantik.
Ervita menghela nafas, malu tatkala suaminya itu mengatakan bahwa dirinya cantik sekarang. Namun, belum sempat Ervita memberikan jawaban, Pandu sudah melakukan invansi di lembah yang ada di bawah sana dengan ujung lidahnya. Invansi yang membuat Ervita terbang dan melayang. Tubuhnya meringan, sensasi dahsyat bisa Ervita rasakan sekarang. Luar biasa, ketika Pandu benar-benar tidak memberikan jeda dengan terus membuai sang istri.
Merasa bahwa Ervita sudah siap, pria itu membuka sedikit kaki istrinya, dan kemudian menyatukan dirinya. Begitu lembut, penerimaan dengan begitu sempurna. Sapaan yang hangat benar-benar Pandu rasakan sekarang.
Lebih dari indah. Seolah seluruh tingkap-tingkap swarga terbuka, menyambut keduanya untuk masuk. Dalam gerakan yang padu, Pandu terus menjaga ritmenya agar tidak sampai melukai buah hatinya.
"Dinda ...."
Pandu bersuara dengan suara yang parau. Kedua matanya kian merapat, pun dengan peluh yang terus bercucuran begitu saja. Dalam setiap gerakan seduktif yang terjadi dia memejamkan matanya. Gerakan yang laksana ayunan yang lembut.
Sementara Ervita mengalungkan kedua lehernya ke leher suaminya. Beberapa kali tangannya tampak mengcengkeram punggung sang suami.
"Mas Pandu ...."
Dengan suara yang lirih dan diwarnai dengan desisan, Ervita memanggil suaminya. Dengan nafas yang terengah-engah, kembang-kempis, bak kehabisan oksigen.
Tidak kuasa untuk terus bertahan, Pandu menggeram dengan mencerukkan kepalanya di dada istrinya. Keduanya melebur menjadi satu. Berbagi keindahan, melihat swargaloka yang terlihat jelas dengan kilauan cahayanya.
"I Love U, Dinda," ucap Pandu kemudian.
__ADS_1
"I Love U too Mas Pandu," jawab Ervita dengan merasa tubuhnya yang begitu ringan dan melayang.
Mungkin saja sekarang hormon oksitosin atau yang biasa disebut hormon cinta telah bekerja sempurna. Pun dengan usaha untuk melahirkan secara normal nanti juga bisa dilakukan dengan baik.